"Surga tempatnya orang-orang berprestasi"(KH. Ilyasi Siraj, M.Ag.)




POSTINGAN HARI INI
print this page
POSTINGAN TERBARU

AENG TONGTONG SENTRA KERIS DUNIA


Salah satu peninggalan leluhur yang terus dilestarikan hingga hari ini adalah kerajinan keris. Keris adalah pusaka atau senjata nenek moyang nusantara—yang belakangan dibid’ah dan diharamkan oleh sekelompok orang yang sok paling beragama—yang oleh UNESCO keris ditetapkan sebagai salah satu warisan dunia yang layak dijaga dan dirawat. Salah satu cara untuk merawatnya adalah dengan tetap memproduksinya, baik keris sebagai seni maupun keris sebagai benda pusaka yang bertuah serupa kerisnya Empu Gandring, misalnya.

Salah satu tempat yang hingga hari ini memproduksi keris adalah Desa Aeng Tongtong Kecamatan Saronggi Kabupaten Sumenep Madura Jawa Timur. Hampir semua penduduk Desa Aeng Tongtong menjadi empu yang mumpuni dalam membuat keris, meski keris-keris yang dibikin tidak menyamai proses pembuatannya Empu Gandring, karena memang keris yang dibuat saat ini lebih dominan nilai seninya. Keris bagi masyarakat Aeng Tongtong, juga sebagai mata pencaharian, sehingga tidak jarang ada yang kaya raya lewat kreasi membuat keris.


Banyak kolektor pusaka keris yang memborong keris buatan para Empu Aeng Tongtong, bahkan menurut pengakuan beberapa penduduk, seorang politisi dari Jakarta memesan kujang yang bentuknya sangat besar, dan tentu saja harganya sangat mahal. Tidak hanya politisi Jakarta, kolektor pusaka dari manca negara juga banyak yang memborongnya.

Sumenep patut bersyukur, karena punya Desa Aeng Tongtong yang telah mengantarkan nama kotanya menjadi terkenal hingga ke manca negara. Bahkan, Kota Sumenep menyebut dirinya sebagai Kota Keris, dan Aeng Tontong dijadikan sebagai wisata relegius untuk mendukung program “Visit Sumenep 2018”.

Sayangnya, Desa Aeng Tongtong yang hendak dijadikan tempat wisata religius oleh pemerintah, tidak didukung oleh infrastruktur yang mendukung religiusitas yang dimaksud? Desa Aeng Tongtong menunjukkan realita lain, yaitu belum terpenuhinya ruang representatif sebagai sentra keris terbesar di dunia. Tampilan Desa Aeng Tontong tak ubahnya seperti desa-desa lain yang “tidak menyumbangkan” prestasi sama sekali.

Pemerintah Kabupaten Sumenep, harusnya memberikan perhatian lebih kepada Desa Aeng Tongtong, karena telah ikut serta mengangkat harkat dan martabat Sumenep hingga ke level Internasional. Paling tidak, jalan-jalan di Desa Aeng Tongtong aspalnya bertahan lama dan tidak mudah rusak dalam hitungan minggu, atau Pemerintah Kabupaten membuatkan gedung besar hingga menjadi mercusuar peradaban baru yang bisa dibanggakan oleh genarasi berikutnya.

Jadi, percuma saja Desa Aeng Tongtong yang terkenal ke suluruh manca negara, jalan-jalannya rusak dan tidak merepresentasikan Visit Sumenep 2018 yang dibanggakan oleh para pemimpinnya. Perlu dipikirkan kembali oleh siapa pun yang punya tanggung jawab moral, agar desa-desa yang berprestasi direnovasi menjadi lebih baik dari desa-desa lain.

Harapannya, desa-desa lain yang tak punya prestasi bisa berlomba-lomba untuk memajukan desanya. Dengan demikian, Desa Aeng Tongtong bisa menjadi cikal-bakal kemajuan Sumenep di masa yang akan datang, kecuali para pengambil kebijakan tidak respek dan hanya “mengambil untung” dari desa-desa yang kreatif dan berkembang.

Diakui atau tidak, prestasi Desa Aeng Tongtong tidak dibiayai oleh pemerintah Kabupaten. Para penduduknya berkreasi sendiri. Maka, jika tiba-tiba prestasi Desa Aeng Tongtong diklaim sepihak tanpa ada kontribusi balik dari pihak pemerintah kabupaten, kan sungguh TERLALU!

Di harapkan, pihak Kabupaten Sumenep mau mengerti apa yang dikehendaki penduduk Desa Aeng Tongtong, sehingga Desa Aeng Tongtong sebagai sentra keris terbesar di dunia, tampil mengagumkan dan sesuai dengan gembar-gembor yang berkembang di luar sana. Hasilnya, wisatawan tidak kecewa saat bertandang.  

Desa Aeng Tontong dengan ratusan Empunya patut mendapat penghargaan yang setimpal, agar lebih bersemangat dalam berkreasi. Bentuk penghargaannya bisa berupa terbangunnya infrastruktur yang sesuai dengan budaya masyarakat Aeng Tongtong, atau paling tidak, tak ada jalan-jalan rusak, sehingga Desa Aeng Tongtong layak menjadi pusat keris dunia.


Tidak banyak kerajinan masyarakat suatu desa yang tembus dunia, maka oleh karenanya, melestarikan sesuatu yang ada di desa Aeng Tongtong saat ini sangatlah urgen dalam perspketif budaya, bukan dalam perspektif orang-orang yang sok paling beragama dan mengharamkannya.

Semoga pemerintah kabupaten, provinsi dan pemerintah pusat tidak lalai menjaga warisan budaya bangsa Indonesia yang kian banyak diakui oleh masyarakat dunia sebagai suatu kearifan. Tentu saja, masyarakat Aeng Tongtong lebih proaktif untuk memberdayakannya. Setidaknya, regenerasi terus berlangsung dan menjadi tradisi turun-temurun.

Bagi Anda yang hendak mengoleksi karya Empu Aeng Tongtong bisa langsung datang ke tempat, atau bisa melalui chating ke nomor 08133422203. Semoga kita tetap bisa menjaga warisan luhur nenek moyang kita.


Sumenep, 09 Mei 2019

Penulis: Nun Urnoto El Banbary
Editor: Qurratul Aini

0 komentar

PEMABUK JURA II

Saya diundang menghadiri grand final “Lomba Penulisan Buku Bacaan Sekolah Dasar” di Solo, yang bertempat di hotel Lor In mulai 23-26 Oktober 2018. Saya paling males melakukan perjalanan jauh, termasuk menghadiri grand final itu, tetapi karena hadiahnya lumayan besar, akhirnya saya pasrah juga melakukan perjalanan jauh yang mengkhawatirkan itu. Kekhawatiran saya tidak lain adalah mabuk darat.hihi

Soal mabuk, saya ini sangat trauma pada perjalanan masa lalu saat saya ke Jember. Bayangkan, dari Sumenep hingga terminal Tawang Alun saya mabuk. Sumpah, saya pusing, pening, dan rasanya mau mati. Nah, trauma itu membuat saya hanya naik bisa sudah mau mual. Apes. Sungguh sial jika saya berjalan jauh.

Panitia memang menyediakan segala fasilitas perjalanan, mulai naik bis, mobil pribadi, naik kereta, hingga naik pesawat terbang. Mikirnya sih mau naik pesawat, tapi perasaan takut jatuh menghantui isi kepala. Bukankah kalau jatuh dari pesawat tak ada sisa? Tambah ngeri diriku. Mau naik kereta, tiket habis. Beruntung, pulangnya bisa naik kereta beramai-ramai bersama kawan-kawan lain dari Jawa Timur.

Di tempat acara, saya mengahadapi sidang dari dewan juri yang ramah-ramah, meski akhirnya dewan juri yang ramah-ramah itu menjatuhkan vonis pada saya sebagai juara II. Tentu saja, saya tak perlu protes sana-sini dengan menyebut dewan juri curang dan sebagainya. Saya menerima dengan lapang dada hasil keputusan, sambil berpikir untuk menjadi lebih baik dengan karya-karya berikutnya. Bukankah, warga negara yang baik seperti itu?


Pak Thomson dan Putranya Jadi Juara
Lomba dengan fasilitas megah di hotel bintang 5, sudah membuat saya nyaman. Pulang pergi dikasih ongkos, ditambah uang saku lagi. Peserta lomba diistimewakan dan dimanja, meski sebagian peserta memprotes penarikan pajak yang terlalu besar untuk peserta lomba. Tidak hanya itu, peserta juga sempat memprotes panitia yang pada tahapan berikutnya, hanya mengundang juara I dan II. Setelah diprotes, akhirnya panitia mengabulkannya. Tentu saja, protesnya tak perlu terun ke jalan mengerahkan massa yang tak tahu apa-apa tentang persoalan yang kami hadapi.

Mengikuti lomba menulis, hanya salah satu bagian untuk menegaskan bahwa diri saya ini tidak hanya pandai melamun, tetapi juga bermanfaat melalui lamunan-lamunan yang dikonkretkan melalui naskah karya tulis. Seluruh rakyat Indonesia yang berjuta-juta dipersilakan untuk ikut serta, dengan ketentuan yang sudah ditetapkan oleh panitia. Dan, menyisihkan peserta lain bukan perkejaan gampang, tetapi membutuhkan kerja keras yang sungguh-sungguh.

Jumpa Senior
Semoga lain waktu, saya masih bisa mengikuti kompetisi lain, dan tentu saja ingin menjadi juara tanpa harus ngotot menjadi pemenang, sebelum dewan juri menetapkan pemenangnya. Dan, yang paling penting saya tidak mabuk darat lagi, apalagi sampai takut naik pesawat terbang.hihi

Mari berkompetisi dalam kebaikan, bukan berkompetisi dalam kerusakan dan keburukan lainnya. Semoga Allah menguatkan kita. Selamat “Menunaikan Ibadah Puasa.”


Oh, Iya. Ketika saya menulis catatan yang tertinggal ini, teringatlah dalam lamunan kawan-kawan dari non-jauh di sana seperti Kang Acep, Pak Thomson, Bu Zahra, Bu Erawati, Mbak Dinni Tresnadewi, Kang Wiranto, dan yang lainnya. Mereka adalah kawan sebangsa yang tanah lahirnya belum pernah saya singgahi. Semoga kami dipanjangkan umur sehingga bisa bersua kembali.




Penulis: Nun Urnoto
Editor: Qurratul Aini

0 komentar

LOMBA BLOG 2019


Bagi Anda yang punya blog, berkesempatan mengikuti lomba ini. Tema kali ini adalah “Pendidikan Keluarga.” Berikut ketentuan lomba blog 2019 yang diadakan oleh Kemendikbud. Ayo, jangan sia-siakan kesempatan emas ini, sebelum akhirnya menyesal.

Tema Lomba Blog 2019: Pendidikan Keluarga
Lomba blog pendidikan keluarga tahun 2019 ini bertema "Peran Keluarga dan Masyarakat Dalam Membudayakan Literasi"

Bentuk Lomba Blog
Lomba ini berbentuk penulisan naskah blog berbentuk opini, pemikiran, atau pengalaman sesuai dengan tema lomba.

Sasaran Peserta
Peserta lomba penulisan naskah blog ini dapat diikuti oleh masyarakat luas tingkat nasional diikuti dari 34 provinsi di Indonesia.

Persyaratan Peserta
Persyaratan peserta pemilihan lomba penulisan blog pendidikan keluarga tingkat nasional terdiri dari persyaratan administratif peserta dan persyaratan penulisan blog.

Persyaratan administratif peserta yakni sebagai berikut.
§  diikuti masyarakat umum
§  hanya boleh mengirimkan 1 (satu) naskah blog
§  peserta tidak dipungut biaya
§  bukan pegawai kemendikbud
§  memiliki profil blogger yang jelas dan lengkap, bukan anonim
§  Peserta memposting tulisan sejak tanggal 15 April 2018 
§  Blog peserta telah aktif minimal sejak tanggal 15 Apri 2018 yang ditandai dengan adanya berbagai tulisan sebagai bukti aktivitas penulisan secara aktif.
Persyaratan penulisan naskah blog
§  relevan dengan tema
§  bersifat aktual, kreatif, inovatif, kekinian
§  tidak mengandung unsur SARA dan pornografi
§  karya asli yang bukan hasil plagiat
§  menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar
§  belum pernah dan tidak sedang diikutsertakan dalam lomba sejenis
§  mencantumkan tanda taga (hastag) #SahabatKeluarga dan #LiterasiKeluarga.

Prosedur Lomba
Lomba penulisan blog ini mengikuti prosedur sebagai berikut:
§  untuk mengikuti lomba blog 2019 pendidikan keluarga yang diselenggarakan Kemendikbud tahun 2019, peserta harus melakukan registrasi melalui laman resmi Pembinaan Pendidikan Keluarga (https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/) pada kanal Lomba Pendidikan Keluarga sejak tanggal 15 April s.d 30 September 2019
§  Tulisan sudah dipublikasikan di blog milik sendiri selama 15 April s.d 30 September 2019
§  Nominasi pemenang akan diumumkan pada tanggal 25 Oktober 2019 dan dapat dilihat melalui laman resmi Pembinaan Pendidikan Keluarga (https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/)
§  Hadiah akan diberikan pada kegiatan Apresiasi Pendidikan Keluarga pada bulan Nopember 2019.
Penentuan Pemenang
Karya penulisan blog yang memenuhi persyaratan dan penilaian maka juri dan panitia akan menentukan pemenang dengan urutan juara 1, 2, dan 3 serta juara harapan 1 s.d 7.

Hadiah Pemenang
Pemenang lomba penulisan blog tahun 2019 akan mendapatkan hadiah sebagai bentuk penghargaan berupa trophy, sertifikat serta uang pembinaan dengan total hadiah sebesar Rp. 46.000.000.

Adapun rincian penghargaan bagi pemenang ditentukan sebagai berikut.
§  Pemenang I : Rp. 7.000.000
§  Pemenang II : Rp. 6.000.000
§  Pemenang III : Rp. 5.000.000
§  Pemenang harapan : 7 orang @Rp. 4.000.000
Note: Pajak hadiah ditanggung pemenang.

Sumber: https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/


0 komentar

GUS MUWAFIQ SANG JURU DAMAI

Gus Muwafiq yang kondang di seantero jagat Nusantra, dan cermah-cermahnya menyejukkan isi kepala dan isi dada, hadir ke Pondok Pesantren Annuqayah (23/4/2019) dalam rangka penutupan haflatul imtihan. Dai Milenial yang pernah di daulat menjadi penceramah di istana negara itu, tampil memukau dan membuat jemaahnya terksima.

Gus Muwafiq menyampai tema besar tentang Santri Nusantara dengan segala kekayaan lokalitasnya, yaitu kekayaan yang tak dimiliki oleh negeri-negeri lain di belahan dunia. Baik mulai dari kekayaan alamnya, hingga kekayaan budayanya yang katanya hingga saat ini mampu menjaga keutuhan bangsa dan negara, meski belakangan banyak bermunculan santri-santri Google yang tidak mengakui kekayaan budaya bangsanya sendiri.

Ceramah-ceramahnya, baik yang saya saksikan di youtube atau di mimbar-mimbar pengajian lainnya, memberikan kesejukan, sehingga Gus Muwafiq menjadi idola banyak generasi, mulai dari generasi old hingga generasi millinneal. Gus Muwafiq tampil kepermukaan ketika orang-orang yang mengaku ustaz bermunculan dengan cermah-ceramahnya yang menyesatkan dan membakar emosi, serta menebarkan kebencian atas nama agama.

Ceramah-ceramahnya, menjawab semua ketersesatan yang mereka tebarkan dengan pendekatan hikmah, tanpa memaki dan memisuhi ustaz-ustaz yang sudah terlanjur menciptakan keonaran. Maka, berdasar itu semua, Gus Muwafiq layak dijuluki sebagai Sang Juru Damai.

Juru damai adalah tabiat positif yang melekat kepada semua para nabi, para rasul, para wali, para ulama, dan orang-orang salih yang mendapat hidayah dari Tuhan yang Maha Pemberi Keselamatan. Ucapannya menyejukkan dan tak melukuai. Tidak pula menyisakan dendam, dan angkara murka. Bahkan tuturnya menjadi rujukan sepanjang masa.

Jika ada penceramah, atau yang mengaku paling beragama, baik pengakuan itu secara lisan atau perbuatan, tetapi tabiatnya bertentangan dengan akhlak para nabi, para rasul, para ulama dan orang-orang saleh, maka mereka adalah iblis dan bala tentaranya yang menjadikan agama sebagai kedok untuk merusak kedamaian. “Tak ada agama” bagi mereka yang sengaja menanamkan kerusakan, kebencian, dan permusuhan, apalagi yang membantai nyawa-nyawa. Dan, mereka harus dilawan. Bentuk perlawanannya tetap menggunakan metode ahlussunnah waljamaah ala Nahdhatil Ulama sebagaimana dicontohkan oleh Gus Muwafiq, Gus Mus, Gus, Miftah, Cak Nun, dan yang lainnya.

Setiap dai atau penceramah memang berbeda metode, meskipun demikian bukan berarti seenaknya sambil memaki-maki yang berbeda. Agama tetap melarang siapa pun untuk memisuhi dan mengumpati. Siapakah Rasul yang suka mengumpat seenak perutnya? Tentu saja tak ada, karena memaki bukan mendamaikan umat, tetapi hanya membuat kisruh keadaan yang damai.

Kiai Muafiq yang notabene jebolan pesantren dan lahir dari rahim NU, adalah penceramah yang mendamaikan dan layak untuk kita undang pada acara-acara pengajian dan semacamnya. Di negeri yang damai ini, tegakah kita menciptakan kegaduhan dan kegelisahan dengan mendatangkan tukang caci maki? Tentu saja tidak, karena kita punya hati dan perasaan, juga punya ajaran agama yang Maha Agung sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Baginda Rasulullah Muhammad saw.

Jika Anda ingin jadi penceramah yang mencerahkan, maka contohlah Gus Muwafik dan ulama-ulama NU lainnya. Mereka lembut, tetapi bukan berarti lemah. Mereka adalah lautan ilmu yang tak beriak. Mereka tenang dan mendamaikan. Lihat wajahnya saja sudah serasa ada di surga. Coba lihat yang sarkas dan suka teriak-teriak dengan menggunakan nama Tuhan, pasti menggelisahkan.

Agama tidak membawa keributan, tetapi agama membawa kedamaian, karena agama adalah sebagai rahmah bagi semista alam. Mari beragama yang sehat dan menyejukkan. Jaga agama, jangan sampai dijadikan tunggangan politik bagi mereka yang haus kekuasaan. Sungguh, dosanya teramat besar, karena kesucian agama telah disekutukan dengan kekotaran politik orang-orang yang ambisius.

Penulis: Nun Urnoto El Banbary
Editor: Qurratul Aini   
0 komentar

CERITA DARI PEKAN NGAJI II DI BATA-BATA

Satu kehormatan diundang pada acara Pekan Ngaji 2 di Pondok Pesantren Bata-Bata (5/2/2017), untuk membedah novel Anak-Anak Pangaro yang saya tulis sendiri dan diterbitkan oleh PT. Tiga Serangkai Solo Semarang. Novel Anak-Anak Pangaro yang sebelumnya telah dibedah di berbagai tempat, terus mengepakkan sayapnya, seolah hendak mengabarkan kepada jiwa jiwa pembelajar untuk membacanya hingga tuntas.

Novel Anak-Anak Pangaro tidak hanya mendapat apresiasi untuk dibedah, tetapi juga mendapat apresiasi pujian dari http://benzainrumiyen.blogspot.com/ dan bahkan dijadikan bahan penelitian oleh kaum intelektual di kampus-kampus terkemuka http://eprints.ums.ac.id/50154/12/NASKAH%20PUBLIKASI.pdf. Hal itu menunjukkan novel Anak-Anak Pangaro menyimpan sesuatu yang unik bagi pembacanya. Meski sekadar juara harapan di MetaMind Tiga Serangkai dan sempat menjadi nominasi enam besar pada lomba Tulis Nusantara, Anak-Anak Pangaro mendapat tempat tersendiri di hati pembacanya.

Saya tidak sedang berpromosi, tapi hanya menyampaikan apa adanya tanpa bermaksud melebih-lebihkan. Seumpama dianggap berlebihan, itu Anda sendiri yang berpikir berlebihan. Saya, pikir Anda belum membacanya bukan? Maka segeralah membaca agar bisa tahu nilai karomahnya. Kwkwkwk.

Kembali pada pekan ngaji. Baliho besar yang terpampang di halaman pesantren, terdapat foto saya yang ganteng dan penuh pesona. Berjejer dengan orang-orang besar dari dalam dan luar negeri, dan membuat istri saya kian terkesima. Hihi. Siapa istri yang tak terkesima dengan suami yang mendapat tempat bersama orang-orang terhormat. Anda, mungkin menganggapnya biasa-biasa saja, karena Anda memang tidak sedang luar biasa. Sekali lagi, tidak sedang luar biasa. kwkwk. Guyon oi.

Bagaimana cara Anda bisa menjadi luar biasa? Anda harus mengkhatamkan novel saya dalam waktu lima menit. Itu saja, untuk menjadikan Anda luar biasa. Asem,kwkwk.

Pesantren besar di tanah Madura itu disesaki oleh ribuan santri dengan latar belakang berbeda dan keinginan yang tidak sama, tapi mereka rata-rata menyukai sastra. Bukankah novel adalah karya sastra, dan penulisnya bisa disebut sastrawan? Namun, saya tak sudi disebut sastrawan. Saya lebih suka disebut PELAMUN. Pelamun lebih merdeka, lebih bebas berkelana ke ruang-ruang terlarang yang tak banyak disinggahi orang alim, atau orang-orang kebanyakan yang takut melamun.

Sebenarnya, bedah novel lebih pada mempromosikan karya. Lebih banyak mengupas positifnya daripada negatifnya. Sebelum dibedah, seharusnya peserta sudah khatam membacanya. Jika tidak, maka bedah buku menjadi tidak seru dan yang pasti bahasa promosinya lebih mendominasi, apalagi tidak ada pembandingnya. Maka, forum akan menjadi mati. Kritik dan apresiasi tidak berfungsi sama sekali. Itulah kesalahan besar dalam banyak bedah buku yang luput dari perhatian para penyelenggara, termasuk pada pekan ngaji itu.

Undangan menjadi narasumber di Pekan Ngaji 2 di Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata bisa menjadi sesuatu yang luar biasa, bagi orang kecil macam saya. Dan, bisa menjadi biasa-biasa saja bagi orang-orang besar yang sudah biasa. Berbeda lagi dengan orang-orang yang sok besar, dan tidak mengerti tentang apresiasi, atau berbeda pula dengan orang yang sedang iri hati dengan prestasi.

Pernah sekali, saya dituduh sedang pamer dan menyombongkan diri ketika di share di grup-grup WA, FB, atau Instragram. Seolah saya sedang congkak. Padahal, saya dengan melakukan kampanye besar-besaran agar budaya literasi menjadi satu aktivitas primer yang mencerdaskan.

Bukankah aktivitas literasi sedang mati di lingkungan Anda? Anda meski seorang guru atau dosen, belum tentu rajin membaca apalagi punya karya tulis, kan? Nah, itu jelas masalah besar yang harus Anda selesaikan sendiri. Bukan malah suka menuduh jiwa lain yang sedang merampungkan pekerjaannya.

Bedah novel Anak-Anak Pangaro selesai menjelang matahari tenggelam, dan saya pulang saat sudah petang. Petang yang menantang jalan. Membuat momen itu layak saya kenang untuk saya wariskan kepada anak-anak saya sebagai motivasi perjuangan mengampanyekan ajaran-ajaran Tuhan. Baca-Tulis harus didakwahkan, agar masyarakat punya pegangan dan tak sesat jalan.

Berapa saya dibayar, itu tak jadi soal, karena saya tidak sedang berjualan. Menjual pengetahuan adalah bentuk kekurang ajaran, dan hal itu bertentangan dengan prinsip-prinsip dakwah yang diajarkan oleh agama saya. Apakah Anda sudah mengetahuinya? Jika belum silakan bertanya, atau belajar lebih keras lagi agar tidak menimbulkan anomali-anomali dalam hidup Anda yang sebentar saja.

Sekian saja, semoga Anda bisa diundang forum-forum terhormat, bukan forum-forum yang membuat Anda teler mencekik botol. Mari berprestasi. Bukankah surga tempatnya orang-orang berprestasi. Dan, saya tidak sedang merasa berprestasi. Saya sedang memotivasi. Itu pun jika pikiran Anda tidak ditumbuhi pikiran dengki.hihi

Bedah buku sebagai bagian dari literasi merupakan upaya untuk menyiapkan masa depan yang lebih baik, agar bumi tidak dipenuhi banyak ketimpangan sosial yang berakibat pada keributan yang meruwetkan isi bumi. Kira-kira seperti itu, yang dikehendaki ruang bedah buku pada momen Pekan Ngaji 2 yang diadakan oleh Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata Pamekasan Madura.


Blogger, Nun Urnoto El Banbary
Baru sempat didokumentasikan.
0 komentar

LELAKI PERKASA CAP BINTANG SEMBILAN

Lelaki tidak tercipta dari tulang rusuk wanita. Ia hadir tersendiri dari sang maha pencipta semesta dengan segala rahasianya. Ia perkasa, dan sebab itulah Tuhan mengutus setiap lelaki menjadi utusan-Nya. Belum ada dalam sejarah manusia, utusan-Nya berasal dari kaum hawa. Sehebat Maria pun yang malahirkan Yesus, tak diangkat menjadi utusannya. Benar-benar perkasa kaum lelaki. Tak ada duanya di muka bumi. Nyaris sempurna dibanding ciptaan yang lainnya, meski lelaki banyak yang kalah saat bertarung di atas ranjangnya sendiri.


Hampir seluruh makhluk mengaguminya, termasuk para malaikat sendiri, kecuali iblis dan bala tentaranya. Satu-satunya makhluk yang memusuhi kaum lelaki adalah iblis. Iblis dengan segala caranya hendak mengacaukan hidupnya. Bahkan, perempuan-perempuan yang penuh pesona diperalat untuk menjerat dan menjerumuskan para lelaki perkasa itu. Kadang pula, lelaki dijerat dengan takhta yang menghalalkan segala cara untuk meraihnya. Kadang pula, iblis menggodanya dengan harta benda, hingga akhirnya terjebak korupsi.

Sudah berapa banyak lelaki yang sebelumnya alim, pintar, jujur, cerdas, lalu terperosok dalam jurang hina hanya gara-gara jebakan yang dibuat oleh iblis dan sekutu-sekutunya. Iblis punya sekutu, yaitu binatang-binatang yang dipengaruhi instingnya, termasuk manusia-manusia yang terhipnotis akal sehatnya dan akhinya menjadi tukang ngibul bagi sesamanya.

Lelaki perkasa tak akan terpengaruh oleh apa pun. Ia akan kuat menghadapi makhluk lain, bahkan makhluk yang sering menemani tidurnya—yang konon tak terkalahkan kecuali mengonsumsi viagra atau hajar jahanam dari negeri wahabi. Apakah Anda termasuk lelaki sejati? Lelaki yang perkasa dengan segala keantikannya? Jawablah sendiri, jika Anda memang lelaki perkasa.

Jika Anda lemah dan keperkasaan Anda letoy termasuk saat memainkan adegan ranjang, maka cukuplah mengonsumsi madu cap Bintang Sembilan. Madu asli dari tanah Madura yang satu ini sangat ampuh, dan bikin tubuh menghangat bahkan memanas. Lalu, Anda yang letoy akan gampang mengendalikan rudal balistik menuju sasaran.

Anda tak akan mempercayainya, sebelum Anda mencobanya. Silakan hubungi distributor melalui ponsel 081334222203. Semoga Anda menjadi perkasa, dan tak letoy menghadapi apapun. Aamiin....


Sumenep, 29 Maret 2019

Penulis, Urnoto.
Aktivis lelaki perkasa.



0 komentar

GUS DUR DICATUT

Gus Dur dicatut menjadi nama fanspage “GUS DUR SANG GURU BANGSA” yang isinya sangat tak elok, yaitu tempat kampanye buruk yang berisi umpatan dan caci maki. Hampir setiap menit ungkapan buruk bertengger di beranda itu. Admin sepertinya memang sengaja tidak memproteksi segala yang buruk, bahkan terkesan membiarkan satu kubu lebih mendominasi. Penulis beberapa kali berusaha memposting yang berseberangan, tetapi tidak bisa masuk. Jadi, fanspage tersebut segaja dibuat untuk kubu yang jadi junjugannya.
Dok. kabarnun.com

Barangkali, bagi Gus Dur sendiri hal itu tidak menjadi soal, dan dianggapnya “itu aja kok repot”, tetapi bagi budaya santun di Indonesia yang tengah berusaha mengembangkan pendidikan karakter penuh moralitas, hal itu sangatlah menganggu. Jika dibiarkan, akan berkembangbiak menjadi virus yang menganggu persatuan dan kesatuan bangsa. Jika Gus Dur bukan orang yang dimuliakan, tak banyak pengikutnya, bukan kiai, atau bukanlah mantan presiden, barangkali tidak perlu terlalu dihiraukan—meski begitu, persoalan moral yang terdapat di dalamnya harus tetap mendapat perhatian.

Seteru di dalamnya lebih banyak membahas tentang pilpres, dan kedua kubu saling serang dengan kampanye-kampanye yang tidak etis menurut adat, dan budaya yang berkembang di negeri ini, terlebih lagi menurut agama. Selain soal pilpres, ormas NU juga diseret-seret dan ketuanya dimaki-maki sedemikian rupa, seolah ketua PBNU lebih berdosa daripada iblis. Suatu reaksi yang cukup berlebihan dan kentara sekali, bahwa umpatan-umpatan yang keluar dari mulut mereka bukanlah hasil pendidikan yang ada di Indonesia. Entah dari mana!

Pihak-pihak terkait mestinya memerhatikan hal seperti itu, karena sangat berpotensi menimbulkan pertengkaran hingga ke dunia nyata, juga sebagai indikasi terpuruknya pendidikan di tanah air yang entah dihasilkan dari sekolah macam mana pula hal itu. Proteksi dini sebagai antisipasi berkembangnya hal-hal amoral yang bertentangan dengan warisan budaya bangsa, juga ajaran agama yang ada di tanah air Indonesia yang penduduknya mayoritas beragama Islam.

Kasus fanspage yang mencatut nama KH. Abdurrahman Wahid dengan segala keburukan isinya menjadi satu keberanian kaum amoral untuk menginjak-injak moral bangsa dengan cara menginjak-injak kehormatan tokoh-tokohnya. Gusdurian mesti mengambil tindakan untuk melacak siapa sesungguhnya konspirator di balik faspage itu. Kita hendak menjaga marwah Kiai, dan tokoh-tokoh bangsa agar tidak menjadi sejarah buruk bagi generasi berikutnya.

Sepertinya, fanspage itu segaja dibuat dengan memanfaatkan ketenaran Gus Dur agar banyak orang bergabung di dalamnya, dan dibuat jauh hari sebelum pilpres, hingga kemudian menemukan momentumnya untuk mengadu domba sesama anak bangsa. Bukti adu domba dengan segala tebarannya yang amoral tersebut, terbukti dibiarkannya sarkasme yang bertentangan dengan agama dan undang-undang IT yang berlaku di Indonesia.

Di sana banyak akun-akun anonim yang tebarannya lebih parah, dan penulis kira pihak berwajib mampu melacak siapa mereka yang melakukan tebaran sarkastik, kebencian, dan adu domba yang maha miris tersebut. Pernah ada video Maaher at-Thuwailibi yang di share sambil mengeluar fatwa ngawur dan tak bermoral seperti video pada chanel berikut: https://www.youtube.com/watch?v=NpPf6RN_J-4 juga video lainnya. Silakan simak sendiri dan gunakan akal sehat.

Sebagai bangsa yang bermoral, tentu kita tidak ingin negeri ini hancur oleh hanya karena perbedaan pilihan pilpres. Kita tentu juga tak ingin negeri ini hancur seperti negeri-negeri Islam timur tengah yang berseteru tak kunjung usai selama bertahun-tahun. Kalau bukan kita sendiri yang menjaganya melalui penegakan hukum dan melalui kuatnya budaya di tengah-tengah masyarakat, lalu siapa lagi? Belanda? Jepang, Inggris?

Mari majukan negeri ini dengan perbuatan-perbuatan positif, dengan prestasi-prestasi yang berdaya guna bagi bangsa dan negara, bahkan bagi seluruh kehidupan manusia di muka dunia. Kita berharap, konspirator yang telah mencatut nama KH. Abdurrahman Wahid segera bertobat dengan segala proses hukumnya.


Sumenep, 26 Maret 2019



Penulis, Nun Urnoto
Penulis fiksi, tinggal di Rumah Baca Anak-Anak Pangaro
0 komentar

ISTRI DI RUANG MEDIA SOSIAL

Setiap zaman selalu punya cerita, dan cerita zaman digital kali ini akan membincang istri salihah yang didamba oleh setiap suami dan dirindukan surga. Ruang publik terbuka lebar, yang memungkinkan siapa saja untuk eksis di tengah-tengahnya, termasuk seorang istri yang selama ini hanya berkutat di wilayah domestik:memasak, mencuci, dan urusan kasur.

Sebelum era digital, peran istri hanya terbatas sebagai ibu rumah tangga saja. Segala sesuatu dikerjakan oleh kaum lelaki. Agama menjadi alasan utama untuk membatasi ruang geraknya, ditambah oleh ketatnya tradisi (gibah) sebagai penghakiman atas segala tingkah lakunya. Orang-orang akan membicarakan setiap geraknya yang keluar dari tradisi yang berlaku ditempat yang bersangkutan. Akibatnya, batinnya akan dihukum.

Dok. kabarnun.com
Berbeda dengan istri era milenial. Mereka mulai mengambil peran di ruang publik dengan (misalnya) menjadi anggota DPR, Gubernur, Bupati, Camat, hingga menjadi Presiden, bahkan di media sosial—yang juga ruang publik—, mereka ikut ambil bagian meski hanya sekadar pamer wajah.

Pamer wajah di sini hanya memerankan diri untuk mencuri perhatian orang lain. Dan, (tafsir positifnya) siapa tahu kelak menjadi artis dan bisa mengambil peran menjadi Bupati, Gubernur, Presiden, dan paling apes mendapat jodoh ganteng, banyak teman bagi yang sudah berstatus istri. Hanya saja, bagi yang berstatus istri jika tidak pandai-pandai menjaga diri di ruang publik akan menimbulkan petaka bagi kehidupan rumah tangganya. Sudah banyak kisah perceraian, akibat over acting di ruang publik yang liar, bernama medsos.

Media sosial sebagai ruang publik era milenial bak belati. Salah menggunakannya, akan melukai diri sendiri dan orang lain. Itulah sebabnya, mesti pakai ilmu untuk menggunakannya. Google dan youtube banyak menyediakan pengetahuan untuk menggunakannya. Sementara sekolah-sekolah formal masih abai untuk mengajarkannya. Akibatnya, banyak anak-anak yang masih usia sekolah terjerat undang-undang IT.

Bagi kaum hawa yang berstatus istri bisa melakukan hal-hal berikut dalam bermedsos, agar tidak menimbulkan fitnah bagi kehidupan rumah tangganya.

1. Izin Suami
Istri minta izin kepada suaminya dengan segala alasannya yang logis. Jika alasannya hanya untuk memamirkan kecantikan, sebaiknya jangan coba-coba minta izin, sebab suami akan cemburu wajah istrinya dinikmati lelaki lain, kecuali suaminya steheng alias otaknya sudah tidak sehat.

Jangan lupa, jika wajah istri menimbulkan syahwat bagi lelaki lain, itu bisa mendatangkan petaka yang mengundang dosa. Wajah perempuan yang dicipta penuh pesona oleh Tuhan—ulama fiqh menghukuminya sebagai aurat yang harus dijaga. Dijaga yang dimaksud tidak harus ditutupi serupa pakaian ninja, tetapi bisa cukup dengan menjaga diri di ruang publik agar tidak genit dan mengundang berahi lelaki yang memang dicipta susah tahan menghadapi pesona lawan jenisnya.

Menjaga diri dengan pakaian ala ninja juga tidak mengapa, asal tidak mengundang para penjahat kelamin penasaran di balik pakaian ala ninjanya. Semua serba kemungkinan bukan? Tak ada jaminan menutup semua tubuh terbebas dari kejahatan. Tapi biasanya, menutup aurat lebih dihargai oleh kaum lelaki.

2. Memilih Teman Medsos
Bagi seorang istri, apalagi yang punya wajah mempesona dengan bantuan kamera, sebaiknya jangan asal menerima teman, atau memilih teman. Seleksi dulu isi statusnya pada media yang digunakannya, kecuali punya kemampuan filtering luar biasa yang mampu menyaring banyak kotoran. Kemampuan filtering modal penting agar terhindar dari segala keburukan yang mengancam eksistensinya sebagai perempuan publik—meski hanya sebatas penjual online baju-baju anak, misalnya. Remove saja setiap teman yang berpotensi menimbulkan petaka, dan kekacauan, agar tidak menimbulkan kegaduhan. Kegaduhan pasti menimbulkan ketidaknyamanan, terutama kepada presiden rumah tangga.

3. Komunikasi Positif
Lakukan komunikasi seperlunya. Jangan sampai berlebihan, agar tidak menimbulkan kesan atau tafisr yang negatif bagi suami atau teman-teman medsos lainnya. Sudah banyak fakta orang salah paham dalam melakukan kominikasi tertulis di media sosial lalu discrenshoot dan disebarkan. Maka, jadilah fitnah yang luar biasa, dan menimbulkan petaka yang tidak dikehendaki, baik dalam pertemanan terlebih dalam kehidupan berumah tangga.

4. Kebermanfaatan
Bermedia sosial-lah yang ada manfaatnya. Jangan hanya menghabiskan kuota untuk sesuatu yang tidak jelas, dan buang-buang waktu untuk keharmonisan rumah tangga. Oleh karenanya, tanyakan pada suami apa manfaatnya bermedia sosial, atau tanyakan pada yang lebih berpengalaman tentang dampak positif dan nigatifnya. Alasan manfaatnya boleh saja memperbanyak teman yang kelak bisa dimintai bantuannya, atau jualan online, atau menebar kebaikan dalam bentuk tulisan yang mencerahkan, dan lain sebagainya.

Intinya, segala gerak dalam bermedsos tidak merugikan diri sendiri, keluarga, dan orang lain. Pendeknya, tidak seperti pendukung kedua calon presiden yang terus berseteru dan tak kunjung mereda.

5. Terbuka
Sebaiknya, ponsel suami dan istri saling terbuka dan keduanya bebas saling melihat isi ponselnya, sehingga tidak menimbulkan persepsi yang negatif. Jika ada hal-hal yang tidak disenangi bisa dimusyawarahkan antar keduanya, dan tentu saja jangan sampai cemburu buta jika ada temannya berguyon melampai batas.

Jagalah diri dan teruslah bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga, dan orang lain. Medsos tidak akan menimbulkan petaka jika digunakan sebagaimana mestinya. Tak ada pisau haram yang digunakan untuk memotong rumput sendiri. Demikian juga dengan media sosial yang kehadirannya tak bisa dihindari lagi.

Tampil saja di depan publik sesuai dengan kapasitas dan kebutuhannya. Terimalah segala resikonya sebagai akibat dari perjalanan kehidupan. Dan, yang paling penting dapat menambah ilmu dan meningkatkan spiritualitas kepada Allah ‘Azza wajalla.


Sumenep, 26 Maret 2019



Penulis, Nun Urnoto.
Penulis novel Anak-Anak Pangaro,
Anak-Anak Revolsi, dan;
Memanjat Pesona.
0 komentar
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Kabar Nun - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger