"Surga tempatnya orang-orang berprestasi"(KH. Ilyasi Siraj, M.Ag.)




POSTINGAN HARI INI
print this page
POSTINGAN TERBARU

LELAKI PERKASA CAP BINTANG SEMBILAN

Lelaki tidak tercipta dari tulang rusuk wanita. Ia hadir tersendiri dari sang maha pencipta semesta dengan segala rahasianya. Ia perkasa, dan sebab itulah Tuhan mengutus setiap lelaki menjadi utusan-Nya. Belum ada dalam sejarah manusia, utusan-Nya berasal dari kaum hawa. Sehebat Maria pun yang malahirkan Yesus, tak diangkat menjadi utusannya. Benar-benar perkasa kaum lelaki. Tak ada duanya di muka bumi. Nyaris sempurna dibanding ciptaan yang lainnya, meski lelaki banyak yang kalah saat bertarung di atas ranjangnya sendiri.


Hampir seluruh makhluk mengaguminya, termasuk para malaikat sendiri, kecuali iblis dan bala tentaranya. Satu-satunya makhluk yang memusuhi kaum lelaki adalah iblis. Iblis dengan segala caranya hendak mengacaukan hidupnya. Bahkan, perempuan-perempuan yang penuh pesona diperalat untuk menjerat dan menjerumuskan para lelaki perkasa itu. Kadang pula, lelaki dijerat dengan takhta yang menghalalkan segala cara untuk meraihnya. Kadang pula, iblis menggodanya dengan harta benda, hingga akhirnya terjebak korupsi.

Sudah berapa banyak lelaki yang sebelumnya alim, pintar, jujur, cerdas, lalu terperosok dalam jurang hina hanya gara-gara jebakan yang dibuat oleh iblis dan sekutu-sekutunya. Iblis punya sekutu, yaitu binatang-binatang yang dipengaruhi instingnya, termasuk manusia-manusia yang terhipnotis akal sehatnya dan akhinya menjadi tukang ngibul bagi sesamanya.

Lelaki perkasa tak akan terpengaruh oleh apa pun. Ia akan kuat menghadapi makhluk lain, bahkan makhluk yang sering menemani tidurnya—yang konon tak terkalahkan kecuali mengonsumsi viagra atau hajar jahanam dari negeri wahabi. Apakah Anda termasuk lelaki sejati? Lelaki yang perkasa dengan segala keantikannya? Jawablah sendiri, jika Anda memang lelaki perkasa.

Jika Anda lemah dan keperkasaan Anda letoy termasuk saat memainkan adegan ranjang, maka cukuplah mengonsumsi madu cap Bintang Sembilan. Madu asli dari tanah Madura yang satu ini sangat ampuh, dan bikin tubuh menghangat bahkan memanas. Lalu, Anda yang letoy akan gampang mengendalikan rudal balistik menuju sasaran.

Anda tak akan mempercayainya, sebelum Anda mencobanya. Silakan hubungi distributor melalui ponsel 081334222203. Semoga Anda menjadi perkasa, dan tak letoy menghadapi apapun. Aamiin....


Sumenep, 29 Maret 2019

Penulis, Urnoto.
Aktivis lelaki perkasa.



0 komentar

GUS DUR DICATUT

Gus Dur dicatut menjadi nama fanspage “GUS DUR SANG GURU BANGSA” yang isinya sangat tak elok, yaitu tempat kampanye buruk yang berisi umpatan dan caci maki. Hampir setiap menit ungkapan buruk bertengger di beranda itu. Admin sepertinya memang sengaja tidak memproteksi segala yang buruk, bahkan terkesan membiarkan satu kubu lebih mendominasi. Penulis beberapa kali berusaha memposting yang berseberangan, tetapi tidak bisa masuk. Jadi, fanspage tersebut segaja dibuat untuk kubu yang jadi junjugannya.
Dok. kabarnun.com

Barangkali, bagi Gus Dur sendiri hal itu tidak menjadi soal, dan dianggapnya “itu aja kok repot”, tetapi bagi budaya santun di Indonesia yang tengah berusaha mengembangkan pendidikan karakter penuh moralitas, hal itu sangatlah menganggu. Jika dibiarkan, akan berkembangbiak menjadi virus yang menganggu persatuan dan kesatuan bangsa. Jika Gus Dur bukan orang yang dimuliakan, tak banyak pengikutnya, bukan kiai, atau bukanlah mantan presiden, barangkali tidak perlu terlalu dihiraukan—meski begitu, persoalan moral yang terdapat di dalamnya harus tetap mendapat perhatian.

Seteru di dalamnya lebih banyak membahas tentang pilpres, dan kedua kubu saling serang dengan kampanye-kampanye yang tidak etis menurut adat, dan budaya yang berkembang di negeri ini, terlebih lagi menurut agama. Selain soal pilpres, ormas NU juga diseret-seret dan ketuanya dimaki-maki sedemikian rupa, seolah ketua PBNU lebih berdosa daripada iblis. Suatu reaksi yang cukup berlebihan dan kentara sekali, bahwa umpatan-umpatan yang keluar dari mulut mereka bukanlah hasil pendidikan yang ada di Indonesia. Entah dari mana!

Pihak-pihak terkait mestinya memerhatikan hal seperti itu, karena sangat berpotensi menimbulkan pertengkaran hingga ke dunia nyata, juga sebagai indikasi terpuruknya pendidikan di tanah air yang entah dihasilkan dari sekolah macam mana pula hal itu. Proteksi dini sebagai antisipasi berkembangnya hal-hal amoral yang bertentangan dengan warisan budaya bangsa, juga ajaran agama yang ada di tanah air Indonesia yang penduduknya mayoritas beragama Islam.

Kasus fanspage yang mencatut nama KH. Abdurrahman Wahid dengan segala keburukan isinya menjadi satu keberanian kaum amoral untuk menginjak-injak moral bangsa dengan cara menginjak-injak kehormatan tokoh-tokohnya. Gusdurian mesti mengambil tindakan untuk melacak siapa sesungguhnya konspirator di balik faspage itu. Kita hendak menjaga marwah Kiai, dan tokoh-tokoh bangsa agar tidak menjadi sejarah buruk bagi generasi berikutnya.

Sepertinya, fanspage itu segaja dibuat dengan memanfaatkan ketenaran Gus Dur agar banyak orang bergabung di dalamnya, dan dibuat jauh hari sebelum pilpres, hingga kemudian menemukan momentumnya untuk mengadu domba sesama anak bangsa. Bukti adu domba dengan segala tebarannya yang amoral tersebut, terbukti dibiarkannya sarkasme yang bertentangan dengan agama dan undang-undang IT yang berlaku di Indonesia.

Di sana banyak akun-akun anonim yang tebarannya lebih parah, dan penulis kira pihak berwajib mampu melacak siapa mereka yang melakukan tebaran sarkastik, kebencian, dan adu domba yang maha miris tersebut. Pernah ada video Maaher at-Thuwailibi yang di share sambil mengeluar fatwa ngawur dan tak bermoral seperti video pada chanel berikut: https://www.youtube.com/watch?v=NpPf6RN_J-4 juga video lainnya. Silakan simak sendiri dan gunakan akal sehat.

Sebagai bangsa yang bermoral, tentu kita tidak ingin negeri ini hancur oleh hanya karena perbedaan pilihan pilpres. Kita tentu juga tak ingin negeri ini hancur seperti negeri-negeri Islam timur tengah yang berseteru tak kunjung usai selama bertahun-tahun. Kalau bukan kita sendiri yang menjaganya melalui penegakan hukum dan melalui kuatnya budaya di tengah-tengah masyarakat, lalu siapa lagi? Belanda? Jepang, Inggris?

Mari majukan negeri ini dengan perbuatan-perbuatan positif, dengan prestasi-prestasi yang berdaya guna bagi bangsa dan negara, bahkan bagi seluruh kehidupan manusia di muka dunia. Kita berharap, konspirator yang telah mencatut nama KH. Abdurrahman Wahid segera bertobat dengan segala proses hukumnya.


Sumenep, 26 Maret 2019



Penulis, Nun Urnoto
Penulis fiksi, tinggal di Rumah Baca Anak-Anak Pangaro
0 komentar

ISTRI DI RUANG MEDIA SOSIAL

Setiap zaman selalu punya cerita, dan cerita zaman digital kali ini akan membincang istri salihah yang didamba oleh setiap suami dan dirindukan surga. Ruang publik terbuka lebar, yang memungkinkan siapa saja untuk eksis di tengah-tengahnya, termasuk seorang istri yang selama ini hanya berkutat di wilayah domestik:memasak, mencuci, dan urusan kasur.

Sebelum era digital, peran istri hanya terbatas sebagai ibu rumah tangga saja. Segala sesuatu dikerjakan oleh kaum lelaki. Agama menjadi alasan utama untuk membatasi ruang geraknya, ditambah oleh ketatnya tradisi (gibah) sebagai penghakiman atas segala tingkah lakunya. Orang-orang akan membicarakan setiap geraknya yang keluar dari tradisi yang berlaku ditempat yang bersangkutan. Akibatnya, batinnya akan dihukum.

Dok. kabarnun.com
Berbeda dengan istri era milenial. Mereka mulai mengambil peran di ruang publik dengan (misalnya) menjadi anggota DPR, Gubernur, Bupati, Camat, hingga menjadi Presiden, bahkan di media sosial—yang juga ruang publik—, mereka ikut ambil bagian meski hanya sekadar pamer wajah.

Pamer wajah di sini hanya memerankan diri untuk mencuri perhatian orang lain. Dan, (tafsir positifnya) siapa tahu kelak menjadi artis dan bisa mengambil peran menjadi Bupati, Gubernur, Presiden, dan paling apes mendapat jodoh ganteng, banyak teman bagi yang sudah berstatus istri. Hanya saja, bagi yang berstatus istri jika tidak pandai-pandai menjaga diri di ruang publik akan menimbulkan petaka bagi kehidupan rumah tangganya. Sudah banyak kisah perceraian, akibat over acting di ruang publik yang liar, bernama medsos.

Media sosial sebagai ruang publik era milenial bak belati. Salah menggunakannya, akan melukai diri sendiri dan orang lain. Itulah sebabnya, mesti pakai ilmu untuk menggunakannya. Google dan youtube banyak menyediakan pengetahuan untuk menggunakannya. Sementara sekolah-sekolah formal masih abai untuk mengajarkannya. Akibatnya, banyak anak-anak yang masih usia sekolah terjerat undang-undang IT.

Bagi kaum hawa yang berstatus istri bisa melakukan hal-hal berikut dalam bermedsos, agar tidak menimbulkan fitnah bagi kehidupan rumah tangganya.

1. Izin Suami
Istri minta izin kepada suaminya dengan segala alasannya yang logis. Jika alasannya hanya untuk memamirkan kecantikan, sebaiknya jangan coba-coba minta izin, sebab suami akan cemburu wajah istrinya dinikmati lelaki lain, kecuali suaminya steheng alias otaknya sudah tidak sehat.

Jangan lupa, jika wajah istri menimbulkan syahwat bagi lelaki lain, itu bisa mendatangkan petaka yang mengundang dosa. Wajah perempuan yang dicipta penuh pesona oleh Tuhan—ulama fiqh menghukuminya sebagai aurat yang harus dijaga. Dijaga yang dimaksud tidak harus ditutupi serupa pakaian ninja, tetapi bisa cukup dengan menjaga diri di ruang publik agar tidak genit dan mengundang berahi lelaki yang memang dicipta susah tahan menghadapi pesona lawan jenisnya.

Menjaga diri dengan pakaian ala ninja juga tidak mengapa, asal tidak mengundang para penjahat kelamin penasaran di balik pakaian ala ninjanya. Semua serba kemungkinan bukan? Tak ada jaminan menutup semua tubuh terbebas dari kejahatan. Tapi biasanya, menutup aurat lebih dihargai oleh kaum lelaki.

2. Memilih Teman Medsos
Bagi seorang istri, apalagi yang punya wajah mempesona dengan bantuan kamera, sebaiknya jangan asal menerima teman, atau memilih teman. Seleksi dulu isi statusnya pada media yang digunakannya, kecuali punya kemampuan filtering luar biasa yang mampu menyaring banyak kotoran. Kemampuan filtering modal penting agar terhindar dari segala keburukan yang mengancam eksistensinya sebagai perempuan publik—meski hanya sebatas penjual online baju-baju anak, misalnya. Remove saja setiap teman yang berpotensi menimbulkan petaka, dan kekacauan, agar tidak menimbulkan kegaduhan. Kegaduhan pasti menimbulkan ketidaknyamanan, terutama kepada presiden rumah tangga.

3. Komunikasi Positif
Lakukan komunikasi seperlunya. Jangan sampai berlebihan, agar tidak menimbulkan kesan atau tafisr yang negatif bagi suami atau teman-teman medsos lainnya. Sudah banyak fakta orang salah paham dalam melakukan kominikasi tertulis di media sosial lalu discrenshoot dan disebarkan. Maka, jadilah fitnah yang luar biasa, dan menimbulkan petaka yang tidak dikehendaki, baik dalam pertemanan terlebih dalam kehidupan berumah tangga.

4. Kebermanfaatan
Bermedia sosial-lah yang ada manfaatnya. Jangan hanya menghabiskan kuota untuk sesuatu yang tidak jelas, dan buang-buang waktu untuk keharmonisan rumah tangga. Oleh karenanya, tanyakan pada suami apa manfaatnya bermedia sosial, atau tanyakan pada yang lebih berpengalaman tentang dampak positif dan nigatifnya. Alasan manfaatnya boleh saja memperbanyak teman yang kelak bisa dimintai bantuannya, atau jualan online, atau menebar kebaikan dalam bentuk tulisan yang mencerahkan, dan lain sebagainya.

Intinya, segala gerak dalam bermedsos tidak merugikan diri sendiri, keluarga, dan orang lain. Pendeknya, tidak seperti pendukung kedua calon presiden yang terus berseteru dan tak kunjung mereda.

5. Terbuka
Sebaiknya, ponsel suami dan istri saling terbuka dan keduanya bebas saling melihat isi ponselnya, sehingga tidak menimbulkan persepsi yang negatif. Jika ada hal-hal yang tidak disenangi bisa dimusyawarahkan antar keduanya, dan tentu saja jangan sampai cemburu buta jika ada temannya berguyon melampai batas.

Jagalah diri dan teruslah bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga, dan orang lain. Medsos tidak akan menimbulkan petaka jika digunakan sebagaimana mestinya. Tak ada pisau haram yang digunakan untuk memotong rumput sendiri. Demikian juga dengan media sosial yang kehadirannya tak bisa dihindari lagi.

Tampil saja di depan publik sesuai dengan kapasitas dan kebutuhannya. Terimalah segala resikonya sebagai akibat dari perjalanan kehidupan. Dan, yang paling penting dapat menambah ilmu dan meningkatkan spiritualitas kepada Allah ‘Azza wajalla.


Sumenep, 26 Maret 2019



Penulis, Nun Urnoto.
Penulis novel Anak-Anak Pangaro,
Anak-Anak Revolsi, dan;
Memanjat Pesona.
0 komentar

PEMBAJAK BUKU


Membajak tanah tak jadi soal, karena tanah akan menjadi subur, tetapi membajak buku menjadi polemik bagi sebagian penulis, dan mengancam kebangkrutan bagi penerbit. Kasus kusut ini tak kunjung selesai, bahkan kusutnya bertambah rumit dan menyebalkan, dan hukum tak berdaya menyelesaikannya.

Buku bajakan, bagi sebagian penulis (sebut saja penulis tipe pertama) sangat merugikan finansialnya, sebab mereka tidak mendapatkan royalti dari penjualan buku bajakan yang diserobot pembajak alias maling bin rampok, yang hingga hari ini terus berkembang biak tanpa terjerat hukum. Padahal, hak cipta mereka dilindungi undang-undang. Kata lainnya, penulis tidak mendapatkan perlindungan hukum, dan yang ada hanya mendapatkan jeratan hukum ketika bukunya berbau SARA, misalnya.

Bagi sebagian penulis yang lain, buku bajakan tidak menjadi masalah. Ini termasuk tipe penulis idealis, karena karya-karya yang dibajak oleh para pencoleng dianggap sesuatu yang lumrah dan bahkan menguntungkan dirinya. Keuntungan yang dimaksud adalah penyebaran “nilai” yang terdapat di dalam buku yang ditulisnya. Fokusnya tidak lain adalah kebermanfaatan tanpa mengharapkan royalti dari penjualan bukunya, atau dalam bahasa agamanya “berharap pahala” saja.

Dok. kabarnun.com
Tipe penulis kedua ini memang tidak mau ambil pusing, dan merasa cukup nyaman menjalani profesinya sebagai penulis tanpa terbelenggu oleh urusan finansial yang terkadang menyebalkan, apalagi ketika royaltinya tidak kunjung masuk ke rekening atau malah tidak dibayar sama sekali oleh penerbitnya. Baginya, semakin banyak dibajak semakin banyak pahalanya, dan semakin populer namanya.

Barangkali, penulis tipe kedua ini terinspirasi oleh penulis-penulis kitab klasik di kalangan muslim yang karya-karyanya dicetak hingga hari ini, tanpa mengeluhkan royalti. Sebut saja misalnya karya-karya yang ditulis oleh Imam al-Ghazali, Imam Maliki, Imam Hanafi, Imam Zarnuji, Imam al-Maturidi, dan sebagainya, sebagaimana diaji di pesantren-pesantren. Mereka mengikhlaskan karya-karyanya karena—selain dimaksudkan untuk menebarkan kebaikan—, royalti pada masanya memang tidak ada sama sekali.

Bagi penerbit dan penulis tipe pertama ini, buku bajakan adalah dosa besar dan masuk kategori pelanggaran hukum, tetapi nyaris tak ada upaya serius dari penulis tipe pertama dan pihak penerbit, untuk menjerat para pembajak buku ke meja hijau, dan sepertinya memang tidak berdaya untuk melaporkannya. Patut diduga, bahwa penulis tipe pertama dan penerbit telah putus asa, karena hukum terhadap perbukuan dan hak cipta dianggapnya cukup diskriminatif. Pastinya, mereka dirugikan oleh para pembajak yang tidak punya nurani itu.

Kemungkinan lain, penulis tipe pertama dan pihak penerbit segngaja tidak membawanya ke ranah hukum, karena disebabkan oleh tidak berdayanya rakyat untuk membeli buku sesuai harga yang dipatok oleh penerbit. Pemakluman tersebut, karena rendahnya minat baca terhadap buku dianggap mengancam masa depan penulis dan penerbit itu sendiri. Oleh karena sebab itu, para pembajak dibiarkan berkeliaran.

Namun, apapun alasannya, buku bajakan tetaplah ilegal dan merugikan para penulis dan penerbit.  Penulis yang mendelik di depan komputer tak dihargainya, dan penerbit yang berbelanja kertas dicuranginya. Maka, sungguh celaka para pembajak yang telah melakukannya. Bukankah cikal-bakal koruptor di negeri ini, juga berasal dari tukang bajak buku? Siapa dia? Cara saja sendiri!

Mari, jangan beli buku-buku bajakan, selain berdosa dan melangar hukum, buku bajakan juga tidak terjamin kualitasnya. Kertasnya jelek, halamannya lebih banyak yang kacau, dan tentu saja mudah copot. Pernah sekali, penulis membeli di bazar buku yang diadakan oleh pondok pesantren, sumpah penjilidan dan halamannya kacau-balau, dan saya sangat kecewa. Sejak itu, saya tobat.

Sebelum bertobat, mending Anda jangan coba-coba membeli, dan kepada pihak pesantren, jangan sekali-kali ajari santrinya untuk bermaksiat dan melanggar hukum. Jagalah santrinya, agar jauh dari perbuatan dosa pembajakan, termasuk dosa-dosa membajak buku.



Sumenep, 25 Maret 2019



Penulis, Nun Urnoto El Banbary.
Pengkhayal kelas kakap yang terus menulis novel.
Karyanya sudah berserakan di tanah pertiwi.
Gajinya paling rendah dibanding pejabat negara dan pembajak buku.
0 komentar
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Kabar Nun - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger