"Surga tempatnya orang-orang berprestasi"(KH. Ilyasi Siraj, M.Ag.)




MASYARAKAT SENI PESISIR BUTUH KITAB SUCI



Masyarakat Seni Pesisir, atau yang lebih dikenal MSP tengah unjuk gigi di tempat bekas balai desa di Ambunten (31-02-2016) yang atapnya berguguran. Tampilannya cukup bersahaja, dan mereka tidak butuh tempat elitis untuk deklamasi puisi dan berteater. Itulah keunikan MSP yang digagas oleh Muhammad Afan dan kawan-kawannya.

Mereka berbaur dengan siapa saja, dan terlihat inkslusif untuk menerima siapa pun yang mau bergabung. Aktivitasnya, berkeliling dari desa yang satu ke desa yang lain, untuk menampilkan pesan-pesannya yang tidak dokmatis. Artinya, tak ada ajaran-ajaran khusus yang harus menjadi ritual bagi yang mengikutinya.

Kegiatannya, santai dan bersahaja dengan diskusi-diskusi ala warung kopi yang membicarakan budaya dan sastra. MSP menjadi tempat bertemunya para sastrawan. Mereka berdatangan dari penjuru Kabupaten di Madura, bahkan ada yang dari luar Madura.

Kelompok ini tidak didanai oleh siapa pun. Mereka datang dengan ikhlas tanpa berkeberatan mengeluarkan dana dari sakunya. Tak ada sponsor, tak ada perhatian dari pemerintah, dan saya pikir, itulah yang membuat MSP bertahan hingga hari ini. MSP akan modar jika mendapat suntikan fungsional atau sertifikasi layaknya guru sekolah.hehe

Saya yang berkesempatan berbagi pengalaman menulis pada waktu itu (31-02-2016) melihat MSP masih di dominasi oleh kegiatan deklamasi puisi dan penampilan teater. Sementara aktivitas menulis masih belum kelihatan dan tidak menjadi daya tarik di komunitas MSP. Namun, gejala menuju dunia literasi mulai dilirik, semisal ketertarikannya untuk membukukan puisi, cerpen, dan karya sastra lainnya.

Saya sampaikan pada waktu itu, paling tidak MSP bisa menulis kiprahnya selama ini, agar jejaknya tidak hilang, jika ternyata suatu saat mengalami “benturan” perubahan peradaban atau disorientasi kepentingan yang tiba-tiba MSP disusupi satu batalion pasukan misterius yang sulit dilacak. Disusupi, bisa menjadi kemungkinan, mengingat gejala perubahan alam yang cukup pesat.

Saya berharap, MSP selangkah lebih maju lagi hingga menjadi perhatian dunia, meski berpusat di pelosok Sumenep yang sepi. Mengingat sulitnya mendirikan komunitas tersebut, maka menjaganya mesti harus lebih kompak. Sepuluh tahun ke depan, MSP akan lebih andil dalam percaturan kebudayaan nusantara, jika konsepnya kian padu dengan kebutuhan masyarakat. Artinya, MSP tidak hanya melibatkan orang-orang yang selama ini berpuisi dan berteater, tetapi masyarakat yang tidak menyentuh wilayah hukukm MSP,  juga terlibat untuk ikut serta menikmati sajiannya. Sajian yang monoton, tentu akan membuat penikmatnya kabur tanpa permisi.

Apa saja kebutuhan masyarakat? Jawabannya, sangat banyak. Jika MSP bisa mengakomodir kebutuhan-kebutuhan itu, maka MSP akan menjadi tempat “pulang” untuk menyalurkan rasa jenuhnya masyarakat dari kesempitan hidupnya yang semraut.

Masyarakat Seni Pesisir, selain berdeklamasi puisi dan berteater, bisa juga memberikan pendidikan politik secara gratis kepada masyarakat, alih-alih kalau bisa mengeluarkan masyarakat dari kesempitan ekonomi yang membelitnya selama ini. Saya tidak tahu, apa visi dan misinya, tapi dilihat dari semangatnya, MSP berusaha mendekatkan “sesuatu” yang selama ini belum dikenal oleh masyarakat awam. Yang barangkali kegiatan-kegiatan tersebut sebelumnya hanya menjadi monopoli kampus-kampus, dan pesantren-pesantren.

Saya tidak sedang meminta atau memaksa MSP memasang identitas berupa pemasangan bendera seperti kelompok-kelompok yang lain, tapi menjelaskan posisi dan kiprahnya MSP akan membuat masyarakat tidak ragu untuk masuk ke dalamnya, sehingga orang tidak perlu ragu untuk berlama-lama di dalamnya. Setidaknya, MSP mempunyai “kitab suci” untuk rujukan bagi yang ragu untuk terjun ke dalamnya.

Penampilan yang unik dari Masyarakat Seni Pesisir, semisal rambut gondrong, pakaian ala kaum sufi, deklamasi yang menggetarkan panggung, dan semacamnya, tidak membuat masyarakat banyak bertanya lagi untuk ikut serta.

Pendeknya, MSP sudah saatnya mempunyai “kitab suci” untuk menjelaskan dirinya kepada masyarakat, agar mereka ikut ambil bagian menerima kehadirannya di muka bumi. Kira-kira begitu interpretasi saya untuk Masyarakat Seni Pesisir, dalam rangka menyongsong kehidupan yang lebih kompetitif di masa-masa yang akan datang. Jangan sampai MSP sepi, atau kesepian. hehe.   


Penulis: Nun Urnoto

Sumenep, 13 Oktober 2016
Catatan yang terlambat ditulis  


Share this article :
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Kabar Nun - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger