"Surga tempatnya orang-orang berprestasi"(KH. Ilyasi Siraj, M.Ag.)




POSTINGAN HARI INI
print this page
POSTINGAN TERBARU
Showing posts with label Esai. Show all posts
Showing posts with label Esai. Show all posts

AENG TONGTONG SENTRA KERIS DUNIA


Salah satu peninggalan leluhur yang terus dilestarikan hingga hari ini adalah kerajinan keris. Keris adalah pusaka atau senjata nenek moyang nusantara—yang belakangan dibid’ah dan diharamkan oleh sekelompok orang yang sok paling beragama—yang oleh UNESCO keris ditetapkan sebagai salah satu warisan dunia yang layak dijaga dan dirawat. Salah satu cara untuk merawatnya adalah dengan tetap memproduksinya, baik keris sebagai seni maupun keris sebagai benda pusaka yang bertuah serupa kerisnya Empu Gandring, misalnya.

Salah satu tempat yang hingga hari ini memproduksi keris adalah Desa Aeng Tongtong Kecamatan Saronggi Kabupaten Sumenep Madura Jawa Timur. Hampir semua penduduk Desa Aeng Tongtong menjadi empu yang mumpuni dalam membuat keris, meski keris-keris yang dibikin tidak menyamai proses pembuatannya Empu Gandring, karena memang keris yang dibuat saat ini lebih dominan nilai seninya. Keris bagi masyarakat Aeng Tongtong, juga sebagai mata pencaharian, sehingga tidak jarang ada yang kaya raya lewat kreasi membuat keris.


Banyak kolektor pusaka keris yang memborong keris buatan para Empu Aeng Tongtong, bahkan menurut pengakuan beberapa penduduk, seorang politisi dari Jakarta memesan kujang yang bentuknya sangat besar, dan tentu saja harganya sangat mahal. Tidak hanya politisi Jakarta, kolektor pusaka dari manca negara juga banyak yang memborongnya.

Sumenep patut bersyukur, karena punya Desa Aeng Tongtong yang telah mengantarkan nama kotanya menjadi terkenal hingga ke manca negara. Bahkan, Kota Sumenep menyebut dirinya sebagai Kota Keris, dan Aeng Tontong dijadikan sebagai wisata relegius untuk mendukung program “Visit Sumenep 2018”.

Sayangnya, Desa Aeng Tongtong yang hendak dijadikan tempat wisata religius oleh pemerintah, tidak didukung oleh infrastruktur yang mendukung religiusitas yang dimaksud? Desa Aeng Tongtong menunjukkan realita lain, yaitu belum terpenuhinya ruang representatif sebagai sentra keris terbesar di dunia. Tampilan Desa Aeng Tontong tak ubahnya seperti desa-desa lain yang “tidak menyumbangkan” prestasi sama sekali.

Pemerintah Kabupaten Sumenep, harusnya memberikan perhatian lebih kepada Desa Aeng Tongtong, karena telah ikut serta mengangkat harkat dan martabat Sumenep hingga ke level Internasional. Paling tidak, jalan-jalan di Desa Aeng Tongtong aspalnya bertahan lama dan tidak mudah rusak dalam hitungan minggu, atau Pemerintah Kabupaten membuatkan gedung besar hingga menjadi mercusuar peradaban baru yang bisa dibanggakan oleh genarasi berikutnya.

Jadi, percuma saja Desa Aeng Tongtong yang terkenal ke suluruh manca negara, jalan-jalannya rusak dan tidak merepresentasikan Visit Sumenep 2018 yang dibanggakan oleh para pemimpinnya. Perlu dipikirkan kembali oleh siapa pun yang punya tanggung jawab moral, agar desa-desa yang berprestasi direnovasi menjadi lebih baik dari desa-desa lain.

Harapannya, desa-desa lain yang tak punya prestasi bisa berlomba-lomba untuk memajukan desanya. Dengan demikian, Desa Aeng Tongtong bisa menjadi cikal-bakal kemajuan Sumenep di masa yang akan datang, kecuali para pengambil kebijakan tidak respek dan hanya “mengambil untung” dari desa-desa yang kreatif dan berkembang.

Diakui atau tidak, prestasi Desa Aeng Tongtong tidak dibiayai oleh pemerintah Kabupaten. Para penduduknya berkreasi sendiri. Maka, jika tiba-tiba prestasi Desa Aeng Tongtong diklaim sepihak tanpa ada kontribusi balik dari pihak pemerintah kabupaten, kan sungguh TERLALU!

Di harapkan, pihak Kabupaten Sumenep mau mengerti apa yang dikehendaki penduduk Desa Aeng Tongtong, sehingga Desa Aeng Tongtong sebagai sentra keris terbesar di dunia, tampil mengagumkan dan sesuai dengan gembar-gembor yang berkembang di luar sana. Hasilnya, wisatawan tidak kecewa saat bertandang.  

Desa Aeng Tontong dengan ratusan Empunya patut mendapat penghargaan yang setimpal, agar lebih bersemangat dalam berkreasi. Bentuk penghargaannya bisa berupa terbangunnya infrastruktur yang sesuai dengan budaya masyarakat Aeng Tongtong, atau paling tidak, tak ada jalan-jalan rusak, sehingga Desa Aeng Tongtong layak menjadi pusat keris dunia.


Tidak banyak kerajinan masyarakat suatu desa yang tembus dunia, maka oleh karenanya, melestarikan sesuatu yang ada di desa Aeng Tongtong saat ini sangatlah urgen dalam perspketif budaya, bukan dalam perspektif orang-orang yang sok paling beragama dan mengharamkannya.

Semoga pemerintah kabupaten, provinsi dan pemerintah pusat tidak lalai menjaga warisan budaya bangsa Indonesia yang kian banyak diakui oleh masyarakat dunia sebagai suatu kearifan. Tentu saja, masyarakat Aeng Tongtong lebih proaktif untuk memberdayakannya. Setidaknya, regenerasi terus berlangsung dan menjadi tradisi turun-temurun.

Bagi Anda yang hendak mengoleksi karya Empu Aeng Tongtong bisa langsung datang ke tempat, atau bisa melalui chating ke nomor 08133422203. Semoga kita tetap bisa menjaga warisan luhur nenek moyang kita.


Sumenep, 09 Mei 2019

Penulis: Nun Urnoto El Banbary
Editor: Qurratul Aini

0 komentar

ISTRI DI RUANG MEDIA SOSIAL

Setiap zaman selalu punya cerita, dan cerita zaman digital kali ini akan membincang istri salihah yang didamba oleh setiap suami dan dirindukan surga. Ruang publik terbuka lebar, yang memungkinkan siapa saja untuk eksis di tengah-tengahnya, termasuk seorang istri yang selama ini hanya berkutat di wilayah domestik:memasak, mencuci, dan urusan kasur.

Sebelum era digital, peran istri hanya terbatas sebagai ibu rumah tangga saja. Segala sesuatu dikerjakan oleh kaum lelaki. Agama menjadi alasan utama untuk membatasi ruang geraknya, ditambah oleh ketatnya tradisi (gibah) sebagai penghakiman atas segala tingkah lakunya. Orang-orang akan membicarakan setiap geraknya yang keluar dari tradisi yang berlaku ditempat yang bersangkutan. Akibatnya, batinnya akan dihukum.

Dok. kabarnun.com
Berbeda dengan istri era milenial. Mereka mulai mengambil peran di ruang publik dengan (misalnya) menjadi anggota DPR, Gubernur, Bupati, Camat, hingga menjadi Presiden, bahkan di media sosial—yang juga ruang publik—, mereka ikut ambil bagian meski hanya sekadar pamer wajah.

Pamer wajah di sini hanya memerankan diri untuk mencuri perhatian orang lain. Dan, (tafsir positifnya) siapa tahu kelak menjadi artis dan bisa mengambil peran menjadi Bupati, Gubernur, Presiden, dan paling apes mendapat jodoh ganteng, banyak teman bagi yang sudah berstatus istri. Hanya saja, bagi yang berstatus istri jika tidak pandai-pandai menjaga diri di ruang publik akan menimbulkan petaka bagi kehidupan rumah tangganya. Sudah banyak kisah perceraian, akibat over acting di ruang publik yang liar, bernama medsos.

Media sosial sebagai ruang publik era milenial bak belati. Salah menggunakannya, akan melukai diri sendiri dan orang lain. Itulah sebabnya, mesti pakai ilmu untuk menggunakannya. Google dan youtube banyak menyediakan pengetahuan untuk menggunakannya. Sementara sekolah-sekolah formal masih abai untuk mengajarkannya. Akibatnya, banyak anak-anak yang masih usia sekolah terjerat undang-undang IT.

Bagi kaum hawa yang berstatus istri bisa melakukan hal-hal berikut dalam bermedsos, agar tidak menimbulkan fitnah bagi kehidupan rumah tangganya.

1. Izin Suami
Istri minta izin kepada suaminya dengan segala alasannya yang logis. Jika alasannya hanya untuk memamirkan kecantikan, sebaiknya jangan coba-coba minta izin, sebab suami akan cemburu wajah istrinya dinikmati lelaki lain, kecuali suaminya steheng alias otaknya sudah tidak sehat.

Jangan lupa, jika wajah istri menimbulkan syahwat bagi lelaki lain, itu bisa mendatangkan petaka yang mengundang dosa. Wajah perempuan yang dicipta penuh pesona oleh Tuhan—ulama fiqh menghukuminya sebagai aurat yang harus dijaga. Dijaga yang dimaksud tidak harus ditutupi serupa pakaian ninja, tetapi bisa cukup dengan menjaga diri di ruang publik agar tidak genit dan mengundang berahi lelaki yang memang dicipta susah tahan menghadapi pesona lawan jenisnya.

Menjaga diri dengan pakaian ala ninja juga tidak mengapa, asal tidak mengundang para penjahat kelamin penasaran di balik pakaian ala ninjanya. Semua serba kemungkinan bukan? Tak ada jaminan menutup semua tubuh terbebas dari kejahatan. Tapi biasanya, menutup aurat lebih dihargai oleh kaum lelaki.

2. Memilih Teman Medsos
Bagi seorang istri, apalagi yang punya wajah mempesona dengan bantuan kamera, sebaiknya jangan asal menerima teman, atau memilih teman. Seleksi dulu isi statusnya pada media yang digunakannya, kecuali punya kemampuan filtering luar biasa yang mampu menyaring banyak kotoran. Kemampuan filtering modal penting agar terhindar dari segala keburukan yang mengancam eksistensinya sebagai perempuan publik—meski hanya sebatas penjual online baju-baju anak, misalnya. Remove saja setiap teman yang berpotensi menimbulkan petaka, dan kekacauan, agar tidak menimbulkan kegaduhan. Kegaduhan pasti menimbulkan ketidaknyamanan, terutama kepada presiden rumah tangga.

3. Komunikasi Positif
Lakukan komunikasi seperlunya. Jangan sampai berlebihan, agar tidak menimbulkan kesan atau tafisr yang negatif bagi suami atau teman-teman medsos lainnya. Sudah banyak fakta orang salah paham dalam melakukan kominikasi tertulis di media sosial lalu discrenshoot dan disebarkan. Maka, jadilah fitnah yang luar biasa, dan menimbulkan petaka yang tidak dikehendaki, baik dalam pertemanan terlebih dalam kehidupan berumah tangga.

4. Kebermanfaatan
Bermedia sosial-lah yang ada manfaatnya. Jangan hanya menghabiskan kuota untuk sesuatu yang tidak jelas, dan buang-buang waktu untuk keharmonisan rumah tangga. Oleh karenanya, tanyakan pada suami apa manfaatnya bermedia sosial, atau tanyakan pada yang lebih berpengalaman tentang dampak positif dan nigatifnya. Alasan manfaatnya boleh saja memperbanyak teman yang kelak bisa dimintai bantuannya, atau jualan online, atau menebar kebaikan dalam bentuk tulisan yang mencerahkan, dan lain sebagainya.

Intinya, segala gerak dalam bermedsos tidak merugikan diri sendiri, keluarga, dan orang lain. Pendeknya, tidak seperti pendukung kedua calon presiden yang terus berseteru dan tak kunjung mereda.

5. Terbuka
Sebaiknya, ponsel suami dan istri saling terbuka dan keduanya bebas saling melihat isi ponselnya, sehingga tidak menimbulkan persepsi yang negatif. Jika ada hal-hal yang tidak disenangi bisa dimusyawarahkan antar keduanya, dan tentu saja jangan sampai cemburu buta jika ada temannya berguyon melampai batas.

Jagalah diri dan teruslah bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga, dan orang lain. Medsos tidak akan menimbulkan petaka jika digunakan sebagaimana mestinya. Tak ada pisau haram yang digunakan untuk memotong rumput sendiri. Demikian juga dengan media sosial yang kehadirannya tak bisa dihindari lagi.

Tampil saja di depan publik sesuai dengan kapasitas dan kebutuhannya. Terimalah segala resikonya sebagai akibat dari perjalanan kehidupan. Dan, yang paling penting dapat menambah ilmu dan meningkatkan spiritualitas kepada Allah ‘Azza wajalla.


Sumenep, 26 Maret 2019



Penulis, Nun Urnoto.
Penulis novel Anak-Anak Pangaro,
Anak-Anak Revolsi, dan;
Memanjat Pesona.
0 komentar

CINTA MARKENYOT SEPUTIH SALJU

Saya baru bangun tidur, dan menghabiskan buah pisang yang besar untuk mengganjal perut yang terasa lapar pada dini petang ini. Tapi, saya tidak hendak menulis soal pisang yang berhasil mengganjal perut saya yang terasa lapar. Saya ingin bercerita mimpi saya, tentang salju yang menempel di pipi saat ditanya oleh seorang kaisar Cina yang saya jumpai. “Apakah yang menempel di pipi saya debu atau salju?” tanya saya sambil meraba-raba pipi saya.

Kaisar tidak menjawab. Ia malah bertanya, “menurutmu, apa?” Aku menjawab, “debu.” Kaisar, tersenyum sambil menyambut kedatangan sauadaranya yang juga menjadi kaisar di dataran Cina.

Dok. kabarnun.com
Sebenarnya, saya sudah tahu bahwa yang turun dan menghujani istana kaisar adalah salju. Hanya saja, saya hendak memantapkan keyakinan saya—yang sebelumnya sudah mantap—bahwa yang menempel di pipi dan dan semua tempat di sekitar saya adalah salju.

Inpirasi salju terus menusuk-menusuk kepala saya, dan seribu pertanyaan lengkap dengan tafsirnya terus menggedor kepala. Rasanya, ingin saya tulis di beranda facebook, namun saya merasa beranda facebook tak akan memuatnya, bahkan mungkin menimbulkan reaksi buruk dari kawan-kawan yang pendek akal spiritualnya, dan tak punya semangat membaca yang tinggi.

Satu tafsir dari mimpi salju adalah cinta seputih, sesejuk, dan setulus dirinya. Apa pun yang saya kerjakan adalah cinta, dan itu harus seputih, sesejuk, dan setulus salju itu sendiri. Di antara pekerjaan saya adalah menulis. Menulis yang saya kerjakan seharusnya sudah tidak saya sebut lagi “menulis”, tetapi cinta. Jadi, saya sedang mengerjakan cinta. Cinta yang sesalju dalam tafsir mimpi yang menggedor kepala saya.

Saya mengerjakan cinta, tanpa mengharap apapun yang hanya menghidangkan kekecewaan dan sakit hati dalam kehidupan yang khoyyali,  ini. Cinta hanya mengerjakan. Seumpama harus berbuah uang, pahala, puja dan puji, popularitas, dan kehormatan lainnya, itu hanyalah konsekwensi logis dari pekerjaan saya, dari cinta saya. Maka, kepada siapa pun dipersilakan untuk memetiknya.

Masalahnya, benarkah pekerjaan saya sesalju dalam mimpi itu? Jangan-jangan, saya hanya berapologi, atau lebih buruk beralibi, untuk menutupi keterpurukan saya yang sesungguhnya. Bukankah di jaman now ini, kehebatan banyak yang dibungkus dengan aksesori baju, mahkota, juga kosa kata? Seumpama tukang ceramah yang selalu diklaim sebagai seorang ulama, padahal bukan sama sekali? Lalu, di belakang hari, Tuhan membuka kedoknya sebagai anjing politikus, bukan ulama seperti yang disangka? Namun, berpikir buruk dari kata “jangan-jangan” yang saya suguhkan itu, juga jebakan yang seharusnya tak boleh diaminkan oleh siapa pun, meski itu rasional, umpamanya. Jalan tengahnya, jangan berpikir apa pun tentang orang lain, termasuk kepada saya. Apakah saya sesalju tafsir mimpi itu atau bukan, janganlah diurus. Biarkan saja, agar tak menjadi penyakit.

Penulis bermental salju adalah penulis yang menulis, tanpa bahagia diberi royalti, tanpa bersedih karyanya dibajak, tanpa besar kepala oleh popularitas, tanpa bersedih dikritik, tapi melawan jika dimaki-maki oleh orang bodoh.

Penulis yang protes sana-sini karena karyanya seharusnya layak diterbitkan, layak menjadi juara, layak mendapat apresiasi, sakit hati jika tersaingi, merasa tidak dimuliakan adalah penulis coro yang kampret. Lebih kampret lagi, orang-orang yang tidak punya karya tulis, dan karya apa pun tapi merasa sudah menjadi coro. Indikatornya, orang macam itu biasanya suka mengukur moralitas orang lain dengan moralnya sendiri yang tanpa pengetahuan yang bijaksana. Sekali lagi, tanpa pengetahuan yang bijaksana. Silakah cari dalam kitab suci pengertian bijaksana.

Saya pernah diprotes di depan umum oleh seorang guru PNS bodoh yang tiba-tiba atas “kesalahan” saya dia merasa lebih pintar dan sok bijaksana. Berceramahlah dia sambil ngata-ngatain seolah cara bernasihatnya sudah benar. Sejak kapan orang bijaksana ngata-ngatain orang lain di depan umum? Rupanya, pancingan saya—saya sengaja memancing orang-orang yang merasa berilmu, karena sebelumnya muncul reaksi negatif pada hal-hal yang dipromosikan di hadapan mereka—berhasil. Barangkali, karena dia PNS lalu merasa berhak berkhutbah di depan umum. Barangkali, karena dia PNS lalu merasa sukses. Padahal, dia itu benalu bagi negara, dan mencatut slogan “abdi” negara untuk melegitimasi pengabdiannya. Dikira, mengabdi itu dibayar. Mengabdi itu membayar, apalagi mengabdi kepada negara yang sekarat.    

Namun demikian, hati yang sesalju dalam perspektif tafsir mimpi saya, memaklumi ketidakberdayaan mereka. Mereka adalah orang bodoh yang merasa pintar. Ini, bukan soal prasangka buruk atas metafisik kelakuan mereka. Ini nyata atas pernyataan-pernyataan kebodohannya yang dipublikasikannya. Dan, tulisan-tulisan ini, saya kategorikan tulisan cinta, meski saya tahu, cinta akan cacat jika diutarakan di hadapannya. Namun, ini pendekatan berbeda yang tak boleh sembarangan saya uraikan semantiknya.

Jika penulis tak punya cinta seputih salju, maka ketajaman pena para penulis sudah lama mengurai perut busuknya ke hadapan publik. Mereka tak akan bisa menandingi ketajaman penanya. Ujung penanya lebih tajam, bahkan lebih kejam dari ujung pedang. Sudah berapa banyak, orang mati diujung pena? Pena mereka mengabadikannya dalam buku-buku, jurnal-jurnal, dan media lainnya. Mereka menyebut nama, membuat inisial, dan sketsa-sketsa yang bisa dikenang dan dijadikan pelajaran bagi generasi masa depan anak-anak bangsa. Lawan saja penulis, jika Anda ingin remuk selama berabad-abad.

Banyak kisah-kisah coro yang akan saya tulis untuk melengkapi pelajaran-pelajaran berharga bagi anak-anak saya, bagi orang-orang baik yang akan menghadapi kaum coro dari kalangan mereka sendiri. Namun, penulis harus tetap cinta. Bahkan, bahasa yang terdengar sarkas dari seorang penulis adalah cinta. Berbeda jika keluar dari politisi, bahasanya adalah petaka.

Demikian, unek-unek Markenyot yang saya tulis hingga menjelang subuh. Nanti, sajak-sajak Markenyot akan terbit dalam bentuk e-book. Salam NKRI dari Markenyot.




Sumenep, 22 April 2018   



   

0 komentar

PENGAJIAN LITERASI DI PONDOK PUTRI

Kali ini (27/10/16) saya menyambangi pengajian literasi di Pesantren Annuqayah Daerah Kusuma Bangsa. Semua pesertanya adalah santri putri. Baru kali ini, saya bisa mengajar di daerah putri setelah sebelumnya beredar kabar, bahwa kaum bujang dilarang ke wilayah tersebut. Saya hanya berbaik sangka dengan kabar itu. Mungkin, saya dima’fu alias dimaklumi memasuki wilayah sensitif itu, karena dianggap bujang lapuk yang sudah tidak punya daya terhadap kaum hawa. kwkwk.
Di hadapan para bidadari yang binar matanya, saya melihat pantulan gairah untuk menulis, dan saya pun mulai bertutur. Mula-mula saya mengenalkan diri dengan menyebut nama asli saya (Urnoto), yang masih seketurunan dengan Naruto dari Jepang. Lalu—tanpa hirau dengan peserta pengajian yang tak tahan dengan gelaknya—saya melanjutkan untuk mengenalkan tambahan nama “Nun” yang dihadiahkan oleh seorang guru spiritual kepada saya. Saya juga mengabarkan kepada mereka, tentang apa saja prestasi saya.

Ta’aruf yang tak ubahnya seperti hendak meminang anak gadis itu pun akhirnya selesai, meski mereka terlihat terkesima, entah oleh apa. Tapi, barangkali mereka terkesima dengan rambut saya yang gondrong, atau dengan wajah saya yang tampan, atau jangan-jangan dengan prestasi-prestasi yang baru saja saya “pamerkan”. Saya sungkan bertanya soal kesima mereka. Saya melanjutkan tutur berikutnya.

Mengenalkan diri kepada para peserta pengajian literasi itu sangat penting, agar mereka tahu siapa yang berbicara, dan apa saja prestasi yang menjadi kompetensi saya. Saya tidak ingin seperti guru-guru yang hanya bermodal titel akademik, tapi tidak punya prestasi. Saya malu jika seperti itu, dan saya tidak akan mengajar jika tidak punya prestasi. Saya pemalu, alias tahu diri. Bagi saya, teladan paling ampuh adalah prestasi, bukan yang berbusa-busa dengan kata-kata, apalagi guru yang melamar untuk mengajar. Bagi saya, guru yang melamar itu bukanlah guru, tapi tenaga kerja yang mengharap honor dan dana sertifikasi.

Maaf, jika pendapat saya mengerikan, tapi saya tidak bisa berkelit dari fakta yang tersaji dalam keberlangsungan hidup saya, dan saya harus mengabarkannya kepada dunia perihal karakter guru mulia yang mulai memudar. Paling tidak, semua itu menjadi fenomena kesemrautan di dunia pendidikan.

Peserta pengajian literasi, saya persilakan untuk fokus dengan satu genre saja. Mereka bebas memilih genre yang mereka sukai, sedangkan genre-genre yang lain hanya menjadi sampingan saja, dan bukan berarti saya memerintahkan mereka meninggalkan genre-genre lain. Saya hanya meminta mereka lebih fokus, lebih konsentrasi untuk menyelesaikan genre yang paling mereka minati.    

Dalam hitungan menit, mayoritas peserta pengajian literasi memilih puisi dan cerpen. Selebihnya, mereka memilih menulis novel, esai, artikel, dan catatan harian. Khusus penulis novel hanya satu orang. Peserta itu, menurut saya luar biasa. Ia memilih sesuatu yang paling tidak diminati oleh teman-temannya. Barangkali, novel dianggap sangat sulit karena ketebalannya yang tidak mungkin dirampung. Padahal, menulis novel itu lebih mudah dari menulis puisi dan cerpen. Hanya saja, menulis novel butuh waktu agak lama. Dan, mungkin itu yang agak mengerikan.

Menulis novel, peluangnya cukup menjanjikan. Misalnya, lebih diterima penerbit dibanding antologi puisi, cerpen, esai, artikel, dan kawan-kawannya. Peluang lainnya, penulis novel cenderung dianggap lebih mumpuni karena berhasil melahirkan buku tebal, lebih banyak royaltinya, lebih disukai pembaca, lebih berpeluang dilayar lebarkan, dan lain sebagainya. Itulah tuah bagi penulis novel, dan saya sendiri merasakan tuah itu. hehe.

Saya menyilakan mereka untuk langsung praktik dan merasakan kesulitan-kesulitan yang dialaminya. Kemudian, saya menyilakan mereka menanyakan perihal kesulitannya itu. “Silakan, tanyakan kesulitan yang Anda alami dan apa saja yang ingin Anda ketahui tentang menulis,” begitu kata saya kepada peserta pengajian literasi. Hasilnya, luar biasa! Mereka menanyakan hal-hal yang tidak terduga sebelumyan. Misalnya, cara menyusun kalimat efektif yang biasanya sering dibaikan oleh para penulis pemula. Susunan kalimat yang efektif akan menjadi bargaining ketika dikirim ke penerbit. Jika menulis kalimat saja sudah tidak benar, maka jangan harap penerbit mau membacanya hingga tuntas, meski sebenarnya isinya bagus.

Banyak yang mereka tanyakan pada pengajian itu, hingga menjelang terbenamnya matahari, termasuk pertanyaan-pertanyaan tentang “bangunan” puisi yang belakangan beranika ragam, cerpen yang belakangan kian mencari format baru, hingga novel pop yang berlimpahan dan tak laku-laku di pasaran.   

Mereka saya minta untuk tidak berputus asa berproses, hingga di belakang hari mereka menemukan karakteristik tulisannya sendiri yang berbeda dengan gaya penulis-penulis yang menginspirasinya. Paling urgen dari pengajian menulis itu, bukan pada teori menulisnya, tetapi pada ghirahnya, semangatnya, atau istikamahnya. Dan, gara-gara lemahnya syahwat menulis itu, telah membuat banyak orang gagal untuk menjadi penulis. Penulis adalah mereka yang istikamah di jalan menulis. Jika hanya sekali menulis, kemudian lenyap, maka mereka bukan penulis. Mereka hanya orang yang numpang lewat. hehe.

Semoga sukses! Wassalam.


  
Sumenep, 28 November 2016

Catatan yang baru rampung diposting,

0 komentar

NGAJI LITERASI BERSAMA GENERASI NU

Ngaji literasi bersama IPNU/IPPNU (23/10/16) di Kantor Urusan Agama (KAU) Kecamatan Lenteng akhirnya berjalan lancar, meski sebelumnya mendung yang mengantung menakut-nakuti langkah generasi Nahdhatul Ulama untuk hadir ke tempat acara.

Menurut ketua IPNU/IPPNU Cabang Sumenep, baru kali ini kadernya mengadakan kegiatan literasi, dan diharapkan IPNU/IPPNU yang lain bisa mengikutinya.

Saya sangat setuju sekali dengan statemen ketua cabang tersebut. Sekarang, sudah saatnya generasi muda NU ikut ambil bagian menyampaikan nasihat-nasihatnya melalui tulisan, baik berupa tulisan berita, artikel, esai, bahkan mungkin karya-karya fiksi seperti puisi, cerpen, novel, dan lain sebagainya.

Sebagai fasilitator, saya mengajak para peserta untuk langsung praktik menulis puisi, terutama puisi-puisi yang sesuai dengan selera peserta—yang didominasi anak-anak remaja. Mereka, saya ajak menulis puisi cinta, yang tentunya menjadi gandrung dengan jiwa remajanya. Saya pikir, puisi cinta tengah mendekam di dalam benaknya, dan memungkinkan mereka untuk menuangkannya dengan mudah, tanpa melalui proses imajinasi yang rumit.

Hasilnya, cukup mencengangkan; bahasanya sederhana, sangat jujur, polos, bahkan tisikan kalimat-kalimatnya seperti orangtua bertutur pada putranya, alias tidak puitis sama sekali. Dan, karya mereka saya apresiasi cukup baik, jika dibanding dengan para pengumpat di media sosial yang tidak bisa mengemas umpatannya dengan kalimat-kalimat puitis yang metaforistik.

Solusi bagi mereka yang masih berkemampuan menyusun diksi-diksi sederhana adalah meningkatkan minat bacanya terhadap karya-karya sastra, alias rajin-rajinlah membaca buku apa saja yang bisa membantu mengayakan kosa katanya. Tentunya, teruslah berlatih menulis agar tulisan-tulisan yang menjadi fokus genrenya kian tajam, dan membuat pembaca jatuh cinta setengah mati.

Menulis puisi tentu saja harus puitis dengan tetap mengindahkan simantik dan sintaksisnya. Jika puisi ditulis sebagaimana menulis pidato, maka keringlah kalimat-kalimatnya, dan pesannya bisa ikut-ikutan kerontang. Pesan-pesan yang dibungkus dalam kalimat-kalimat puitis akan membuat penikmatnya hanyut dan tanpa sadar mabuk kepayang.

Saya seringkali menjumpai puisi-puisi yang sama sekali tidak puitis, yang hanya bentuknya saja disusun seperti puisi, namun susunan kalimatnya kering dan tidak indah. Lalu—karena bentuknya serupa puisi—mereka menyembutnya puisi. Apa itu puisi? Silakan kuliah satu semester lebih dahulu, atau belajar pada ahlinya.

Pelatihan yang diadakan IPNU/IPPNU Lenteng ini, setidaknya menjadi langkah awal untuk terus bersikeras memotivasi generasinya, agar bisa menulis. Sebagai generasi NU, saya melihat tulisan anak-anak NU masih minim, masih bisa dihitung dengan jari, padahal generasi NU mayoritas di negeri ini. Saya tidak mengerti, mengapa dunia literasi menjadi sunyi dalam kehidupan mereka. Saya menduga, mereka sudah pasrah kepada para pengarang kitab-kitab klasik yang menguasai aktivitas belajarnya di pesantren, atau jangan-jangan mereka tidak tahu dahsyatnya karya tulis bagi keberlangsungan kaum intelektual di masa sekarang dan di masa-masa yang akan datang. Semoga dugaan saya tidak benar.

Saya sangat berharap, agar generasi NU tidak terlena oleh zona nyaman atas kebesarannya sebagai ormas terbesar. Semoga kesadaran mereka tidak terbeli oleh lezatnya gadget, ipad, dan kawan-kawannya. Mereka harus segera disadarkan, bahwa ujung penanya sangat dibutuhkan untuk mengubah dunia yang kian radikal dan liberal. Dan, yang paling perlu disadarkan adalah para stake holdernya yang tidak menyadari tajamnya ujung pena, yaitu mereka yang selama ini mengajarkan sesuatu yang tidak jelas kepada mereka.

Akhirul kalam, saya ingin sampaikan, bahwa menulis akan membuat siapa pun berselera untuk membaca. Membaca, akan membuat dunianya bercahaya. Jika tidak paham dengan maksud saya, silakan datangi saya. hehe.

  
Sumenep, 28 November 2016

Catatan yang baru rampung diposting,

0 komentar

MENINGKATKAN MINAT BACA MELALUI KARYA TULIS

Salah satu kompetensi yang paling sulit di antara empat kompetensi lainnya (membaca, menyimak, berbicara, dan menulis) dalam pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia adalah kompetensi MENULIS. Banyak orang yang stres jika berhadapan dengan dunia tulis-menulis, kecuali bagi mereka yang rajin membaca dan berlatih secara istikamah untuk melahirkan karya tulis. Gara-gara sulitnya kompetensi yang satu itu, akhirnya berdampak pada rendahnya minat baca anak-anak bangsa. Bayangkan, setelah UNISCO melakukan survei minat membaca terhadap 61 negara, ternyata negara kita ada diurutan kedua dari terakhir. Sungguh, itu kabar buruk bagi kita, terutama bagi pemerintah, praktisi pendidikan, termasuk para guru yang terlibat secara langsung terhadap semangat belajar generasi penerus bangsa.

Lalu, kenapa sulitnya kompetensi menulis berdampak terhadap rendahnya minat baca? Begini logikanya: Jika semua orang punya kemauan besar terhadap dunia tulis-menulis (siapa pun orangnya) maka minat baca secara otomatis akan meningkat pesat, sebab ketika orang menulis sesuatu, misalnya menulis tentang politik lalu mengalami stagnasi untuk meneruskannya, maka secara otomatis orang tersebut akan membaca referesi yang terkait dengan tema yang ditulisnya. Itulah alasannya, kenapa sulitnya menulis menjadi bagian yang berdampak buruk terhadap minat baca. Tentu saja, masih banyak faktor lain yang mempengaruhinya. Pendeknya: MENULIS MEMBUAT ORANG AKAN GEMAR MEMBACA, tetapi MEMBACA BELUM TENTU MENJADIKAN ORANG UNTUK MENULIS. Barangkali, itu menjadi solusi bagi terpuruknya baca-tulis di negeri bangsa ini.

Siapa yang akan memulai? Jawaban sementara adalah guru. Guru ‘wajib’ memberikan contoh terlebih dahulu kepada anak didiknya, sebelum memberikan perintah atau kuliah baca-tulis kepada mereka. Guru ‘wajib’ menulis, apa pun bentuk tulisan itu. Guru yang melahirkan karya tulis dalam bentuk buku, tak perlu dipertanyakan lagi tingkat minat bacanya. Karya tulis akan menjadi bukti autentik bahwa guru tersebut gemar membaca, karena prasyarat untuk menulis adalah rajin membaca. “tidak ada jalan pintas menjadi penulis, kecuali membaca dan menulis itu sendiri,” kata Stephen King. Jika mentok untuk melanjutkan tulisannya, maka berarti kurang membaca. Asupan gizinya kurang, sehingga ide, dan penguasaan kosakatanya miskin. Orang miskin mana bisa bersedekah banyak?

Banyak genre tulisan yang bisa digeluti oleh para guru, misalnya membuat antologi cerpen, antologi puisi, antologi dongeng, novel, esai, artikel, karya ilmiah, dan lain sebagainya. Pilihlah genre yang paling mudah, tetapi memiliki bargaining bagi masyarakat sekitarnya, terutama bagi peserta didiknya sendiri. Setelah menjadi tulisan yang utuh, maka jangan biarkan menjadi lembar-lembar yang berserakan. Kemaslah menjadi buku, sehingga tampilannya terhormat, dan orang tertarik untuk menghargainya: membeli dan membacanya.

Sebagai individu yang berkutat di dunia pendidikan, maka guru punya kesempatan besar untuk merampungkan satu genre tulisan, dibanding individu lain yang terjebak menumpuk-numpuk harta dan memujanya. Tidak ada alasan untuk tidak tahu menulis, kecuali guru yang malas belajar. Guru yang malas belajar, sebaiknya segera mengundurkan diri dengan hormat, sebelum melahirkan penerus-penerus yang serupa dengan dirinya. Itu namanya: Guru yang tahu diri.

Setelah guru memberikan teladan yang maksimal, melalui budi pekerti intelektual dengan bukti karya tulis dan prestasi-prestasi lainnya, maka perjuangan guru nyaris sempurna, dan sudah layak disebut guru. Tugas berikutnya adalah memberikan motivasi. Motivator yang sudah punya “keteladanan” bergudang prestasi, tidak akan mempunyai beban moral untuk tidak diikuti oleh peserta didiknya. Guru tidak ragu lagi “memerintahkan” anak didiknya untuk rajin membaca dan menulis, serta memiliki prestasi lainnya.

Tulisan di atas tidak sedang menggurui, apalagi mengandung indoktrinasi yang dipaksakan. Silakan lacak silogismenya dengan fakta dan data-data yang berserakan di sekitar kita, bahwa rendahnya minat baca akibat kurangnya keteladanan dari para stakeholder, termasuk guru bagi anak didiknya.

Sekali lagi, aktivitas menulis bisa menjadi cikal-bakal bangkitnya minat baca. Maka, menulislah. Guru tinggal memilih, apakah mau menulis fiksi atau nonfiksi. Fokus saja pada satu genre, agar tidak kelabakan. Lakukan dengan sabar, hingga layak menjadi satu buku untuk dikonsumsi publik.

Secara garis besar, rumus menulis nonfiksi berupa: tema dan argumentasi. Sedangkan rumus fiksi: tema dan imajinasi. Selanjutnya akan dijelaskan secara detail dalam tekni menulis melalui papan tulis, termasuk penggunaan data, fakta, dan sebagainya.

Demikian sedikit pembakar kalori yang membeku dalam kubah intelektual kita. Semoga, kita benar-benar menjadi “terbakar”sehingga tak berhenti belajar. Mohon maaf jika ada susunan kalimat yang inferior bagi para peserta pelatihan. Mari, bangkitkan minat belajar (minat baca-tulis) pada diri anak-anak didik kita. 


Sumenep, 22 Oktober 2016
Disampaikan pada pelatihan menulis untuk guru tingkat SD/MI Kabupaten Sumenep
0 komentar

ASSALAM NGAJI LITERASI

Menuju Assalam tidak sesulit merampungkan puisi-puisi cinta, meski jalannya menanjak dan kadang menukik. Sepanjang menuju Assalam, bibir jalan diapit jurang-jurang, bahkan ada jurang yang pernah dijadikan pembuangan mayat hasil pembantaian. Aroma kematian dan jurang terjal tidak membuat saya bergidik, karena wajah alam dengan deretan bukit-bikit memajang senyum yang membuat hati saya nyaman memandanginya.

Inspirasi di kepala, tiba-tiba berdatangan untuk  saya tuang menjadi sajak-sajak gerimis yang membuat saya masih yakin, bahwa alam semesta tetap ada harapan untuk diselamatkan, kecuali kota-kota yang saat ini dijajah banjir bandang yang menendang kehidupan mereka. Khayalan saya berkata, bahwa jika kota menumbuhkan pohon-pohon sebesar paha orangtua, maka panas yang menyengat tidak akan pernah ada. Tapi, sayang sekali, saya hanya bisa bermimpi, sebab orang-orang kota sudah dijajah para penguasanya yang kurang tahu diri.
Sudahlah, biarkan kota menderita, asalkan sepanjang jalan menuju Assalam tetap tenang dan senantiasa menumbuhkan paku-paku dengan oksigennya yang mendamaikan denyut jantung. Percuma bicara kota, jika pepohonan tak diizinkan mengisap hasil buminya.
Kepada sopir motor aku berkata, “indah nian alam yang mengelilingi rumahmu. Jika ini dijaga hingga anak cicit berkepala lima, Indonesia akan benar-benar menjadi surga yang diburu oleh orang asing yang sinting. Orang asing yang rumahnya menguapkan api neraka, akan mencari surga seperti ini.” Sopir motor yang membonceng saya tak menyahut. Mungkin ia tak mendengar, atau ia tidak paham yang saya tuturkan di dekat daun kupingnya.

Setengah jam kemudian—di bawah gerimis yang ritmis—saya sudah tiba dan langsung menuju langgar Assalam yang masih sunyi. Tak ada peserta pelatihan yang menunggu ketika kaki saya sampai lebih dahulu. Saya menunggu sambil menyulut perapian yang saya masukkan ke dalam mulut, agar dingin pegunungan tidak terlalu menggigit. Dan, yang membuat jantung tetap berdenyut adalah inspirasi yang berdatangan dari segala penjuru. Ada yang berlompatan dari pohon monyet, ada pula yang masih bersembunyi di genting rumah pengasuh Assalam. Sungguh, saya ingin menulisnya.

Saat asap rokok melambung memenuhi langit, Kiai Homaidi muncul membawa seulas senyumnya untuk menyambut semangat saya yang sudah menginjak tanah kediamannya. Lalu, disusul santrinya yang menghidangkan senampan kopi yang dituang dari teko lusuh yang jarang dibasuh. Setenguk membasahi tenggorokan, hingga binar mata saya yang sedikit sayu karena diserang dingin yang memuncak.

Saya berbasa-basi dari ruang hati yang tulus, sambil bertutur kisah perjalanan yang ditimpa gerimis yang menyengat. Parcabisan yang dimulai dari pengharapan bagi beberapa anak didik yang “harus” tahu dunia literasi, perlu kiranya dikenalkan. Setidaknya, saya bisa menceritakan rasa manis yang sudah saya rasakan lebih dahulu di belantara denging kosakata, sebelum akhirnya mereka menceburkan diri pada sungai yang tekanan udaranya bermacam rupa.

Begitulah, saya bertutur sapa saat mula-mula “menggurui” anak-anak santrinya yang memang harus saya gurui. Saya memaklumi keterlambatannya, karena hujan baru saja reda, dan cinta baru saja tiba. Kosakata cinta yang saya sampaikan, diharap bisa merenggut hatinya, agar dunia literasi menjadi bayang-bayang di dalam setiap aktivitasnya.

Saya tak kehabisan kosakata literasi, untuk dihidangkan kepada mereka setelah sekian lama saya luntang-luntung dari pelosok desa hingga pelosok kota. Di kota, saya tak terlalu khawatir, karena rasa adil sangatlah nyaman, tetapi di desa yang diinjak ketidak adilan perlulah kiranya mendapat sentuhan yang super ajaib.

Kepada mereka yang masih unyu mengenal dunia yang saya tekuni, saya meminta untuk memilih genre tulisan yang paling nyaman, meski itu hanya sekadar catatan harian berupa kisah-kisah cinta yang biasa digandrungi. Mereka harus memulai dari yang mereka rasakan sendiri, hingga kelak bisa menulis yang menjadi penderitaan dan kebahagiaan orang sekitarnya.

Tak perlulah mereka menunggu teladan dari para gurunya yang sudah loyo alias gagal memiliki semangat menulis sendiri. Tak perlulah mereka bercermin kepada basa-basi ribuan teori yang mengantung di langit-langit. Cukuplah kiranya, surau Assalam memotivasi mereka, agar senantiasa menjadi maujud serupa rancang bangunnya yang terpahat di simpang jalan yang nyaris sunyi.

Menjelang matahari redup, saya sudahi kisah-kisah dan pengharapan yang saya selipkan pada saku bajunya untuk dibawa pulang. Dan, ketika maghrib tiba, ternyata saya sudah di Menara Cling; tempat berteduh selama lima tahun.

Semoga, saya bisa memberikan manfaat kepada umat Muhammad. Begitulah harapan anak seorang nelayan yang lahir dari keterpencilan.


Assalam Prancak Sumenep, 21 Oktober 2016




Penulis: Nun Urnoto

Sumenep, 13 Oktober 2016
Catatan yang terlambat ditulis  

0 komentar

GURU BERTANGGUNG JAWAB MENGAMPANYEKAN BACA-TULIS

Pondok Pesantren al-Anwar Geddhu Kecamatan Ganding, mengundang saya untuk memberikan motivasi menulis dengan tema, “My Pen May Adventure” mulai pukul 08:00 dan berakhir 11.00 WIB. Pesertanya terdiri dari santri putra saja, sedangkan santri putri yang pondoknya berjauhan masih belum mendapatkan kesempatan. Saya berharap suatu saat nanti, mereka bisa menyusul.

Saya senang sekali jika ada orang “pedalaman” yang mau melek dengan dunia literasi yang saat ini hampir di dominasi oleh orang-orang perkotaan dan pesantren-pesantren besar seperti Pesantren Annuqayah, al-Amin, Banyuanyar, Bata-Bata, dan pesantren besar lainnya di Madura. Akhir-akhir ini, saya sedang berupaya untuk memasyarakatkan baca-tulis di kalangan anak-anak muda pelosok untuk menyongsong “perang dingin ke-3”yang sudah pecah.  

Perkembangan baca-tulis di kalangan pelajar pelosok-pelosok desa, sungguh miris sekali. Sekelas Madrasah Aliyah, masih belum tahu bedanya karangan fiksi dan nonfiksi. Cerpen disangka nonfiksi, artikel diduga fiksi. Sungguh, terlalu bukan?

Jangan tanya minat bacanya. Minat baca mereka tak ada. Minat mereka hanya mempertinggi nilai rapor, yang entah bagaimana caranya. Semoga tidak dengan cara-cara curang sebagaimana yang biasa dilakukan para gurunya. Jika saja guru memberikan teladan membaca, termasuk menulis, maka saya yakin nilai rapor dan ijazah siswanya tidak perlu dikatrol dengan cara-cara yang tidak jujur. Insya Allah, siswa akan meneladani aktivitas membaca dan menulis yang dilakukan para gurunya.

Krisi moral membaca dan menulis bagi guru, termasuk krisis prestasinya, turut andil bagi terpuruknya semangat belajar (baca-tulis) peserta didiknya. Hal seperti itu yang seharusnya menjadi keprihatinan bersama untuk diubah.

Saya pikir, banyak para guru yang tidak merasakan/tidak tahu manfaatnya membaca dan menulis, sehingga mereka tidak tertarik untuk mengampanyakan kepada anak didiknya. Rasanya, jika membaca dan menulis menjadi spirit intelektual bagi para guru dan mengetahui nikmatnya membaca dan menulis, pastilah mereka akan getol untuk menyuarakannya. Dengan kata lain, mayoritas para guru ternyata malas membaca, apalagi menulis. Itulah fakta yang tidak bisa dibantah, dan saat ini masih berlangsung.

Kepenulisan yang menjadi bagian komptensi di dalam pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, masih dianggap tabu, sehingga sangat kaku untuk diberdayagunakan dalam kehidupan anak didiknya. Banyak guru yang tidak tahu, bahwa menulis akan membuat anak didiknya rajin membaca. Silakan pikir sendiri, bagaimana logikanya menulis bisa membuat anak didiknya bisa belajar?

Jika anak didiknya tidak mau belajar, maka gurulah yang seharusnya disalahkan terlebih dahulu, karena moral membacanya sangat cacat, dan sama sekali tidak memberikan teladan yang menginspirasi bagi keberlangsungan intelektual perserta didiknya. Guru seperti itu, sudah seharusnya modar dari dunia sekolah tempat mereka mengajar. Jika tidak, maka kebodohan akan semakin menggila selamanya. Guru, termasuk dosen yang tidak punya semangat belajar adalah biang kerusakan pendidikan di tanah air. Lebih mengerikan lagi adalah guru dan dosen yang menjadikan peserta didik hanya sebagai ladang penghasilan, alias dijadikan “binatang ternak” untuk mendapatkan jatah penghasilan.

Saya berharap, ada perubahan radikal untuk meningkatkan minat baca-tulis yang dimulai dari para guru. Negeri ini akan berkembang pesat di tangan para guru, bukan di tangan para politisi, petani, apalagi di tangan para penumpuk harta. Belajarlah pada Jepang yang ketika Hiroshima hancur, gurulah yang pertama kali ditolong. Dan,  sekarang, Jepang—yang mayoritas non muslim itu—menjadi negara maju.Melalui baca-tulis, insya Allah kebodohan akan lenyap. Semangat belajar akan bangkit, lalu jayalah negara yang mayoritas muslim ini dalam percaturan berbangsa dan bernegara, hingga sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

Anak-anak didik saat ini adalah aset besar bagi keberlangsungan hidup yang semakin ketat. Tak ada ampun untuk membuat mereka senantiasa belajar, hingga masuk ke liang lahad. “Perang dingin” saat ini hanya bisa ditaklukkan melalui semangat membaca dan menulis yang menghasilkan berbagai prestasi dalam segala bidang kompetisi.

Dimulai dari guru (dosen, kiai, ustaz, tutor, dll.) maka aktivitas baca-tulis akan menyebar ke semua masyarakat untuk bersama-sama dikampanyekan. Jika demikian, maka baca-tulis yang Allah firmankan sudah tidak termasuk yang “dilecehkan” oleh mayoritas muslim di negeri ini. Jangan lupa, pelecehan terhadap ayat-ayat suci tidak hanya yang diverbalkan tetap juga yang tidak sudi diamalkan.

Wallahu’alam.
(Urnoto)


Sumenep, 13 Oktober 2016
Catatan yang terlambat ditulis.  

0 komentar

GUCIALIT BUKIT KOSA KATA


Saya harus membersamai teman-teman Forum Lingkar Pena Jawa Timur di Gucialit Lumajang (12-14 Agustus 2016) dalam program Silatwil yang merupakan bagian dari program kerja Forum Lingkar Pena Wilayah Jawa Timur. Saya yang paling bertanggungjawab menjalankan program tersebut, karena menjadi bagian program Kaderisasi, meski faktanya panitia pelaksana hampir tidak mengomukasikannya dengan saya. Hal itu menjadi maklum, mengingat panitia adalah orang-orang baru yang terjun di komunitas Forum Lingkar Pena, alias baru berdiri dan secara organisatoris belum sepenuhnya memahami.

Cuaca puncak Gucialit yang lebih dingin dari kota malang membuat beberapa pesarta kesemutan dengan gigil yang nyaris tak tertahankan, termasuk saya sendiri. Di tambah kepala pening akibat mabuk darat sepanjang Surabaya hingga ke Gucialit. Namun demikian, saya dan peserta tetap bersemangat mengikuti rentetan acara sejak hari pertama hingga hari terakhir. FLP dari berbagai cabang sejawa timur tumpah semangatnya ditempat itu.

Hari itu, seolah Gucialit menjadi bukit kosa kata yang bersedia menerima torehan tinta anak-anak FLP, yang didominasi anak-anak muda. Saya pikir, aktivitas literasi menjadi yang pertama di Gucialit. Itulah sebabnya, Gucialit menjadi perbincangan hangat setelah orang-orang membaca tulisan-tulisan peserta Silatwil. Paling tidak, Gucialit menjadi berita nasional melalui berita yang tersebar di dunia maya.

Substansi dari Silatwil itu tidak lain adalah sebagai upaya untuk membangun silaturrahim sesama anggota FLP Sejawa timur, agar tetap saling menguatkan diri di dalam berkarya, berbakti, dan berarti bagi agama, nusa, dan bangsa.

Dukungan dari berbagai pihak, mulai dari panitia sendiri, pemerintah (dalam hal ini pihak Kementerian Pendidikan Kabupaten Lumajang), dan para mentor seperti Kang Masdar, Ibu Sinta Yudisia selaku ketua FLP Pusat, dan yang lainnya menjadi energi yang cukup dahsyat secara moral bagi para peserta Silatwil. Tanpa mereka, barangkali Silatwil menjadi hambar.

Bangsa ini, akan menjadi besar dengan ikut andilnya kaum muda menyemarakkan kegiatan-kegiatan literasi, hingga ke pelosok-pelosok desa. Saya percaya, di tangan mereka kegiatan literasi akan senantiasa hidup. Mereka tidak hanya menulis untuk dirinya sendiri, tetapi ikut ambil bagian memberikan pencerahan bagi masyarakat yang masih belum melek terhadap minat baca dan minat menulis. Minat baca bangsa ini menurut penelitian UNISCO berada diurutan nomor dua terakhir dari 61 negara, alias masih ada diurutan 59 dari 61 negara yang disurvei. Sungguh menyedihkan!

Sekarang, gerakan anak-anak FLP yang dimotori oleh Helvy Tiana Rosa itu, terus mengepakkan sayapnya melalui perpustakaan-perpustakaan daerah yang terlihat sunyi alias miskin program. Mereka berjibaku, agar masyarakat bisa membaca buku secara gratis dan menjadi menu pokok sehari-hari. Dibeberapa daerah, anggaran untuk perpustakaan mulai dinaikkan, mengingat kian pentingnya membaca bagi masyarakat.

Bukankah keterpurukan bangsa ini adalah akibat dari kurangnya membaca? Politisi yang kurang ajar, anak-anak sekolah yang nakal, mahasiswa yang tidak kritis, ustaz yang tak berkualitas, hukum yang tak punya nurani, dan sebagainya tidak lain disebabkan karena kurangnya membaca, alih-alih menulis! Sunggu terlalu, kata Bang Haji.

Melalui ketinggian Gucialit, berangkai kalimat sudah menggumpal di dalam benak para peserta. Ada yang langsung menungkannya, ada pula yang masih sibuk menghayalkannya untuk dituangkan di rumah masing-masing. Guciali seolah menjadi tempat tumpahnya inspirasi, dan hingga sekarang (saat tulisan ini rampung) mereka sudah berkarya. Mereka mulai menulis puisi, cerpen, esai, artikel, bahkan mereka berkometmen membuat novel. Saya yang mendapat tugas memberikan bimbingan menulis novel, sudah melihat beberapa peserta merampungkan novelnya. Sungguh kemajuan yang luar biasa bukan? Maka, sungguh Silatwil telah memberikan manfaat datangnya rezeki berupa kemampuan menulis. Kemampuan itu adalah rezeki dari musabab silaturrahim. Banyak-banyaklah silaturrahim. Jangan menutup diri dan menganggap dunia orang lain tidak layak dikonsumsi. Dikonsumsi menjadi karya tulis, itu sangat luar biasa.


Akhirulkalam, semoga yang sudah tercerahkan lewat program Silatwil tidak surut dan modar oleh karena putus harapan. Jangan lupa, bahwa Tuhan tidak akan pernah menyia-nyiakan harapan-harapan seorang hamba, sepanjang hamba itu mau bersabar melewati prosesnya. Tuhan, juga tak akan pernah menyia-nyiakan naskah-naskah hambanya, sepanjang hamba itu mau bersabar hingga naskahnya menemukan jodohnya.

Wallahu’alam.
Penulis: Nun Urnoto

Sumenep, 13 Oktober 2016
Catatan yang terlambat ditulis.  


0 komentar
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Kabar Nun - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger