"Surga tempatnya orang-orang berprestasi"(KH. Ilyasi Siraj, M.Ag.)




POSTINGAN HARI INI
print this page
POSTINGAN TERBARU

PEMBAJAK BUKU


Membajak tanah tak jadi soal, karena tanah akan menjadi subur, tetapi membajak buku menjadi polemik bagi sebagian penulis, dan mengancam kebangkrutan bagi penerbit. Kasus kusut ini tak kunjung selesai, bahkan kusutnya bertambah rumit dan menyebalkan, dan hukum tak berdaya menyelesaikannya.

Buku bajakan, bagi sebagian penulis (sebut saja penulis tipe pertama) sangat merugikan finansialnya, sebab mereka tidak mendapatkan royalti dari penjualan buku bajakan yang diserobot pembajak alias maling bin rampok, yang hingga hari ini terus berkembang biak tanpa terjerat hukum. Padahal, hak cipta mereka dilindungi undang-undang. Kata lainnya, penulis tidak mendapatkan perlindungan hukum, dan yang ada hanya mendapatkan jeratan hukum ketika bukunya berbau SARA, misalnya.

Bagi sebagian penulis yang lain, buku bajakan tidak menjadi masalah. Ini termasuk tipe penulis idealis, karena karya-karya yang dibajak oleh para pencoleng dianggap sesuatu yang lumrah dan bahkan menguntungkan dirinya. Keuntungan yang dimaksud adalah penyebaran “nilai” yang terdapat di dalam buku yang ditulisnya. Fokusnya tidak lain adalah kebermanfaatan tanpa mengharapkan royalti dari penjualan bukunya, atau dalam bahasa agamanya “berharap pahala” saja.

Dok. kabarnun.com
Tipe penulis kedua ini memang tidak mau ambil pusing, dan merasa cukup nyaman menjalani profesinya sebagai penulis tanpa terbelenggu oleh urusan finansial yang terkadang menyebalkan, apalagi ketika royaltinya tidak kunjung masuk ke rekening atau malah tidak dibayar sama sekali oleh penerbitnya. Baginya, semakin banyak dibajak semakin banyak pahalanya, dan semakin populer namanya.

Barangkali, penulis tipe kedua ini terinspirasi oleh penulis-penulis kitab klasik di kalangan muslim yang karya-karyanya dicetak hingga hari ini, tanpa mengeluhkan royalti. Sebut saja misalnya karya-karya yang ditulis oleh Imam al-Ghazali, Imam Maliki, Imam Hanafi, Imam Zarnuji, Imam al-Maturidi, dan sebagainya, sebagaimana diaji di pesantren-pesantren. Mereka mengikhlaskan karya-karyanya karena—selain dimaksudkan untuk menebarkan kebaikan—, royalti pada masanya memang tidak ada sama sekali.

Bagi penerbit dan penulis tipe pertama ini, buku bajakan adalah dosa besar dan masuk kategori pelanggaran hukum, tetapi nyaris tak ada upaya serius dari penulis tipe pertama dan pihak penerbit, untuk menjerat para pembajak buku ke meja hijau, dan sepertinya memang tidak berdaya untuk melaporkannya. Patut diduga, bahwa penulis tipe pertama dan penerbit telah putus asa, karena hukum terhadap perbukuan dan hak cipta dianggapnya cukup diskriminatif. Pastinya, mereka dirugikan oleh para pembajak yang tidak punya nurani itu.

Kemungkinan lain, penulis tipe pertama dan pihak penerbit segngaja tidak membawanya ke ranah hukum, karena disebabkan oleh tidak berdayanya rakyat untuk membeli buku sesuai harga yang dipatok oleh penerbit. Pemakluman tersebut, karena rendahnya minat baca terhadap buku dianggap mengancam masa depan penulis dan penerbit itu sendiri. Oleh karena sebab itu, para pembajak dibiarkan berkeliaran.

Namun, apapun alasannya, buku bajakan tetaplah ilegal dan merugikan para penulis dan penerbit.  Penulis yang mendelik di depan komputer tak dihargainya, dan penerbit yang berbelanja kertas dicuranginya. Maka, sungguh celaka para pembajak yang telah melakukannya. Bukankah cikal-bakal koruptor di negeri ini, juga berasal dari tukang bajak buku? Siapa dia? Cara saja sendiri!

Mari, jangan beli buku-buku bajakan, selain berdosa dan melangar hukum, buku bajakan juga tidak terjamin kualitasnya. Kertasnya jelek, halamannya lebih banyak yang kacau, dan tentu saja mudah copot. Pernah sekali, penulis membeli di bazar buku yang diadakan oleh pondok pesantren, sumpah penjilidan dan halamannya kacau-balau, dan saya sangat kecewa. Sejak itu, saya tobat.

Sebelum bertobat, mending Anda jangan coba-coba membeli, dan kepada pihak pesantren, jangan sekali-kali ajari santrinya untuk bermaksiat dan melanggar hukum. Jagalah santrinya, agar jauh dari perbuatan dosa pembajakan, termasuk dosa-dosa membajak buku.



Sumenep, 25 Maret 2019



Penulis, Nun Urnoto El Banbary.
Pengkhayal kelas kakap yang terus menulis novel.
Karyanya sudah berserakan di tanah pertiwi.
Gajinya paling rendah dibanding pejabat negara dan pembajak buku.
0 komentar

BUKU DAN KEMISKINAN


Buku-buku yang berisi ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang mustahil untuk dibeli bagi si miskin, meski si miskin punya kesadaran yang tinggi tentang baca-tulis. Sebab, buku bukanlah kebutuhan primer yang bisa menanggulangi kelaparan yang mengancam kehidupannya. Jangankan si miskin, bagi si kaya, buku adalah kebutuhan sekunder, bahkan mungkin sama sekali bukanlah kebutuhan. Itulah ketimpangan yang tengah terjadi di negeri ini, di negeri yang beranjak bangkit dari keterpurukan, setelah hampir 32 tahun terbelenggu oleh kemiskinan sistemik di bawah kekausaan orde baru.

Dok. kabarnun.com
Dahulu, di kampung saya, di pulau Giliraja yang terpencil, nyaris tak ditemukan buku-buku bacaan. Sekali pun ada, itu cuma buku-buku pelajaran yang di dapat dari pinjaman sekolah. Itupun sangat terbatas. Seingat saya, paling banter anak-anak kampung hanya menyalin sebagaimana perintahkan para guru. Salinan itulah yang kemudian dibaca berualang-ulang hingga buku menjadi lusuh. Kami tak mampu membeli buku, dan pemerintah sangat pelit untuk menyumbang buku-buku kepada sekolah kami, atau jangan-jangan pemerintah sengaja untuk membuat kami menjadi bodoh. Itulah “kejahatan” pemeritah masa lalu yang melekat di dalam otak saya.

Andai kami tidak bersusah payah untuk belajar, kemungkinan besar saya dan kawan-kawan tak akan beranjak dari keterpurukan intelektual. Maka, jika otak kami masih rada-rada error atau kami hidup dalam belenggu kemiskinan yang akut, itu karena disebabkan oleh pembodohan sistemik dari pemerintah pada saat itu. Di dalam otak saya, tak ada yang disebut bapak pembangunan, kecuali ayah saya sendiri yang berjibaku dengan nasib kami.

Pernah sekali, saya menemukan majalah yang cukup menggoda untuk dibaca, dan saya rasa itulah majalah yang cukup familiar dalam bacaan saya, yaitu majalah POSMO. Majalah yang sering menyajikan bacaan-bacaan supranatural, dengan istilah-istilah yang cukup menggoda di masa remaja saya, seperiti istilah ilmu Braja Musti, ilmu Lembur Saketi, Ajian Lampah-lumpuh, Ajian Lembu Sekilan, Ilmu Pengasihan, Ilmu Pelet, dan sebagainya.

Maka, wajarlah jika kehidupan saya di belakang hari menyukai mistisisme ditambah oleh dendam kesumat atas kematian nenek saya yang disantet oleh seorang tua yang tanpa tedeng aling-aling telah melakukannya. Saya pun mempelajari ilmu mengembalikan sihir kepada pemiliknya.

Dok. kabarnun.com
Sungguh, kemiskinan itulah yang menjadi musabab masa depan seseorang. Jika masa silam seseorang dipenuhi banyak pengetahuan, saya pikir negeri ini akan menjadi tercerahkan. Kita tak akan menemukan orang bodoh yang asal bunyi, tak akan menjumpai politisi yang hanya bikin gaduh tabung televisi, dan kita tak akan menjumpai banyak keterpurukan di dalam segala lini kehidupan bangsa ini.

Membaca bisa menjadi solusi untuk memecahkan banyak persoalan di negeri ini. Sebab, dengan cara membaca akan banyak ditemukan kesalahan-kesalahan yang sebelumnya rumit dan tidak terselesaikan. Tentu saja bagi pembaca pemula adalah membaca teks-teks pengetahuan, bukan sok membaca gejala alam ala Albert Einstein.

Seiring runtuhnya Orde Baru, dunia baca-tulis yang menjadi padu dalam istilah literasi dan segala turunannya mulai merambah ke pulau saya. Pada masa pemerintahan Joko Widodo, buku-buku dari donatur dan pemerintah sendiri, mulai berdatangan. Dikirim ke rumah baca Sangkolan dan Agung Demang. Keduanya, bergerak untuk membangun satu kesadaran literasi baca-tulis sebagaimana yang diajarkan dalam surat al-’Alaq ayat pertama, kelima, dan momentum pengetahuannya pada ayat keenam.

Sekarang, buku-buku yang tersedia di rumah baca bebas untuk dinikmati. Tidak ada alasan kemiskinan lagi untuk membaca, seperti dahulu saya mengalaminya. Buku dan kemiskinan sudah tak lagi menjadi sekat. Keduanya sudah akur berkat gerakan literasi yang dimotori oleh Bapak Nirwan Arsuka dan Najwa Shihab , serta aktivis literasi lainnya.

Kemiskinan telah dibebaskan oleh buku-buku, dan diharapkan buku-buku menjadi solusi untuk membebaskan kemiskinan dalam segala wujudnya. Mari terus belajar, jangan kalah dengan Amerika, Selandia Baru, Finlandia, Cina, yang konon di negeri mereka lebih banyak nonmuslinya—yang belum pernah mendengar kata “iqra” dari kitab suci al-Quran. Mereka maju, karena membaca, meneliti, dan berkontribusi untuk kemaslahatan umat manusia di seluruh semesta. Buktinya, Cina yang sering menjadi opini buruk menjelang pemilu telah menyediakan banyak kemudahan bagi kaum duafa. Tanyakan pada mereka, apa merk ponselnya?

Umat mayoritas di negeri ini adalah muslim. Kitabnya adalah rangkuman dari segala kitab-kitab suci. Segala ilmu pengetahuan, termasuk nilai-nilai sastra sangat lengkap di dalamnya. Dan, Tuhan sangat bersedia agar kitabnya tak hanya dibaca, tetapi dibedah agar dirasakan manfaatnya. Kitab suci itu, tidak hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang beriman saja, tetapi bagi siapa saja yang ingin memperlajarinya, bahkan solusi atas kemiskinan juga ada di dalamnya. Disilakan, siapa saja untuk mempelajarinya, termasuk negara yang mengusai kemiskinan di negeri ini.

Sekali lagi, tak ada sekat lagi antara buku dan kemiskinan untuk “berselisih”. Buku sudah menyediakan ruang, dan kemiskinan bebas menggunakan dan memanfaatkan ruang yang telah tersedia. Orang miskin wajib membaca, sebagaimana orang kaya yang mampu berbelanja buku untuk dibaca.

Lihatlah anak-anak yang ada dalam foto itu. Tataplah latarnya, yang terdiri dari anyaman bambu yang luruh oleh kemiskinan masa lalu orangtua mereka. Mereka membaca, mereka bahagia, dan mereka siap untuk terbebas dari kemiskinan melalui pencerahan buku-buku.

Lihat pula dua remaja yang membaca di atas perahu, mereka bersabar sambil membaca, hingga perahu merapat ke dermaga. Semoga menjadi budaya. Budaya yang memajukan bangsa dari keterpurukan dalam segala bentuk wajahnya.

Saya sendiri yang hijrah ke pulau lain, ikut menjadi bagian pegiat literasi di tanah kelahiran istri saya. Saya dan istri mengumpulkan buku, menyediakan tempat sebagai rumah baca bagi anak-anak dan orangtua untuk sekadar berbagi kebaikan. Siapa tahu kebaikan yang kami suguhkan mencerahkan kehidupan mereka secara intelektual.

Rumah baca yang kami dirikan diberi nama, “Rumah Baca Anak-Anak Pangaro” berada di Dusun Gendis RT.09/RW.03 Desa Aeng Tongtong Kecamatan Saronggi Kabupaten Sumenep Madura. Kode Pos 69467. 



Bagi kawan yang ingin berbagi atau menyumbangkan buku-buku agar bermanfaat bagi sesama, dipersilakan mengirimkan ke alamat di atas, dan Rumah Baca Anak-Anak Pangaro sudah lama terdaftar di PBI. Selanjutnya, kami sampaikan terima kasih yang tak terhingga kepada semua donatur.



Sumenep, 23 Maret 2019.

Penulis, Nun Urnoto El Banbary
Penggerak Literasi
"Rumah Baca Anak-Anak Pangaro.
Dusun Gendis RT. 09/RW.03 Aaeng Tongtong
Saronggi  Sumenep Madura 69467"



0 komentar

PEMILU DAMAI TANPA HOAX


Korban hoax berjatuhan, bahkan calon Presiden Prabowo Subianto sempat menjadi korban hoax Ratna Sarumpaet yang menyebarkan muka bonyoknya, hingga nasib Ratna berujung di jeruji besi. Tidak hanya Prabowo, Jokowi juga menjadi bulan-bulanan nitizen yang pikirannya sudah terkontaminasi berita bohong berupa tuduhan PKI terhadap diri dan keluarganya.

Saking samarnya, hoax tidak hanya menimpa kaum awam saja, tetapi kaum intelektual pun menjadi tumbalnya. Hoax terus bertebaran, dan memakan korban-korban berikutnya yang kurang hati-hati dengan informasi yang akurasi datanya terkadang membingungkan.

Dok. kabarnun.com
Hoax dibuat tidak lain untuk menyebarkan kebohongan, agar tercapai tujuan yang dikehendaki oleh si penyebar, tanpa peduli dengan efek yang ditimbulkannya. Misalnya, Indonesia akan punah pada 2030 tanpa menyajikan data-data ilmiah yang tak terbantahkan. Akibatnya, orang-orang resah memikirkan kepunahan, lalu memicu pikiran-pikiran negatif semisal ketakutan yang akut.

Ruang gerak hoax sangat masif dan  mengancam pikiran-pikiran kosong yang tanpa pengetahuan, terutama di dunia maya yang pergerakannya hingga ke ruang-ruang yang paling privasi, dan itu sangat mengerikan.

Satu-satunya jalan untuk mencegahnya adalah dengan melawannya. Caranya, bisa beragam. Tergantung kadar pengetahuan masing-masing dari kita. Intinya, kita wajib melawan meski bumi bergoncang dan langit runtuh, minimal pikiran diri sendiri tidak terpengaruh apalagi ikut serta menyebarkannya ke ruang publik.

Jika kita menggunakan pendekatan agama, maka cukuplah tabayun, atau klarifikasi kepada yang bersangkutan. Jika tidak memungkinkan—misalnya karena sumbernya tak terjangkau—, maka dapat dilakukan dengan cara klarifikasi melalui orang-orang terpercaya, media terpercaya, dan atau lebih baik diam saja. Dalam hal ini, agama harus turun tangan menghadapi persoalan hoax, karena menyangkut kedamaian dan hajat orang banyak yang berpotensi menimbulkan konflik cukup parah dalam kehidupan manusia. Itulah sebabnya, agama mengajarkan tabayun, bukan diam sambil terus menunggu perkembangan opini yang kian carut-marut.

Sukses dan tidaknya pemilu kali ini, bisa tergantung seberapa besar pengaruh hoax terhadap pikiran rakyat yang ikut serta merayakan pesta demokrasi paling bergengsi yang diadakan setiap lima tahun sekali ini. Sukses yang dikehendaki, tentu tidak timbulnya chaos selama pemilu berlangsung, sehingga negeri ini damai dan tidak buang-buang energi yang cukup besar.
Memang tidak bisa dipungkiri, bahwa hoax menjadi bagian strategi kotor untuk memenangkan ambisi kekuasaan, bahkan mereka yang melakukan anomali-anomali melalui hoax, kerap kali menjadi kalap dan melupakan konsekwensi yang berpotensi buruk bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Itulah yang disayangkan dari kampanye-kampanye yang hanya bertujuan untuk berkuasa.

Hoax tidak saja merambah dunia maya, tetapi juga dunia nyata melalui mimbar-mimbar masjid yang kerap kali dijadikan agitasi untuk meraup suara pemilihnya. Pendidikan kampanye yang baik, tanpa kekerasan verbal nyaris tidak didapatkan.

Perlu kerja keras untuk mewujudkan pemilu yang tanpa hoax dari seluruh stakeholder, mulai dari rumah tangga, sekolah, hingga ke forum-forum informal semisal saat ngopi bareng di kedai. Selain bentuk tabayun sebagaimana dijelaskan di atas, kita perlu reaktif atas hoax yang terus simpang siur memenuhi ruang kerja kita, misalnya dengan cara masuk ke sekolah-sekolah untuk mengedukasi guru dan muridnya, atau membuat panflet dan dibagikan kepada orang-orang yang lewat, atau bikin tagar anti hoax, dan semacamnya.

Katakan kepada mereka, bahwa hoax lebih berbahaya dari narkoba. Narkoba hanya mencelakai diri sendiri, tetapi hoax bisa membubarkan negara. Pencerahan bisa melalui instrumen media sosial apa saja, yang penting usaha terus berjalan dan tidak stagnan. Anggap saja melawan hoax adalah bagian jihad akbar yang wajib dilakukan bagi setiap anak bangsa yang punya komitmen cinta tanah air, dan menghendaki damai tetap abadi di negeri ini.

Hoax masuk kategori alfitnatu assaddhu minal qotli, fitnah lebih kejam dari pembunuhan dan itulah kejahatan hoax yang hukum dosanya sama dengan fitnah, karena sejatinya hoax adalah fitnah. Orang-orang beragama tentunya tidak akan melakukan itu kecuali menganggap hoax sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja dan tidak memiliki resiko, atau mereka tidak mempercayai dosa hoax dan sebarannya.

Negeri ini akan langgeng, jika kita kembali ke dalam satu kesadaran bahwa kita sedang membangun bangsa dan negara, bukan untuk meruntuhkannya, dan hoax termasuk salah satu penyumbang keruntuhan yang sangat besar bagi republik ini, meski hingga hari ini tidak terlalu dirasakan, namun lambat-laun akan sangat terasa akibatnya, terutama soal disentegrasi antar dua pendukung yang belakangan cukup mengkhawatirkan.

Mari lawan hoax bersama-sama, agar negeri ini bersih dari pikiran-pikiran kotor yang mengancam keharmonisan masa depan negara dan bangsa. Jangan ada lagi berita-berita yang tidak jelas disebar luaskan, apalagi sampai di “goreng” hingga gosong.

Martabat bangsa ini ada di tangan kita semua, yaitu generasi melenial yang akan menyambut masa depan yang penuh dengan berita simpang-siur. Jangan ada lagi tumbal hoax yang mempermalukan diri sendiri dan muruah bangsa ini.


Sumenep, 23 Maret 2019.


Penulis, Nun Urnoto El Banbary
Penggerak Literasi
Rumah Baca Anak-Anak Pangaro.
Dusun Gendis RT. 09/RW.03 Aaeng Tongtong
Saronggi  Sumenep Madura 69467

0 komentar

RATUSAN JUTA UNTUK AKAL SEHAT

Kali ini, pemerintah melalui Balai Bahasa Jawa Timir menggelontorkan dana ratusan juta untuk memelihara akal sehat. Instrumennya adalah kompetisi Kebahasaan dan Kesusastraan melalui gerakan literasi yang menjangkau semua segmen usia mulai dari pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum. Kompetisinya juga beragam, mulai esai, cerpen, drama, dan sebagainya.

Dok. Balai Bahasa Jatim
Lomba ini membutuhkan keberanian untuk menuangkan gagasan dan eksplorasi kreativitas bagi dunia pedagogi yang terus diupayakan menjadi lebih baik dari masa sebelumnya.

Dok. Balai Bahasa Jatim
Anak didik yang berani berkompetisi, itu tidak lain adalah keberhasilan luar bisa dari gurunya. Sebaliknya, murid yang ketakutan dan bahkan menyerah sebelum terjun ke gelanggang menjadi indikator kuat kegagalan guru. Guru dalam hal ini, memang patut disalahkan, karena gagal menjadikan semangat literasi berbuah gagasan yang brilian pada diri anak didiknya. Dan, guru yang tidak mau disalahkan bisanya sedang merasa pintar.hehe


Ayo berkompetisi! Jangan ragu lagi. Baca panfletnya, dan aturan lebih lanjut bisa langsung hubungi nomor ponsel yang tertera di setiap masing-masing kategori.
Lomba ini, khusus untuk warga Jawa Timur saja. Sekian info yang dapat disampaikan. Semoga berguna untuk mengantarkan Anda menjadi pemenangnya.

0 komentar

CINTA MARKENYOT SEPUTIH SALJU

Saya baru bangun tidur, dan menghabiskan buah pisang yang besar untuk mengganjal perut yang terasa lapar pada dini petang ini. Tapi, saya tidak hendak menulis soal pisang yang berhasil mengganjal perut saya yang terasa lapar. Saya ingin bercerita mimpi saya, tentang salju yang menempel di pipi saat ditanya oleh seorang kaisar Cina yang saya jumpai. “Apakah yang menempel di pipi saya debu atau salju?” tanya saya sambil meraba-raba pipi saya.

Kaisar tidak menjawab. Ia malah bertanya, “menurutmu, apa?” Aku menjawab, “debu.” Kaisar, tersenyum sambil menyambut kedatangan sauadaranya yang juga menjadi kaisar di dataran Cina.

Dok. kabarnun.com
Sebenarnya, saya sudah tahu bahwa yang turun dan menghujani istana kaisar adalah salju. Hanya saja, saya hendak memantapkan keyakinan saya—yang sebelumnya sudah mantap—bahwa yang menempel di pipi dan dan semua tempat di sekitar saya adalah salju.

Inpirasi salju terus menusuk-menusuk kepala saya, dan seribu pertanyaan lengkap dengan tafsirnya terus menggedor kepala. Rasanya, ingin saya tulis di beranda facebook, namun saya merasa beranda facebook tak akan memuatnya, bahkan mungkin menimbulkan reaksi buruk dari kawan-kawan yang pendek akal spiritualnya, dan tak punya semangat membaca yang tinggi.

Satu tafsir dari mimpi salju adalah cinta seputih, sesejuk, dan setulus dirinya. Apa pun yang saya kerjakan adalah cinta, dan itu harus seputih, sesejuk, dan setulus salju itu sendiri. Di antara pekerjaan saya adalah menulis. Menulis yang saya kerjakan seharusnya sudah tidak saya sebut lagi “menulis”, tetapi cinta. Jadi, saya sedang mengerjakan cinta. Cinta yang sesalju dalam tafsir mimpi yang menggedor kepala saya.

Saya mengerjakan cinta, tanpa mengharap apapun yang hanya menghidangkan kekecewaan dan sakit hati dalam kehidupan yang khoyyali,  ini. Cinta hanya mengerjakan. Seumpama harus berbuah uang, pahala, puja dan puji, popularitas, dan kehormatan lainnya, itu hanyalah konsekwensi logis dari pekerjaan saya, dari cinta saya. Maka, kepada siapa pun dipersilakan untuk memetiknya.

Masalahnya, benarkah pekerjaan saya sesalju dalam mimpi itu? Jangan-jangan, saya hanya berapologi, atau lebih buruk beralibi, untuk menutupi keterpurukan saya yang sesungguhnya. Bukankah di jaman now ini, kehebatan banyak yang dibungkus dengan aksesori baju, mahkota, juga kosa kata? Seumpama tukang ceramah yang selalu diklaim sebagai seorang ulama, padahal bukan sama sekali? Lalu, di belakang hari, Tuhan membuka kedoknya sebagai anjing politikus, bukan ulama seperti yang disangka? Namun, berpikir buruk dari kata “jangan-jangan” yang saya suguhkan itu, juga jebakan yang seharusnya tak boleh diaminkan oleh siapa pun, meski itu rasional, umpamanya. Jalan tengahnya, jangan berpikir apa pun tentang orang lain, termasuk kepada saya. Apakah saya sesalju tafsir mimpi itu atau bukan, janganlah diurus. Biarkan saja, agar tak menjadi penyakit.

Penulis bermental salju adalah penulis yang menulis, tanpa bahagia diberi royalti, tanpa bersedih karyanya dibajak, tanpa besar kepala oleh popularitas, tanpa bersedih dikritik, tapi melawan jika dimaki-maki oleh orang bodoh.

Penulis yang protes sana-sini karena karyanya seharusnya layak diterbitkan, layak menjadi juara, layak mendapat apresiasi, sakit hati jika tersaingi, merasa tidak dimuliakan adalah penulis coro yang kampret. Lebih kampret lagi, orang-orang yang tidak punya karya tulis, dan karya apa pun tapi merasa sudah menjadi coro. Indikatornya, orang macam itu biasanya suka mengukur moralitas orang lain dengan moralnya sendiri yang tanpa pengetahuan yang bijaksana. Sekali lagi, tanpa pengetahuan yang bijaksana. Silakah cari dalam kitab suci pengertian bijaksana.

Saya pernah diprotes di depan umum oleh seorang guru PNS bodoh yang tiba-tiba atas “kesalahan” saya dia merasa lebih pintar dan sok bijaksana. Berceramahlah dia sambil ngata-ngatain seolah cara bernasihatnya sudah benar. Sejak kapan orang bijaksana ngata-ngatain orang lain di depan umum? Rupanya, pancingan saya—saya sengaja memancing orang-orang yang merasa berilmu, karena sebelumnya muncul reaksi negatif pada hal-hal yang dipromosikan di hadapan mereka—berhasil. Barangkali, karena dia PNS lalu merasa berhak berkhutbah di depan umum. Barangkali, karena dia PNS lalu merasa sukses. Padahal, dia itu benalu bagi negara, dan mencatut slogan “abdi” negara untuk melegitimasi pengabdiannya. Dikira, mengabdi itu dibayar. Mengabdi itu membayar, apalagi mengabdi kepada negara yang sekarat.    

Namun demikian, hati yang sesalju dalam perspektif tafsir mimpi saya, memaklumi ketidakberdayaan mereka. Mereka adalah orang bodoh yang merasa pintar. Ini, bukan soal prasangka buruk atas metafisik kelakuan mereka. Ini nyata atas pernyataan-pernyataan kebodohannya yang dipublikasikannya. Dan, tulisan-tulisan ini, saya kategorikan tulisan cinta, meski saya tahu, cinta akan cacat jika diutarakan di hadapannya. Namun, ini pendekatan berbeda yang tak boleh sembarangan saya uraikan semantiknya.

Jika penulis tak punya cinta seputih salju, maka ketajaman pena para penulis sudah lama mengurai perut busuknya ke hadapan publik. Mereka tak akan bisa menandingi ketajaman penanya. Ujung penanya lebih tajam, bahkan lebih kejam dari ujung pedang. Sudah berapa banyak, orang mati diujung pena? Pena mereka mengabadikannya dalam buku-buku, jurnal-jurnal, dan media lainnya. Mereka menyebut nama, membuat inisial, dan sketsa-sketsa yang bisa dikenang dan dijadikan pelajaran bagi generasi masa depan anak-anak bangsa. Lawan saja penulis, jika Anda ingin remuk selama berabad-abad.

Banyak kisah-kisah coro yang akan saya tulis untuk melengkapi pelajaran-pelajaran berharga bagi anak-anak saya, bagi orang-orang baik yang akan menghadapi kaum coro dari kalangan mereka sendiri. Namun, penulis harus tetap cinta. Bahkan, bahasa yang terdengar sarkas dari seorang penulis adalah cinta. Berbeda jika keluar dari politisi, bahasanya adalah petaka.

Demikian, unek-unek Markenyot yang saya tulis hingga menjelang subuh. Nanti, sajak-sajak Markenyot akan terbit dalam bentuk e-book. Salam NKRI dari Markenyot.




Sumenep, 22 April 2018   



   

0 komentar

ANAK-ANAK PANGARO MENGANTARKAN SAYA

Dok. kabarnun.com
Barangkali, tokoh-tokoh yang dilahirkan melalui novel Anak-Anak Pangaro telah berucap beribu terima kasih kepada tuannya (pengarangnya), yang telah melahirkannya ke planet bumi, meski si tuan sendiri tak mendengar ucapan verbalnya. Paling tidak, si tuan telah menyaksikan beberapa pengakuan yang dipampang pada papan google, tentang sepak terjang tokoh-tokoh yang direkanya. 

Si tuan tak pernah menyangka, bahwa karya rekaannya mendapatkan reaksi cukup menyejukkan, meski tak sebanding dengan rekaan-rekaan Pram, Hirata, Utami, Abik, dan sederet tokoh beken lainnya. 

Rekaan yang lahir dari pulau gelap di Sumenep ini, seolah mengabarkan kegalauan para penduduknya kepada dunia. Galau oleh kekeringan, galau oleh kekurangan air, galau oleh pembataian nyawa-nyawa, galau oleh ketimpangan sosial, dan seterusnya. Galau yang tak berkesudahan. Galau yang memuncul tema-tema unik untuk terus-menerus diceritakan kepada dunia. 

Barangkali, musabab itulah yang menyebabkan seorang pembaca sekaligus cerpenis bernama Ananda Lubanaya terpikat hatinya. Konon, Lubanaya menuturkan bahwa dari sekian banyak novel yang dibaca, “Anak-Anak Pangaro”lah yang menjadi favoritnya. Itu satu berita penting yang pernah sampai kepada tuannya Anak-Anak Pangaro.

Kabar penting lainnya yang sampai ke kuping si tuan adalah ketika beberapa mahasiswa melakukan penelitian terhadap rekaan itu. Sebut saja, Robiatul Adawiyah (@wieadawieyah) seorang Mahasiswi UHAMKA Jakarta, yang meneliti dari sisi nilai moral dan sosialnya. Seorang Mahasiswi dari Muhammadiyah Malang bernama Resti Ambarwati, juga ikut-ikutan meneliti. Tidak ketinggalan pula Defaizan dari STKIP PGRI Sumatera Barat, yang kemudian penelitiannya terbit di Jurnal Ilmiah Mahasiswa. 

Dan, masih banyak lagi yang lainnya. Tinggal buka mbah google, berhamburanlah Anak-Anak Pangaro. Tak penting untuk disebutkan satu persatu, agar si tuan tak bertambah tebal kacamatanya saat membaca ulang catatan ini.

Anak-Anak Pangaro yang lahir pada bulan Mei 2015 ini pernah menjadi nominator lomba menulis novel nasional yang diadakan oleh Tulis Nusantara pada 2013 dan memenangi kompetisi menulis novel “Seberapa Indonesiakah Dirimu” pada 2014 yang akhirnya diterbitkan oleh Penerbit Tiga Serangkai.  

Kabar itu perlu ditulis dan dipublis? Tentu saja, agar si tuan tahu bahwa rekaan-rekaan ceritanya telah berucap terima kasih dalam diam dan kesunyiaannya, dalam suguhan berangkai alur yang memikat hati penikmatya, dalam sulaman yang akan diabadikan oleh sejarah yang tak bertepi. Semoga sejarah tidak berjeda membincangkannya.

Masihkah mengabaikan Anak-Anak Pangaro yang ditulis oleh si tuan dari pulau yang gelap itu? Sebelum sesal menjangkit, maka carilah Anak-Anak Pangaro itu, hingga ke pulau kelahirannya. 

Pulau itu tak ada di peta nasional. Barangkali, pejabat Jakarta tidak pernah percaya, bahwa pulau yang diceritakan oleh tokoh-tokoh Anak-Anak Pangaro itu, nyata adanya. Pulau itu ada di selat Madura, di kelilingi kolam susu yang dipenuhi merjan-merjan. Batu-batunya bisa menjelma guliga.

Anak-Anak Pangaro telah dibedah di mana-mana, didiskusikan oleh para cendikia, diresensi diberbagai surat kabar, dan menunggu pejabat negara dari kabupaten mengapresiasi, entah dengan cara apa? 

Gara-gara Anak-Anak Pangaro, si tuan dikawal ke berbagai mimbar untuk menyampaikan sebait dua bait kata yang bisa membakar seluruh jiwa-jiwa mereka yang beku. Dihormati, disalami, diajak selfie, dan disegani. Di meja, terhidang kopi-kopi, terhidang pula sakit hati yang tak kunjung menepi. 

Demikian dahulu, kisah Anak-Anak Pangaro yang menggunjing tuannya hingga hari ini. Semoga, gunjingan-gunjingannya menjadi bara bagi siapa saja, untuk kreativitas yang berkelanjutan. 
Semoga tulisan ini tak dianggap riya' oleh mereka yang gagal paham.



Guluk-Guluk, 9 Februari 2018

0 komentar

MENGGERAKKAN LITERASI ALA FAUZI

Perlu satu gerakan untuk mengimplentasikan literasi di sekolah dasar, yaitu gerakan membaca. Membaca menjadi gerakan paling vital, untuk mengawali gerakan literasi di seluruh sekolah dasar di tanah air ini. Musababnya, tak lain karena membaca menjadi kunci untuk membuka seluruh gudang ilmu pengatahuan. Namun, gerakan tersebut akan menjadi sia-sia jika seluruh stakeholder—mulai dari tukang sapu hingga kepala sekolah—tidak mengamalkan petuah Ki Hajar Dewantara, yaitu Ing Ngarso Sun Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, dan Tut Wuri Hadayani.

Jika falsafah super keramat yang menjadi lambang Kemedikbud ini diabaikan, dan sama sekali tidak menjadi amaliah keseharian di lingkungan sekolah, maka cacatlah aktivitas belajar mengajar, timpanglah aktivitas literasi yang menjadi gerakan, sebab anak-anak sekolah dasar membutuhkan teladan, niat kuat, dan dorongan yang digdaya, bukan obral teori yang akan menjadikan peserta didik menjadi jumud, bosan, dan akhirnya sekolah laksana penjara yang menyiksa. Namun, tidaklah demikian dengan sekolah dasar yang didirikan oleh Muhammad Fauzi di gang sempit Jalan Gatot Subroto, Desa Karangbong, Kecamatan Gedangan, Sidoarjo ini.   

Riwayat Penting
Begini riwayatnya: Bermula dari keprihatinan dan kecintaannya terhadap korban lumpur Lapindo di sekitar rumahnya, maka Fauzi sepulang nyantri di Banyuangi, dirundung gelisah berkepanjangan. Malam-malamnya dihantui mimpi buruk nan mengerikan. Ia tidak bisa tinggal diam melihat penduduk sekitarnya yang senasib dengan dirinya mengalami kendala akses terhadap ilmu pengetahuan.

Jika dirinya mendapat ilmu pengetahuan dari cara membaca untuk bahan-bahan tulisannya, maka Fauzi memandang perlu untuk memperlakukan hal yang sama terhadap masyarakatnya. Fauzi mengumpulkan buku-buku untuk dibaca, sehingga masyarakatnya punya pengetahuan, tercerahkan, apalagi bisa menulis seperti dirinya. Tentu saja, Fauzi bahagia.

Seiring waktu—sambil berjualan jamu—Fauzi terus mengumpulkan bahan bacaan yang dianggapnya sebagai sumber pengetahuan untuk didedikasikan kepada masyarakatnya yang tidak berdaya secara ekonomi. Fauzi menganggap tidak selayaknya pengetahuan hanya menjadi monopoli orang-orang beruang. Orang-orang miskin juga berhak mendapatkannya, dan Fauzi terus memperjuangkannya, meski harus merogoh omzet penjualan jamunya. 
 
Fauzi senantiasa hakulyakin, bahwa transaksi amaliahnya dengan tuhannya akan berujung dengan keberuntungan yang berlipat ganda. Itulah motivasi terbesar dalam perjuangan Fauzi mewujudkan cita-cita mulianya. Dan, Fauzi selalu menyampaikan hal itu dalam setiap kesempatan berbicara di hadapan publik, dengan tujuan sebagai motivasi.   

Sosok yang hanya tamatan sekolah menengah pertama itu terus menggalang dana untuk pengadaan buku, dan raknya. Gayung bersambut. Fausi kian bersemangat ketika mendapati bangunan usang Polindes. Ia segera menghubungi pihak yang berwenang untuk dimanfaatkan sebagai perpustakaan mini yang digagasnya. Usaha Fauzi berhasil, dan perpustakaan yang dimpikan itu kemudian diberi nama: Taman Ilmu Masyarakat. 

Kegelisahan Fauzi tidak berhenti sampai di situ. Baginya, perpustakaan tak cukup hanya menunggu pembaca datang. Orang-orang tidak bisa bergeser dari kesibukannya. Perpustakaan menjadi tempat yang sepi dan menyeramkan. Maka, Fauzi mengambil inisiatif untuk mengantarkan beberapa koleksinya kepada para pelanggannya. 

Sambil berjualan jamu, Fauzi terus mengampanyekan membaca dengan cara membawa buku-buku koleksinya di jok motornya, untuk dipinjamkan secara gratis kepada pelanggannya, atau ia titipkan di kedai-kedai yang bersedia mengamini maksud baiknya.

Bagi Fauzi, kampanye membaca sama dengan menyampaikan pesan tuhan yang tertera pada ayat pertama dalam surat al-‘Alaq, yaitu IQRA’. Itulah ruh perjuangannya, agar ia tak menjadi sia-sia dalam beramal.

Sekolah Gratis
Aktivitas Fausi menjadi perhatian banyak mata dan telinga, menjadi buah bibir dimana-mana, hingga akhirnya suara-suara masyarakatnya berpadu, meminta Fauzi  mendirikan Taman Pendidikan al-Quran (TPQ), dan berselang hitungan bulan, masyarakat meminta mendirikan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Fauzi tercengang. Tak dinyana secepat itu. 

Belum genap setahun, Fausi sendiri berinisiatif mendirikan Taman Kanak-Kanak (TK), hingga 2016 berdirilah Sekolah Dasar (SD) yang menjadi masterplan pembelajaran literasi yang terintegrasi dengan pelajaran Bahasa dan Sastra Indoensia. 

Fauzi tidak hanya memiliki semangat tinggi, tetapi ia termasuk sosok unik. Pasalnya, di tengah keterbatasan ekonomi yang mendera, Fauzi malah bernyali untuk menggratiskan sekolah yang didirikannya. Ia tidak takut kehabisan uang untuk menggaji guru-guru yang mengajar di almamaternya. Keyakinannya, tak lekang oleh keterbatasan ekonomi yang menyesakkan sendi perekonomian tanah air.

Implementasi Literasi: Membaca Melecutkan Potensi
Fauzi yang pernah menulis buku Trik Singkat Mendirikan Perpustakaan, dan buku Hati Tergerak Tangan Bergerak” menemukan momentumnya untuk mengimplementasikan hobi menulisnya di sekolah yang didirikannya, yaitu Sekolah Dasar Bustanul Hikmah. 

Mula-mula memberikan motivasi tentang nikmatnya menulis buku, sebagaimana yang sudah dialami oleh Fauzi sendiri, termasuk mengenalkan buku-buku yang dipegang oleh pesaerta didik sebagai sesuatu yang amat berharga dalam kehidupan orang-orang yang mencintai ilmu pengetahuan. Namun, sebelum Fauzi memberikan pembelajaran kepada peserta didiknya, lelaki yang dikarunia dua orang anak itu sudah wanti-wanti kepada para guru-guru sukarelawan yang mengajar di lembaganya, agar berbuat lebih awal sebelum seribu teori tertuang di hadapan peserta didiknya. Artinya, mereka harus rajin membaca dan menulis terlebih dahulu.  

Fauzi mengimpikan guru-gurunya merupakan jelmaan dari falsafah Ki Hajar Dewantara yang tertuang dalam kalimat sakral Ing Ngarso Sun Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Hadayani. Dengan demikian, seluruh stakeholder sekolah tak punya hutang moral kepada peserta didiknya ketika telah maksimal melaksanakan amanat pembelajaran. Fauzi tidak sekptis dengan kemampuan para guru, karena basic mereka di dunia literasi tidak perlu diragukan lagi.

 Kampanye membaca yang dilakukan Fauzi kepada peserta didiknya dari PAUD hingga Sekolah Dasar yang didirikannya, tidak lain merupakan satu rukun penting di dalam dunia tulis-menulis. Hal itu sejalan dengan petuah Stephen King dalam bukunya Stephen King on Writing, “tak ada jalan pintas menjadi penulis, kecuali membaca dan menulis.” Fauzi telah melakukannya sebelum mendirikan sekolah formal, dan sekarang menularkannya kepada seluruh civitas akademika yang ada di bawah naungan Yayasan Bustanul Hikmah yang di pimpinnya.

Fauzi membuka lebar-lebar perpustakaannya untuk siapa saja, terutama peserta didiknya yang rata-rata hidup dalam garis kemiskinan yang menderanya. Di buka full time, selama 24 jam. Ini merupakan rekor baru, melebihi perpustakaan-perpustakan sekolah yang lain, melampaui perpustakaan-perpustakaan yang dikelola birokrasi. Cara gila yang dilakukan Fauzi ini patut diteladani. Setidaknya, Fauzi diajak urun-rembuk atas suksesnya perpustakaan yang di kelolanya bersama Imroatul Mufidah, istri yang konon bersedia dipoligami. 

Tidak hanya membuka perpustakaannya selama 24 jam, Fauzi yang baru saja memasuki usia 36 tahun itu, juga mengantarnya ke warung-warung yang bersetia ikut serta menyedian buku-buku untuk pembelinya. Menurutnya, tidak akan ada yang membaca karya tulis anak didiknya, jika kampanye membaca menjadi gagal. Itulah musababnya, Fauzi benar-benar totalitas mengampanyekan membaca di mana-mana.

Implementasi Literasi: Menulis adalah Praktik
Baru, setelah (peserta didiknya) membaca, atau setelah dianggap kaya akan kosa kata, memancing ribuan ide yang mengendap, dan atau dipenuhi gizi-gizi pengetahuan, Fauzi dan segenap guru berpindah ke praktik menulis. 

Menulis masuk kurikulum tersendiri di sekolah yang dikelola Fauzi. Guru yang mengajar materi menulis, meminta peserta didiknya untuk setor tulisan setiap hari, meski tulisan itu hanya satu paragraph atau bahkan hanya terdiri dari tiga kalimat. Genre tulisannya bisa seputar cerita sehari-hari, atau semacam catatan harian, dan itu hanya diberlakukan di Sekolah Dasar Bustanul Hikmah yang dikelolanya, sedangkan sekolah TPQ, PAUD, TK, masih sebatas motivasi semisal sekadar mengisahkan penulis-penulis militan macam Bung Karno, Bung Hatta, Pramoedya Anan Toer, atau HAMKA yang meski di penjara masih tetap bersetia mencoretkan penanya.

Tulisan-tulisannya dikumpulkan kepada gurunya, lalu diteliti, diperbaiki, dan di arahkan menjadi lebih bermutu, baik dari sisi idenya, titik dan komanya, hingga ejaannya. Demikian seterusnya, sampai gurunya menjadi yakin bahwa masa depan literasi akan lahir pula dari torehan anak-anak yang dididiknya dengan penuh kesabaran. 

 Ketika Fauzi ditanya lebih lanjut soal kegiatan menulis di sekolahnya, ia menjawab dengan serius melalui WhatsAppnya, bahwa menulis merupakan kewajiban umat Islam. Keseriusan Fauzi terbukti telah dituangkan dalam aktivitas nyata melalui gerakan membaca, sekaligus mewujudkannya dengan cara memasukkan kegiatan literasi ke dalam kurikulum Sekolah Dasar yang didirikannya. 

Fauzi tidak perlu menunggu putusan mufasir untuk mewajibkan menulis bagi diri dan anak didiknya. Ia sudah mengetahui rahasia tafsirnya sejak delapan tahun belajar agama di pesantren. Hanya saja, Fauzi tidak perlu berkicau lewat kata-kata, karena kata-kata seringkali dianggapnya menimbulkan anomali bagi yang pendek akalnya. Fauzi langsung menerjemahkan tafsirnya lewat tingkah-laku yang berdaya guna bagi sekitarnya, di antaranya menyediakan bahan bacaan, dan mengampanyekan karomah membaca dan menulis.

Simpulan Sekaligus Penutup
Simpulan dari implementasi gerakan literasi yang dilakukan sekolahnya Fauzi dimulai dengan MEMBACA, seraya menyediakan bahan bacaannya. Saat ini, perpustakaan yang dikelolanya telah memiliki koleksi hingga 8000 eksemplar dengan beragam genre yang menarik minat baca peserta didik. Sedangkan LITERASI langsung pada tataran praksisnya, dan Sekolah Dasar yang didirikan oleh Muhammad Fauzi telah memasukkan literasi sebagai kurikulum yang wajib dilakoni oleh semua anak didiknya. 

Jangan heran jika Anda berkunjung ke Bustanul Hikmah, sebab Anda akan disuguhi pemandangan yang tidak wajar, yang tidak serupa dengan sekolah-sekolah mentereng lainnya di kota-kota dan desa-desa yang dimanja oleh bantuan pemerintah. Namun, Anda akan dibuat berdecak kagum dengan perpustakaannya yang belum pernah dimiliki oleh sekolah-sekolah dasar bertaraf internasional sekali pun. Bermodal perpustakaan yang dikelolanya sejak tahun 2011, Fausi berhasil membangun kepercayaan masyarakat untuk mendirikan sekolah gratis.

Semangat membaca inilah yang membuat Fauzi berani memasukkan kurikulum menulis atau literasi kepada peserta didiknya. Fauzi tidak khawatir, kegiatan literasi akan menganggu perkembangan kecerdasan anak asuhnya. Bahkan, dirinya yakin kegiatan literasi sudah selayaknya di masukkan menjadi kurikulum tersendiri, hingga mengendap kuat di alam bawah sadar peserta didiknya. Dan, kelak dikemudian hari akan dipetik.

Kegigihan Fauzi tidak hanya mendapat apresiasi dari masyarakat lingkungan sekitarnya, tetapi juga mendapat perhatian dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anis Baswedan. Tidak hanya itu, baru-baru ini, tepatnya tanggal 2 Mei 2017, Fauzi diundang Presiden RI ke istana negara sebagai tokoh masyarakat setelah sebelumnya meraih penghargaan “Nugra Jasadarma Pustaloka”, dan berkesempatan berbicara di televisi nasional dalam acara Kick Andy yang diasuh oleh Andy F. Noya.

Kreativitas Fauzi sudah menjadi viral ke seluruh pelosok tanah air, lalu siapakah yang bakal meniru kebermanfaatan Fauzi untuk menggerakkan literasi kepada penerus bangsa? Lagi-lagi Fauzi Haqulyakin, bahwa penerusnya pasti ada, jika falsafah Ki Hajar Dewantara terus terpatri di dalam jiwa mereka!


Sumenep, 2017







Sumber:
1.    Wawancara dengan Muhammad Fauzi
2.    www.yayasanbustanulhikmah.blogspot.com
3.    Youtube
0 komentar
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Kabar Nun - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger