"Surga tempatnya orang-orang berprestasi"(KH. Ilyasi Siraj, M.Ag.)




POSTINGAN HARI INI
print this page
POSTINGAN TERBARU
Showing posts with label Resensi. Show all posts
Showing posts with label Resensi. Show all posts

CINTA MERANTAU DALAM SEJARAH

Lima penyair yang sajaknya terpahat bagai prasasti dalam buku setebal 168 ini patut mendapat apresiasi dari para penyair, kritikus, dan pembaca luas yang mencintai puisi, apa pun bentuk dan wajah puisi itu sendiri. Puisi-puisi yang termaktub di dalamnya hampir keseluruhan berisi kritik terhadap vonis diskriminasi dalam kehidupan nyata. Para penyairnya menyertakan data-data valid pada setiap metafor sajaknya dalam bentuk catatan kaki. Artinya, puisi disentuh tidak hanya dalam dunia khayal belaka, seperti yang selama ini menjadi kenyataan tak terhindarkan.

Lima penyair di dalam buku ini, sementara waktu bisa disebut sebagai orang-orang yang responsif terhadap wacana baru kepenyairan tanah air dari sudut pandang Denny JA, yang dianggap penggagas penulisan puisi esai. Tetapi, tidak bisa disebut sebagai pengikut Denny JA, karena keyakinannya sebagai penyair tidak dibatasi oleh ajara-ajaran penulisan puisi manapun.

Lima penyair di dalam antologi ini berhasil memotret kenyataan di sekelilingnya menjadi sumber sajak yang penuh makna untuk disampaikan kepada para pembaca, dan pada setiap catatan kakinya ada sumber mata cinta tempat fakta berbicara.

Pada bagaian awal Ahmad Ijazi menulis puisinya dengan judul GESTAPU, yang berkisah tentang seorang gerwani dari Blitar bernama Putmainah. Sebuah kisah diskriminatif terhadap perlakuan sewenang-wenang penguasa pada masanya. Judul puisinya berikutnya berjudul Pengakuan Jenderal Madrictsch yang ditulis oleh Faried Januar dengan latar Jerman.

Karya berikutnya ditulis oleh Nun Urnoto El Banbary dengan judul Dendang Bujang Tanah Seberang, yang berkisah seorang pemuda untuk memakmurkan tanah kelahirannya yang dilanda kekeringan. Sementara sajak berikutnya ditulis oleh Sri Wintala Achmad dengan Elegi Cinta Putri Pembayun yang juga berkisah diskriminasi dalam sejarah tanah air pada masa pemerintahan Mataram. Ni Hoekong Di Muka Raad Van Justitie karyo Wendoko yang juga menulis puisi esai sejarah.

Lepas dari kotak-kotak pendapat yang belakangan menjadi sedikit memanas di kalangan masyarakat penyair yang masih awam polemik, puisi esai ini cukup menjadi bagian yang menghidupkan kesusastraan tanah air, dengan catatan para penyair dan pemerhati sastra memiliki kearifan berpikir.  

Antologi ini layak jadi referensi atau sebagai dokumen sejarah yang barangkali kelak dibutuhkan sebagai kajian intelektual generasi berikutnya.


Data Buku:

Judul: Rantau Cinta Rantau Sejarah
Penerbit: Jurnal sajak
Editor: Jamal D. Rahman
Cetakan: 1 April 2014 Depok
0 komentar

IBU PALING ISTIMEWA



Data Buku: 
Judul: Ibuku Berbeda
Penerbit: de TEEns Yogyakarta
Cetakan: 1 November 2013
Penulis: 85 makhluk pencinta ibu
Harga: ---

Ibu adalah makhluk paling unik, ajaib, keramat, dan misterius, sehingga tak boleh seorang pun memperlakukannya semena-mena serupa Maling Kundang yang durhaka. Gegara ibu, manusia berkesempatan menikmati lezatnya dunia, dan selanjutnya akan menikmati lezatnya surga. Ibu adalah kekuatan yang bisa mengalahkan kaum lelaki dengan kemampuannya yang dwifungsi, seperti halnya menjadi seorang ibu yang lembut bagi anak-anaknya dan menjadi ayah ketika bekerja membalik tanah untuk menghidupi anak-anaknya.

Di dalam kasih ibu, manusia bisa menemukan kedamaian saat belenggu-belenggu dunia menjadi kecamuk. Doa ibu adalah lantunan yang mudah diistijabah oleh Allah. Maka, hormati ibu yang telah berdarah-darah melahirkannya.   

Antologi kisah menggetarkan tentang ibu terbentang dalam buku setebal 239, terbitan de Teens inprint Diva Pres. Kisah-kisahnya tentang kemuliaan ibu dari seluruh nusantara yang diceritakan oleh para penulis yang memiliki semangat literasi cemerlang di masa yang akan datang. Tidak layak jika dibengkalaikan begitu saja. Mutiara berharga patutlah segera dipungut dan disimpannya pada almari yang paling bersih: kalbu.

Ada 85 penulis yang menyajikan kisah-kisah perjuangan seorang ibu yang telah mengantarnya untuk sekadar singgah selama beberapa tahun di alam fana sebelum akhirnya tua, lalu mati. Bahasa yang lugas dan tidak berbelut, bisa membantu orang-orang yang gila iqra’ untuk memahami dan mengambil pelajaran di dalamnya.

Seorang penulis di dalam buku ini merintih-rintih untuk menggambarkan jiwa perihnya kepada ibu, “Oh Ibu, jangan pergi lagi. Aku ingin tetap di sini. Tapi kenyataan pahit melanda. Ibu terkena penyakit gagal ginjal.” (Halaman 67). Begitu sebagian rintihannya untuk menggambarkan kecintaannya kepada ibu.

Silakan baca bukunya yang jarang didapatkan di dearah saya ini. Pembaca bisa langsung datang ke penerbit de teens Yogyakarta atau cari di toko buku terdekat di kota Anda. Jangan lupa, jadikan ibu Anda makhluk paling istimewa dibanding pacar Anda.



0 komentar
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Kabar Nun - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger