"Surga tempatnya orang-orang berprestasi"(KH. Ilyasi Siraj, M.Ag.)




POSTINGAN HARI INI
print this page
POSTINGAN TERBARU
Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

MUKABALAH TANAH SENGKETA

          “Hamid, jangan risau. Nom[1] Marjuno tidak mungkin salah hitung!”
          Hamid tak menggubris celoteh teman sekelasnya itu, meski sudah menepuk pundaknya berkali-kali. Hamid seperti hilang dari raganya. Matanya menerawang jauh. Singgah di pucuk-pucuk imaji yang tak seorang pun tahu. Matanya kosong. Matanya bolong.
          Kedua anak itu duduk di lereng bukit. Tak jauh dari rumah gedeknya, seraya melempar pandang ke Selat Madura yang menghampar. Mereka gundah diserang masalah.
          “Bicaralah, Hamid!”
          Hamid masih saja diam, dan hanya sesekali menyedot bongkahan oksigen di depannya.
          “Biarlah aku yang bicara sama Toan[2] Haji Fudali!”
          Hamid bergeming, lalu meletakkan kepalanya yang berat pada  kedua lututnya.
          “Jangan menangis-lah, Mid. Kita adalah anak laut yang hebat. Kita keturunan orang-orang perkasa, Mid!”
          Hamid kembali tegak. Dadanya menghempas napas. Matanya nanar memandang laut lepas. Laut dan gelombang memantul ke dalam jiwanya. Berkali-kali matanya mengerjap, seolah laut yang terhampar menjadi silap.
          “Aku percaya penjelasan Nom Marjuno, dan aku yakin dia tak akan pernah melakukannya!”
          Hamid mengalihkan dua bola matanya pada temannya yang dari tadi tak putus asa membesarkan hatinya yang rapuh.
          “Terima kasih, Sauri!” seru Hamid, sambil berusaha sunggingkan senyum ke wajah Sufyan Sauri, sahabat karib kecilnya yang tak pernah jemu menemani.
          “Nah, begitu dong! Itu namanya senyum anak laut!” Seru Sauri, menyemangati.
          “Aku kasihan pada ayah, Sauri!”
          “Hanya anak durhaka yang tak belas kasih sama orang tua sendiri,” timpal Sauri.
          “Aku yakin, ayah tak salah hitung. Ayah sangat berhati-hati dengan uang haram. Aku tahu keteguhan imannya saat menolak uang sogok para calon kepala desa yang minta dicoblos. Ayah tolak semua pemberian  itu. Rasanya, hanya ayahku yang tak tergoda dengan uang, Sauri!” Hamid membela diri. Seluruh kesalnya meluncur begitu saja.
          Sauri bangkit. Menjulur tangannya pada Hamid. Mengajaknya berdiri menatapi gelombang laut yang tak pernah putus asa menyentuh bibir pantai dengan deburnya yang menjulur.  
          “Anak laut tak boleh kalah! Kita datangi Toan Haji Fudali sekarang juga!” Sauri mengajak Hamid menemui Tuan Haji Fudali, seorang saudagar kaya yang rumahnya berlantai tiga.
          “Sekarang?”
          “Iya. Sekarang!” jawab Sauri tegas.
          “Apa tak terlalu kesusu?”
          “Saat kita melaut, lalu datang gelombang, apakah kita hanya diam antara bimbang atau diterjang gelombang?” Sauri menjawab dengan sebuah tanya yang membuat Hamid diam sejenak, sebelum akhirnya bergegas mengikuti kaki Sauri yang melangkah mantap.
          Sepanjang jalan, Sauri berbicara kepada Hamid yang menyusul di belakangnya, “Aku masih terngiang pesan guru Ahyar Hafiduddin, bahwa hanya anak laut yang bisa menjadi gelombang. Saudagar kaya tak perlu ditakuti. Anak laut tak takut pada karang!’
          “Sebentar, Sauri!” Hamid buru-buru mencegat, seraya tangannya memegang pundak sahabatnya itu.
          “Takut!” tanya Sauri, sambil menghentikan langkahnya.
          “Bukan itu masalahnya. Tapi, aku tak ingin hubungan persaudaraan dengan Toan Haji Fudali berantakan? Kamu kan tau sendiri, keluargaku masih ada hubungan famili dengan Toan Haji, dan baru akur setelah berebut tanah sengketa di lereng bukit itu!” Hamid berseru-seru.
          “Mid, Toan Haji tak pernah menganggap ayahmu sebagai saudara. Kalau dia masih menganggapmu sebagai saudara, tidak mungkin ayahmu dituduh mengurangi hitungan derigen air itu.  
          Sauri kembali melangkah. Diikuti Hamid yang masih kalut, kalau-kalau Toan Hajai Fudali akan mendampratnya habis-habisan.
          “Sauri! Sauri!” Hamid memanggil.
          Sauri tak menghiraukan panggilannya. Niat bulatnya untuk menjelaskan perihal tuduhan Toan Haji Fudali terhadap ayah sahabatnya kian menguat. Sauri menjadi sangat tidak terima ketika orang tua Hamid dituduh sebagai penipu.
          Setelah memanggil salam, Sauri yang dibuntuti Hamid segera menemui Toan Haji Fudali yang lagi duduk membaca koran di beranda rumahnya.
          “Tidak mungkin saya salah hitung. Saya belum pikun!” kata Toan Fudali, setelah mendengar penjelasan Sauri.
          Hamid menimpali dengan suara bergetar karena menahan marah yang hendak meluap, “Tak mungkin ayah melakukan itu!”
          “Apanya tidak mungkin! Kamu masih belum tahu, siapa ayahmu! Ayahmu mantan penjudi. Salat saja baru kemarin sore!”
          Muka Hamid merah padam. Tangannya mengepal-ngepal serupa hendak membokem muka Toan Haji Fudali yang matanya mulai mendelik-delik karena dikomplen anak seusia jagung. Demikian juga dangan Sauri.
          “Toan Haji tahu, siapa saya?” balas Sauri dengan emosi mencuat di ubun-ubunnya. Tatakramanya hilang ditelan emosinya yang membara.
          “Kurang ajar!” Toan Haji Fudali tiba-tiba menamparkan buntalan koran tepat ke pelipis Sauri.
          Anak yang masih kelas tiga Madrasah Aliyah itu spontan berdiri dan hendak melayangkan bokem mentah ke wajahnya Toan Haji Fudali. Namun, Hamid mencegahnya dan segera menggamit tangannya meninggalkan Toan Haji Fudali.
          “Lepaskan, Mid!”
          “Pulang, Sauri!”
          “Kulaporkan ke polisi, kau!” seru Sauri sambil menuding Toan Haji Fudali yang berkacak pinggang.
          “Sudahlah!” seru Hamid.
          Hamid terus bergegas sambil menyeret-nyeret tangan Sauri menyusuri jalan setapak menuju tempat biasa mereka memandangi laut. Lambat-laun emosi Sauri mereda serupa hamparan selat yang tenang sore itu.
          “Kau tak perlu ikut campur. Ini urusanku!” seru Hamid.
          “Tapi Mid, aku sudah menganggap Nom Marjuna sebagai ayah sendiri. Pengganti ayahku yang ditelan laut,” jawab Sauri dengan suara bergetar.
          Hamid diam. Perasaannya berarak pada satu titik rasa iba pada diri Sauri yang tinggal sebatang kara dengan emaknya.
          “Sebaiknya kita temui Ustaz Ahyar. Kita minta bantuannya supaya berbicara pada Toan Haji, agar tak menuduh ayah sebagai penipu.”
          “Bukan itu yang membuatku tak terima Mid! Tapi, omongan Toan Haji yang menebar fitnah, yang membuatku muntap! Sudah berhaji dua kali masih suka pesong!” sahut Sauri dengan suara geram.
          “Setelah salat Maghrib kita ke rumah ustaz,” sekali lagi, Hamid mengajak Sauri yang masih kerasukan kesal tak berkesudahan.
          Setelah salat Maghrib berjamaah, mereka tergopoh menuju rumah ustaz Ahyar, seorang guru ngaji yang cukup disegani masyarakat pulau Giliraja. Mereka hendak mengadukan perkara yang mereka hadapi.
          “Begitu ceritanya, Ustaz ....”
          Ustaz Ahyar, guru ngaji mereka sejak kecil menghela napas, sebelum akhirnya memberikan nasihat kepada keduanya.
          “Saya juga minta Pak Marjuno ngisi jeding di sini. Tapi, tak pernah ada masalah!” jawab Ustaz Ahyar.
          “Itulah sebabnya, saya minta bantuan Ustaz untuk menjelaskan pada Toan Haji,” sambung Sauri dengan suara sedikit gemetar.
          “Tapi sudahlah! Ikhlaskan saja. Bukankah bapakmu sendiri lebih memilih mengalah, Mid?”
          Hamid diam. Hatinya membenarkan perkataan ustaznya. Demikian juga dengan Sauri yang lebih mengikuti gelora darah mudanya.
          “Pak Marjuno itu, orangnya sabar. Patut dicontoh!”
          “Tapi, saya malu Ustaz! Saya malu ayah dituduh penipu!” Hamid angkat bicara. Darahnya masih mendidih.
          “Sabar Mid! Jangan sampai terjadi keributan. Maafkan Toan Haji yang khilaf itu!”
          “Saya tidak suka dengan kesombongannya, Ustaz?”
          “Tak hanya kalian yang tidak suka dengan orang sombong! Allah juga demikian. Tapi, menghadapi semua itu, kita harus sabar. Saya ingin murid-murid saya menjadi rahmatalil alamin! Balaslah kejahatan dengan kabaikan!” Ustaz Ahyar makin panjang memberi nasihat.
          Keduanya menunduk. Mereka harus menelan dendamnya mentah-mentah pada keangkuhan Toan Haji Fudali, si kaya raya yang mereka anggap durjana.
          Sejenak suasana hening. Kesunyian yang mencekam di benak Abdul Hamid dan Sufyan Sauri cukup untuk menekuri pesan guru ngajinya.
          “Sudah lama sama saya gelisah dengan tuan-tuan tanah yang hartanya berlimpah dan diternakkan! Kaum haji yang berkali-kali ke tanah suci, malah semakin buta hati! Cukuplah mereka yang sesat. Bukan kalian, anak-anakku!”
          “Ustaz, maafkan saya!” seru Sauri, diikuti Hamid yang langsung menyalami Ustaz Ahyar yang mulai lanjut usia itu.
          “Hamid dan Sauri, boleh saya minta tolong?” katanya pelan.
          “Dengan senang hati, Ustaz ....”
          “Saya minta tolong mengantarkan surat ini?”
          Hamid ikut membaca tujuan surat yang diterima Sauri dari guru ngajinya.
          “Kalian pernah ke kota, kan?” tanya gurunya.
          Keduanya menggeleng sambil menatap cengang ke wajah Ustaz Ahyar yang baru saja selesai menyeruput kopinya.
          “Tapi, kalian sanggup ...?” tanya Ustaz Ahyar sekali lagi.
          “Insya Allah, Ustaz?” jawab mereka.
          “Pamit dulu sama bapak dan ibumu. Jangan bilang sanggup dulu!” pesan gurunya.
          “Baiklah, Ustaz ...! Kalau besok dapat izin, kami akan berangkat!”
          “Tak usah khawatir. Ongkosnya sudah ditanggung.”
          “Terima kasih Ustaz, saya pamit dulu.”
          Keduanya beranjak, seraya mencium tangan guru ngajinya itu.
          “Lupakan Haji Fudali,” pesan Ustaz Ahyar sambil mengantar kedua muridnya hingga di teras rumahnya.
          Begitulah cara Ustaz Ahyar mengalihkan perhatian kedua muridnya itu. Ia memberinya pekerjaan lain, agar segera hilang dendam yang membentang di benaknya.
***
          Pagi-pagi sekali, kedua anak kampung itu berlabuh dengan perahu kayu yang disewa Ustaz Ahyar. Mereka menuju kota Sumenep. Sebuah daratan yang dipenuhi mobil-mobil dan gedung bertingkat, dan kota yang gemerlap. Kedua anak itu membawa sepucuk surat yang dimandat dari gurunya yang dihormat.
          Perahu merapat di dermaga Cangkarman. Tempat semua perahu dari pulau Giliraja menambatkan jangkarnya. Kedua utusan Ustaz Ahyar segera melompat ke undak-undakan kesong yang menjulur ke laut. Ujung celana mereka sedikit basah terkena tempias ujung ombak yang tak berhenti meradang.
          Segerombolan awan hitam yang dari tadi menggantung di ujung pandang mereka, mulai gerimis. Buru-buru mereka berteduh di sebuah warung makan di pinggir pantai, tempat biasanya para penumpang melepas gamang.
          “Seperti petunjuk ustaz, kita segera naik mini bus jurusan kota, dan berhenti di terminal lama,” seru Hamid.
          “Kita tak tahu, minibus seperti apa? Begitu juga rupanya terminalnya!”
          “Nanti kita tanya. Ayo!” ajak Hamid
          “Tidakkah menunggu gerimis reda?” protes Sauri.
          “Gerimis macam ini lama redanya. Ayolah!” Hamid segera beranjak. Mendaki lorong sempit yang menanjak ke jalan raya.
          Sauri menggerutu sambil mengibas-ngibaskan gerimis yang menimpa bajunya, “Rupanya di sini sering hujan. Tapi, kenapa hujan seperti enggan datang ke pulau? Ah! Ternyata, Tuhan ...!”
          “Jangan teruskan, nanti malah murtad!” cegat Hamid.
          “Lalu?” protes Sauri.
          “Hujan enggan turun di pulau, karena takut sama orang macam Toan Haji Fudali. Kamu sudah tahu, orang pulau sudah banyak yang pesong, apalagi kaum rentenir itu!” Hamid menjawab dengan setengah emosi. Kenangan buruk soal Toan Haji Fudali tidak serta-merta hilang begitu saja.
          Mereka terus berdebat tentang hujan yang tak kunjung datang. Tentang hujan yang menjadi rahmat. Tentang hujjah Tuhan di dalam ayat.
          Ketika Hamid tersudut dengan hujjah Sauri tetang pembalakan liar dan gundulnya hutan yang disulap menjadi lahan tambak garam, Hamid menyitir ayat Tuhan yang termaktub dalam kitab sucinya.
          “Aku kira al-“Araf 96 menjadi kunci jawaban yang tepat!” Hamid menutup perdebatan ketika tiba di tepi jalan.
          Di tepi jalan, mereka menanti minibus seperti yang ditunjukkan orang kepada mereka, hingga akhirnya sebuah tumpangan—yang tanpa mereka stop—berhenti di depannya.
          “Sumenep?” tanya si kernet menawar jasanya.
          Tanpa banyak cincong, mereka segera naik. Sepanjang jalan, mereka terus memerhatikan kaca minibus yang diserang gerimis yang semakin lama menjelma hujan deras.
          “Kota diguyur hujan lebat!” celetuk Sauri setengah berbisik.
          “Kalau saja setiap musiam hujan, pulau diguyur seperti ini, aku rasa air sumur tak akan kering. Ayah tak akan menjadi kuli air! Tak akan berseteru dengan Toan Haji Fudali,” Hamid membalas seruannya.
          Sambil mengobral kata, keduanya terus menyusuri jarum jam yang tak berhenti berdetak. Mereka menyewa becak yang bertebaran pada setiap lekuk kota, hingga akhirnya tiba di depan sebuah pintu kaca tebal sambil melihat bayangannya sendiri yang kuyup oleh deras hujan yang menciprat, sebelum akhirnya mereka memutuskan untuk membuka pintu itu.
          Open to Door.
          Kalimat penunjuk meyakinkan kedua anak laut itu. Dan, seorang resepsionis yang ramah memberi ruang duduk sambil menunggu satu keputusan penting yang diajukan oleh surat itu.
          “Tunggulah di sini, barang lima belas menit,”
          “Iya, Mbak ...!” Hamid menjawab sambil menggigil menahan dentuman air hujan yang menyelinap.
          “Sepertinya bertambah dingin! Kalau saja pulau sedingin ini, sumur-sumur akan memancarkan air dan kita tak perlu setiap hari mengangkut air dari sumur beringin itu!” Sauri berceloteh sambil bersedekap menahan gigil.
          Melihat pemandangan yang tak nyaman itu, resepsionis mempersilakan mereka istirahan di Musalla di belakang kantor.
          Sambil berjalan, Hamid dan Sauri tak berhenti memuji bangunan kota, “Besar sekali kantor Perhutani ini!”
          “Mungkin hanya lantai tiga milik Toan Haji Fudali yang sedikit menandingi,” Hamid menimpali.
          “Tapi, Mid! Kenapa kita disuruh menunggu. Bukankah Ustaz tak menyuruh kita menunggu?”
          “Tunggu saja. Siapa tahu, kita akan dikasih ongkos pulang!”
          Ketika mereka lama berbincang tatanan kota yang dilihat sepanjang jalan menuju kantor itu, seorang perempuan dengan lantun suara santun memintanya segera mempersiapkan diri, karena mobil pick up akan segera berangkat.
          “Rupanya kita akan diantar. Ayo cepat!” Hamid berseru-seru sambil mengemasi bajunya yang dijemur disebuah gantungan baju.
          Mobil yang mereka tumpangi melaju menuju dermaga Cangkarman. Seorang sopir kantor yang ditugasi mengatar mereka, memberi penjelasan tentang tentumbuhan tunas yang dibawanya.
          “Jadi, ini toh isi surat yang kuantar?” tanya Hamid padi sopir.
          “Memangnya belum dikasih tahu?”
          “Belum!”
          “Hem ...!” si sopir hanya manggut-manggut mendengar pengakuan polos Hamid dan Sauri.
          “Untuk apa tunas-tunas pohon jati itu?” Tanya Sauri, penasaran.
          “Nanti kamu akan tahu sendiri,” jawab si sopir, menambah tanda tanya keduanya.
          Hamid dan Sauri harus menelan rasa ingin tahunya. Seribu tunas pohon jati yang dimuat di atas pick up itu telah membuatnya buntu mendapat jawab. Mereka hanya mampu menerka-nerka untuk apa gerangan tunas-tunas itu? Bahkan, sepanjang perahu mendebur ombak, keduanya hanya kuasa menafsirkan keinginan guru ngajinya yang hendak membuat hutan jati di belakang pekarangan rumahnya. Itu pun hanya mampu berspekulasi mentah yang tidak memungkinkan tafsirnya benar, karena tunas-tunas macam itu tak mungkin hidup di tanah kerontang yang sekarat mata airnya.
          Sejam menempuh laut, pelabuhan menyambut. Murid-murid Ustaz Ahyar dengan sepeda ontelnya mengangkut dengan semangat. Mata penduduk sepanjang jalan nanar menatap jalang. Serupa pendengki yang menertawakan kelakuan Hamid dan Sauri yang hanya mengantar tunas-tunas itu menjadi mayat.
          “Ustaz, hendak diapakan tunas-tunas itu? Soalnya tadi, penduduk mencibir kelakuan kami!”
          “Nanti mereka akan capek sendiri. Saya sudah tak ambil pusing dengan kelakuan umat yang sudah bebal dengan nasihat!” sahut Ustaz Ahyar, sambil meletakkan tunas-tunas pohon jati berjajar di halaman musalanya.
          Hamid dan Sauri hanya mengangguk, meski kurang mengerti tujuan guru ngajinya yang ganjil. Tanpa kenal lelah, Hamid dan Sauri ikut menata tunas-tunas pohon jati itu.
          “Ini namanya jati emas. Sangat mahal kalau sudah tumbuh besar nanti,” terang Ustaz Ahyar pada Hamid dan Sauri yang masih buta.
          “Apa mungkin akan hidup di tanah gersang, Ustaz?”
          “Jangankan tumbuhan macam ini, tongkat di tanam akan bertunas, Mid!” lanjutnya, “negeri ini subur, gembur. Tak ada yang tandus asal kita tahu cara mengelolanya! Tunas-tunas ini kelak akan menyimpan banyak persediaan air.”
          Keduanya hanya manggut-manggut mendengar penjelasan guru ngajinya. Lalu diam-diam membenarkan, bahwa pepohonan bisa menyimpan banyak persediaan air. Pelajaran itu pernah mereka dengar dari materi reboisasi di sekolahnya. Kini keduanya mengerti, bahwa ustaznya tengah melakukan reboisasi besar-besaran.
          “Besok, seratu tunas kamu tanam di sekeliling sumurmu. Seratus tunas akan saya tanam di sumur dekat surau. Kalau ada tanah kosong, kalian bisa membuat hutan.”
          “Membuat hutan, Ustaz!” seru Sauri, seperti orang yang tak percaya.
          “Iya. Membuat hutan! Agar ayah Hamid tak lagi menjadi kuli air!”
          “Rasanya, tak mungkin tunas-tunas itu hidup, Ustaz?”
          “Percayalah, Mid ...! Tunas-tunas itu akan tumbuh. Di musim penghujan ini, kita masih punya kesempatan meminta turunnya hujan. Nanti, kita salat Istisqo’ dan yakinlah bahwa Allah tidak tuli dengan doa kita.”
          Keesokan hari di sebuah lereng bukit gersang milik orang tua Hamid, murid-murid Ustaz Ahyar menanam tunas-tunas itu. Di dekat sumur-sumur mati, mereka juga menanaminya. Beberapa penduduk yang percaya dengan petuah ustaz yang beranjak sepuh itu, ikut membantu. Mereka berijibaku, dengan satu harapan air muncrat tanpa syarat.
          “Hamid ...? Saya sudah menjual sepetak tanah warisan orang tua. Uangnya saya akan berikan pada Pak Marjuno untuk mengangkut air, menyirami tunas-tunas itu hingga hujan turun. Jangan ditolak. Tak baik menolak rezeki.”
          “Iya, Ustaz ...? Insya Allah saya sampaikan pada Ayah?”
          “Lusa, siarkan pada seluruh penduduk untuk salat Istisqo’. Kita bertobat Mid ...!”
          “Iya, Ustaz ...” sambil menerima uang ongkos mengangkut air, Hamid dan Sauri segera mohon diri. 
          Aksi Ustaz Ahyar tersiar ke mana-mana. Cibirin dan pujian silih berganti. Dicibir karena tak mungkin tanah tandus menghidupkan tunas-tunas itu. Dipuji karena tindakan guru ngaji itu melampaui para pejabat desa yang tak sempat memikirkannya.
          Hari itu, perjuangan Ustaz Ahyar berlanjut dengan mengadakan salat Istisqo’. Orang-orang yang taat ikut serta sujud dan mengadukan perihal petaka yang sudah bertahun-tahun melandanya. Sedangkan kaum pesaong, hanya cengigisan di pasar-pasar atau dikedai-kedai sambil menikmati arak dan berjudi.
          Setelah tiga hari berlalu. Usaha Ustaz Ahyar dan para penduduk tak kunjung mendapat hasil. Rasa putus asa, mulai menggerayangi benak mereka.
          “Ustaz, masih belum ada tanda-tanda akan turun hujan. Ayah tidak mungkin sanggup menyirami tunas-tunas itu terus menerus!” Seru Hamid.
          “Kalau begitu, beri tahu para penduduk yang ikhlas untuk mengangkut air!”
          Hamid segera berpacu memberi tahu melalui TOA surau kepada para penduduk untuk bahu-membahu mengangkut air. Menyirami tunas-tunas jati emas, agar tak sekarat.
          “Sauri!”
          “Iya, Ustaz ...”
          “Jaga tunas-tunas itu, agar kambing-kambing penduduk tak memakannya.”
          “Saya dan Hamid sudah meminta penduduk yang melombar kambing-kambignya untuk segera mengekangnya kembali.
          “Bagus kalau begitu!”
          “Hamid ...?” panggil Ustaz Ahyar.
          “Siarkan lagi. Besok kita akan salat Istisqo’ kembali.”
          Tanpa banyak cincong, suara Hamid memantul lewat TOA. Namun, sebelum pantulan suara Hamid lenyap, seorang penduduk datang tergopoh menemui Ustaz Ahyar.
          “Ustaz! Ustaz!” serunya.
          “Ada apa?” tanya Ustaz Ahyar.
          “Toan Haji Fudali dan anak buahnya mencabuti tunas-tunas yang kita tanam!”
          “Dicabuti!”
          “Iya. Ustaz!”
          “Sauri! Ayo kita ke sana!”
          Ustaz Ahyar dan Sauri segera bergegas mendatangi sumber petaka. Hamid yang melihat gerakan tak wajar sang ustaz segera meluncur secepat kilat.
          Di lereng bukit, tiga anak buah Toan Haji Fudali sudah hampir separuh mencabuti bibit jati emas yang sudah ditanam.
          Dari jauh, Ustaz Ahyar tergopoh mendekati Toan Haji Fudali yang berdiri angkuh sambil menunggu orang suruhannya yang kalap mencabuti tunas-tunas itu.
          Tersengal Ustaz Ahyar ketika berujar, “Hentikan Toan Haji! Hentikan! Kita bicarakan baik-baik! Bukan asal serabut seperti itu!”
          “Ustaz! Yang main serabut itu, ya Ustaz sendiri!”
          “Hentikan dulu mereka, Toan Haji! Saya ingin tahu duduk persoalannya,” seru Ustaz Ahyar dengan sengalnya yang tak kunjung reda.
          Toan Haji Fudali berkoar. Meminta anak buahnya menghentikan aksinya. Disusul dengan pertanyaan Ustaz Ahyar yang penasaran dengan kelakuan Toan Haji Fudali yang merusak tunas-tunas tak berdosa itu.
          “Ustaz! ini tanah sengketa. Tak boleh seorang pun menjamah tanah ini!”
          “Maaf Toan Haji! Saya tak tahu-menahu soal itu. Tapi, saya minta agar Toan Haji tak merusak tunas-tunas itu. Biarlah saya cari lahan lain untuk menanamnya.”
          “Tidak perlu dipindah, Ustaz ...,” suara Pak Marjuno muncul di belakang Toan Haji Fudali.
          Toan Haji Fudali kaget. Kepalanya segera berputar ke belakang. Manatapi Pak Marjuno yang tangannya memegang celurit, seperti hendak bertempur hingga darah penghabisan.
          “Apa maksudmu, Marjuno!”
          “Kau sudah punya tanah pengganti, yang sekarang ditempati rumah tingkatmu!” Suara Pak Marjuno yang sudah lanjut usia itu bergetar menahan marah yang menggelegak ke ubun-ubunnya.
          “Mana bukti sertifikat tanahnya?” suara Toan Haji Fudali juga mulai garang.
          “Memang tak ada. Sebab kau tak mau menandatangani sertifikat tanah itu!
          Pertengkaran semakin memanas. Tak ada yang mau mengalah. Pak Marjuno terus memegang celuritnya yang sudah terhunus. Sementara Toan Fudali tak kalah gesit segera menghunus celuritnya yang terselip di pinggangnya. Langit yang mulai mendung siang itu sepertinya akan banjir darah.
          “Saya lebih baik berkalang tanah, daripada kau menginjak-nginjak kehormatan tanah kami!” seru Pak Marjuno sambil memasang kuda-kuda.
          Ketika seteru itu mulai memuncak, awan yang tadi bergulung berusaha menghindari sinar matahari yang melempar sengatnya ke bumi. Tak berapa lama kemudian, rintik hujan menyertai perseteruan dua orang yang bertikai. Hujan panas pertanda terjadinya carok. Begitu, orang Madura berkeyakinan.
          Ustaz Ahyar berusaha melerai mereka, “Hentikan! Hentikan!”
          Kemudian datang sepasukan orang-orang desa yang dikomando oleh Hamid dan Sauri yang membawa golok, celurit, linggis, dan segala macam senjata. Mereka mengepung Toan Haji Fudali dan mengejar anak buahnya.
          Toan Haji Fudali kaget tak kepalang. Mukanya berubah menjadi mayat. Anak buahnya lari terbirit-birit menghindari kejaran massa yang dipimpin Hamid dan Sauri.
          “Hentikan! Hentikan!” Ustaz Ahyar tak pupus melerai massa yang hendak menggebuki Toan Haji Fudali yang sudah tak berdaya, “kita selesaikan baik-baik masalah ini!”
          Ustaz Ahyar berusaha meredakan amarah massa yang dikomandani Hamid dan Sauri. Kali ini Hamid dan Sauri seperti mendapatkan momen yang paling tepat untuk membalas sakit hatinya yang tak bisa dihapus begitu saja.
          “Hamid, beri jalan!” seru Ustaz Ahyar, sambil berusaha melewati kerumunan massa yang terus berjubel sambil mengacung-ngacungkan senjatanya.
          Ustaz Ahyar menggamit tangan Toan Haji Fudali dan membawanya pergi meninggalkan tanah sengketa itu.
          Hujan panas semakin deras. Hamid dan Sauri lebih bersemangat mengomando orang-orang desa menancapkan kembali tunas kehidupan di tanah sengketa yang diganyang kaum begundal.
          Sementara di rumahnya, Ustaz Ahyar mulai berbicara perlahan pada Toan Haji Fudali yang kuyup oleh air hujan, “Jangan melawan rakyat, Toan Haji. Lebih baik mengalah!”
          Toan Haji Fudali terdiam, lalu perlahan terbata. Mengutarakan beribu khilaf yang telah dilanggarnya, “Maafkan saya Ustaz. Saya khilaf. Saya masih marah sama Marjuno gara-gara masalah air beberapa hari lalu!” keluhnya.
          Toan Haji! Jika tanah sengketa itu sudah selesai kasusnya, alangkah baiknya tak diungkit kembali. Kalau seperti itu, tak akan ada lagi penduduk yang menghormati Toan Haji. Tak akan ada lagi yang akan memanggil Haji Fudali dengan sebutan Toan.”
          Toan Haji Fudali terdiam. Pikirannya kalut. Sesal datang bertubi di hatinya. Ustaz Ahyar menambahi, “Tunas-tunas itu dari perhutani untuk menghidupkan kembali tanah-tanah Gili yang mati, agar penduduk tak susah mendapatkan air mandi.”
          “Saya mengerti, Ustaz!” jawab Toan Haji Fudali, “saya tak akan melakukan mukabalah lagi!”
           

Tanjung Kodok Sumenep, 2014


[1] Panggilan pada orang yang lebih tua, tapi masih punya hubungan saudara.
[2] Tuan
0 komentar

BURUNG NUN

Cerita ini ikut memenangkan lomba Cerpen Sastra Hijau 2014





           Entah sejak kapan aku menjadi burung yang beterbangan menembus udara. Tak ada proses ajaib serupa ulat yang bertapa untuk menjelma kupu-kupu yang bisa terbang. Semua yang kualami menjadi tiba-tiba. Serta-merta. Kun fayakun. Jadilah! Maka jadilah aku seperti ini: burung!
          Apakah karena aku dikutuki oleh semua burung yang selama ini dipelihara ayahku? Ataukah ini hanya peristiwa sekejap yang akan kembali seperti sedia kala? Ah! Masih tanda tanya. Tapi, kali ini aku tak ingin memikirkannya. Aku ikhlas, apa pun yang terjadi pada diriku. Entah aku dikutuk atau hanya sekadar disulap. Aku tak perduli. Apa perduliku?
          Aku masih merasa seperti manusia meski tubuhku burung. Aku mengerti bahasa ibuku yang memanggil-manggil, karena aku tak kunjung datang memenuhi teriakannya. Padahal, aku sudah bertengger di kepalanya yang dibalut rambut uban. Tapi, ibu tak mengerti bahwa aku sudah mendatanginya. Ibu tak mengerti bahasaku. Ibu tak paham bahwa burung di kepalanya adalah diriku.
          Sekali lagi aku menggelapar, bahkan jatuh di dekat kakinya yang sudah keriput dan berusaha mematuknya, agar mau mengerti bahwa aku sudah datang. Andai ibu mengerti bahasaku, ia akan berhenti berteriak. Haruskah aku mendatangkan Sulaiman agar ibu mendapat ijazah seribu bahasa?
          Ketika ibu berucap, “Belikan aku kecap penyedap bumbu!” aku segera melesat ke pasar memberikan uang seribu pada pemilik toko, lalu tanpa basa-basi aku mengambil kecap itu. Nyonya toko terbengung melihat kelakuanku dan bersusah payah menangkapku. Aku melejit tinggi-tinggi lalu pergi.
          Aku segera datang pada ibu membawa sebungkus kecap. Ibu tercengang melihat aku melempar kecap yang diinginkan. Matanya melotot serupa orang kerasukan makhlus halus penunggu pohon kapuk di belakang rumah. Ah! Ibu masih saja tak mau mengerti, bahwa aku adalah anaknya, janin yang dilahirkan dengan serpihan keringatnya.
          Aku kembali terbang. Bergabung dengan burung-burung lain yang menyukai warna buluku. Di pohon kapuk yang dianggap keramat, aku bersuka-ria. Burung betina yang genit menggodaku. Terkadang melempar senyum, kadang hanya mengerling, agar aku mengejarnya untuk kusenggamai berkali-kali. Ah! Burung!
          Saat burung-burung betina mengelilingiku, tiba-tiba datang kaum pejantan hendak menerkam. Tapi burung betina yang lagi libidonya mengiang diubun-ubunnya menyambutnya dan meredam amarahnya, lalu bercumbu-ria bergantian di sela-sela dedaunan kapuk yang rimbun. Aku diajak ikut serta. Aku hanya menggeleng sambil bersiul-siul mengintip dari celah-celah setiap adegan yang menegangkan protoplasma yang kian lama menggeliat di sekujur pinggangku. Aku tahu, apa itu artinya! Tapi, aku tak mau melakukannya. Aku malu! Aku burung pemalu.
          Terdengar ibu memanggilku kembali. Aku datang. Bertengger di kepalanya yang sudah disisir, “Belikan aku Rinso!” Ibu berseru-seru sambil mengusirku berkali-kali agar tak hinggap di kepalanya.
          Aku mengambil uang di tangannya yang masih berlepot busa karena belum rampung mencuci baju seluruh keluarga. Aku segera terbang, dan melempar uang seribu di hadapan si nyonya toko. Aku melesat menyambar renso lalu pergi sambil meninggalkan siul indah di daun telinganya. Sebelum pergi, si nyonya toko yang feminin berusaha menangkapku. Aku melejit. Si tuan toko semakin garang. Gairahnya meluap serupa kuda yang berahinya membara.
          Di depan ibu, aku kembali melempar perintahnya, berupa rinso pesanannya, dan segera terbang kembali ke pohon kapuk menemui sekawanan burung yang lagi memadu asmara tak berjeda. Menjadi burung, bebasnya luar biasa. Bisa terbang kemana saja. Tak perlu repot membayar angkot.
          Ahai! Akulah burung. Penjelma paling ajaib dari bangsa manusia. Dikutuk raja burung yang murka. Aku benar-benar merdeka. Tak ada undang-undang yang menjeratku. Tak wajib membayar pajak pada penguasa. Tugasku hanya bersiul pada waktu-waktu tertentu sebagaimana Tuhan sematkan pada instingku.
          Pagi-pagi sekali, sebelum manusia terjaga dari nyenyaknya, aku sudah bersiul indah memuji keagungan Tuhan. Lalu, ketika manusia sudah terjaga aku menghibur manusia dengan lagu termerdu. Biasanya, manusia menjadi pesong setelah mendengar suaraku. Mereka bagai terkena tenun pengasihan yang melumpuhkan saraf-sarafnya. Di kepalanya, hanya ada suara indahku. Mereka mabuk! Mereka kasmaran. Mereka memburuku!
          Tiba-tiba aku kasihan pada burung-burung yang dikurung ayahku. Mereka pasti ingin bebas sepertiku yang mengepakkan sayap sambil menciap-ciap. Maka, atas nama perasaan senasib dan sepenanggungan, aku segera membuka gerendel dan membiarkan pintunya terbuka lebar. Melihat aku berulah, burung-burung piaraan ayahku nampak ragu melewati pintu. Aku hanya mengerjapkan mata. Memberi sinyal kemerdekaannya! Lalu, mereka pergi entah kemana?
          Ibu yang menyaksikan kelakuanku tak mau perduli. Mungkin ibu sudah tidak sanggup memberi makan segerombolan burung-burung yang dipelihara ayah. Dan, ibu baru terkejut saat semua burung di sangkarnya benar-benar lenyap. Ibu seperti ketakutan. Takut didamprat ayah yang lebih mencintai burungnya dibanding dirinya.    
          Tanpa perduli dengan rasa kaget yang menyelimuti wajahnya, aku segera ikut terbang tinggi. Tapi, aku tak bisa pergi jauh dari ibu. Cukup pohon kapuk tempatku bertengger atau sejauh suara ibu memantul. Di situlah aku mengepakkan sayap. Dan benar! Tak lama setelah burung-burung pergi, ibu memanggil-manggil namaku.
          “Nuuun ....!” serunya. Memantul ke mana-mana.
          Aku segera datang. Menemuinya dan hinggap kembali di kepalanya. Tapi setiap kali aku datang, ibu belum mengerti bahwa aku adalah anaknya. Ibu masih saja mengusirku setiap kali kepala itu kuhinggapi. Ah, ibu!
          “Belikan aku beras satu kilooo ...!” serunya bertalu-talu.
Aku kaget bukan kepalang. Bagaimana mungkin tubuh kecilku bisa mengangkat beras sekilo! Aku memutar otak. Sejumput ide diselipkan oleh Tuhanku. Segera saja aku menyambar uang di tangan ibu. Aku melambung ke udara tinggi-tinggi. Ibu melihatku dengan matanya yang mendelik. Aku bersiul-siul dan nyaris seantero tanah air mendengarnya. Tidak berapa lama setelah aku hinggap di pohon kapuk di belakang rumah, puluhan bahkan ratusan burung menghampiriku. Mereka bertanya-tanya kepadaku.
          “Apa gerangan yang terjadi, wahai pahlawanku?” tanya salah satu burung yang pernah kubebaskan dari penjara ayahku!
          “Aku butuh batuan kalian ...,” jawabku, sambil memasang wajah sedih seperti menanggung beban teramat berat.
          “Apakah itu?” tanya yang lain.
          “Bantu aku mengangkut beras!” sahutku.
          “Di manakah itu?” tanya mereka.
          “Di toko sebelah sana,” jawabku sambil menunjukkan sebuah toko yang dijaga seorang tante muda yang masih binal.
          “Bagaimana kalau kita ditangkap lalu digoreng?”
          “Kita goda penjaga toko itu. Sekelompok burung bertengger dan bersiul-siul indah di samping rumahnya hingga si penjaga meninggalkan tokonya. Sekelompok yang lain segera mengulak beras dengan paruhnya. Lalu segera dibawa pergi, mengikuti jejakku.
Tanpa banyak bacot, sekawanan burung segera melaksanakan petunjukku. Mereka beranjak dari pohon kapuk. Terbang bergerombol sambil bersiul-siul dendangkan orkestra dari mozaik tanpa rupa, hingga akhirnya menggoda gerombolan manusia yang terlihat melata dari ketinggian lagit.
Sekejap saja, misiku berhasil dan membuat si penjaga toko terkesima hingga terlupa kalau berasanya telah kami bawa. Tapi, kami tidak mencuri. Kami membayarnya dengan kepingan yang ibu berikan kepadaku. Ketika si penjaga kembali ke toko, aku memberikan uang dengan paruhku. Si penjaga terkaget. Mulutnya tak kunjung terkatup. Tapi, sebelum niat busuknya meluap untuk menangkapku. Aku segera terbang. Melayang-layang di atap rumahku, dan beras telah terhidang di depan ibu.
Ibu terperangah. Seperti baru tersadar bahwa burung-burung yang selama ini di penjara telah membalas kebaikannya. Membalas budi baiknya yang memberi makan selama bertahun-tahun. Burung-burung itu sama sekali tak menaruh dendam kesumat, meski terkekang di kawat besi. Mata ibu terpana menyaksikan kami yang berjumlah ratusan terbang ke pohon kapuk yang rimbun. 
Halaman rumah yang riuh kembali sunyi. Kami ngumpet sambil bercerita kelakuan penjaga toko yang berubah menjadi bego saat mengangkut beras. Aku termenung sendirian di ujung pohon kapuk sambil menikmati ayunan rantingnya yang melena rasa. Tiba-tiba saja aku tergeragap mendengar suara tak asing yang berderai-derai dari rumah.
Ayah telah datang dari sebrang menjual beberapa anak burung pada kaum tengkulak. Suaranya yang kasar seperti mendamprat ibu habis-habisan. Pertengkaran hebat telah terjadi. Aku sudah menduga bahwa ayah akan murka.
Segera saja aku terbang mengintip. Apa gerangan yang terjadi pada ibu. Ternyata benar. Ayah murka besar.
“Siapa yang melepas burung-burung itu!” bentaknya seperti kerasukan demit yang haus sesajen.
Ibu hanya diam serupa orang bersalah yang tak berdaya. Ia duduk bersimpuh di depan tomang[1] sambil menanak beras yang baru saja aku beli.
“Kalau tidak menjual burung-burung itu, dari mana kita akan membayar utang!” bentaknya sambil mencari-cari burungnya.
Teman-temanku ngumpet di atas ketinggian pohon kapuk. Mereka ketakutan kalau-kalau ayah menemukannya dan ngatapel tubuhnya. Aku juga bergidik kalau sampai ayah mengambil senjata pamungkasnya itu. Ah, ayah selalu sangar bila burungnya diganggu, apalagi dicuri, lebih-lebih lenyap tanpa jejak.
Kulihat ayah mulai kalap, ketika tak menemukan seekor burung pun. Mukanya yang hitam bertambah legam, dan lagi-lagi ibu menjadi pelampiasan amarahnya. Nyaris tangannya yang kasar bagai baja itu menampar pipi ibu yang lembut. Aku nyaris menjerit. Beruntung paruhku tertekan lubang kecil tempatku mengintip.
Aku segera mengepakkan sayap menuju pohon kapuk. Teman-temanku termangu dengan wajah tegang.
“Apa yang terjadi?”
“Tuanmu, murka!” jawabku, tanpa membuka identitas bahwa aku adalah burung kutukan.
“Apakah dia memukuli istrinya?”
“Nyaris!” jawabku singkat, karena perasaanku mulai tertekan.
“Apakah dia mengambil senjata pamungkasnya?”
“Sepertinya akan begitu!” seruku.
“Cilaka![2]” seru yang lain.                            
Kubiarkan saja mereka gaduh dengan senjata ayahku yang ampuh: katapel. Ayah selalu menggunakan senjat itu untuk memburu burung-burung liar yang hendak ditangkapnya. Dahulu, aku juga menggunakan senjata itu untuk berburu.
Diam-diam aku mulai merasa berdosa pada ibu, karena dibentak-bentak ayah yang lebih mencintai burungnya. Aku menjadi buntu. Tak menemukan jalan keluar untuk mengatasi masalah itu. Semua itu gara-gara aku yang membebaskan semua burung.
Sekali lagi terdengar suara ayah yang mulai kalut. Suaranya menggelegar bagai halilintar. Rupanya, ayah murka lagi. Kali ini, suara ibu terdengar menjerit-jerit. Aku segera bergegas mengitip kelakuan ayah yang kalap.
Aku kaget bukan kepalang. Ayah membawa kapak bergigi tajam menuju pohon kapuk yang kami singgahi.
“Jangan tebang pohon kapuk itu!” seru ibu setengah menjerit.
“Pohon kapuk itu mungkin bisa melunasi hutang-hutang kita pada kaum rentenir!”
“Jangaaan! Itu punyanya Nun. Jangan kau jual sebelum minta izinnya!” seru ibu meratap-ratap.
“Nuuun ...!” jeritnya sambil memanggil-manggil namaku.
Ayah mulai mengayunkan kapaknya yang akan menjadi bencana bagi kaumku. Haruskah aku membuka rahasiaku? Oh! Rasanya tidak mungkin! Ayah tidak akan percaya sama sekali, bahwa aku adalah darah dagingnya yang telah dikutuk menjadi burung indah!    
Aku harus segera menghentikan kapak ayah. Gigi kapak tak boleh menyentuh pohon kapuk yang sudah lama menyimpan sumber mata air bagi kehidupan makhluk alam. Hanya tinggal pohon kapuk raksasa ini yang menjadi harapan tersimpannya kristal-kristal air. Kalau sampai ditebang, boleh jadi erosi akan melanda tanpa henti. Bisa-bisa kaumku akan mati.
Aku melonjak terbang rendah seraya dendangkan suara merduku yang mampu menggoda kuping ayah. Seketika kapak terhenti. Ayah terkesima melihatku melenggang dengan bulu-bulu halus yang mampu meredakan angkuhnya.
Namun sial! Ayah bergegas menyelinap ke dalam rumah dan segera keluar membawa katapel dan dibidikkan ke tubuhku yang berputar-putar di atas kepalanya. Sebuah batu keras menghantam lambungku. Seketika itu aku terpelanting berdebam tak jauh dari kaki ayah. Aku berusaha bangkit dan hendak terbang. Tapi tak berdaya. Dadaku terasa sesak. Aku menggelepar memanggil-mangil ibu.
“Tolooong ....!”
Aku terbangun. Tangan ibu meraba-raba ubun-ubunku.
“Bangun, Nak ...! Kamu bermimpi buruk?”
“Jangan lupa membaca doa kalau mau tidur. Setan selalu menghantui hidup manusia, Nak ...!”
“Iya, Bu ...!”
“Oh, mimpi!”
Sumenep, Pebruari 2014



[1] Tempat menanak nasik yang terbuat dari tembikar.
[2] Celaka!

0 komentar
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Kabar Nun - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger