"Surga tempatnya orang-orang berprestasi"(KH. Ilyasi Siraj, M.Ag.)




POSTINGAN HARI INI
print this page
POSTINGAN TERBARU

MENINGKATKAN MINAT BACA MELALUI KARYA TULIS

Salah satu kompetensi yang paling sulit di antara empat kompetensi lainnya (membaca, menyimak, berbicara, dan menulis) dalam pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia adalah kompetensi MENULIS. Banyak orang yang stres jika berhadapan dengan dunia tulis-menulis, kecuali bagi mereka yang rajin membaca dan berlatih secara istikamah untuk melahirkan karya tulis. Gara-gara sulitnya kompetensi yang satu itu, akhirnya berdampak pada rendahnya minat baca anak-anak bangsa. Bayangkan, setelah UNISCO melakukan survei minat membaca terhadap 61 negara, ternyata negara kita ada diurutan kedua dari terakhir. Sungguh, itu kabar buruk bagi kita, terutama bagi pemerintah, praktisi pendidikan, termasuk para guru yang terlibat secara langsung terhadap semangat belajar generasi penerus bangsa.

Lalu, kenapa sulitnya kompetensi menulis berdampak terhadap rendahnya minat baca? Begini logikanya: Jika semua orang punya kemauan besar terhadap dunia tulis-menulis (siapa pun orangnya) maka minat baca secara otomatis akan meningkat pesat, sebab ketika orang menulis sesuatu, misalnya menulis tentang politik lalu mengalami stagnasi untuk meneruskannya, maka secara otomatis orang tersebut akan membaca referesi yang terkait dengan tema yang ditulisnya. Itulah alasannya, kenapa sulitnya menulis menjadi bagian yang berdampak buruk terhadap minat baca. Tentu saja, masih banyak faktor lain yang mempengaruhinya. Pendeknya: MENULIS MEMBUAT ORANG AKAN GEMAR MEMBACA, tetapi MEMBACA BELUM TENTU MENJADIKAN ORANG UNTUK MENULIS. Barangkali, itu menjadi solusi bagi terpuruknya baca-tulis di negeri bangsa ini.

Siapa yang akan memulai? Jawaban sementara adalah guru. Guru ‘wajib’ memberikan contoh terlebih dahulu kepada anak didiknya, sebelum memberikan perintah atau kuliah baca-tulis kepada mereka. Guru ‘wajib’ menulis, apa pun bentuk tulisan itu. Guru yang melahirkan karya tulis dalam bentuk buku, tak perlu dipertanyakan lagi tingkat minat bacanya. Karya tulis akan menjadi bukti autentik bahwa guru tersebut gemar membaca, karena prasyarat untuk menulis adalah rajin membaca. “tidak ada jalan pintas menjadi penulis, kecuali membaca dan menulis itu sendiri,” kata Stephen King. Jika mentok untuk melanjutkan tulisannya, maka berarti kurang membaca. Asupan gizinya kurang, sehingga ide, dan penguasaan kosakatanya miskin. Orang miskin mana bisa bersedekah banyak?

Banyak genre tulisan yang bisa digeluti oleh para guru, misalnya membuat antologi cerpen, antologi puisi, antologi dongeng, novel, esai, artikel, karya ilmiah, dan lain sebagainya. Pilihlah genre yang paling mudah, tetapi memiliki bargaining bagi masyarakat sekitarnya, terutama bagi peserta didiknya sendiri. Setelah menjadi tulisan yang utuh, maka jangan biarkan menjadi lembar-lembar yang berserakan. Kemaslah menjadi buku, sehingga tampilannya terhormat, dan orang tertarik untuk menghargainya: membeli dan membacanya.

Sebagai individu yang berkutat di dunia pendidikan, maka guru punya kesempatan besar untuk merampungkan satu genre tulisan, dibanding individu lain yang terjebak menumpuk-numpuk harta dan memujanya. Tidak ada alasan untuk tidak tahu menulis, kecuali guru yang malas belajar. Guru yang malas belajar, sebaiknya segera mengundurkan diri dengan hormat, sebelum melahirkan penerus-penerus yang serupa dengan dirinya. Itu namanya: Guru yang tahu diri.

Setelah guru memberikan teladan yang maksimal, melalui budi pekerti intelektual dengan bukti karya tulis dan prestasi-prestasi lainnya, maka perjuangan guru nyaris sempurna, dan sudah layak disebut guru. Tugas berikutnya adalah memberikan motivasi. Motivator yang sudah punya “keteladanan” bergudang prestasi, tidak akan mempunyai beban moral untuk tidak diikuti oleh peserta didiknya. Guru tidak ragu lagi “memerintahkan” anak didiknya untuk rajin membaca dan menulis, serta memiliki prestasi lainnya.

Tulisan di atas tidak sedang menggurui, apalagi mengandung indoktrinasi yang dipaksakan. Silakan lacak silogismenya dengan fakta dan data-data yang berserakan di sekitar kita, bahwa rendahnya minat baca akibat kurangnya keteladanan dari para stakeholder, termasuk guru bagi anak didiknya.

Sekali lagi, aktivitas menulis bisa menjadi cikal-bakal bangkitnya minat baca. Maka, menulislah. Guru tinggal memilih, apakah mau menulis fiksi atau nonfiksi. Fokus saja pada satu genre, agar tidak kelabakan. Lakukan dengan sabar, hingga layak menjadi satu buku untuk dikonsumsi publik.

Secara garis besar, rumus menulis nonfiksi berupa: tema dan argumentasi. Sedangkan rumus fiksi: tema dan imajinasi. Selanjutnya akan dijelaskan secara detail dalam tekni menulis melalui papan tulis, termasuk penggunaan data, fakta, dan sebagainya.

Demikian sedikit pembakar kalori yang membeku dalam kubah intelektual kita. Semoga, kita benar-benar menjadi “terbakar”sehingga tak berhenti belajar. Mohon maaf jika ada susunan kalimat yang inferior bagi para peserta pelatihan. Mari, bangkitkan minat belajar (minat baca-tulis) pada diri anak-anak didik kita. 


Sumenep, 22 Oktober 2016
Disampaikan pada pelatihan menulis untuk guru tingkat SD/MI Kabupaten Sumenep
0 komentar

ASSALAM NGAJI LITERASI

Menuju Assalam tidak sesulit merampungkan puisi-puisi cinta, meski jalannya menanjak dan kadang menukik. Sepanjang menuju Assalam, bibir jalan diapit jurang-jurang, bahkan ada jurang yang pernah dijadikan pembuangan mayat hasil pembantaian. Aroma kematian dan jurang terjal tidak membuat saya bergidik, karena wajah alam dengan deretan bukit-bikit memajang senyum yang membuat hati saya nyaman memandanginya.

Inspirasi di kepala, tiba-tiba berdatangan untuk  saya tuang menjadi sajak-sajak gerimis yang membuat saya masih yakin, bahwa alam semesta tetap ada harapan untuk diselamatkan, kecuali kota-kota yang saat ini dijajah banjir bandang yang menendang kehidupan mereka. Khayalan saya berkata, bahwa jika kota menumbuhkan pohon-pohon sebesar paha orangtua, maka panas yang menyengat tidak akan pernah ada. Tapi, sayang sekali, saya hanya bisa bermimpi, sebab orang-orang kota sudah dijajah para penguasanya yang kurang tahu diri.
Sudahlah, biarkan kota menderita, asalkan sepanjang jalan menuju Assalam tetap tenang dan senantiasa menumbuhkan paku-paku dengan oksigennya yang mendamaikan denyut jantung. Percuma bicara kota, jika pepohonan tak diizinkan mengisap hasil buminya.
Kepada sopir motor aku berkata, “indah nian alam yang mengelilingi rumahmu. Jika ini dijaga hingga anak cicit berkepala lima, Indonesia akan benar-benar menjadi surga yang diburu oleh orang asing yang sinting. Orang asing yang rumahnya menguapkan api neraka, akan mencari surga seperti ini.” Sopir motor yang membonceng saya tak menyahut. Mungkin ia tak mendengar, atau ia tidak paham yang saya tuturkan di dekat daun kupingnya.

Setengah jam kemudian—di bawah gerimis yang ritmis—saya sudah tiba dan langsung menuju langgar Assalam yang masih sunyi. Tak ada peserta pelatihan yang menunggu ketika kaki saya sampai lebih dahulu. Saya menunggu sambil menyulut perapian yang saya masukkan ke dalam mulut, agar dingin pegunungan tidak terlalu menggigit. Dan, yang membuat jantung tetap berdenyut adalah inspirasi yang berdatangan dari segala penjuru. Ada yang berlompatan dari pohon monyet, ada pula yang masih bersembunyi di genting rumah pengasuh Assalam. Sungguh, saya ingin menulisnya.

Saat asap rokok melambung memenuhi langit, Kiai Homaidi muncul membawa seulas senyumnya untuk menyambut semangat saya yang sudah menginjak tanah kediamannya. Lalu, disusul santrinya yang menghidangkan senampan kopi yang dituang dari teko lusuh yang jarang dibasuh. Setenguk membasahi tenggorokan, hingga binar mata saya yang sedikit sayu karena diserang dingin yang memuncak.

Saya berbasa-basi dari ruang hati yang tulus, sambil bertutur kisah perjalanan yang ditimpa gerimis yang menyengat. Parcabisan yang dimulai dari pengharapan bagi beberapa anak didik yang “harus” tahu dunia literasi, perlu kiranya dikenalkan. Setidaknya, saya bisa menceritakan rasa manis yang sudah saya rasakan lebih dahulu di belantara denging kosakata, sebelum akhirnya mereka menceburkan diri pada sungai yang tekanan udaranya bermacam rupa.

Begitulah, saya bertutur sapa saat mula-mula “menggurui” anak-anak santrinya yang memang harus saya gurui. Saya memaklumi keterlambatannya, karena hujan baru saja reda, dan cinta baru saja tiba. Kosakata cinta yang saya sampaikan, diharap bisa merenggut hatinya, agar dunia literasi menjadi bayang-bayang di dalam setiap aktivitasnya.

Saya tak kehabisan kosakata literasi, untuk dihidangkan kepada mereka setelah sekian lama saya luntang-luntung dari pelosok desa hingga pelosok kota. Di kota, saya tak terlalu khawatir, karena rasa adil sangatlah nyaman, tetapi di desa yang diinjak ketidak adilan perlulah kiranya mendapat sentuhan yang super ajaib.

Kepada mereka yang masih unyu mengenal dunia yang saya tekuni, saya meminta untuk memilih genre tulisan yang paling nyaman, meski itu hanya sekadar catatan harian berupa kisah-kisah cinta yang biasa digandrungi. Mereka harus memulai dari yang mereka rasakan sendiri, hingga kelak bisa menulis yang menjadi penderitaan dan kebahagiaan orang sekitarnya.

Tak perlulah mereka menunggu teladan dari para gurunya yang sudah loyo alias gagal memiliki semangat menulis sendiri. Tak perlulah mereka bercermin kepada basa-basi ribuan teori yang mengantung di langit-langit. Cukuplah kiranya, surau Assalam memotivasi mereka, agar senantiasa menjadi maujud serupa rancang bangunnya yang terpahat di simpang jalan yang nyaris sunyi.

Menjelang matahari redup, saya sudahi kisah-kisah dan pengharapan yang saya selipkan pada saku bajunya untuk dibawa pulang. Dan, ketika maghrib tiba, ternyata saya sudah di Menara Cling; tempat berteduh selama lima tahun.

Semoga, saya bisa memberikan manfaat kepada umat Muhammad. Begitulah harapan anak seorang nelayan yang lahir dari keterpencilan.


Assalam Prancak Sumenep, 21 Oktober 2016




Penulis: Nun Urnoto

Sumenep, 13 Oktober 2016
Catatan yang terlambat ditulis  

0 komentar

GURU BERTANGGUNG JAWAB MENGAMPANYEKAN BACA-TULIS

Pondok Pesantren al-Anwar Geddhu Kecamatan Ganding, mengundang saya untuk memberikan motivasi menulis dengan tema, “My Pen May Adventure” mulai pukul 08:00 dan berakhir 11.00 WIB. Pesertanya terdiri dari santri putra saja, sedangkan santri putri yang pondoknya berjauhan masih belum mendapatkan kesempatan. Saya berharap suatu saat nanti, mereka bisa menyusul.

Saya senang sekali jika ada orang “pedalaman” yang mau melek dengan dunia literasi yang saat ini hampir di dominasi oleh orang-orang perkotaan dan pesantren-pesantren besar seperti Pesantren Annuqayah, al-Amin, Banyuanyar, Bata-Bata, dan pesantren besar lainnya di Madura. Akhir-akhir ini, saya sedang berupaya untuk memasyarakatkan baca-tulis di kalangan anak-anak muda pelosok untuk menyongsong “perang dingin ke-3”yang sudah pecah.  

Perkembangan baca-tulis di kalangan pelajar pelosok-pelosok desa, sungguh miris sekali. Sekelas Madrasah Aliyah, masih belum tahu bedanya karangan fiksi dan nonfiksi. Cerpen disangka nonfiksi, artikel diduga fiksi. Sungguh, terlalu bukan?

Jangan tanya minat bacanya. Minat baca mereka tak ada. Minat mereka hanya mempertinggi nilai rapor, yang entah bagaimana caranya. Semoga tidak dengan cara-cara curang sebagaimana yang biasa dilakukan para gurunya. Jika saja guru memberikan teladan membaca, termasuk menulis, maka saya yakin nilai rapor dan ijazah siswanya tidak perlu dikatrol dengan cara-cara yang tidak jujur. Insya Allah, siswa akan meneladani aktivitas membaca dan menulis yang dilakukan para gurunya.

Krisi moral membaca dan menulis bagi guru, termasuk krisis prestasinya, turut andil bagi terpuruknya semangat belajar (baca-tulis) peserta didiknya. Hal seperti itu yang seharusnya menjadi keprihatinan bersama untuk diubah.

Saya pikir, banyak para guru yang tidak merasakan/tidak tahu manfaatnya membaca dan menulis, sehingga mereka tidak tertarik untuk mengampanyakan kepada anak didiknya. Rasanya, jika membaca dan menulis menjadi spirit intelektual bagi para guru dan mengetahui nikmatnya membaca dan menulis, pastilah mereka akan getol untuk menyuarakannya. Dengan kata lain, mayoritas para guru ternyata malas membaca, apalagi menulis. Itulah fakta yang tidak bisa dibantah, dan saat ini masih berlangsung.

Kepenulisan yang menjadi bagian komptensi di dalam pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, masih dianggap tabu, sehingga sangat kaku untuk diberdayagunakan dalam kehidupan anak didiknya. Banyak guru yang tidak tahu, bahwa menulis akan membuat anak didiknya rajin membaca. Silakan pikir sendiri, bagaimana logikanya menulis bisa membuat anak didiknya bisa belajar?

Jika anak didiknya tidak mau belajar, maka gurulah yang seharusnya disalahkan terlebih dahulu, karena moral membacanya sangat cacat, dan sama sekali tidak memberikan teladan yang menginspirasi bagi keberlangsungan intelektual perserta didiknya. Guru seperti itu, sudah seharusnya modar dari dunia sekolah tempat mereka mengajar. Jika tidak, maka kebodohan akan semakin menggila selamanya. Guru, termasuk dosen yang tidak punya semangat belajar adalah biang kerusakan pendidikan di tanah air. Lebih mengerikan lagi adalah guru dan dosen yang menjadikan peserta didik hanya sebagai ladang penghasilan, alias dijadikan “binatang ternak” untuk mendapatkan jatah penghasilan.

Saya berharap, ada perubahan radikal untuk meningkatkan minat baca-tulis yang dimulai dari para guru. Negeri ini akan berkembang pesat di tangan para guru, bukan di tangan para politisi, petani, apalagi di tangan para penumpuk harta. Belajarlah pada Jepang yang ketika Hiroshima hancur, gurulah yang pertama kali ditolong. Dan,  sekarang, Jepang—yang mayoritas non muslim itu—menjadi negara maju.Melalui baca-tulis, insya Allah kebodohan akan lenyap. Semangat belajar akan bangkit, lalu jayalah negara yang mayoritas muslim ini dalam percaturan berbangsa dan bernegara, hingga sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

Anak-anak didik saat ini adalah aset besar bagi keberlangsungan hidup yang semakin ketat. Tak ada ampun untuk membuat mereka senantiasa belajar, hingga masuk ke liang lahad. “Perang dingin” saat ini hanya bisa ditaklukkan melalui semangat membaca dan menulis yang menghasilkan berbagai prestasi dalam segala bidang kompetisi.

Dimulai dari guru (dosen, kiai, ustaz, tutor, dll.) maka aktivitas baca-tulis akan menyebar ke semua masyarakat untuk bersama-sama dikampanyekan. Jika demikian, maka baca-tulis yang Allah firmankan sudah tidak termasuk yang “dilecehkan” oleh mayoritas muslim di negeri ini. Jangan lupa, pelecehan terhadap ayat-ayat suci tidak hanya yang diverbalkan tetap juga yang tidak sudi diamalkan.

Wallahu’alam.
(Urnoto)


Sumenep, 13 Oktober 2016
Catatan yang terlambat ditulis.  

0 komentar
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Kabar Nun - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger