"Surga tempatnya orang-orang berprestasi"(KH. Ilyasi Siraj, M.Ag.)




PEMBAJAK BUKU


Membajak tanah tak jadi soal, karena tanah akan menjadi subur, tetapi membajak buku menjadi polemik bagi sebagian penulis, dan mengancam kebangkrutan bagi penerbit. Kasus kusut ini tak kunjung selesai, bahkan kusutnya bertambah rumit dan menyebalkan, dan hukum tak berdaya menyelesaikannya.

Buku bajakan, bagi sebagian penulis (sebut saja penulis tipe pertama) sangat merugikan finansialnya, sebab mereka tidak mendapatkan royalti dari penjualan buku bajakan yang diserobot pembajak alias maling bin rampok, yang hingga hari ini terus berkembang biak tanpa terjerat hukum. Padahal, hak cipta mereka dilindungi undang-undang. Kata lainnya, penulis tidak mendapatkan perlindungan hukum, dan yang ada hanya mendapatkan jeratan hukum ketika bukunya berbau SARA, misalnya.

Bagi sebagian penulis yang lain, buku bajakan tidak menjadi masalah. Ini termasuk tipe penulis idealis, karena karya-karya yang dibajak oleh para pencoleng dianggap sesuatu yang lumrah dan bahkan menguntungkan dirinya. Keuntungan yang dimaksud adalah penyebaran “nilai” yang terdapat di dalam buku yang ditulisnya. Fokusnya tidak lain adalah kebermanfaatan tanpa mengharapkan royalti dari penjualan bukunya, atau dalam bahasa agamanya “berharap pahala” saja.

Dok. kabarnun.com
Tipe penulis kedua ini memang tidak mau ambil pusing, dan merasa cukup nyaman menjalani profesinya sebagai penulis tanpa terbelenggu oleh urusan finansial yang terkadang menyebalkan, apalagi ketika royaltinya tidak kunjung masuk ke rekening atau malah tidak dibayar sama sekali oleh penerbitnya. Baginya, semakin banyak dibajak semakin banyak pahalanya, dan semakin populer namanya.

Barangkali, penulis tipe kedua ini terinspirasi oleh penulis-penulis kitab klasik di kalangan muslim yang karya-karyanya dicetak hingga hari ini, tanpa mengeluhkan royalti. Sebut saja misalnya karya-karya yang ditulis oleh Imam al-Ghazali, Imam Maliki, Imam Hanafi, Imam Zarnuji, Imam al-Maturidi, dan sebagainya, sebagaimana diaji di pesantren-pesantren. Mereka mengikhlaskan karya-karyanya karena—selain dimaksudkan untuk menebarkan kebaikan—, royalti pada masanya memang tidak ada sama sekali.

Bagi penerbit dan penulis tipe pertama ini, buku bajakan adalah dosa besar dan masuk kategori pelanggaran hukum, tetapi nyaris tak ada upaya serius dari penulis tipe pertama dan pihak penerbit, untuk menjerat para pembajak buku ke meja hijau, dan sepertinya memang tidak berdaya untuk melaporkannya. Patut diduga, bahwa penulis tipe pertama dan penerbit telah putus asa, karena hukum terhadap perbukuan dan hak cipta dianggapnya cukup diskriminatif. Pastinya, mereka dirugikan oleh para pembajak yang tidak punya nurani itu.

Kemungkinan lain, penulis tipe pertama dan pihak penerbit segngaja tidak membawanya ke ranah hukum, karena disebabkan oleh tidak berdayanya rakyat untuk membeli buku sesuai harga yang dipatok oleh penerbit. Pemakluman tersebut, karena rendahnya minat baca terhadap buku dianggap mengancam masa depan penulis dan penerbit itu sendiri. Oleh karena sebab itu, para pembajak dibiarkan berkeliaran.

Namun, apapun alasannya, buku bajakan tetaplah ilegal dan merugikan para penulis dan penerbit.  Penulis yang mendelik di depan komputer tak dihargainya, dan penerbit yang berbelanja kertas dicuranginya. Maka, sungguh celaka para pembajak yang telah melakukannya. Bukankah cikal-bakal koruptor di negeri ini, juga berasal dari tukang bajak buku? Siapa dia? Cara saja sendiri!

Mari, jangan beli buku-buku bajakan, selain berdosa dan melangar hukum, buku bajakan juga tidak terjamin kualitasnya. Kertasnya jelek, halamannya lebih banyak yang kacau, dan tentu saja mudah copot. Pernah sekali, penulis membeli di bazar buku yang diadakan oleh pondok pesantren, sumpah penjilidan dan halamannya kacau-balau, dan saya sangat kecewa. Sejak itu, saya tobat.

Sebelum bertobat, mending Anda jangan coba-coba membeli, dan kepada pihak pesantren, jangan sekali-kali ajari santrinya untuk bermaksiat dan melanggar hukum. Jagalah santrinya, agar jauh dari perbuatan dosa pembajakan, termasuk dosa-dosa membajak buku.



Sumenep, 25 Maret 2019



Penulis, Nun Urnoto El Banbary.
Pengkhayal kelas kakap yang terus menulis novel.
Karyanya sudah berserakan di tanah pertiwi.
Gajinya paling rendah dibanding pejabat negara dan pembajak buku.
Share this article :
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Kabar Nun - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger