"Surga tempatnya orang-orang berprestasi"(KH. Ilyasi Siraj, M.Ag.)




POSTINGAN HARI INI
print this page
POSTINGAN TERBARU
Showing posts with label Artikel. Show all posts
Showing posts with label Artikel. Show all posts

GUS MUWAFIQ SANG JURU DAMAI

Gus Muwafiq yang kondang di seantero jagat Nusantra, dan cermah-cermahnya menyejukkan isi kepala dan isi dada, hadir ke Pondok Pesantren Annuqayah (23/4/2019) dalam rangka penutupan haflatul imtihan. Dai Milenial yang pernah di daulat menjadi penceramah di istana negara itu, tampil memukau dan membuat jemaahnya terksima.

Gus Muwafiq menyampai tema besar tentang Santri Nusantara dengan segala kekayaan lokalitasnya, yaitu kekayaan yang tak dimiliki oleh negeri-negeri lain di belahan dunia. Baik mulai dari kekayaan alamnya, hingga kekayaan budayanya yang katanya hingga saat ini mampu menjaga keutuhan bangsa dan negara, meski belakangan banyak bermunculan santri-santri Google yang tidak mengakui kekayaan budaya bangsanya sendiri.

Ceramah-ceramahnya, baik yang saya saksikan di youtube atau di mimbar-mimbar pengajian lainnya, memberikan kesejukan, sehingga Gus Muwafiq menjadi idola banyak generasi, mulai dari generasi old hingga generasi millinneal. Gus Muwafiq tampil kepermukaan ketika orang-orang yang mengaku ustaz bermunculan dengan cermah-ceramahnya yang menyesatkan dan membakar emosi, serta menebarkan kebencian atas nama agama.

Ceramah-ceramahnya, menjawab semua ketersesatan yang mereka tebarkan dengan pendekatan hikmah, tanpa memaki dan memisuhi ustaz-ustaz yang sudah terlanjur menciptakan keonaran. Maka, berdasar itu semua, Gus Muwafiq layak dijuluki sebagai Sang Juru Damai.

Juru damai adalah tabiat positif yang melekat kepada semua para nabi, para rasul, para wali, para ulama, dan orang-orang salih yang mendapat hidayah dari Tuhan yang Maha Pemberi Keselamatan. Ucapannya menyejukkan dan tak melukuai. Tidak pula menyisakan dendam, dan angkara murka. Bahkan tuturnya menjadi rujukan sepanjang masa.

Jika ada penceramah, atau yang mengaku paling beragama, baik pengakuan itu secara lisan atau perbuatan, tetapi tabiatnya bertentangan dengan akhlak para nabi, para rasul, para ulama dan orang-orang saleh, maka mereka adalah iblis dan bala tentaranya yang menjadikan agama sebagai kedok untuk merusak kedamaian. “Tak ada agama” bagi mereka yang sengaja menanamkan kerusakan, kebencian, dan permusuhan, apalagi yang membantai nyawa-nyawa. Dan, mereka harus dilawan. Bentuk perlawanannya tetap menggunakan metode ahlussunnah waljamaah ala Nahdhatil Ulama sebagaimana dicontohkan oleh Gus Muwafiq, Gus Mus, Gus, Miftah, Cak Nun, dan yang lainnya.

Setiap dai atau penceramah memang berbeda metode, meskipun demikian bukan berarti seenaknya sambil memaki-maki yang berbeda. Agama tetap melarang siapa pun untuk memisuhi dan mengumpati. Siapakah Rasul yang suka mengumpat seenak perutnya? Tentu saja tak ada, karena memaki bukan mendamaikan umat, tetapi hanya membuat kisruh keadaan yang damai.

Kiai Muafiq yang notabene jebolan pesantren dan lahir dari rahim NU, adalah penceramah yang mendamaikan dan layak untuk kita undang pada acara-acara pengajian dan semacamnya. Di negeri yang damai ini, tegakah kita menciptakan kegaduhan dan kegelisahan dengan mendatangkan tukang caci maki? Tentu saja tidak, karena kita punya hati dan perasaan, juga punya ajaran agama yang Maha Agung sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Baginda Rasulullah Muhammad saw.

Jika Anda ingin jadi penceramah yang mencerahkan, maka contohlah Gus Muwafik dan ulama-ulama NU lainnya. Mereka lembut, tetapi bukan berarti lemah. Mereka adalah lautan ilmu yang tak beriak. Mereka tenang dan mendamaikan. Lihat wajahnya saja sudah serasa ada di surga. Coba lihat yang sarkas dan suka teriak-teriak dengan menggunakan nama Tuhan, pasti menggelisahkan.

Agama tidak membawa keributan, tetapi agama membawa kedamaian, karena agama adalah sebagai rahmah bagi semista alam. Mari beragama yang sehat dan menyejukkan. Jaga agama, jangan sampai dijadikan tunggangan politik bagi mereka yang haus kekuasaan. Sungguh, dosanya teramat besar, karena kesucian agama telah disekutukan dengan kekotaran politik orang-orang yang ambisius.

Penulis: Nun Urnoto El Banbary
Editor: Qurratul Aini   
0 komentar

CERITA DARI PEKAN NGAJI II DI BATA-BATA

Satu kehormatan diundang pada acara Pekan Ngaji 2 di Pondok Pesantren Bata-Bata (5/2/2017), untuk membedah novel Anak-Anak Pangaro yang saya tulis sendiri dan diterbitkan oleh PT. Tiga Serangkai Solo Semarang. Novel Anak-Anak Pangaro yang sebelumnya telah dibedah di berbagai tempat, terus mengepakkan sayapnya, seolah hendak mengabarkan kepada jiwa jiwa pembelajar untuk membacanya hingga tuntas.

Novel Anak-Anak Pangaro tidak hanya mendapat apresiasi untuk dibedah, tetapi juga mendapat apresiasi pujian dari http://benzainrumiyen.blogspot.com/ dan bahkan dijadikan bahan penelitian oleh kaum intelektual di kampus-kampus terkemuka http://eprints.ums.ac.id/50154/12/NASKAH%20PUBLIKASI.pdf. Hal itu menunjukkan novel Anak-Anak Pangaro menyimpan sesuatu yang unik bagi pembacanya. Meski sekadar juara harapan di MetaMind Tiga Serangkai dan sempat menjadi nominasi enam besar pada lomba Tulis Nusantara, Anak-Anak Pangaro mendapat tempat tersendiri di hati pembacanya.

Saya tidak sedang berpromosi, tapi hanya menyampaikan apa adanya tanpa bermaksud melebih-lebihkan. Seumpama dianggap berlebihan, itu Anda sendiri yang berpikir berlebihan. Saya, pikir Anda belum membacanya bukan? Maka segeralah membaca agar bisa tahu nilai karomahnya. Kwkwkwk.

Kembali pada pekan ngaji. Baliho besar yang terpampang di halaman pesantren, terdapat foto saya yang ganteng dan penuh pesona. Berjejer dengan orang-orang besar dari dalam dan luar negeri, dan membuat istri saya kian terkesima. Hihi. Siapa istri yang tak terkesima dengan suami yang mendapat tempat bersama orang-orang terhormat. Anda, mungkin menganggapnya biasa-biasa saja, karena Anda memang tidak sedang luar biasa. Sekali lagi, tidak sedang luar biasa. kwkwk. Guyon oi.

Bagaimana cara Anda bisa menjadi luar biasa? Anda harus mengkhatamkan novel saya dalam waktu lima menit. Itu saja, untuk menjadikan Anda luar biasa. Asem,kwkwk.

Pesantren besar di tanah Madura itu disesaki oleh ribuan santri dengan latar belakang berbeda dan keinginan yang tidak sama, tapi mereka rata-rata menyukai sastra. Bukankah novel adalah karya sastra, dan penulisnya bisa disebut sastrawan? Namun, saya tak sudi disebut sastrawan. Saya lebih suka disebut PELAMUN. Pelamun lebih merdeka, lebih bebas berkelana ke ruang-ruang terlarang yang tak banyak disinggahi orang alim, atau orang-orang kebanyakan yang takut melamun.

Sebenarnya, bedah novel lebih pada mempromosikan karya. Lebih banyak mengupas positifnya daripada negatifnya. Sebelum dibedah, seharusnya peserta sudah khatam membacanya. Jika tidak, maka bedah buku menjadi tidak seru dan yang pasti bahasa promosinya lebih mendominasi, apalagi tidak ada pembandingnya. Maka, forum akan menjadi mati. Kritik dan apresiasi tidak berfungsi sama sekali. Itulah kesalahan besar dalam banyak bedah buku yang luput dari perhatian para penyelenggara, termasuk pada pekan ngaji itu.

Undangan menjadi narasumber di Pekan Ngaji 2 di Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata bisa menjadi sesuatu yang luar biasa, bagi orang kecil macam saya. Dan, bisa menjadi biasa-biasa saja bagi orang-orang besar yang sudah biasa. Berbeda lagi dengan orang-orang yang sok besar, dan tidak mengerti tentang apresiasi, atau berbeda pula dengan orang yang sedang iri hati dengan prestasi.

Pernah sekali, saya dituduh sedang pamer dan menyombongkan diri ketika di share di grup-grup WA, FB, atau Instragram. Seolah saya sedang congkak. Padahal, saya dengan melakukan kampanye besar-besaran agar budaya literasi menjadi satu aktivitas primer yang mencerdaskan.

Bukankah aktivitas literasi sedang mati di lingkungan Anda? Anda meski seorang guru atau dosen, belum tentu rajin membaca apalagi punya karya tulis, kan? Nah, itu jelas masalah besar yang harus Anda selesaikan sendiri. Bukan malah suka menuduh jiwa lain yang sedang merampungkan pekerjaannya.

Bedah novel Anak-Anak Pangaro selesai menjelang matahari tenggelam, dan saya pulang saat sudah petang. Petang yang menantang jalan. Membuat momen itu layak saya kenang untuk saya wariskan kepada anak-anak saya sebagai motivasi perjuangan mengampanyekan ajaran-ajaran Tuhan. Baca-Tulis harus didakwahkan, agar masyarakat punya pegangan dan tak sesat jalan.

Berapa saya dibayar, itu tak jadi soal, karena saya tidak sedang berjualan. Menjual pengetahuan adalah bentuk kekurang ajaran, dan hal itu bertentangan dengan prinsip-prinsip dakwah yang diajarkan oleh agama saya. Apakah Anda sudah mengetahuinya? Jika belum silakan bertanya, atau belajar lebih keras lagi agar tidak menimbulkan anomali-anomali dalam hidup Anda yang sebentar saja.

Sekian saja, semoga Anda bisa diundang forum-forum terhormat, bukan forum-forum yang membuat Anda teler mencekik botol. Mari berprestasi. Bukankah surga tempatnya orang-orang berprestasi. Dan, saya tidak sedang merasa berprestasi. Saya sedang memotivasi. Itu pun jika pikiran Anda tidak ditumbuhi pikiran dengki.hihi

Bedah buku sebagai bagian dari literasi merupakan upaya untuk menyiapkan masa depan yang lebih baik, agar bumi tidak dipenuhi banyak ketimpangan sosial yang berakibat pada keributan yang meruwetkan isi bumi. Kira-kira seperti itu, yang dikehendaki ruang bedah buku pada momen Pekan Ngaji 2 yang diadakan oleh Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata Pamekasan Madura.


Blogger, Nun Urnoto El Banbary
Baru sempat didokumentasikan.
0 komentar

TIGA HAL MEMBERDAYAKAN MEMBACA


Salah satu cara memecahkan masalah, atau bahkan menemukan masalah adalah dengan cara membaca. Sepanjang sejarah, membaca tidak hanya dianggap mampu memecahkan dan menemukan masalah, tetapi juga mampu melecutkan berbagai potensi manusia dan menyibak berbagai rahasia, dan hal itu tidak mungkin mudah dilakukan kecuali bagi mereka yang mau menyelam ke wilayah membaca itu sendiri. Hampir semua orang takut menceburkan diri ke wilayah itu, kecuali bagi orang-orang yang mendapatkan hidayah dan merelakan dirinya dipaksa tercebur ke dalamnya. Sangat mengerikan jika dilihat dari jarak yang cukup jauh, kerena sepertinya berkutat dengan teks(membaca buku) dan terpekur-pekur dengan semesta sekitarnya (membaca alam) tak ubahnya serupa orang sinting yang tak punya pekerjaan. 

Sebagaimana halnya Nabi Muhammad SWA, yang mengalami kesulitan membaca (iqra') saat dituntun oleh malaikat Jibril, maka (mungkin) seperti itulah orang-orang yang baru memulai dirinya dengan kesibukan membaca. Mereka mengalami kesulitan luar biasa, bahkan mungkin stres dibuatnya. Namun, akhirnya akan merasakan akbatnya setelah mau bersabar dan bersusah-susah melakukannya. Menciptakan minat membaca, apalagi hingga keranjingan membaca, mungkin bisa dilakukan dengan cara-cara berikut ini:

Satu, menentukan niat. Artinya, untuk apa dirinya membaca. Misalnya membaca niatnya untuk mendapatkan informasi, untuk meneliti sesuatu, dan sebagainya. Paling tidak, niat menjadi alasan kuat seseorang untuk membaca. Dan, sebab itulah agama menegaskan bahwa segala sesuatu tergantung niatnya. Niat menjadi bagian tujuan membaca.

Dua, setelah membaca usahakan untuk eksplorasi kepada orang lain. Diskusikan hasil bacaannya. Bicarakan yang ditemukan kepada temannya, agar lebih kuat dalam ingatannya, sekaligus melatih dirinya untuk membuktikan bahwa dirinya baru saja menguasai harta karun berupa tumpukan kosakata dan ide-ide cemerlang. Dengan demikian lambat-laun orang lain akan mengakui "kehebatannya", dan alam akan mengundangnya untuk berbicara.

Tiga, menuliskannya. Maksudnya, menuliskan ide-ide baru yang berhasil digugah oleh gagasan orang lain. Bukan menjiplaknya. Namun, menulis tidak gampang, juga tidak sulit. Maka, sebaiknya pelajari juga cara menulis yang baik dan benar, sehingga aktivitas membaca menjadi sinkron dan tidak membosankan lagi. Efek dari menulis sangat besar manfaatnya bagi aktivitas membaca tadi. Bahkan, seorang teman menjadi keranjingan membaca setelah hasil bacaannya (idenya) ditulis dan dipublikasikan di media massa. Ia dapat mengepulkan dapurnya dengan karya-karya tulisnya.

Tiga hal di atas sangat bisa untuk memotivasi diri rajin membaca. Tentu, masih ada hal lain semisal membaca sebagai kegiatan belajar, yang mana belajar tersebut sebagai kewajiban dari agama yang bernilai ibadah.

Sumenep 12 Desember 2015       



1 komentar

KEKUATAN PENA

Di tengah rasa gamang hidup di pulau gersang, saya terus membaca satu-satunya tabloid bernama Posmo. Sebuah tabloid klenik, dan tabloid itu sangat memengaruhi niat, minat, dan cita-cita saya  menjadi seorang sakti yang punya kekuatan supranatural, yang bisa menyembuhkan banyak penyakit, seperti yang ditulis dalam Posmo. Hampir informasi yang ditulis Posmo saya serap, hingga praktik semacam tirakat saya kerjakan, seolah kekuatan tulisannya tak mampu saya hindari.

Tak ada yang memerintah membaca. Hanya diri sendiri yang memerintahnya, meski ketika saya beranjak usia di bangku MTs., seorang guru bernama Ustaz Sunarso memberi motivasi tentang hebatnya membaca, dan rupanya, kekuatan membaca telah mengantar saya "bisa" menulis. Itu pun baru saya sadari sekarang, ketika saya benar-benar bisa menulis beberapa puisi, cerpen, dan novel. Boleh di kata, tabloid Posmo yang klenik itu telah mengantar saya gemar membaca dan menulis. Tidak hanya itu, keinginan saya punya kekuatan supranatural juga tercapai. Sudah banyak pasien yang saya obati, mulai sakit gigi, kanker payudara, pendarahan, sawanan, terkena santet, hingga keselek tulang ikan ditenggorokan. Pasiennya beragam, mulai petani, siswa, guru, anggota KPU Sumenep, pemain film menembus Mercusuar dan Kemilau Cinta dari Banten, TKW yang bermukim di Malaysia, penyiar radio, hingga pengurus Forum Lingkar Pena Jawa Timur bernama Novi. Supranatural itu sama sekali tak minta bantuan jin apalagi setan. Saya cukup minta kepada Tuhan.

Setelah Posmo dan Ustaz Sunarso menjadi motivasi, Kiai saya, Ilyas Siraj di pesantren mengabarkan kekuatan pena saat memberi pengajian tafsir Jalalain, bahwa katanya, ujung pena lebih tajam dari ujung pedang. Informasi itu tidak langsung saya percayai seratus persen, karena saya belum bisa membuktikannya. Baru setelah saya menegur seorang kepala desa yang zalim ke ayah saya lewat surat, akhirnya saya mulai percayai, apalagi ketika saya memberhentikan seorang kepala sekolah yang korup dengan empat lembar surat tahun 2014 lalu.

Tidak berhenti disitu, saya kemudian menjumpai dawuhnya Syekh Imam al-Ghazali, Sang Hujjatul Islam yang karya-karyanya menjadi rujukan hampir umat Islam dalam sebuah buku yang sudah saya lupa judulnya, bahwa jika engkau bukan anak seorang raja, bukan pula anak ulama ternama, maka jadilah penulis. Dauh itu pun tidak membuat saya lantas mau menulis. Dawuh itu saya percayai setelah karya saya terbit. Tulisan saya dalam bentuk karya sastra novel itu tanpa terduga membawa saya ke forum-forum kepenulisan. Artinya, anak seorang pelaut telah Allah angkat beberapa derajat di antara yang lain.

Bukti itu kemudian kian melecutkan semangat saya yang beku. Rupanya, Allah telah memaksa saya untuk memercayai kehebatan pena dengan cara dipertemukan kepada hal-hal di atas tadi. Kesadaran macam itu rupanya terlambat saya pahami. Saya terlalu lugu (untuk tidak mengatakan dungu) menemukan banyak hikmah dari setiap peristiwa yang Allah sajikan. Allah seolah "mengutus" saya untuk menyampaikan sesuatu lewat karya-karya sastra yang oleh sebagian besar umat manusia sudah dianggap mendapatkan legalitas dari alam semesta.

Bagi saya, kekuatan pena sangat terasa sekali, karena derajat yang terpuruk mencuat begitu sangat. Tentu saja, saya juga melihat kehebatan pena orang lain macam syekh al-Ghazali, atau penulis kekinian macam J.K Rowling, Andrea Hirata, Tere Liye, Helvy Tiana Rosa, A.S. Laksana, HAMKA, Cak Nun, Habiburrahman, Asma Nadia, dan yang lainnya.

Barangkali yang tidak percaya dengan kekuatan pena, perlu langsung membuat satu buku, dan buktikan khasiatnya. Sejelek apa pun isinya, buku itu pasti akan menjadikan penulisnya diperhitungkan orang lain. Buku, atau dalam dunia akademisi sekripsi, tesis, desertasi menjadi bukti konkrit intelektualitas seseorang dan itu sudah pasti dilalui dengan berpeluh-peluh dan berletih-letih. Jangan dikira gampang menyusun ide dan kalimat-kalimat, hingga menjadi buku tebal, kecuali orang-orang genius yang mampu melakukannya.

Sebagaimana yang saya ketahui belakangan dari  embah Stephen King dalam bukunya "Stephen King On Writing", bahwa tidak ada jalan pintas menjadi penulis kecuali membaca dan menulis itu sendiri. Saya termasuk beruntung, karena sebelum mendengar kabar itu sudah keranjingan membaca tabloid klenis. Mata saya yang minus barangkali bagian dari aktivitas jungkir-balik belajar, membaca banyak kitab atau buku-buku. Sebagai anak pelaut yang hidup dalam garis kemiskinan, maka rajin belajar menjadi perlawanan. Perlawanan untuk tidak melarat lagi. Barangkali semangat belajar untuk mendapatkan ilmu pengetahuan mengubah nasib yang kurang mujur. Bukankah orang miskin berhak pula untuk pintar???

Mari belajar, membaca, meneliti, menulis, dan menulis. Publikasi tulisan untuk zaman secanggih sekarang bukanlah sesuatu yang susah, bahkan sangat gampang. Bulatkan tekad, dan kuatkan semangat untuk terus menulis apa pun profesinya, hingga paling tidak melahirkan satu buku sebagai bukti konkret.

Buktikan, bahwa satu saja karya Anda terbit akan membawa Anda kesuatu puncak. Selamat mencoba. Semangat!


***
tanpa editing

0 komentar

PROVINSI OMONG KOSONG

Deklarasi Provinsi Madura bergulir serupa bola panas yang disiram hujan; panas, dan akan segera dingin kembali, kecuali mereka berpadu mewujudkannya. Hanya jika anak-anak Madura bersatu, provinsi impian itu akan terwujud. Jika tidak, maka hanya menjadi mimpi dan omong kosong belaka.

Pro dan kontra Madura menjadi provinsi, terus memenuhi ruang publik dunia maya, dan hanya sedikit sekali memengaruhi dunia nyata. Sebagian orang menganggapnya hanya angan segelintir orang-orang yang bernafsu untuk merampok kekayaannya, dan sebagian lain menganggapnya sebagai bentuk perlawanan terhadap kesewenang-wenangan pemerintah Provinsi Jawa Timur yang selama ini tidak memerhatikan kesejahteraan masyarakat Madura yang kekayaan alamnya sudah dieksploitasi sedemikian mengerikan.

Masyarakat yang tidak setuju dengan provinsi Madura tentu sangat wajar, jika kehadiran Madura dengan wajah lain itu hanya dijadikan ladang baru untuk mencuri keuntungan. Pemekaran daerah sudah banyak dilakukan oleh daerah-daerah lain dengan modus demi kesejahteraan masyarakat, meski faktanya omong kosong. Namanya juga modus, pasti omong kosong dan rakyat hanya tumbal ambisi mereka. Masih belum ada satu pun provinsi yang membuat rakyatnya sejahtera sebagaimana yang dijanjikan sebelum pemekaran daerah. Begitu, kira-kira ketidaksetujuan sebagian masyarakat Madura atas kehendak sekelompok elit yang mengejar singgasana kekuasaan.

Selain alasan di atas, tentu syarat administratif yang sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 78 tahun 2007 harus terpenuhi. Provinsi minimal memiliki lima kabupaten, dan kabupaten yang memungkinkan untuk dimekarkan agar memenuhi syarat adalah kabupaten paling ujung timur, yaitu Kabupaten Sumenep. Masyarakat Sumenep samar-samar mulai terdengar suara penolakannya terkait  dengan provinsi Madura. Misalnya, Ali Faidhiy Toifur dalam akun facebooknya yang meyakini bahwa jika provinsi Madura terwujud akan kaya dengan mafia dan miskin manfaat. Hal senada juga disampaikan oleh tokoh NU Sumenep, Kiai Dardiri yang menganggap provinsi Madura hanya rekaan dari sebagian kelompok yang butuh ruang baru setelah babak belur di ruang lain, atau pemodal yang memicu adrenalinnya karena resource alam Madura seksi, tergenangi migas yang melimpah. 
Jika masyarakat Sumenep menolak, maka mimpi menjadikan Madura sebagai provinsi hanya omong-kosong, karena saat ini pemegang kuncinya adalah masyarakat Sumenep. Selain itu, deklarasi persiapan Provinsi Madura cukup kontradiktif, pertama suara-suara sumbang itu hanya didengungkan oleh orang-orang yang tidak jelas, alias bukan tokoh masyarakat yang punya pengaruh kuat, sebut saja Ketua Panitia Persiapan Pembentukan Provinsi Madura (P4M) Jimhur Saros. Siapa Jimhur? Tak ada dalam peta tokoh-tokoh Madura. Lalu, bagaimana semangat menjadikan Madura sebagai provinsi jika hanya “tokoh” Jimhur yang bersuara? Atau barangkali, Jimhur hanya sosok banyangan dari orang-orang yang berkepentingan, sehingga Jimhur merasa optimis suaranya didengar seluruh makhluk di tanah Madura. Begitulah, omong kosong provinsi Madura mereka ciptakan sendiri. Sekali lagi, omong kosong bukan dicipta masyarakat, tapi mereka yang berambisi.

Kedua, deklarasinya “sengaja” dibarengkan dengan kunjungan presiden ke Bangkalan. Lalu, melalui corong media online, masyarakat digiring seolah-olah Jokowi setuju dengan ide-ide yang bias itu. Artinya panitia seolah hanya cari sensasi dan tidak serius menjadikan Madura sebagai provinsi. Jika serius, mereka tidak memanfaatkan kedatangan Jokowi untuk sekadar mendapatkan sinyal, tapi datang ke istana untuk mendapatkan restu. Menurut tatakrama orang Madura, itu cara-cara yang kurang ajar.

Ketiga, dalam pemberitaan beberapa media online P4M mengatasnamakan masyarakat Madura. Masyarakat Madura yang mana? Jelas, itu klaim yang membabi buta yang kelak mungkin akan dilakukan oleh orang-orang yang membabi buta pula dalam mengambil kebijakan untuk rakyat. Masyarakat Madura tentu sudah punya takaran moralnya melihat cara-caranya yang sama sekali tidak sesuai dengan kultur Madura. Seperti apa kultur masyarakat Madura? Tentu, mereka sudah tahu. Jika tidak, maka boleh jadi mereka oknum yang mengaku-aku orang Madura. Keempat, harusnya deklarasinya di Sumenep, agar bisa mengambil hati penduduknya karena di tangan orang-orang Sumeneplah kemungkinan provinsi terwujud. Bukankah jika demikian cara P4M sangat mengabaikan etika, dan strategi? Maka mimpilah yang akan terjadi.

Konon, provinsi Madura digulirkan oleh politisi demokrat Ahsanul Qasasi di senayan, dan sekarang politisi itu terus mendukungnya agar Madura berdaulat. Berdaulat dari mana? Jika SDM-nya seperti Ahsanul Qosasi, barangkali itu bisa terjadi, tapi masalahnya, masyarakat masih suka menyelesaikan persoalannya sendiri dengan carok. Kedaulatan macam itukah yang dimaksud oleh politisi itu? Sepetinya, Ahsanul Qasasi hanya melihat satu sisi, tidak dengan sisi lain. Artinya, Ahsanul masih bisa disebut tokoh politik yang “ambisius” ketika menafikan sisi lain dari persoalan mendasar yang akan menopang sebuah kedaulatan yang dimaksudkan.

Berdirinya provinsi Madura bukan sesuatu yang tidak mungkin, tetapi ketika mengabaikan banyak hal seperti persyaratan administratif, apalagi mengabaikan kearifan lokal karena saking ambisiusnya, maka provinsi Madura sudah “cacat” moral. Jika cacat moral, maka bisa dibayangkan wajah provinsi Madura di masa yang akan datang.

Madura tidak perlu menjadi provinsi jika hanya untuk menyejahterakan akyatnya, tetapi cukup pemimpinnya tegas dengan kebijakan-kebijakannya yang memihak kepada rakyat, maka semuanya bisa menjadi beres. Jika uang migas saja dengan mudahnya masuk kantong sendiri, bagaimana mungkin rakyat sejahtera? Maka tidak masuk akal jika alasannya karena pemerintah provinsi menganaktirikan Madura. Statemen atau argumentasi macam itu hanya modus belaka. Tetapi memang begitulah modus. Selalu bermula dari omong kosong dan itu akan bermetamorfosis jika tidak dilawan.


Sumenep, 13 November 2013

0 komentar
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Kabar Nun - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger