"Surga tempatnya orang-orang berprestasi"(KH. Ilyasi Siraj, M.Ag.)




GUS DUR DICATUT

Gus Dur dicatut menjadi nama fanspage “GUS DUR SANG GURU BANGSA” yang isinya sangat tak elok, yaitu tempat kampanye buruk yang berisi umpatan dan caci maki. Hampir setiap menit ungkapan buruk bertengger di beranda itu. Admin sepertinya memang sengaja tidak memproteksi segala yang buruk, bahkan terkesan membiarkan satu kubu lebih mendominasi. Penulis beberapa kali berusaha memposting yang berseberangan, tetapi tidak bisa masuk. Jadi, fanspage tersebut segaja dibuat untuk kubu yang jadi junjugannya.
Dok. kabarnun.com

Barangkali, bagi Gus Dur sendiri hal itu tidak menjadi soal, dan dianggapnya “itu aja kok repot”, tetapi bagi budaya santun di Indonesia yang tengah berusaha mengembangkan pendidikan karakter penuh moralitas, hal itu sangatlah menganggu. Jika dibiarkan, akan berkembangbiak menjadi virus yang menganggu persatuan dan kesatuan bangsa. Jika Gus Dur bukan orang yang dimuliakan, tak banyak pengikutnya, bukan kiai, atau bukanlah mantan presiden, barangkali tidak perlu terlalu dihiraukan—meski begitu, persoalan moral yang terdapat di dalamnya harus tetap mendapat perhatian.

Seteru di dalamnya lebih banyak membahas tentang pilpres, dan kedua kubu saling serang dengan kampanye-kampanye yang tidak etis menurut adat, dan budaya yang berkembang di negeri ini, terlebih lagi menurut agama. Selain soal pilpres, ormas NU juga diseret-seret dan ketuanya dimaki-maki sedemikian rupa, seolah ketua PBNU lebih berdosa daripada iblis. Suatu reaksi yang cukup berlebihan dan kentara sekali, bahwa umpatan-umpatan yang keluar dari mulut mereka bukanlah hasil pendidikan yang ada di Indonesia. Entah dari mana!

Pihak-pihak terkait mestinya memerhatikan hal seperti itu, karena sangat berpotensi menimbulkan pertengkaran hingga ke dunia nyata, juga sebagai indikasi terpuruknya pendidikan di tanah air yang entah dihasilkan dari sekolah macam mana pula hal itu. Proteksi dini sebagai antisipasi berkembangnya hal-hal amoral yang bertentangan dengan warisan budaya bangsa, juga ajaran agama yang ada di tanah air Indonesia yang penduduknya mayoritas beragama Islam.

Kasus fanspage yang mencatut nama KH. Abdurrahman Wahid dengan segala keburukan isinya menjadi satu keberanian kaum amoral untuk menginjak-injak moral bangsa dengan cara menginjak-injak kehormatan tokoh-tokohnya. Gusdurian mesti mengambil tindakan untuk melacak siapa sesungguhnya konspirator di balik faspage itu. Kita hendak menjaga marwah Kiai, dan tokoh-tokoh bangsa agar tidak menjadi sejarah buruk bagi generasi berikutnya.

Sepertinya, fanspage itu segaja dibuat dengan memanfaatkan ketenaran Gus Dur agar banyak orang bergabung di dalamnya, dan dibuat jauh hari sebelum pilpres, hingga kemudian menemukan momentumnya untuk mengadu domba sesama anak bangsa. Bukti adu domba dengan segala tebarannya yang amoral tersebut, terbukti dibiarkannya sarkasme yang bertentangan dengan agama dan undang-undang IT yang berlaku di Indonesia.

Di sana banyak akun-akun anonim yang tebarannya lebih parah, dan penulis kira pihak berwajib mampu melacak siapa mereka yang melakukan tebaran sarkastik, kebencian, dan adu domba yang maha miris tersebut. Pernah ada video Maaher at-Thuwailibi yang di share sambil mengeluar fatwa ngawur dan tak bermoral seperti video pada chanel berikut: https://www.youtube.com/watch?v=NpPf6RN_J-4 juga video lainnya. Silakan simak sendiri dan gunakan akal sehat.

Sebagai bangsa yang bermoral, tentu kita tidak ingin negeri ini hancur oleh hanya karena perbedaan pilihan pilpres. Kita tentu juga tak ingin negeri ini hancur seperti negeri-negeri Islam timur tengah yang berseteru tak kunjung usai selama bertahun-tahun. Kalau bukan kita sendiri yang menjaganya melalui penegakan hukum dan melalui kuatnya budaya di tengah-tengah masyarakat, lalu siapa lagi? Belanda? Jepang, Inggris?

Mari majukan negeri ini dengan perbuatan-perbuatan positif, dengan prestasi-prestasi yang berdaya guna bagi bangsa dan negara, bahkan bagi seluruh kehidupan manusia di muka dunia. Kita berharap, konspirator yang telah mencatut nama KH. Abdurrahman Wahid segera bertobat dengan segala proses hukumnya.


Sumenep, 26 Maret 2019



Penulis, Nun Urnoto
Penulis fiksi, tinggal di Rumah Baca Anak-Anak Pangaro
Share this article :
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Kabar Nun - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger