"Surga tempatnya orang-orang berprestasi"(KH. Ilyasi Siraj, M.Ag.)




POSTINGAN HARI INI
print this page
POSTINGAN TERBARU
Showing posts with label Esai. Show all posts
Showing posts with label Esai. Show all posts

AENG TONGTONG SENTRA KERIS DUNIA


Salah satu peninggalan leluhur yang terus dilestarikan hingga hari ini adalah kerajinan keris. Keris adalah pusaka atau senjata nenek moyang nusantara—yang belakangan dibid’ah dan diharamkan oleh sekelompok orang yang sok paling beragama—yang oleh UNESCO keris ditetapkan sebagai salah satu warisan dunia yang layak dijaga dan dirawat. Salah satu cara untuk merawatnya adalah dengan tetap memproduksinya, baik keris sebagai seni maupun keris sebagai benda pusaka yang bertuah serupa kerisnya Empu Gandring, misalnya.

Salah satu tempat yang hingga hari ini memproduksi keris adalah Desa Aeng Tongtong Kecamatan Saronggi Kabupaten Sumenep Madura Jawa Timur. Hampir semua penduduk Desa Aeng Tongtong menjadi empu yang mumpuni dalam membuat keris, meski keris-keris yang dibikin tidak menyamai proses pembuatannya Empu Gandring, karena memang keris yang dibuat saat ini lebih dominan nilai seninya. Keris bagi masyarakat Aeng Tongtong, juga sebagai mata pencaharian, sehingga tidak jarang ada yang kaya raya lewat kreasi membuat keris.


Banyak kolektor pusaka keris yang memborong keris buatan para Empu Aeng Tongtong, bahkan menurut pengakuan beberapa penduduk, seorang politisi dari Jakarta memesan kujang yang bentuknya sangat besar, dan tentu saja harganya sangat mahal. Tidak hanya politisi Jakarta, kolektor pusaka dari manca negara juga banyak yang memborongnya.

Sumenep patut bersyukur, karena punya Desa Aeng Tongtong yang telah mengantarkan nama kotanya menjadi terkenal hingga ke manca negara. Bahkan, Kota Sumenep menyebut dirinya sebagai Kota Keris, dan Aeng Tontong dijadikan sebagai wisata relegius untuk mendukung program “Visit Sumenep 2018”.

Sayangnya, Desa Aeng Tongtong yang hendak dijadikan tempat wisata religius oleh pemerintah, tidak didukung oleh infrastruktur yang mendukung religiusitas yang dimaksud? Desa Aeng Tongtong menunjukkan realita lain, yaitu belum terpenuhinya ruang representatif sebagai sentra keris terbesar di dunia. Tampilan Desa Aeng Tontong tak ubahnya seperti desa-desa lain yang “tidak menyumbangkan” prestasi sama sekali.

Pemerintah Kabupaten Sumenep, harusnya memberikan perhatian lebih kepada Desa Aeng Tongtong, karena telah ikut serta mengangkat harkat dan martabat Sumenep hingga ke level Internasional. Paling tidak, jalan-jalan di Desa Aeng Tongtong aspalnya bertahan lama dan tidak mudah rusak dalam hitungan minggu, atau Pemerintah Kabupaten membuatkan gedung besar hingga menjadi mercusuar peradaban baru yang bisa dibanggakan oleh genarasi berikutnya.

Jadi, percuma saja Desa Aeng Tongtong yang terkenal ke suluruh manca negara, jalan-jalannya rusak dan tidak merepresentasikan Visit Sumenep 2018 yang dibanggakan oleh para pemimpinnya. Perlu dipikirkan kembali oleh siapa pun yang punya tanggung jawab moral, agar desa-desa yang berprestasi direnovasi menjadi lebih baik dari desa-desa lain.

Harapannya, desa-desa lain yang tak punya prestasi bisa berlomba-lomba untuk memajukan desanya. Dengan demikian, Desa Aeng Tongtong bisa menjadi cikal-bakal kemajuan Sumenep di masa yang akan datang, kecuali para pengambil kebijakan tidak respek dan hanya “mengambil untung” dari desa-desa yang kreatif dan berkembang.

Diakui atau tidak, prestasi Desa Aeng Tongtong tidak dibiayai oleh pemerintah Kabupaten. Para penduduknya berkreasi sendiri. Maka, jika tiba-tiba prestasi Desa Aeng Tongtong diklaim sepihak tanpa ada kontribusi balik dari pihak pemerintah kabupaten, kan sungguh TERLALU!

Di harapkan, pihak Kabupaten Sumenep mau mengerti apa yang dikehendaki penduduk Desa Aeng Tongtong, sehingga Desa Aeng Tongtong sebagai sentra keris terbesar di dunia, tampil mengagumkan dan sesuai dengan gembar-gembor yang berkembang di luar sana. Hasilnya, wisatawan tidak kecewa saat bertandang.  

Desa Aeng Tontong dengan ratusan Empunya patut mendapat penghargaan yang setimpal, agar lebih bersemangat dalam berkreasi. Bentuk penghargaannya bisa berupa terbangunnya infrastruktur yang sesuai dengan budaya masyarakat Aeng Tongtong, atau paling tidak, tak ada jalan-jalan rusak, sehingga Desa Aeng Tongtong layak menjadi pusat keris dunia.


Tidak banyak kerajinan masyarakat suatu desa yang tembus dunia, maka oleh karenanya, melestarikan sesuatu yang ada di desa Aeng Tongtong saat ini sangatlah urgen dalam perspketif budaya, bukan dalam perspektif orang-orang yang sok paling beragama dan mengharamkannya.

Semoga pemerintah kabupaten, provinsi dan pemerintah pusat tidak lalai menjaga warisan budaya bangsa Indonesia yang kian banyak diakui oleh masyarakat dunia sebagai suatu kearifan. Tentu saja, masyarakat Aeng Tongtong lebih proaktif untuk memberdayakannya. Setidaknya, regenerasi terus berlangsung dan menjadi tradisi turun-temurun.

Bagi Anda yang hendak mengoleksi karya Empu Aeng Tongtong bisa langsung datang ke tempat, atau bisa melalui chating ke nomor 08133422203. Semoga kita tetap bisa menjaga warisan luhur nenek moyang kita.


Sumenep, 09 Mei 2019

Penulis: Nun Urnoto El Banbary
Editor: Qurratul Aini

0 komentar

ISTRI DI RUANG MEDIA SOSIAL

Setiap zaman selalu punya cerita, dan cerita zaman digital kali ini akan membincang istri salihah yang didamba oleh setiap suami dan dirindukan surga. Ruang publik terbuka lebar, yang memungkinkan siapa saja untuk eksis di tengah-tengahnya, termasuk seorang istri yang selama ini hanya berkutat di wilayah domestik:memasak, mencuci, dan urusan kasur.

Sebelum era digital, peran istri hanya terbatas sebagai ibu rumah tangga saja. Segala sesuatu dikerjakan oleh kaum lelaki. Agama menjadi alasan utama untuk membatasi ruang geraknya, ditambah oleh ketatnya tradisi (gibah) sebagai penghakiman atas segala tingkah lakunya. Orang-orang akan membicarakan setiap geraknya yang keluar dari tradisi yang berlaku ditempat yang bersangkutan. Akibatnya, batinnya akan dihukum.

Dok. kabarnun.com
Berbeda dengan istri era milenial. Mereka mulai mengambil peran di ruang publik dengan (misalnya) menjadi anggota DPR, Gubernur, Bupati, Camat, hingga menjadi Presiden, bahkan di media sosial—yang juga ruang publik—, mereka ikut ambil bagian meski hanya sekadar pamer wajah.

Pamer wajah di sini hanya memerankan diri untuk mencuri perhatian orang lain. Dan, (tafsir positifnya) siapa tahu kelak menjadi artis dan bisa mengambil peran menjadi Bupati, Gubernur, Presiden, dan paling apes mendapat jodoh ganteng, banyak teman bagi yang sudah berstatus istri. Hanya saja, bagi yang berstatus istri jika tidak pandai-pandai menjaga diri di ruang publik akan menimbulkan petaka bagi kehidupan rumah tangganya. Sudah banyak kisah perceraian, akibat over acting di ruang publik yang liar, bernama medsos.

Media sosial sebagai ruang publik era milenial bak belati. Salah menggunakannya, akan melukai diri sendiri dan orang lain. Itulah sebabnya, mesti pakai ilmu untuk menggunakannya. Google dan youtube banyak menyediakan pengetahuan untuk menggunakannya. Sementara sekolah-sekolah formal masih abai untuk mengajarkannya. Akibatnya, banyak anak-anak yang masih usia sekolah terjerat undang-undang IT.

Bagi kaum hawa yang berstatus istri bisa melakukan hal-hal berikut dalam bermedsos, agar tidak menimbulkan fitnah bagi kehidupan rumah tangganya.

1. Izin Suami
Istri minta izin kepada suaminya dengan segala alasannya yang logis. Jika alasannya hanya untuk memamirkan kecantikan, sebaiknya jangan coba-coba minta izin, sebab suami akan cemburu wajah istrinya dinikmati lelaki lain, kecuali suaminya steheng alias otaknya sudah tidak sehat.

Jangan lupa, jika wajah istri menimbulkan syahwat bagi lelaki lain, itu bisa mendatangkan petaka yang mengundang dosa. Wajah perempuan yang dicipta penuh pesona oleh Tuhan—ulama fiqh menghukuminya sebagai aurat yang harus dijaga. Dijaga yang dimaksud tidak harus ditutupi serupa pakaian ninja, tetapi bisa cukup dengan menjaga diri di ruang publik agar tidak genit dan mengundang berahi lelaki yang memang dicipta susah tahan menghadapi pesona lawan jenisnya.

Menjaga diri dengan pakaian ala ninja juga tidak mengapa, asal tidak mengundang para penjahat kelamin penasaran di balik pakaian ala ninjanya. Semua serba kemungkinan bukan? Tak ada jaminan menutup semua tubuh terbebas dari kejahatan. Tapi biasanya, menutup aurat lebih dihargai oleh kaum lelaki.

2. Memilih Teman Medsos
Bagi seorang istri, apalagi yang punya wajah mempesona dengan bantuan kamera, sebaiknya jangan asal menerima teman, atau memilih teman. Seleksi dulu isi statusnya pada media yang digunakannya, kecuali punya kemampuan filtering luar biasa yang mampu menyaring banyak kotoran. Kemampuan filtering modal penting agar terhindar dari segala keburukan yang mengancam eksistensinya sebagai perempuan publik—meski hanya sebatas penjual online baju-baju anak, misalnya. Remove saja setiap teman yang berpotensi menimbulkan petaka, dan kekacauan, agar tidak menimbulkan kegaduhan. Kegaduhan pasti menimbulkan ketidaknyamanan, terutama kepada presiden rumah tangga.

3. Komunikasi Positif
Lakukan komunikasi seperlunya. Jangan sampai berlebihan, agar tidak menimbulkan kesan atau tafisr yang negatif bagi suami atau teman-teman medsos lainnya. Sudah banyak fakta orang salah paham dalam melakukan kominikasi tertulis di media sosial lalu discrenshoot dan disebarkan. Maka, jadilah fitnah yang luar biasa, dan menimbulkan petaka yang tidak dikehendaki, baik dalam pertemanan terlebih dalam kehidupan berumah tangga.

4. Kebermanfaatan
Bermedia sosial-lah yang ada manfaatnya. Jangan hanya menghabiskan kuota untuk sesuatu yang tidak jelas, dan buang-buang waktu untuk keharmonisan rumah tangga. Oleh karenanya, tanyakan pada suami apa manfaatnya bermedia sosial, atau tanyakan pada yang lebih berpengalaman tentang dampak positif dan nigatifnya. Alasan manfaatnya boleh saja memperbanyak teman yang kelak bisa dimintai bantuannya, atau jualan online, atau menebar kebaikan dalam bentuk tulisan yang mencerahkan, dan lain sebagainya.

Intinya, segala gerak dalam bermedsos tidak merugikan diri sendiri, keluarga, dan orang lain. Pendeknya, tidak seperti pendukung kedua calon presiden yang terus berseteru dan tak kunjung mereda.

5. Terbuka
Sebaiknya, ponsel suami dan istri saling terbuka dan keduanya bebas saling melihat isi ponselnya, sehingga tidak menimbulkan persepsi yang negatif. Jika ada hal-hal yang tidak disenangi bisa dimusyawarahkan antar keduanya, dan tentu saja jangan sampai cemburu buta jika ada temannya berguyon melampai batas.

Jagalah diri dan teruslah bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga, dan orang lain. Medsos tidak akan menimbulkan petaka jika digunakan sebagaimana mestinya. Tak ada pisau haram yang digunakan untuk memotong rumput sendiri. Demikian juga dengan media sosial yang kehadirannya tak bisa dihindari lagi.

Tampil saja di depan publik sesuai dengan kapasitas dan kebutuhannya. Terimalah segala resikonya sebagai akibat dari perjalanan kehidupan. Dan, yang paling penting dapat menambah ilmu dan meningkatkan spiritualitas kepada Allah ‘Azza wajalla.


Sumenep, 26 Maret 2019



Penulis, Nun Urnoto.
Penulis novel Anak-Anak Pangaro,
Anak-Anak Revolsi, dan;
Memanjat Pesona.
0 komentar

CINTA MARKENYOT SEPUTIH SALJU

Saya baru bangun tidur, dan menghabiskan buah pisang yang besar untuk mengganjal perut yang terasa lapar pada dini petang ini. Tapi, saya tidak hendak menulis soal pisang yang berhasil mengganjal perut saya yang terasa lapar. Saya ingin bercerita mimpi saya, tentang salju yang menempel di pipi saat ditanya oleh seorang kaisar Cina yang saya jumpai. “Apakah yang menempel di pipi saya debu atau salju?” tanya saya sambil meraba-raba pipi saya.

Kaisar tidak menjawab. Ia malah bertanya, “menurutmu, apa?” Aku menjawab, “debu.” Kaisar, tersenyum sambil menyambut kedatangan sauadaranya yang juga menjadi kaisar di dataran Cina.

Dok. kabarnun.com
Sebenarnya, saya sudah tahu bahwa yang turun dan menghujani istana kaisar adalah salju. Hanya saja, saya hendak memantapkan keyakinan saya—yang sebelumnya sudah mantap—bahwa yang menempel di pipi dan dan semua tempat di sekitar saya adalah salju.

Inpirasi salju terus menusuk-menusuk kepala saya, dan seribu pertanyaan lengkap dengan tafsirnya terus menggedor kepala. Rasanya, ingin saya tulis di beranda facebook, namun saya merasa beranda facebook tak akan memuatnya, bahkan mungkin menimbulkan reaksi buruk dari kawan-kawan yang pendek akal spiritualnya, dan tak punya semangat membaca yang tinggi.

Satu tafsir dari mimpi salju adalah cinta seputih, sesejuk, dan setulus dirinya. Apa pun yang saya kerjakan adalah cinta, dan itu harus seputih, sesejuk, dan setulus salju itu sendiri. Di antara pekerjaan saya adalah menulis. Menulis yang saya kerjakan seharusnya sudah tidak saya sebut lagi “menulis”, tetapi cinta. Jadi, saya sedang mengerjakan cinta. Cinta yang sesalju dalam tafsir mimpi yang menggedor kepala saya.

Saya mengerjakan cinta, tanpa mengharap apapun yang hanya menghidangkan kekecewaan dan sakit hati dalam kehidupan yang khoyyali,  ini. Cinta hanya mengerjakan. Seumpama harus berbuah uang, pahala, puja dan puji, popularitas, dan kehormatan lainnya, itu hanyalah konsekwensi logis dari pekerjaan saya, dari cinta saya. Maka, kepada siapa pun dipersilakan untuk memetiknya.

Masalahnya, benarkah pekerjaan saya sesalju dalam mimpi itu? Jangan-jangan, saya hanya berapologi, atau lebih buruk beralibi, untuk menutupi keterpurukan saya yang sesungguhnya. Bukankah di jaman now ini, kehebatan banyak yang dibungkus dengan aksesori baju, mahkota, juga kosa kata? Seumpama tukang ceramah yang selalu diklaim sebagai seorang ulama, padahal bukan sama sekali? Lalu, di belakang hari, Tuhan membuka kedoknya sebagai anjing politikus, bukan ulama seperti yang disangka? Namun, berpikir buruk dari kata “jangan-jangan” yang saya suguhkan itu, juga jebakan yang seharusnya tak boleh diaminkan oleh siapa pun, meski itu rasional, umpamanya. Jalan tengahnya, jangan berpikir apa pun tentang orang lain, termasuk kepada saya. Apakah saya sesalju tafsir mimpi itu atau bukan, janganlah diurus. Biarkan saja, agar tak menjadi penyakit.

Penulis bermental salju adalah penulis yang menulis, tanpa bahagia diberi royalti, tanpa bersedih karyanya dibajak, tanpa besar kepala oleh popularitas, tanpa bersedih dikritik, tapi melawan jika dimaki-maki oleh orang bodoh.

Penulis yang protes sana-sini karena karyanya seharusnya layak diterbitkan, layak menjadi juara, layak mendapat apresiasi, sakit hati jika tersaingi, merasa tidak dimuliakan adalah penulis coro yang kampret. Lebih kampret lagi, orang-orang yang tidak punya karya tulis, dan karya apa pun tapi merasa sudah menjadi coro. Indikatornya, orang macam itu biasanya suka mengukur moralitas orang lain dengan moralnya sendiri yang tanpa pengetahuan yang bijaksana. Sekali lagi, tanpa pengetahuan yang bijaksana. Silakah cari dalam kitab suci pengertian bijaksana.

Saya pernah diprotes di depan umum oleh seorang guru PNS bodoh yang tiba-tiba atas “kesalahan” saya dia merasa lebih pintar dan sok bijaksana. Berceramahlah dia sambil ngata-ngatain seolah cara bernasihatnya sudah benar. Sejak kapan orang bijaksana ngata-ngatain orang lain di depan umum? Rupanya, pancingan saya—saya sengaja memancing orang-orang yang merasa berilmu, karena sebelumnya muncul reaksi negatif pada hal-hal yang dipromosikan di hadapan mereka—berhasil. Barangkali, karena dia PNS lalu merasa berhak berkhutbah di depan umum. Barangkali, karena dia PNS lalu merasa sukses. Padahal, dia itu benalu bagi negara, dan mencatut slogan “abdi” negara untuk melegitimasi pengabdiannya. Dikira, mengabdi itu dibayar. Mengabdi itu membayar, apalagi mengabdi kepada negara yang sekarat.    

Namun demikian, hati yang sesalju dalam perspektif tafsir mimpi saya, memaklumi ketidakberdayaan mereka. Mereka adalah orang bodoh yang merasa pintar. Ini, bukan soal prasangka buruk atas metafisik kelakuan mereka. Ini nyata atas pernyataan-pernyataan kebodohannya yang dipublikasikannya. Dan, tulisan-tulisan ini, saya kategorikan tulisan cinta, meski saya tahu, cinta akan cacat jika diutarakan di hadapannya. Namun, ini pendekatan berbeda yang tak boleh sembarangan saya uraikan semantiknya.

Jika penulis tak punya cinta seputih salju, maka ketajaman pena para penulis sudah lama mengurai perut busuknya ke hadapan publik. Mereka tak akan bisa menandingi ketajaman penanya. Ujung penanya lebih tajam, bahkan lebih kejam dari ujung pedang. Sudah berapa banyak, orang mati diujung pena? Pena mereka mengabadikannya dalam buku-buku, jurnal-jurnal, dan media lainnya. Mereka menyebut nama, membuat inisial, dan sketsa-sketsa yang bisa dikenang dan dijadikan pelajaran bagi generasi masa depan anak-anak bangsa. Lawan saja penulis, jika Anda ingin remuk selama berabad-abad.

Banyak kisah-kisah coro yang akan saya tulis untuk melengkapi pelajaran-pelajaran berharga bagi anak-anak saya, bagi orang-orang baik yang akan menghadapi kaum coro dari kalangan mereka sendiri. Namun, penulis harus tetap cinta. Bahkan, bahasa yang terdengar sarkas dari seorang penulis adalah cinta. Berbeda jika keluar dari politisi, bahasanya adalah petaka.

Demikian, unek-unek Markenyot yang saya tulis hingga menjelang subuh. Nanti, sajak-sajak Markenyot akan terbit dalam bentuk e-book. Salam NKRI dari Markenyot.




Sumenep, 22 April 2018   



   

0 komentar

PENGAJIAN LITERASI DI PONDOK PUTRI

Kali ini (27/10/16) saya menyambangi pengajian literasi di Pesantren Annuqayah Daerah Kusuma Bangsa. Semua pesertanya adalah santri putri. Baru kali ini, saya bisa mengajar di daerah putri setelah sebelumnya beredar kabar, bahwa kaum bujang dilarang ke wilayah tersebut. Saya hanya berbaik sangka dengan kabar itu. Mungkin, saya dima’fu alias dimaklumi memasuki wilayah sensitif itu, karena dianggap bujang lapuk yang sudah tidak punya daya terhadap kaum hawa. kwkwk.
Di hadapan para bidadari yang binar matanya, saya melihat pantulan gairah untuk menulis, dan saya pun mulai bertutur. Mula-mula saya mengenalkan diri dengan menyebut nama asli saya (Urnoto), yang masih seketurunan dengan Naruto dari Jepang. Lalu—tanpa hirau dengan peserta pengajian yang tak tahan dengan gelaknya—saya melanjutkan untuk mengenalkan tambahan nama “Nun” yang dihadiahkan oleh seorang guru spiritual kepada saya. Saya juga mengabarkan kepada mereka, tentang apa saja prestasi saya.

Ta’aruf yang tak ubahnya seperti hendak meminang anak gadis itu pun akhirnya selesai, meski mereka terlihat terkesima, entah oleh apa. Tapi, barangkali mereka terkesima dengan rambut saya yang gondrong, atau dengan wajah saya yang tampan, atau jangan-jangan dengan prestasi-prestasi yang baru saja saya “pamerkan”. Saya sungkan bertanya soal kesima mereka. Saya melanjutkan tutur berikutnya.

Mengenalkan diri kepada para peserta pengajian literasi itu sangat penting, agar mereka tahu siapa yang berbicara, dan apa saja prestasi yang menjadi kompetensi saya. Saya tidak ingin seperti guru-guru yang hanya bermodal titel akademik, tapi tidak punya prestasi. Saya malu jika seperti itu, dan saya tidak akan mengajar jika tidak punya prestasi. Saya pemalu, alias tahu diri. Bagi saya, teladan paling ampuh adalah prestasi, bukan yang berbusa-busa dengan kata-kata, apalagi guru yang melamar untuk mengajar. Bagi saya, guru yang melamar itu bukanlah guru, tapi tenaga kerja yang mengharap honor dan dana sertifikasi.

Maaf, jika pendapat saya mengerikan, tapi saya tidak bisa berkelit dari fakta yang tersaji dalam keberlangsungan hidup saya, dan saya harus mengabarkannya kepada dunia perihal karakter guru mulia yang mulai memudar. Paling tidak, semua itu menjadi fenomena kesemrautan di dunia pendidikan.

Peserta pengajian literasi, saya persilakan untuk fokus dengan satu genre saja. Mereka bebas memilih genre yang mereka sukai, sedangkan genre-genre yang lain hanya menjadi sampingan saja, dan bukan berarti saya memerintahkan mereka meninggalkan genre-genre lain. Saya hanya meminta mereka lebih fokus, lebih konsentrasi untuk menyelesaikan genre yang paling mereka minati.    

Dalam hitungan menit, mayoritas peserta pengajian literasi memilih puisi dan cerpen. Selebihnya, mereka memilih menulis novel, esai, artikel, dan catatan harian. Khusus penulis novel hanya satu orang. Peserta itu, menurut saya luar biasa. Ia memilih sesuatu yang paling tidak diminati oleh teman-temannya. Barangkali, novel dianggap sangat sulit karena ketebalannya yang tidak mungkin dirampung. Padahal, menulis novel itu lebih mudah dari menulis puisi dan cerpen. Hanya saja, menulis novel butuh waktu agak lama. Dan, mungkin itu yang agak mengerikan.

Menulis novel, peluangnya cukup menjanjikan. Misalnya, lebih diterima penerbit dibanding antologi puisi, cerpen, esai, artikel, dan kawan-kawannya. Peluang lainnya, penulis novel cenderung dianggap lebih mumpuni karena berhasil melahirkan buku tebal, lebih banyak royaltinya, lebih disukai pembaca, lebih berpeluang dilayar lebarkan, dan lain sebagainya. Itulah tuah bagi penulis novel, dan saya sendiri merasakan tuah itu. hehe.

Saya menyilakan mereka untuk langsung praktik dan merasakan kesulitan-kesulitan yang dialaminya. Kemudian, saya menyilakan mereka menanyakan perihal kesulitannya itu. “Silakan, tanyakan kesulitan yang Anda alami dan apa saja yang ingin Anda ketahui tentang menulis,” begitu kata saya kepada peserta pengajian literasi. Hasilnya, luar biasa! Mereka menanyakan hal-hal yang tidak terduga sebelumyan. Misalnya, cara menyusun kalimat efektif yang biasanya sering dibaikan oleh para penulis pemula. Susunan kalimat yang efektif akan menjadi bargaining ketika dikirim ke penerbit. Jika menulis kalimat saja sudah tidak benar, maka jangan harap penerbit mau membacanya hingga tuntas, meski sebenarnya isinya bagus.

Banyak yang mereka tanyakan pada pengajian itu, hingga menjelang terbenamnya matahari, termasuk pertanyaan-pertanyaan tentang “bangunan” puisi yang belakangan beranika ragam, cerpen yang belakangan kian mencari format baru, hingga novel pop yang berlimpahan dan tak laku-laku di pasaran.   

Mereka saya minta untuk tidak berputus asa berproses, hingga di belakang hari mereka menemukan karakteristik tulisannya sendiri yang berbeda dengan gaya penulis-penulis yang menginspirasinya. Paling urgen dari pengajian menulis itu, bukan pada teori menulisnya, tetapi pada ghirahnya, semangatnya, atau istikamahnya. Dan, gara-gara lemahnya syahwat menulis itu, telah membuat banyak orang gagal untuk menjadi penulis. Penulis adalah mereka yang istikamah di jalan menulis. Jika hanya sekali menulis, kemudian lenyap, maka mereka bukan penulis. Mereka hanya orang yang numpang lewat. hehe.

Semoga sukses! Wassalam.


  
Sumenep, 28 November 2016

Catatan yang baru rampung diposting,

0 komentar

NGAJI LITERASI BERSAMA GENERASI NU

Ngaji literasi bersama IPNU/IPPNU (23/10/16) di Kantor Urusan Agama (KAU) Kecamatan Lenteng akhirnya berjalan lancar, meski sebelumnya mendung yang mengantung menakut-nakuti langkah generasi Nahdhatul Ulama untuk hadir ke tempat acara.

Menurut ketua IPNU/IPPNU Cabang Sumenep, baru kali ini kadernya mengadakan kegiatan literasi, dan diharapkan IPNU/IPPNU yang lain bisa mengikutinya.

Saya sangat setuju sekali dengan statemen ketua cabang tersebut. Sekarang, sudah saatnya generasi muda NU ikut ambil bagian menyampaikan nasihat-nasihatnya melalui tulisan, baik berupa tulisan berita, artikel, esai, bahkan mungkin karya-karya fiksi seperti puisi, cerpen, novel, dan lain sebagainya.

Sebagai fasilitator, saya mengajak para peserta untuk langsung praktik menulis puisi, terutama puisi-puisi yang sesuai dengan selera peserta—yang didominasi anak-anak remaja. Mereka, saya ajak menulis puisi cinta, yang tentunya menjadi gandrung dengan jiwa remajanya. Saya pikir, puisi cinta tengah mendekam di dalam benaknya, dan memungkinkan mereka untuk menuangkannya dengan mudah, tanpa melalui proses imajinasi yang rumit.

Hasilnya, cukup mencengangkan; bahasanya sederhana, sangat jujur, polos, bahkan tisikan kalimat-kalimatnya seperti orangtua bertutur pada putranya, alias tidak puitis sama sekali. Dan, karya mereka saya apresiasi cukup baik, jika dibanding dengan para pengumpat di media sosial yang tidak bisa mengemas umpatannya dengan kalimat-kalimat puitis yang metaforistik.

Solusi bagi mereka yang masih berkemampuan menyusun diksi-diksi sederhana adalah meningkatkan minat bacanya terhadap karya-karya sastra, alias rajin-rajinlah membaca buku apa saja yang bisa membantu mengayakan kosa katanya. Tentunya, teruslah berlatih menulis agar tulisan-tulisan yang menjadi fokus genrenya kian tajam, dan membuat pembaca jatuh cinta setengah mati.

Menulis puisi tentu saja harus puitis dengan tetap mengindahkan simantik dan sintaksisnya. Jika puisi ditulis sebagaimana menulis pidato, maka keringlah kalimat-kalimatnya, dan pesannya bisa ikut-ikutan kerontang. Pesan-pesan yang dibungkus dalam kalimat-kalimat puitis akan membuat penikmatnya hanyut dan tanpa sadar mabuk kepayang.

Saya seringkali menjumpai puisi-puisi yang sama sekali tidak puitis, yang hanya bentuknya saja disusun seperti puisi, namun susunan kalimatnya kering dan tidak indah. Lalu—karena bentuknya serupa puisi—mereka menyembutnya puisi. Apa itu puisi? Silakan kuliah satu semester lebih dahulu, atau belajar pada ahlinya.

Pelatihan yang diadakan IPNU/IPPNU Lenteng ini, setidaknya menjadi langkah awal untuk terus bersikeras memotivasi generasinya, agar bisa menulis. Sebagai generasi NU, saya melihat tulisan anak-anak NU masih minim, masih bisa dihitung dengan jari, padahal generasi NU mayoritas di negeri ini. Saya tidak mengerti, mengapa dunia literasi menjadi sunyi dalam kehidupan mereka. Saya menduga, mereka sudah pasrah kepada para pengarang kitab-kitab klasik yang menguasai aktivitas belajarnya di pesantren, atau jangan-jangan mereka tidak tahu dahsyatnya karya tulis bagi keberlangsungan kaum intelektual di masa sekarang dan di masa-masa yang akan datang. Semoga dugaan saya tidak benar.

Saya sangat berharap, agar generasi NU tidak terlena oleh zona nyaman atas kebesarannya sebagai ormas terbesar. Semoga kesadaran mereka tidak terbeli oleh lezatnya gadget, ipad, dan kawan-kawannya. Mereka harus segera disadarkan, bahwa ujung penanya sangat dibutuhkan untuk mengubah dunia yang kian radikal dan liberal. Dan, yang paling perlu disadarkan adalah para stake holdernya yang tidak menyadari tajamnya ujung pena, yaitu mereka yang selama ini mengajarkan sesuatu yang tidak jelas kepada mereka.

Akhirul kalam, saya ingin sampaikan, bahwa menulis akan membuat siapa pun berselera untuk membaca. Membaca, akan membuat dunianya bercahaya. Jika tidak paham dengan maksud saya, silakan datangi saya. hehe.

  
Sumenep, 28 November 2016

Catatan yang baru rampung diposting,

0 komentar
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Kabar Nun - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger