"Surga tempatnya orang-orang berprestasi"(KH. Ilyasi Siraj, M.Ag.)




POSTINGAN HARI INI
print this page
POSTINGAN TERBARU
Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

GUS DUR DICATUT

Gus Dur dicatut menjadi nama fanspage “GUS DUR SANG GURU BANGSA” yang isinya sangat tak elok, yaitu tempat kampanye buruk yang berisi umpatan dan caci maki. Hampir setiap menit ungkapan buruk bertengger di beranda itu. Admin sepertinya memang sengaja tidak memproteksi segala yang buruk, bahkan terkesan membiarkan satu kubu lebih mendominasi. Penulis beberapa kali berusaha memposting yang berseberangan, tetapi tidak bisa masuk. Jadi, fanspage tersebut segaja dibuat untuk kubu yang jadi junjugannya.
Dok. kabarnun.com

Barangkali, bagi Gus Dur sendiri hal itu tidak menjadi soal, dan dianggapnya “itu aja kok repot”, tetapi bagi budaya santun di Indonesia yang tengah berusaha mengembangkan pendidikan karakter penuh moralitas, hal itu sangatlah menganggu. Jika dibiarkan, akan berkembangbiak menjadi virus yang menganggu persatuan dan kesatuan bangsa. Jika Gus Dur bukan orang yang dimuliakan, tak banyak pengikutnya, bukan kiai, atau bukanlah mantan presiden, barangkali tidak perlu terlalu dihiraukan—meski begitu, persoalan moral yang terdapat di dalamnya harus tetap mendapat perhatian.

Seteru di dalamnya lebih banyak membahas tentang pilpres, dan kedua kubu saling serang dengan kampanye-kampanye yang tidak etis menurut adat, dan budaya yang berkembang di negeri ini, terlebih lagi menurut agama. Selain soal pilpres, ormas NU juga diseret-seret dan ketuanya dimaki-maki sedemikian rupa, seolah ketua PBNU lebih berdosa daripada iblis. Suatu reaksi yang cukup berlebihan dan kentara sekali, bahwa umpatan-umpatan yang keluar dari mulut mereka bukanlah hasil pendidikan yang ada di Indonesia. Entah dari mana!

Pihak-pihak terkait mestinya memerhatikan hal seperti itu, karena sangat berpotensi menimbulkan pertengkaran hingga ke dunia nyata, juga sebagai indikasi terpuruknya pendidikan di tanah air yang entah dihasilkan dari sekolah macam mana pula hal itu. Proteksi dini sebagai antisipasi berkembangnya hal-hal amoral yang bertentangan dengan warisan budaya bangsa, juga ajaran agama yang ada di tanah air Indonesia yang penduduknya mayoritas beragama Islam.

Kasus fanspage yang mencatut nama KH. Abdurrahman Wahid dengan segala keburukan isinya menjadi satu keberanian kaum amoral untuk menginjak-injak moral bangsa dengan cara menginjak-injak kehormatan tokoh-tokohnya. Gusdurian mesti mengambil tindakan untuk melacak siapa sesungguhnya konspirator di balik faspage itu. Kita hendak menjaga marwah Kiai, dan tokoh-tokoh bangsa agar tidak menjadi sejarah buruk bagi generasi berikutnya.

Sepertinya, fanspage itu segaja dibuat dengan memanfaatkan ketenaran Gus Dur agar banyak orang bergabung di dalamnya, dan dibuat jauh hari sebelum pilpres, hingga kemudian menemukan momentumnya untuk mengadu domba sesama anak bangsa. Bukti adu domba dengan segala tebarannya yang amoral tersebut, terbukti dibiarkannya sarkasme yang bertentangan dengan agama dan undang-undang IT yang berlaku di Indonesia.

Di sana banyak akun-akun anonim yang tebarannya lebih parah, dan penulis kira pihak berwajib mampu melacak siapa mereka yang melakukan tebaran sarkastik, kebencian, dan adu domba yang maha miris tersebut. Pernah ada video Maaher at-Thuwailibi yang di share sambil mengeluar fatwa ngawur dan tak bermoral seperti video pada chanel berikut: https://www.youtube.com/watch?v=NpPf6RN_J-4 juga video lainnya. Silakan simak sendiri dan gunakan akal sehat.

Sebagai bangsa yang bermoral, tentu kita tidak ingin negeri ini hancur oleh hanya karena perbedaan pilihan pilpres. Kita tentu juga tak ingin negeri ini hancur seperti negeri-negeri Islam timur tengah yang berseteru tak kunjung usai selama bertahun-tahun. Kalau bukan kita sendiri yang menjaganya melalui penegakan hukum dan melalui kuatnya budaya di tengah-tengah masyarakat, lalu siapa lagi? Belanda? Jepang, Inggris?

Mari majukan negeri ini dengan perbuatan-perbuatan positif, dengan prestasi-prestasi yang berdaya guna bagi bangsa dan negara, bahkan bagi seluruh kehidupan manusia di muka dunia. Kita berharap, konspirator yang telah mencatut nama KH. Abdurrahman Wahid segera bertobat dengan segala proses hukumnya.


Sumenep, 26 Maret 2019



Penulis, Nun Urnoto
Penulis fiksi, tinggal di Rumah Baca Anak-Anak Pangaro
0 komentar

PEMBAJAK BUKU


Membajak tanah tak jadi soal, karena tanah akan menjadi subur, tetapi membajak buku menjadi polemik bagi sebagian penulis, dan mengancam kebangkrutan bagi penerbit. Kasus kusut ini tak kunjung selesai, bahkan kusutnya bertambah rumit dan menyebalkan, dan hukum tak berdaya menyelesaikannya.

Buku bajakan, bagi sebagian penulis (sebut saja penulis tipe pertama) sangat merugikan finansialnya, sebab mereka tidak mendapatkan royalti dari penjualan buku bajakan yang diserobot pembajak alias maling bin rampok, yang hingga hari ini terus berkembang biak tanpa terjerat hukum. Padahal, hak cipta mereka dilindungi undang-undang. Kata lainnya, penulis tidak mendapatkan perlindungan hukum, dan yang ada hanya mendapatkan jeratan hukum ketika bukunya berbau SARA, misalnya.

Bagi sebagian penulis yang lain, buku bajakan tidak menjadi masalah. Ini termasuk tipe penulis idealis, karena karya-karya yang dibajak oleh para pencoleng dianggap sesuatu yang lumrah dan bahkan menguntungkan dirinya. Keuntungan yang dimaksud adalah penyebaran “nilai” yang terdapat di dalam buku yang ditulisnya. Fokusnya tidak lain adalah kebermanfaatan tanpa mengharapkan royalti dari penjualan bukunya, atau dalam bahasa agamanya “berharap pahala” saja.

Dok. kabarnun.com
Tipe penulis kedua ini memang tidak mau ambil pusing, dan merasa cukup nyaman menjalani profesinya sebagai penulis tanpa terbelenggu oleh urusan finansial yang terkadang menyebalkan, apalagi ketika royaltinya tidak kunjung masuk ke rekening atau malah tidak dibayar sama sekali oleh penerbitnya. Baginya, semakin banyak dibajak semakin banyak pahalanya, dan semakin populer namanya.

Barangkali, penulis tipe kedua ini terinspirasi oleh penulis-penulis kitab klasik di kalangan muslim yang karya-karyanya dicetak hingga hari ini, tanpa mengeluhkan royalti. Sebut saja misalnya karya-karya yang ditulis oleh Imam al-Ghazali, Imam Maliki, Imam Hanafi, Imam Zarnuji, Imam al-Maturidi, dan sebagainya, sebagaimana diaji di pesantren-pesantren. Mereka mengikhlaskan karya-karyanya karena—selain dimaksudkan untuk menebarkan kebaikan—, royalti pada masanya memang tidak ada sama sekali.

Bagi penerbit dan penulis tipe pertama ini, buku bajakan adalah dosa besar dan masuk kategori pelanggaran hukum, tetapi nyaris tak ada upaya serius dari penulis tipe pertama dan pihak penerbit, untuk menjerat para pembajak buku ke meja hijau, dan sepertinya memang tidak berdaya untuk melaporkannya. Patut diduga, bahwa penulis tipe pertama dan penerbit telah putus asa, karena hukum terhadap perbukuan dan hak cipta dianggapnya cukup diskriminatif. Pastinya, mereka dirugikan oleh para pembajak yang tidak punya nurani itu.

Kemungkinan lain, penulis tipe pertama dan pihak penerbit segngaja tidak membawanya ke ranah hukum, karena disebabkan oleh tidak berdayanya rakyat untuk membeli buku sesuai harga yang dipatok oleh penerbit. Pemakluman tersebut, karena rendahnya minat baca terhadap buku dianggap mengancam masa depan penulis dan penerbit itu sendiri. Oleh karena sebab itu, para pembajak dibiarkan berkeliaran.

Namun, apapun alasannya, buku bajakan tetaplah ilegal dan merugikan para penulis dan penerbit.  Penulis yang mendelik di depan komputer tak dihargainya, dan penerbit yang berbelanja kertas dicuranginya. Maka, sungguh celaka para pembajak yang telah melakukannya. Bukankah cikal-bakal koruptor di negeri ini, juga berasal dari tukang bajak buku? Siapa dia? Cara saja sendiri!

Mari, jangan beli buku-buku bajakan, selain berdosa dan melangar hukum, buku bajakan juga tidak terjamin kualitasnya. Kertasnya jelek, halamannya lebih banyak yang kacau, dan tentu saja mudah copot. Pernah sekali, penulis membeli di bazar buku yang diadakan oleh pondok pesantren, sumpah penjilidan dan halamannya kacau-balau, dan saya sangat kecewa. Sejak itu, saya tobat.

Sebelum bertobat, mending Anda jangan coba-coba membeli, dan kepada pihak pesantren, jangan sekali-kali ajari santrinya untuk bermaksiat dan melanggar hukum. Jagalah santrinya, agar jauh dari perbuatan dosa pembajakan, termasuk dosa-dosa membajak buku.



Sumenep, 25 Maret 2019



Penulis, Nun Urnoto El Banbary.
Pengkhayal kelas kakap yang terus menulis novel.
Karyanya sudah berserakan di tanah pertiwi.
Gajinya paling rendah dibanding pejabat negara dan pembajak buku.
0 komentar

BUKU DAN KEMISKINAN


Buku-buku yang berisi ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang mustahil untuk dibeli bagi si miskin, meski si miskin punya kesadaran yang tinggi tentang baca-tulis. Sebab, buku bukanlah kebutuhan primer yang bisa menanggulangi kelaparan yang mengancam kehidupannya. Jangankan si miskin, bagi si kaya, buku adalah kebutuhan sekunder, bahkan mungkin sama sekali bukanlah kebutuhan. Itulah ketimpangan yang tengah terjadi di negeri ini, di negeri yang beranjak bangkit dari keterpurukan, setelah hampir 32 tahun terbelenggu oleh kemiskinan sistemik di bawah kekausaan orde baru.

Dok. kabarnun.com
Dahulu, di kampung saya, di pulau Giliraja yang terpencil, nyaris tak ditemukan buku-buku bacaan. Sekali pun ada, itu cuma buku-buku pelajaran yang di dapat dari pinjaman sekolah. Itupun sangat terbatas. Seingat saya, paling banter anak-anak kampung hanya menyalin sebagaimana perintahkan para guru. Salinan itulah yang kemudian dibaca berualang-ulang hingga buku menjadi lusuh. Kami tak mampu membeli buku, dan pemerintah sangat pelit untuk menyumbang buku-buku kepada sekolah kami, atau jangan-jangan pemerintah sengaja untuk membuat kami menjadi bodoh. Itulah “kejahatan” pemeritah masa lalu yang melekat di dalam otak saya.

Andai kami tidak bersusah payah untuk belajar, kemungkinan besar saya dan kawan-kawan tak akan beranjak dari keterpurukan intelektual. Maka, jika otak kami masih rada-rada error atau kami hidup dalam belenggu kemiskinan yang akut, itu karena disebabkan oleh pembodohan sistemik dari pemerintah pada saat itu. Di dalam otak saya, tak ada yang disebut bapak pembangunan, kecuali ayah saya sendiri yang berjibaku dengan nasib kami.

Pernah sekali, saya menemukan majalah yang cukup menggoda untuk dibaca, dan saya rasa itulah majalah yang cukup familiar dalam bacaan saya, yaitu majalah POSMO. Majalah yang sering menyajikan bacaan-bacaan supranatural, dengan istilah-istilah yang cukup menggoda di masa remaja saya, seperiti istilah ilmu Braja Musti, ilmu Lembur Saketi, Ajian Lampah-lumpuh, Ajian Lembu Sekilan, Ilmu Pengasihan, Ilmu Pelet, dan sebagainya.

Maka, wajarlah jika kehidupan saya di belakang hari menyukai mistisisme ditambah oleh dendam kesumat atas kematian nenek saya yang disantet oleh seorang tua yang tanpa tedeng aling-aling telah melakukannya. Saya pun mempelajari ilmu mengembalikan sihir kepada pemiliknya.

Dok. kabarnun.com
Sungguh, kemiskinan itulah yang menjadi musabab masa depan seseorang. Jika masa silam seseorang dipenuhi banyak pengetahuan, saya pikir negeri ini akan menjadi tercerahkan. Kita tak akan menemukan orang bodoh yang asal bunyi, tak akan menjumpai politisi yang hanya bikin gaduh tabung televisi, dan kita tak akan menjumpai banyak keterpurukan di dalam segala lini kehidupan bangsa ini.

Membaca bisa menjadi solusi untuk memecahkan banyak persoalan di negeri ini. Sebab, dengan cara membaca akan banyak ditemukan kesalahan-kesalahan yang sebelumnya rumit dan tidak terselesaikan. Tentu saja bagi pembaca pemula adalah membaca teks-teks pengetahuan, bukan sok membaca gejala alam ala Albert Einstein.

Seiring runtuhnya Orde Baru, dunia baca-tulis yang menjadi padu dalam istilah literasi dan segala turunannya mulai merambah ke pulau saya. Pada masa pemerintahan Joko Widodo, buku-buku dari donatur dan pemerintah sendiri, mulai berdatangan. Dikirim ke rumah baca Sangkolan dan Agung Demang. Keduanya, bergerak untuk membangun satu kesadaran literasi baca-tulis sebagaimana yang diajarkan dalam surat al-’Alaq ayat pertama, kelima, dan momentum pengetahuannya pada ayat keenam.

Sekarang, buku-buku yang tersedia di rumah baca bebas untuk dinikmati. Tidak ada alasan kemiskinan lagi untuk membaca, seperti dahulu saya mengalaminya. Buku dan kemiskinan sudah tak lagi menjadi sekat. Keduanya sudah akur berkat gerakan literasi yang dimotori oleh Bapak Nirwan Arsuka dan Najwa Shihab , serta aktivis literasi lainnya.

Kemiskinan telah dibebaskan oleh buku-buku, dan diharapkan buku-buku menjadi solusi untuk membebaskan kemiskinan dalam segala wujudnya. Mari terus belajar, jangan kalah dengan Amerika, Selandia Baru, Finlandia, Cina, yang konon di negeri mereka lebih banyak nonmuslinya—yang belum pernah mendengar kata “iqra” dari kitab suci al-Quran. Mereka maju, karena membaca, meneliti, dan berkontribusi untuk kemaslahatan umat manusia di seluruh semesta. Buktinya, Cina yang sering menjadi opini buruk menjelang pemilu telah menyediakan banyak kemudahan bagi kaum duafa. Tanyakan pada mereka, apa merk ponselnya?

Umat mayoritas di negeri ini adalah muslim. Kitabnya adalah rangkuman dari segala kitab-kitab suci. Segala ilmu pengetahuan, termasuk nilai-nilai sastra sangat lengkap di dalamnya. Dan, Tuhan sangat bersedia agar kitabnya tak hanya dibaca, tetapi dibedah agar dirasakan manfaatnya. Kitab suci itu, tidak hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang beriman saja, tetapi bagi siapa saja yang ingin memperlajarinya, bahkan solusi atas kemiskinan juga ada di dalamnya. Disilakan, siapa saja untuk mempelajarinya, termasuk negara yang mengusai kemiskinan di negeri ini.

Sekali lagi, tak ada sekat lagi antara buku dan kemiskinan untuk “berselisih”. Buku sudah menyediakan ruang, dan kemiskinan bebas menggunakan dan memanfaatkan ruang yang telah tersedia. Orang miskin wajib membaca, sebagaimana orang kaya yang mampu berbelanja buku untuk dibaca.

Lihatlah anak-anak yang ada dalam foto itu. Tataplah latarnya, yang terdiri dari anyaman bambu yang luruh oleh kemiskinan masa lalu orangtua mereka. Mereka membaca, mereka bahagia, dan mereka siap untuk terbebas dari kemiskinan melalui pencerahan buku-buku.

Lihat pula dua remaja yang membaca di atas perahu, mereka bersabar sambil membaca, hingga perahu merapat ke dermaga. Semoga menjadi budaya. Budaya yang memajukan bangsa dari keterpurukan dalam segala bentuk wajahnya.

Saya sendiri yang hijrah ke pulau lain, ikut menjadi bagian pegiat literasi di tanah kelahiran istri saya. Saya dan istri mengumpulkan buku, menyediakan tempat sebagai rumah baca bagi anak-anak dan orangtua untuk sekadar berbagi kebaikan. Siapa tahu kebaikan yang kami suguhkan mencerahkan kehidupan mereka secara intelektual.

Rumah baca yang kami dirikan diberi nama, “Rumah Baca Anak-Anak Pangaro” berada di Dusun Gendis RT.09/RW.03 Desa Aeng Tongtong Kecamatan Saronggi Kabupaten Sumenep Madura. Kode Pos 69467. 



Bagi kawan yang ingin berbagi atau menyumbangkan buku-buku agar bermanfaat bagi sesama, dipersilakan mengirimkan ke alamat di atas, dan Rumah Baca Anak-Anak Pangaro sudah lama terdaftar di PBI. Selanjutnya, kami sampaikan terima kasih yang tak terhingga kepada semua donatur.



Sumenep, 23 Maret 2019.

Penulis, Nun Urnoto El Banbary
Penggerak Literasi
"Rumah Baca Anak-Anak Pangaro.
Dusun Gendis RT. 09/RW.03 Aaeng Tongtong
Saronggi  Sumenep Madura 69467"



0 komentar

PEMILU DAMAI TANPA HOAX


Korban hoax berjatuhan, bahkan calon Presiden Prabowo Subianto sempat menjadi korban hoax Ratna Sarumpaet yang menyebarkan muka bonyoknya, hingga nasib Ratna berujung di jeruji besi. Tidak hanya Prabowo, Jokowi juga menjadi bulan-bulanan nitizen yang pikirannya sudah terkontaminasi berita bohong berupa tuduhan PKI terhadap diri dan keluarganya.

Saking samarnya, hoax tidak hanya menimpa kaum awam saja, tetapi kaum intelektual pun menjadi tumbalnya. Hoax terus bertebaran, dan memakan korban-korban berikutnya yang kurang hati-hati dengan informasi yang akurasi datanya terkadang membingungkan.

Dok. kabarnun.com
Hoax dibuat tidak lain untuk menyebarkan kebohongan, agar tercapai tujuan yang dikehendaki oleh si penyebar, tanpa peduli dengan efek yang ditimbulkannya. Misalnya, Indonesia akan punah pada 2030 tanpa menyajikan data-data ilmiah yang tak terbantahkan. Akibatnya, orang-orang resah memikirkan kepunahan, lalu memicu pikiran-pikiran negatif semisal ketakutan yang akut.

Ruang gerak hoax sangat masif dan  mengancam pikiran-pikiran kosong yang tanpa pengetahuan, terutama di dunia maya yang pergerakannya hingga ke ruang-ruang yang paling privasi, dan itu sangat mengerikan.

Satu-satunya jalan untuk mencegahnya adalah dengan melawannya. Caranya, bisa beragam. Tergantung kadar pengetahuan masing-masing dari kita. Intinya, kita wajib melawan meski bumi bergoncang dan langit runtuh, minimal pikiran diri sendiri tidak terpengaruh apalagi ikut serta menyebarkannya ke ruang publik.

Jika kita menggunakan pendekatan agama, maka cukuplah tabayun, atau klarifikasi kepada yang bersangkutan. Jika tidak memungkinkan—misalnya karena sumbernya tak terjangkau—, maka dapat dilakukan dengan cara klarifikasi melalui orang-orang terpercaya, media terpercaya, dan atau lebih baik diam saja. Dalam hal ini, agama harus turun tangan menghadapi persoalan hoax, karena menyangkut kedamaian dan hajat orang banyak yang berpotensi menimbulkan konflik cukup parah dalam kehidupan manusia. Itulah sebabnya, agama mengajarkan tabayun, bukan diam sambil terus menunggu perkembangan opini yang kian carut-marut.

Sukses dan tidaknya pemilu kali ini, bisa tergantung seberapa besar pengaruh hoax terhadap pikiran rakyat yang ikut serta merayakan pesta demokrasi paling bergengsi yang diadakan setiap lima tahun sekali ini. Sukses yang dikehendaki, tentu tidak timbulnya chaos selama pemilu berlangsung, sehingga negeri ini damai dan tidak buang-buang energi yang cukup besar.
Memang tidak bisa dipungkiri, bahwa hoax menjadi bagian strategi kotor untuk memenangkan ambisi kekuasaan, bahkan mereka yang melakukan anomali-anomali melalui hoax, kerap kali menjadi kalap dan melupakan konsekwensi yang berpotensi buruk bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Itulah yang disayangkan dari kampanye-kampanye yang hanya bertujuan untuk berkuasa.

Hoax tidak saja merambah dunia maya, tetapi juga dunia nyata melalui mimbar-mimbar masjid yang kerap kali dijadikan agitasi untuk meraup suara pemilihnya. Pendidikan kampanye yang baik, tanpa kekerasan verbal nyaris tidak didapatkan.

Perlu kerja keras untuk mewujudkan pemilu yang tanpa hoax dari seluruh stakeholder, mulai dari rumah tangga, sekolah, hingga ke forum-forum informal semisal saat ngopi bareng di kedai. Selain bentuk tabayun sebagaimana dijelaskan di atas, kita perlu reaktif atas hoax yang terus simpang siur memenuhi ruang kerja kita, misalnya dengan cara masuk ke sekolah-sekolah untuk mengedukasi guru dan muridnya, atau membuat panflet dan dibagikan kepada orang-orang yang lewat, atau bikin tagar anti hoax, dan semacamnya.

Katakan kepada mereka, bahwa hoax lebih berbahaya dari narkoba. Narkoba hanya mencelakai diri sendiri, tetapi hoax bisa membubarkan negara. Pencerahan bisa melalui instrumen media sosial apa saja, yang penting usaha terus berjalan dan tidak stagnan. Anggap saja melawan hoax adalah bagian jihad akbar yang wajib dilakukan bagi setiap anak bangsa yang punya komitmen cinta tanah air, dan menghendaki damai tetap abadi di negeri ini.

Hoax masuk kategori alfitnatu assaddhu minal qotli, fitnah lebih kejam dari pembunuhan dan itulah kejahatan hoax yang hukum dosanya sama dengan fitnah, karena sejatinya hoax adalah fitnah. Orang-orang beragama tentunya tidak akan melakukan itu kecuali menganggap hoax sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja dan tidak memiliki resiko, atau mereka tidak mempercayai dosa hoax dan sebarannya.

Negeri ini akan langgeng, jika kita kembali ke dalam satu kesadaran bahwa kita sedang membangun bangsa dan negara, bukan untuk meruntuhkannya, dan hoax termasuk salah satu penyumbang keruntuhan yang sangat besar bagi republik ini, meski hingga hari ini tidak terlalu dirasakan, namun lambat-laun akan sangat terasa akibatnya, terutama soal disentegrasi antar dua pendukung yang belakangan cukup mengkhawatirkan.

Mari lawan hoax bersama-sama, agar negeri ini bersih dari pikiran-pikiran kotor yang mengancam keharmonisan masa depan negara dan bangsa. Jangan ada lagi berita-berita yang tidak jelas disebar luaskan, apalagi sampai di “goreng” hingga gosong.

Martabat bangsa ini ada di tangan kita semua, yaitu generasi melenial yang akan menyambut masa depan yang penuh dengan berita simpang-siur. Jangan ada lagi tumbal hoax yang mempermalukan diri sendiri dan muruah bangsa ini.


Sumenep, 23 Maret 2019.


Penulis, Nun Urnoto El Banbary
Penggerak Literasi
Rumah Baca Anak-Anak Pangaro.
Dusun Gendis RT. 09/RW.03 Aaeng Tongtong
Saronggi  Sumenep Madura 69467

0 komentar
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Kabar Nun - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger