"Surga tempatnya orang-orang berprestasi"(KH. Ilyasi Siraj, M.Ag.)




POSTINGAN HARI INI
print this page
POSTINGAN TERBARU
Showing posts with label Novel. Show all posts
Showing posts with label Novel. Show all posts

NOVEL ANAK-ANAK PANGARO


Seisi tanah Pulau Raja itu sedang sekarat. Alam yang ringkih kian kerontang dengan penduduknya yang berkubang dalam kebodohan, kemaksiatan, dan kemelaratan. Kehidupan seni dan budaya yang seharusnya memendarkan sulut keriaan pun tertunduk lunglai. Belum lagi kepakan kaum blater penguasa wilayah yang mencengkeram aturan hukum pulau.

Ummi, Rahayu, Zainal, Maslahah, Untung, dan Haryadi tahu, pulau itu memerlukan campur tangan mereka. Mereka anak-anak madrasah aliyah yang belia, anak-anak pangaro yang merambatkan angin perubahan dan menjadi pembela tanah pulau pesisir agar tak senyap ditelan kematian.

Tak ubahnya seperti laskar yang dirahmati Sang Pencipta, mereka menyeruak riuh di tengah lecutan alam dan carut-marutnya kondisi sosial masyarakat yang mengintai. Meski nyawa menjadi taruhannya, pijar semangat dan tekad berlipat terlalu menguasai tapak-tapak mereka.
Saatnya membingkai asa di bumi pesisir melalui taubatan nasuha dan berlaku arif pada alam demi melihat Pulau Raja menemukan kehidupan damainya kembali, kehidupan yang pangaro, layaknya semangat penghuni pulau yang merindukan keteduhan di tanah kelahirannya.

“Terima kasih Pulauku! Aku pasti akan kembali karena di sinilah ari-ariku ditanam.”

Nama Buku:Anak-Anak Pangaro 
Penulis:Nun Urnoto El Banbary
ISBN:978-602-72097-5-6
Harga:54000



http://tigaserangkai.com/bela…/…/1229-anak-anak-pangaro.html
0 komentar

ANAK-ANAK REVOLUSI TANAH RAJA



Suntuk dengan kondisi Tanah Raja yang monoton, anak-anak Tanah Raja melakukan gerakan perubahan. Mulai gerakan mengubah kepemimpinan, hingga tatanan sosial yang dianggapnya pincang dan tidak menyejahterakan. Usaha mereka mendapat perlawanan yang cukup sengit dari kaum borjuis yang selama ini bertakhta, dan memeras. Tetapi, mereka pantang menyerah. Pantang kalah.

Anak-anak Tanah Raja bersatu padu, bahu-membahu demi tegaknya keadilan, dan perubahan peradaban. Mereka sudah muak dengan tingkah kaum borjuis yang hidupnya selalu nicis di atas penderitaan rakyat yang terus dikikis. Mereka memvonis penguasa Tanah Raja sebagai biang kerusakan, pemeras keringat rakyat, pemangsa desalinasi, lintah darat pengisap aspal, dan kepala blater yang dilegalkan.

Novel Anak-Anak Revolusi Tanah Raja sangat inspiratif, bagi siapa pun yang memimpikan masa depan lebih bercahaya dan gemilang. Usaha mereka patut menjadi teladan untuk dititahkan.

Tuhan telah menyelipkan keberanian kepada anak-anak Tanah Raja, untuk mengubah ketimpangan yang bertentangan dengan kebenaran, meski ancaman kekerasan mengintai dari setiap lekuk waktu yang remang.

Demi keadilan bagi seluruh penduduk rakyat Tanah Raja, mereka terus bergerak tanpa peduli dengan bahaya yang mengancam keselamatannya. Mereka rela berkalang tanah, daripada hidup menjadi jongos kaum durjana. Lebih baik berperang daripada menjadi sahaya kaum borjuis.

Begitulah, pekik jiwa mereka yang menghendaki tegaknya peradaban yang dipenuhi nilai-nilai kebenaran, meski akhirnya revolusi yang mereka perjuangkan menelan tumbal nyawa-nyawa. Revolusi, ternyata tidak murah.

Bagaimana perjuangan mereka? Silakan baca novel ini hingga tuntas, seraya menahan degup jantung yang mendebarkan.
----------------------------------
 

Endorsmen

Nun adalah sosok penulis yang gelisah dengan alam sekitarnya. Melalui novel Anak-Anak Revolusi, ia berusaha menyajikan sisi lain yang dimiliki bangsa ini. Membaca novel yang sarat konflik ini, kita akan digiring pada sebuah pertempuran otak yang cukup dahsyat.
-Suhairi, Kolomnis, dan mantan ketua FLP Cabang Jember

Anak-Anak Revolusi adalah novel pemberontakan terhadap peradaban yang pincang. Novel beraroma pergerakan ini memiliki diksi yang luar biasa! Meliuk, kadang menukik indah, sekaligus menyimpan pencerahan bagi pembacanya.
-Evi Rakmawati, Guru dan Ketua FLP Cabang Mojokerto 2006-2008

Perubahan adalah niscaya dan sunnatullah. Novel ini menceritakan kisah perubahan sosial dari generasi muda yang ingin menciptakan dunia yang lebih baik—setidaknya dalam perspektif mereka. Kita butuh banyak perspektif untuk memperkaya khazanah peradaban bangsa kita.
-Yanuardi Syukur, Dosen Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Khairun Ternate dan Penulis Buku

Bila sastra adalah perkawinan antara fakta dan imajinasi, maka Anak-Anak Revolusi adalah sebuah representasi.
-Asy’ari Khatib, Penerjemah di Penerbit Serambi

Jujur, novel ini memancing emosi, menggetarkan hati dan membangun semangat. Cerita anak pulau yang berusaha melawan tirani penguasa biadab itu menjadi rentetan sejarah yang harus dibaca. Karya Mas Nun ini adalah manifesto sebuah cerita perjuangan anak alam.
-Maufikurrahman Surahman, Penulis Novel Ciuman Terakhir Ayah

Membaca karya sahabatku, Nun, adalah pantai untuk mulai menyelami lautan pikiran-pikirannya. Tanpa sadar kita pun terdampar di pulau-pulau perasaannya.
-Syukur A. Mirhan, Penyair

Jika Andrea Hirata dengan Laskar Pelangi-nya menggugah kesadaran bangsa tentang dunia pendidikan dan Ahmad Fuadi dengan Negeri Lima Menara-nya yang memupuk tekad dan cita-cita anak bangsa, maka Anak-Anak Revolusi karya Nun Urnoto hadir di hadapan kita pada saat yang tepat, saat para pemuda sudah kehilangan semangatnya untuk mengawal reformasi.
-Rafif Amir Ahnaf, Ketua FLP Sidoarjo 2012-2013

Novel pemberontakan terhadap kebiadaban.
-Abdur Rahem, Kontributor RCTI

 
0 komentar

MEMANJAT PESONA

Bagai dendam kesumat, tiga hari setelah keluar dari pesantren yang memenjaranya selama tiga belas tahun, tiba-tiba saja Balia mengikrarkan hatinya untuk seorang gadis jelita dari tanah Pakuniran. Seumur-umur, ia belum pernah jatuh dalam kubang cinta yang maha dahsyat. Ia hanya mendengar dari cerita novel, atau mendengar syair-syair cinta dalam Nazham Alfiyah yang ia baca selama badannya terpenjara.

Kini, ia tak lagi bermimpi, tak lagi membangun istana cinta dalam dunia imajinasi. Gadis jelita di depannya telah memberi kabar, bahwa kehendak hatinya serupa dengan kehendak dirinya. Lalu, senyum gadis yang mampu meruntuhkan singgasana khayalnya itu, merekomendasikan dirinya untuk meminangnya. Kehendak Tuhan pun mulai bersambut.

Balia pergi menelusuri lekuk zaman, memasuki rahasia tanah sang kekasih dan berusaha membangun segala impiannya di tanah itu, namun, sekelompok Ifrit telah merasuk pada lakon cintanya, mencabik, dan meruntuhkan indahnya syair-syair cinta yang membahana di kelopak kalbunya.

Kehendak cinta pada kekasihnya, berhadapan dengan kekuasaan Ifrit yang selalu rela menghadirkan elegi lama, seperti halnya elegi Romeo and Juliet yang tragis itu.

Balia tak kenal lelah mencari celah, agar cintanya tak masuk dalam kubang sejarah yang membuatnya sakit parah. Ia ingin buktikan pada kekasihnya, bahwa dirinya adalah satu-satunya perjaka paling setia. Ia terus berjuang, mewujudkan cinta yang menggetarkan seluruh sendi hatinya, meski perjuangannya terpelanting dalam ending yang terus menggelinding.
------------------

Beberapa endorsmen:


  1. Keberanian dalam berkarya bersanding dengan pemahaman keagamaan yang mencukupi adalah kombinasi yang menjanjikan. Liar, tapi terjaga. Karya ini salah satunya. (Tasaro, Penulis Novel Muhammad saw; Lelaki Penggenggam Hujan
  2. Tidak semua orang bisa menulis kisah cintanya menjadi sebuah buku, tapi Nun, bisa melakukannya. (Evi Rakhmawati, Mantan Ketua FLP Mojokerto) 
  3. Membaca novel Memanjat Pesona, kita bagai diseret ke ranah romantika tak bertepi. Terkadang mengusik, lain kali menusuk. Nun, mengisahkannya dengan alur tak terduga. (Refdinal Muzan, Penulis buku Salju di Singgalang)
  4. Beragam kisah cinta memenuhi dunia kepenulisan tanah air, tapi sedikit yang benar-benar menyisakan kesan menggundah hati, dan novel Memanjat Pesona telah menyisakan kesan itu. Karya Nun Urnoto, nominator Tulis Nusantara ini, layak menjadi literatur cinta akhir zaman. (Risky Fitria Harini, penulis, dan Guru Sekolah Luar Biasa di Bondowoso)
  5. Kekuatan suatu cerita, sejatinya bukan terletak semata pada alur yang menggetarkan. Sebuah cerita menjadi bermakna, justru ketika memberi ruang bagi pembaca untuk mematangkan jiwa, dan jika  benar kematangan jiwa dibentuk oleh serangkaian proses labirin yang berliku dan gelap, maka Balia—tokoh dalam novel Memanjat Pesona ini—mesti diapresiasi sebagai sosok yang tengah menguji kecahayaan nilai-nilai yang puluhan tahun ia gali dan digeluti di bumi pesantren. Sebuah sisi lain yang tak kalah menggetarkan. (As’ari Khatib, Penerjemah Bilik-Bilik Cinta Muhammad, dan Guru di PP. Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep)
  6. Novel ini layak dibaca, bagi yang baru dijerat cinta (Abdur Rahem, Kontributur RCTI)
  7. Kau pernah membaca novel perjuangan? Ini adalah salah satunya. Bukan! Ini bukan tentang perang. Ini kisah tentang Balia dalam memperjuangkan cintanya. Ceritanya mengalir apa adanya. Satu hal yang pasti, bahwasanya ungkapan klise yang mengatakan bahwa jodoh itu adalah urusan Allah, benar adanya. Novel ini membuktikannya. (Uda Agus, penulis novel Rumah Mande)
 

1 komentar
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Kabar Nun - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger