"Surga tempatnya orang-orang berprestasi"(KH. Ilyasi Siraj, M.Ag.)




POSTINGAN HARI INI
print this page
POSTINGAN TERBARU

MENGGERAKKAN LITERASI ALA FAUZI

Perlu satu gerakan untuk mengimplentasikan literasi di sekolah dasar, yaitu gerakan membaca. Membaca menjadi gerakan paling vital, untuk mengawali gerakan literasi di seluruh sekolah dasar di tanah air ini. Musababnya, tak lain karena membaca menjadi kunci untuk membuka seluruh gudang ilmu pengatahuan. Namun, gerakan tersebut akan menjadi sia-sia jika seluruh stakeholder—mulai dari tukang sapu hingga kepala sekolah—tidak mengamalkan petuah Ki Hajar Dewantara, yaitu Ing Ngarso Sun Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, dan Tut Wuri Hadayani.

Jika falsafah super keramat yang menjadi lambang Kemedikbud ini diabaikan, dan sama sekali tidak menjadi amaliah keseharian di lingkungan sekolah, maka cacatlah aktivitas belajar mengajar, timpanglah aktivitas literasi yang menjadi gerakan, sebab anak-anak sekolah dasar membutuhkan teladan, niat kuat, dan dorongan yang digdaya, bukan obral teori yang akan menjadikan peserta didik menjadi jumud, bosan, dan akhirnya sekolah laksana penjara yang menyiksa. Namun, tidaklah demikian dengan sekolah dasar yang didirikan oleh Muhammad Fauzi di gang sempit Jalan Gatot Subroto, Desa Karangbong, Kecamatan Gedangan, Sidoarjo ini.   

Riwayat Penting
Begini riwayatnya: Bermula dari keprihatinan dan kecintaannya terhadap korban lumpur Lapindo di sekitar rumahnya, maka Fauzi sepulang nyantri di Banyuangi, dirundung gelisah berkepanjangan. Malam-malamnya dihantui mimpi buruk nan mengerikan. Ia tidak bisa tinggal diam melihat penduduk sekitarnya yang senasib dengan dirinya mengalami kendala akses terhadap ilmu pengetahuan.

Jika dirinya mendapat ilmu pengetahuan dari cara membaca untuk bahan-bahan tulisannya, maka Fauzi memandang perlu untuk memperlakukan hal yang sama terhadap masyarakatnya. Fauzi mengumpulkan buku-buku untuk dibaca, sehingga masyarakatnya punya pengetahuan, tercerahkan, apalagi bisa menulis seperti dirinya. Tentu saja, Fauzi bahagia.

Seiring waktu—sambil berjualan jamu—Fauzi terus mengumpulkan bahan bacaan yang dianggapnya sebagai sumber pengetahuan untuk didedikasikan kepada masyarakatnya yang tidak berdaya secara ekonomi. Fauzi menganggap tidak selayaknya pengetahuan hanya menjadi monopoli orang-orang beruang. Orang-orang miskin juga berhak mendapatkannya, dan Fauzi terus memperjuangkannya, meski harus merogoh omzet penjualan jamunya. 
 
Fauzi senantiasa hakulyakin, bahwa transaksi amaliahnya dengan tuhannya akan berujung dengan keberuntungan yang berlipat ganda. Itulah motivasi terbesar dalam perjuangan Fauzi mewujudkan cita-cita mulianya. Dan, Fauzi selalu menyampaikan hal itu dalam setiap kesempatan berbicara di hadapan publik, dengan tujuan sebagai motivasi.   

Sosok yang hanya tamatan sekolah menengah pertama itu terus menggalang dana untuk pengadaan buku, dan raknya. Gayung bersambut. Fausi kian bersemangat ketika mendapati bangunan usang Polindes. Ia segera menghubungi pihak yang berwenang untuk dimanfaatkan sebagai perpustakaan mini yang digagasnya. Usaha Fauzi berhasil, dan perpustakaan yang dimpikan itu kemudian diberi nama: Taman Ilmu Masyarakat. 

Kegelisahan Fauzi tidak berhenti sampai di situ. Baginya, perpustakaan tak cukup hanya menunggu pembaca datang. Orang-orang tidak bisa bergeser dari kesibukannya. Perpustakaan menjadi tempat yang sepi dan menyeramkan. Maka, Fauzi mengambil inisiatif untuk mengantarkan beberapa koleksinya kepada para pelanggannya. 

Sambil berjualan jamu, Fauzi terus mengampanyekan membaca dengan cara membawa buku-buku koleksinya di jok motornya, untuk dipinjamkan secara gratis kepada pelanggannya, atau ia titipkan di kedai-kedai yang bersedia mengamini maksud baiknya.

Bagi Fauzi, kampanye membaca sama dengan menyampaikan pesan tuhan yang tertera pada ayat pertama dalam surat al-‘Alaq, yaitu IQRA’. Itulah ruh perjuangannya, agar ia tak menjadi sia-sia dalam beramal.

Sekolah Gratis
Aktivitas Fausi menjadi perhatian banyak mata dan telinga, menjadi buah bibir dimana-mana, hingga akhirnya suara-suara masyarakatnya berpadu, meminta Fauzi  mendirikan Taman Pendidikan al-Quran (TPQ), dan berselang hitungan bulan, masyarakat meminta mendirikan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Fauzi tercengang. Tak dinyana secepat itu. 

Belum genap setahun, Fausi sendiri berinisiatif mendirikan Taman Kanak-Kanak (TK), hingga 2016 berdirilah Sekolah Dasar (SD) yang menjadi masterplan pembelajaran literasi yang terintegrasi dengan pelajaran Bahasa dan Sastra Indoensia. 

Fauzi tidak hanya memiliki semangat tinggi, tetapi ia termasuk sosok unik. Pasalnya, di tengah keterbatasan ekonomi yang mendera, Fauzi malah bernyali untuk menggratiskan sekolah yang didirikannya. Ia tidak takut kehabisan uang untuk menggaji guru-guru yang mengajar di almamaternya. Keyakinannya, tak lekang oleh keterbatasan ekonomi yang menyesakkan sendi perekonomian tanah air.

Implementasi Literasi: Membaca Melecutkan Potensi
Fauzi yang pernah menulis buku Trik Singkat Mendirikan Perpustakaan, dan buku Hati Tergerak Tangan Bergerak” menemukan momentumnya untuk mengimplementasikan hobi menulisnya di sekolah yang didirikannya, yaitu Sekolah Dasar Bustanul Hikmah. 

Mula-mula memberikan motivasi tentang nikmatnya menulis buku, sebagaimana yang sudah dialami oleh Fauzi sendiri, termasuk mengenalkan buku-buku yang dipegang oleh pesaerta didik sebagai sesuatu yang amat berharga dalam kehidupan orang-orang yang mencintai ilmu pengetahuan. Namun, sebelum Fauzi memberikan pembelajaran kepada peserta didiknya, lelaki yang dikarunia dua orang anak itu sudah wanti-wanti kepada para guru-guru sukarelawan yang mengajar di lembaganya, agar berbuat lebih awal sebelum seribu teori tertuang di hadapan peserta didiknya. Artinya, mereka harus rajin membaca dan menulis terlebih dahulu.  

Fauzi mengimpikan guru-gurunya merupakan jelmaan dari falsafah Ki Hajar Dewantara yang tertuang dalam kalimat sakral Ing Ngarso Sun Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Hadayani. Dengan demikian, seluruh stakeholder sekolah tak punya hutang moral kepada peserta didiknya ketika telah maksimal melaksanakan amanat pembelajaran. Fauzi tidak sekptis dengan kemampuan para guru, karena basic mereka di dunia literasi tidak perlu diragukan lagi.

 Kampanye membaca yang dilakukan Fauzi kepada peserta didiknya dari PAUD hingga Sekolah Dasar yang didirikannya, tidak lain merupakan satu rukun penting di dalam dunia tulis-menulis. Hal itu sejalan dengan petuah Stephen King dalam bukunya Stephen King on Writing, “tak ada jalan pintas menjadi penulis, kecuali membaca dan menulis.” Fauzi telah melakukannya sebelum mendirikan sekolah formal, dan sekarang menularkannya kepada seluruh civitas akademika yang ada di bawah naungan Yayasan Bustanul Hikmah yang di pimpinnya.

Fauzi membuka lebar-lebar perpustakaannya untuk siapa saja, terutama peserta didiknya yang rata-rata hidup dalam garis kemiskinan yang menderanya. Di buka full time, selama 24 jam. Ini merupakan rekor baru, melebihi perpustakaan-perpustakan sekolah yang lain, melampaui perpustakaan-perpustakaan yang dikelola birokrasi. Cara gila yang dilakukan Fauzi ini patut diteladani. Setidaknya, Fauzi diajak urun-rembuk atas suksesnya perpustakaan yang di kelolanya bersama Imroatul Mufidah, istri yang konon bersedia dipoligami. 

Tidak hanya membuka perpustakaannya selama 24 jam, Fauzi yang baru saja memasuki usia 36 tahun itu, juga mengantarnya ke warung-warung yang bersetia ikut serta menyedian buku-buku untuk pembelinya. Menurutnya, tidak akan ada yang membaca karya tulis anak didiknya, jika kampanye membaca menjadi gagal. Itulah musababnya, Fauzi benar-benar totalitas mengampanyekan membaca di mana-mana.

Implementasi Literasi: Menulis adalah Praktik
Baru, setelah (peserta didiknya) membaca, atau setelah dianggap kaya akan kosa kata, memancing ribuan ide yang mengendap, dan atau dipenuhi gizi-gizi pengetahuan, Fauzi dan segenap guru berpindah ke praktik menulis. 

Menulis masuk kurikulum tersendiri di sekolah yang dikelola Fauzi. Guru yang mengajar materi menulis, meminta peserta didiknya untuk setor tulisan setiap hari, meski tulisan itu hanya satu paragraph atau bahkan hanya terdiri dari tiga kalimat. Genre tulisannya bisa seputar cerita sehari-hari, atau semacam catatan harian, dan itu hanya diberlakukan di Sekolah Dasar Bustanul Hikmah yang dikelolanya, sedangkan sekolah TPQ, PAUD, TK, masih sebatas motivasi semisal sekadar mengisahkan penulis-penulis militan macam Bung Karno, Bung Hatta, Pramoedya Anan Toer, atau HAMKA yang meski di penjara masih tetap bersetia mencoretkan penanya.

Tulisan-tulisannya dikumpulkan kepada gurunya, lalu diteliti, diperbaiki, dan di arahkan menjadi lebih bermutu, baik dari sisi idenya, titik dan komanya, hingga ejaannya. Demikian seterusnya, sampai gurunya menjadi yakin bahwa masa depan literasi akan lahir pula dari torehan anak-anak yang dididiknya dengan penuh kesabaran. 

 Ketika Fauzi ditanya lebih lanjut soal kegiatan menulis di sekolahnya, ia menjawab dengan serius melalui WhatsAppnya, bahwa menulis merupakan kewajiban umat Islam. Keseriusan Fauzi terbukti telah dituangkan dalam aktivitas nyata melalui gerakan membaca, sekaligus mewujudkannya dengan cara memasukkan kegiatan literasi ke dalam kurikulum Sekolah Dasar yang didirikannya. 

Fauzi tidak perlu menunggu putusan mufasir untuk mewajibkan menulis bagi diri dan anak didiknya. Ia sudah mengetahui rahasia tafsirnya sejak delapan tahun belajar agama di pesantren. Hanya saja, Fauzi tidak perlu berkicau lewat kata-kata, karena kata-kata seringkali dianggapnya menimbulkan anomali bagi yang pendek akalnya. Fauzi langsung menerjemahkan tafsirnya lewat tingkah-laku yang berdaya guna bagi sekitarnya, di antaranya menyediakan bahan bacaan, dan mengampanyekan karomah membaca dan menulis.

Simpulan Sekaligus Penutup
Simpulan dari implementasi gerakan literasi yang dilakukan sekolahnya Fauzi dimulai dengan MEMBACA, seraya menyediakan bahan bacaannya. Saat ini, perpustakaan yang dikelolanya telah memiliki koleksi hingga 8000 eksemplar dengan beragam genre yang menarik minat baca peserta didik. Sedangkan LITERASI langsung pada tataran praksisnya, dan Sekolah Dasar yang didirikan oleh Muhammad Fauzi telah memasukkan literasi sebagai kurikulum yang wajib dilakoni oleh semua anak didiknya. 

Jangan heran jika Anda berkunjung ke Bustanul Hikmah, sebab Anda akan disuguhi pemandangan yang tidak wajar, yang tidak serupa dengan sekolah-sekolah mentereng lainnya di kota-kota dan desa-desa yang dimanja oleh bantuan pemerintah. Namun, Anda akan dibuat berdecak kagum dengan perpustakaannya yang belum pernah dimiliki oleh sekolah-sekolah dasar bertaraf internasional sekali pun. Bermodal perpustakaan yang dikelolanya sejak tahun 2011, Fausi berhasil membangun kepercayaan masyarakat untuk mendirikan sekolah gratis.

Semangat membaca inilah yang membuat Fauzi berani memasukkan kurikulum menulis atau literasi kepada peserta didiknya. Fauzi tidak khawatir, kegiatan literasi akan menganggu perkembangan kecerdasan anak asuhnya. Bahkan, dirinya yakin kegiatan literasi sudah selayaknya di masukkan menjadi kurikulum tersendiri, hingga mengendap kuat di alam bawah sadar peserta didiknya. Dan, kelak dikemudian hari akan dipetik.

Kegigihan Fauzi tidak hanya mendapat apresiasi dari masyarakat lingkungan sekitarnya, tetapi juga mendapat perhatian dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anis Baswedan. Tidak hanya itu, baru-baru ini, tepatnya tanggal 2 Mei 2017, Fauzi diundang Presiden RI ke istana negara sebagai tokoh masyarakat setelah sebelumnya meraih penghargaan “Nugra Jasadarma Pustaloka”, dan berkesempatan berbicara di televisi nasional dalam acara Kick Andy yang diasuh oleh Andy F. Noya.

Kreativitas Fauzi sudah menjadi viral ke seluruh pelosok tanah air, lalu siapakah yang bakal meniru kebermanfaatan Fauzi untuk menggerakkan literasi kepada penerus bangsa? Lagi-lagi Fauzi Haqulyakin, bahwa penerusnya pasti ada, jika falsafah Ki Hajar Dewantara terus terpatri di dalam jiwa mereka!


Sumenep, 2017







Sumber:
1.    Wawancara dengan Muhammad Fauzi
2.    www.yayasanbustanulhikmah.blogspot.com
3.    Youtube
0 komentar

MEMPROVOKASI SANTRIWATI SABAJARIN

Seperti biasanya, saya senantiasa mencatat setiap aktivitas kepenulisan seperti seminar, bedah buku, dan sejenisnya, baik ketika saya menjadi peserta, lebih-lebih sebagai pembicara. Namun, akhir-akhir ini ada beberapa aktivitas yang belum sempat saya tulis dan saya share di kabarnun.com yang menjadi rumah berkeluh-kesah saya. Sekarang, (tepat sepertiga malam) saya mendapat hidayah untuk menuliskannya, setelah sebelumnya mental remuk akibat laptop raib di gasak maling.

Aktivitas literasi yang akan saya tulis kali ini adalah di Sabajarin, SMA 3 Guluk-Guluk Sumenep Madura. Tepat pada tanggal 22 Nopember 2016 yang lalu, saya diminta untuk mengisi kegiatan yang diadakah oleh anak-anak OSIS pereode 2016/2017. Ba’da Asar saya sampai di ruangan yang sudah di sediakan oleh panitia. Nampak, para santri putri tengah menunggu dengan antusias kehadiran saya, seolah saya seorang artis yang sudah lama mereka kenal dan seolah telah bermalam-malam memimpikan untuk berjumpa. Barangkali, karena mereka telah membaca karya-karya saya yang menimbulkan efek samping, hehe.

Sebenarnya, saya agak segan memberi tausyiah motivasi kepada mereka. Sebab, mereka adalah santri-santrinya para penulis hebat macam Kiai Faizi, Kiai Musthofa, Kiai Affan, Nyi Eva, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Tentu saja, saya harus tampil berbeda daripada guru-guru hebat itu, agar mereka lebih bersemangat menulis. Didukung oleh rambut godrong yang keramat, saya mulai memotivasi mereka. Lebih tepatnya: memprovokasi. Mula-mula saya tanya pekerjaan orangtua mereka, dan jawaban mereka sama. Sama-sama lahir dari kemelaratan, dan tak punya nilai tawar di tengah-tengah masyarakat. Maka, saya katakana kepada mereka, bahwa menulis bisa menjadi alternatif untuk mengubah kemelaratan menjadi kebahagiaan.
Provokasi saya berlanjut. 

Saya berkata kepada mereka seraya tampil dengan gestur yang menurut saya meyakinkan, bahwa saya adalah contoh korban kemelaratan yang berubah menjadi bahagia. Bahagia karena saya bisa bikin buku (sambil mengutip pernyataan John Carter dalam film John Carter of Mars). Tidak mungkin saya diundang forum-forum terhormat, jika saya tidak bisa menulis buku. Dan, ini bertolak-belakang dengan nasib Kiai Faizi dan Kiai Mustofa, yang meski pun tidak menulis masih dihargai orang karena mereka adalah trah Kiai.

Peserta terlihat mengangguk-angguk mendengar celoteh saya yang kian nyasar ke mana-mana. Kali ini saya mengajukan pertanyaan lagi kepada kaum hawa yang masih terkesima dengan rambut keramat saya. Anda ingin tetap cantik? Iyaaaa …! Jawab mereka serempak, seolah ruangan mau runtuh.

Anda mau berpayah-payah menyiram tembakau, hingga kulit mulus Anda menghitam dan terlihat mengerikan di mata suami Anda? Mereka serempak tidak mau! Di tengah kemelaratan, apakah Anda masih sanggup untuk tidak bekerja di sawah-sawah yang panas? Tanya saya, kian provokatif. Maaf, saya memang provokator. Kwkwk!

Saya akan bekerja di pabrik, saya akan menjadi karyawan bank, saya akan menjadi guru, sahut mereka penuh semangat. Aduh rek! Cita-citanya kok malah mau jadi karyawan. Karyawan itu bahasa kasarnya budak. Menjadi guru masih lumayan, tapi kalau jadi guru hanya mengharap bayaran, itu mah sangat kurang ajar dan tidak sesuai dengan tradisi kaum pesantren. Apalagi, sekarang stok guru sudah melimpah, sehingga seorang teman saya harus nyogok untuk sekadar jadi tenaga honorer. Bukankah, sekolah/madrasah sekarang sudah tidak ubahnya pabrik? Yang jika guru-gurunya tidak dibayar lalu menggerutu, dan bahkan berdemo? Mbok jadi guru jangan cari penghasilan di majelis ilmulah, agar anak didiknya tidak sangar. Hehe!

Saya mulai sedikit lunak berbicara kepada mereka; boleh Anda jadi karyawan, budak, guru, polwan, dokter, tapi tetaplah menulis. Selain menulis sebagai aktivitas intelektual yang akan membuat Anda belajar seumur hidup, menulis juga bisa bikin mendadak kaya. Tamsilnya adalah Andrea Hirata yang menjadi karyawan Telkom, tiba-tiba mendadak kaya dan tenar. Tamsil lain misalnya Ahmad Fuadi yang seorang karywaan, tapi tekun menulis setelah pulang kerja meski hanya sehalaman. Hasilnya, Fuadi menjadi kaya raya, tenar, dan bisa berbicara di forum-forum terhormat.   

“Loh, Bapak kaya?” celetuk seorang siswi cantik yang tak sudi kusebut namanya, karena khawatir diburu lelaki hidung belang. Saya kaget! Tapi sebagai provokator ulung, saya tidak kehabisan jawaban. Saya lebih kaya dari Anda secara intelektual, terutama kekayaan literasi, sedang kekayaan harta benda akan menyusul. Bukankah saya tengah berproses? Siapa orang kaya harta yang tidak berproses? Tanya saya. Seorang siswi nyeletuk, “koruptor, Pak!” Wah, ruangan ger-geran mendengar celetukan itu.

Seperti biasa, hampir setiap kali saya ngisi acara selalu membagi beberapa buku diakhir acara. Paling tidak bagi mereka yang mengajukan pertanyaan saat sesi dialog. Kebetulan saya banyak buku. Buku jualan di toko saya sedekahi, dan berharap hari depan saya diundang lagi, agar program provokasi menulis dan berbagi ilmu terus meriah, dan saya kemudian dicap provokator oleh mereka.

Jeprat-jepret diakhir acara saya suka, meski hasil foto kurang terang! Musababnya, penulisnya masih belum mampu beli yang cling! Ada yang mau nyumbang? Monggo!hihi.
Mari kampanyekan literasi, agar umat Islam bangkit dari liang tidurnya. Ajak mereka mencintai kitab-kitab dan buku-buku. Dan, ada satu keinginan saya yang masih belum terkabul, yaitu ingin “memarahi” guru-guru, dosen, ustaz, kiai-kiai, yang tidak mau menulis! Saya tunggu takdir Tuhan!

Wassalam!

Aengtongtong Sumenep, 5 Mei 2017
Maaf, males ngedit!   
0 komentar
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Kabar Nun - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger