"Surga tempatnya orang-orang berprestasi"(KH. Ilyasi Siraj, M.Ag.)




POSTINGAN HARI INI
print this page
POSTINGAN TERBARU

PENGAJIAN LITERASI DI PONDOK PUTRI

Kali ini (27/10/16) saya menyambangi pengajian literasi di Pesantren Annuqayah Daerah Kusuma Bangsa. Semua pesertanya adalah santri putri. Baru kali ini, saya bisa mengajar di daerah putri setelah sebelumnya beredar kabar, bahwa kaum bujang dilarang ke wilayah tersebut. Saya hanya berbaik sangka dengan kabar itu. Mungkin, saya dima’fu alias dimaklumi memasuki wilayah sensitif itu, karena dianggap bujang lapuk yang sudah tidak punya daya terhadap kaum hawa. kwkwk.
Di hadapan para bidadari yang binar matanya, saya melihat pantulan gairah untuk menulis, dan saya pun mulai bertutur. Mula-mula saya mengenalkan diri dengan menyebut nama asli saya (Urnoto), yang masih seketurunan dengan Naruto dari Jepang. Lalu—tanpa hirau dengan peserta pengajian yang tak tahan dengan gelaknya—saya melanjutkan untuk mengenalkan tambahan nama “Nun” yang dihadiahkan oleh seorang guru spiritual kepada saya. Saya juga mengabarkan kepada mereka, tentang apa saja prestasi saya.

Ta’aruf yang tak ubahnya seperti hendak meminang anak gadis itu pun akhirnya selesai, meski mereka terlihat terkesima, entah oleh apa. Tapi, barangkali mereka terkesima dengan rambut saya yang gondrong, atau dengan wajah saya yang tampan, atau jangan-jangan dengan prestasi-prestasi yang baru saja saya “pamerkan”. Saya sungkan bertanya soal kesima mereka. Saya melanjutkan tutur berikutnya.

Mengenalkan diri kepada para peserta pengajian literasi itu sangat penting, agar mereka tahu siapa yang berbicara, dan apa saja prestasi yang menjadi kompetensi saya. Saya tidak ingin seperti guru-guru yang hanya bermodal titel akademik, tapi tidak punya prestasi. Saya malu jika seperti itu, dan saya tidak akan mengajar jika tidak punya prestasi. Saya pemalu, alias tahu diri. Bagi saya, teladan paling ampuh adalah prestasi, bukan yang berbusa-busa dengan kata-kata, apalagi guru yang melamar untuk mengajar. Bagi saya, guru yang melamar itu bukanlah guru, tapi tenaga kerja yang mengharap honor dan dana sertifikasi.

Maaf, jika pendapat saya mengerikan, tapi saya tidak bisa berkelit dari fakta yang tersaji dalam keberlangsungan hidup saya, dan saya harus mengabarkannya kepada dunia perihal karakter guru mulia yang mulai memudar. Paling tidak, semua itu menjadi fenomena kesemrautan di dunia pendidikan.

Peserta pengajian literasi, saya persilakan untuk fokus dengan satu genre saja. Mereka bebas memilih genre yang mereka sukai, sedangkan genre-genre yang lain hanya menjadi sampingan saja, dan bukan berarti saya memerintahkan mereka meninggalkan genre-genre lain. Saya hanya meminta mereka lebih fokus, lebih konsentrasi untuk menyelesaikan genre yang paling mereka minati.    

Dalam hitungan menit, mayoritas peserta pengajian literasi memilih puisi dan cerpen. Selebihnya, mereka memilih menulis novel, esai, artikel, dan catatan harian. Khusus penulis novel hanya satu orang. Peserta itu, menurut saya luar biasa. Ia memilih sesuatu yang paling tidak diminati oleh teman-temannya. Barangkali, novel dianggap sangat sulit karena ketebalannya yang tidak mungkin dirampung. Padahal, menulis novel itu lebih mudah dari menulis puisi dan cerpen. Hanya saja, menulis novel butuh waktu agak lama. Dan, mungkin itu yang agak mengerikan.

Menulis novel, peluangnya cukup menjanjikan. Misalnya, lebih diterima penerbit dibanding antologi puisi, cerpen, esai, artikel, dan kawan-kawannya. Peluang lainnya, penulis novel cenderung dianggap lebih mumpuni karena berhasil melahirkan buku tebal, lebih banyak royaltinya, lebih disukai pembaca, lebih berpeluang dilayar lebarkan, dan lain sebagainya. Itulah tuah bagi penulis novel, dan saya sendiri merasakan tuah itu. hehe.

Saya menyilakan mereka untuk langsung praktik dan merasakan kesulitan-kesulitan yang dialaminya. Kemudian, saya menyilakan mereka menanyakan perihal kesulitannya itu. “Silakan, tanyakan kesulitan yang Anda alami dan apa saja yang ingin Anda ketahui tentang menulis,” begitu kata saya kepada peserta pengajian literasi. Hasilnya, luar biasa! Mereka menanyakan hal-hal yang tidak terduga sebelumyan. Misalnya, cara menyusun kalimat efektif yang biasanya sering dibaikan oleh para penulis pemula. Susunan kalimat yang efektif akan menjadi bargaining ketika dikirim ke penerbit. Jika menulis kalimat saja sudah tidak benar, maka jangan harap penerbit mau membacanya hingga tuntas, meski sebenarnya isinya bagus.

Banyak yang mereka tanyakan pada pengajian itu, hingga menjelang terbenamnya matahari, termasuk pertanyaan-pertanyaan tentang “bangunan” puisi yang belakangan beranika ragam, cerpen yang belakangan kian mencari format baru, hingga novel pop yang berlimpahan dan tak laku-laku di pasaran.   

Mereka saya minta untuk tidak berputus asa berproses, hingga di belakang hari mereka menemukan karakteristik tulisannya sendiri yang berbeda dengan gaya penulis-penulis yang menginspirasinya. Paling urgen dari pengajian menulis itu, bukan pada teori menulisnya, tetapi pada ghirahnya, semangatnya, atau istikamahnya. Dan, gara-gara lemahnya syahwat menulis itu, telah membuat banyak orang gagal untuk menjadi penulis. Penulis adalah mereka yang istikamah di jalan menulis. Jika hanya sekali menulis, kemudian lenyap, maka mereka bukan penulis. Mereka hanya orang yang numpang lewat. hehe.

Semoga sukses! Wassalam.


  
Sumenep, 28 November 2016

Catatan yang baru rampung diposting,

0 komentar

NGAJI LITERASI BERSAMA GENERASI NU

Ngaji literasi bersama IPNU/IPPNU (23/10/16) di Kantor Urusan Agama (KAU) Kecamatan Lenteng akhirnya berjalan lancar, meski sebelumnya mendung yang mengantung menakut-nakuti langkah generasi Nahdhatul Ulama untuk hadir ke tempat acara.

Menurut ketua IPNU/IPPNU Cabang Sumenep, baru kali ini kadernya mengadakan kegiatan literasi, dan diharapkan IPNU/IPPNU yang lain bisa mengikutinya.

Saya sangat setuju sekali dengan statemen ketua cabang tersebut. Sekarang, sudah saatnya generasi muda NU ikut ambil bagian menyampaikan nasihat-nasihatnya melalui tulisan, baik berupa tulisan berita, artikel, esai, bahkan mungkin karya-karya fiksi seperti puisi, cerpen, novel, dan lain sebagainya.

Sebagai fasilitator, saya mengajak para peserta untuk langsung praktik menulis puisi, terutama puisi-puisi yang sesuai dengan selera peserta—yang didominasi anak-anak remaja. Mereka, saya ajak menulis puisi cinta, yang tentunya menjadi gandrung dengan jiwa remajanya. Saya pikir, puisi cinta tengah mendekam di dalam benaknya, dan memungkinkan mereka untuk menuangkannya dengan mudah, tanpa melalui proses imajinasi yang rumit.

Hasilnya, cukup mencengangkan; bahasanya sederhana, sangat jujur, polos, bahkan tisikan kalimat-kalimatnya seperti orangtua bertutur pada putranya, alias tidak puitis sama sekali. Dan, karya mereka saya apresiasi cukup baik, jika dibanding dengan para pengumpat di media sosial yang tidak bisa mengemas umpatannya dengan kalimat-kalimat puitis yang metaforistik.

Solusi bagi mereka yang masih berkemampuan menyusun diksi-diksi sederhana adalah meningkatkan minat bacanya terhadap karya-karya sastra, alias rajin-rajinlah membaca buku apa saja yang bisa membantu mengayakan kosa katanya. Tentunya, teruslah berlatih menulis agar tulisan-tulisan yang menjadi fokus genrenya kian tajam, dan membuat pembaca jatuh cinta setengah mati.

Menulis puisi tentu saja harus puitis dengan tetap mengindahkan simantik dan sintaksisnya. Jika puisi ditulis sebagaimana menulis pidato, maka keringlah kalimat-kalimatnya, dan pesannya bisa ikut-ikutan kerontang. Pesan-pesan yang dibungkus dalam kalimat-kalimat puitis akan membuat penikmatnya hanyut dan tanpa sadar mabuk kepayang.

Saya seringkali menjumpai puisi-puisi yang sama sekali tidak puitis, yang hanya bentuknya saja disusun seperti puisi, namun susunan kalimatnya kering dan tidak indah. Lalu—karena bentuknya serupa puisi—mereka menyembutnya puisi. Apa itu puisi? Silakan kuliah satu semester lebih dahulu, atau belajar pada ahlinya.

Pelatihan yang diadakan IPNU/IPPNU Lenteng ini, setidaknya menjadi langkah awal untuk terus bersikeras memotivasi generasinya, agar bisa menulis. Sebagai generasi NU, saya melihat tulisan anak-anak NU masih minim, masih bisa dihitung dengan jari, padahal generasi NU mayoritas di negeri ini. Saya tidak mengerti, mengapa dunia literasi menjadi sunyi dalam kehidupan mereka. Saya menduga, mereka sudah pasrah kepada para pengarang kitab-kitab klasik yang menguasai aktivitas belajarnya di pesantren, atau jangan-jangan mereka tidak tahu dahsyatnya karya tulis bagi keberlangsungan kaum intelektual di masa sekarang dan di masa-masa yang akan datang. Semoga dugaan saya tidak benar.

Saya sangat berharap, agar generasi NU tidak terlena oleh zona nyaman atas kebesarannya sebagai ormas terbesar. Semoga kesadaran mereka tidak terbeli oleh lezatnya gadget, ipad, dan kawan-kawannya. Mereka harus segera disadarkan, bahwa ujung penanya sangat dibutuhkan untuk mengubah dunia yang kian radikal dan liberal. Dan, yang paling perlu disadarkan adalah para stake holdernya yang tidak menyadari tajamnya ujung pena, yaitu mereka yang selama ini mengajarkan sesuatu yang tidak jelas kepada mereka.

Akhirul kalam, saya ingin sampaikan, bahwa menulis akan membuat siapa pun berselera untuk membaca. Membaca, akan membuat dunianya bercahaya. Jika tidak paham dengan maksud saya, silakan datangi saya. hehe.

  
Sumenep, 28 November 2016

Catatan yang baru rampung diposting,

0 komentar

MENINGKATKAN MINAT BACA MELALUI KARYA TULIS

Salah satu kompetensi yang paling sulit di antara empat kompetensi lainnya (membaca, menyimak, berbicara, dan menulis) dalam pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia adalah kompetensi MENULIS. Banyak orang yang stres jika berhadapan dengan dunia tulis-menulis, kecuali bagi mereka yang rajin membaca dan berlatih secara istikamah untuk melahirkan karya tulis. Gara-gara sulitnya kompetensi yang satu itu, akhirnya berdampak pada rendahnya minat baca anak-anak bangsa. Bayangkan, setelah UNISCO melakukan survei minat membaca terhadap 61 negara, ternyata negara kita ada diurutan kedua dari terakhir. Sungguh, itu kabar buruk bagi kita, terutama bagi pemerintah, praktisi pendidikan, termasuk para guru yang terlibat secara langsung terhadap semangat belajar generasi penerus bangsa.

Lalu, kenapa sulitnya kompetensi menulis berdampak terhadap rendahnya minat baca? Begini logikanya: Jika semua orang punya kemauan besar terhadap dunia tulis-menulis (siapa pun orangnya) maka minat baca secara otomatis akan meningkat pesat, sebab ketika orang menulis sesuatu, misalnya menulis tentang politik lalu mengalami stagnasi untuk meneruskannya, maka secara otomatis orang tersebut akan membaca referesi yang terkait dengan tema yang ditulisnya. Itulah alasannya, kenapa sulitnya menulis menjadi bagian yang berdampak buruk terhadap minat baca. Tentu saja, masih banyak faktor lain yang mempengaruhinya. Pendeknya: MENULIS MEMBUAT ORANG AKAN GEMAR MEMBACA, tetapi MEMBACA BELUM TENTU MENJADIKAN ORANG UNTUK MENULIS. Barangkali, itu menjadi solusi bagi terpuruknya baca-tulis di negeri bangsa ini.

Siapa yang akan memulai? Jawaban sementara adalah guru. Guru ‘wajib’ memberikan contoh terlebih dahulu kepada anak didiknya, sebelum memberikan perintah atau kuliah baca-tulis kepada mereka. Guru ‘wajib’ menulis, apa pun bentuk tulisan itu. Guru yang melahirkan karya tulis dalam bentuk buku, tak perlu dipertanyakan lagi tingkat minat bacanya. Karya tulis akan menjadi bukti autentik bahwa guru tersebut gemar membaca, karena prasyarat untuk menulis adalah rajin membaca. “tidak ada jalan pintas menjadi penulis, kecuali membaca dan menulis itu sendiri,” kata Stephen King. Jika mentok untuk melanjutkan tulisannya, maka berarti kurang membaca. Asupan gizinya kurang, sehingga ide, dan penguasaan kosakatanya miskin. Orang miskin mana bisa bersedekah banyak?

Banyak genre tulisan yang bisa digeluti oleh para guru, misalnya membuat antologi cerpen, antologi puisi, antologi dongeng, novel, esai, artikel, karya ilmiah, dan lain sebagainya. Pilihlah genre yang paling mudah, tetapi memiliki bargaining bagi masyarakat sekitarnya, terutama bagi peserta didiknya sendiri. Setelah menjadi tulisan yang utuh, maka jangan biarkan menjadi lembar-lembar yang berserakan. Kemaslah menjadi buku, sehingga tampilannya terhormat, dan orang tertarik untuk menghargainya: membeli dan membacanya.

Sebagai individu yang berkutat di dunia pendidikan, maka guru punya kesempatan besar untuk merampungkan satu genre tulisan, dibanding individu lain yang terjebak menumpuk-numpuk harta dan memujanya. Tidak ada alasan untuk tidak tahu menulis, kecuali guru yang malas belajar. Guru yang malas belajar, sebaiknya segera mengundurkan diri dengan hormat, sebelum melahirkan penerus-penerus yang serupa dengan dirinya. Itu namanya: Guru yang tahu diri.

Setelah guru memberikan teladan yang maksimal, melalui budi pekerti intelektual dengan bukti karya tulis dan prestasi-prestasi lainnya, maka perjuangan guru nyaris sempurna, dan sudah layak disebut guru. Tugas berikutnya adalah memberikan motivasi. Motivator yang sudah punya “keteladanan” bergudang prestasi, tidak akan mempunyai beban moral untuk tidak diikuti oleh peserta didiknya. Guru tidak ragu lagi “memerintahkan” anak didiknya untuk rajin membaca dan menulis, serta memiliki prestasi lainnya.

Tulisan di atas tidak sedang menggurui, apalagi mengandung indoktrinasi yang dipaksakan. Silakan lacak silogismenya dengan fakta dan data-data yang berserakan di sekitar kita, bahwa rendahnya minat baca akibat kurangnya keteladanan dari para stakeholder, termasuk guru bagi anak didiknya.

Sekali lagi, aktivitas menulis bisa menjadi cikal-bakal bangkitnya minat baca. Maka, menulislah. Guru tinggal memilih, apakah mau menulis fiksi atau nonfiksi. Fokus saja pada satu genre, agar tidak kelabakan. Lakukan dengan sabar, hingga layak menjadi satu buku untuk dikonsumsi publik.

Secara garis besar, rumus menulis nonfiksi berupa: tema dan argumentasi. Sedangkan rumus fiksi: tema dan imajinasi. Selanjutnya akan dijelaskan secara detail dalam tekni menulis melalui papan tulis, termasuk penggunaan data, fakta, dan sebagainya.

Demikian sedikit pembakar kalori yang membeku dalam kubah intelektual kita. Semoga, kita benar-benar menjadi “terbakar”sehingga tak berhenti belajar. Mohon maaf jika ada susunan kalimat yang inferior bagi para peserta pelatihan. Mari, bangkitkan minat belajar (minat baca-tulis) pada diri anak-anak didik kita. 


Sumenep, 22 Oktober 2016
Disampaikan pada pelatihan menulis untuk guru tingkat SD/MI Kabupaten Sumenep
0 komentar

ASSALAM NGAJI LITERASI

Menuju Assalam tidak sesulit merampungkan puisi-puisi cinta, meski jalannya menanjak dan kadang menukik. Sepanjang menuju Assalam, bibir jalan diapit jurang-jurang, bahkan ada jurang yang pernah dijadikan pembuangan mayat hasil pembantaian. Aroma kematian dan jurang terjal tidak membuat saya bergidik, karena wajah alam dengan deretan bukit-bikit memajang senyum yang membuat hati saya nyaman memandanginya.

Inspirasi di kepala, tiba-tiba berdatangan untuk  saya tuang menjadi sajak-sajak gerimis yang membuat saya masih yakin, bahwa alam semesta tetap ada harapan untuk diselamatkan, kecuali kota-kota yang saat ini dijajah banjir bandang yang menendang kehidupan mereka. Khayalan saya berkata, bahwa jika kota menumbuhkan pohon-pohon sebesar paha orangtua, maka panas yang menyengat tidak akan pernah ada. Tapi, sayang sekali, saya hanya bisa bermimpi, sebab orang-orang kota sudah dijajah para penguasanya yang kurang tahu diri.
Sudahlah, biarkan kota menderita, asalkan sepanjang jalan menuju Assalam tetap tenang dan senantiasa menumbuhkan paku-paku dengan oksigennya yang mendamaikan denyut jantung. Percuma bicara kota, jika pepohonan tak diizinkan mengisap hasil buminya.
Kepada sopir motor aku berkata, “indah nian alam yang mengelilingi rumahmu. Jika ini dijaga hingga anak cicit berkepala lima, Indonesia akan benar-benar menjadi surga yang diburu oleh orang asing yang sinting. Orang asing yang rumahnya menguapkan api neraka, akan mencari surga seperti ini.” Sopir motor yang membonceng saya tak menyahut. Mungkin ia tak mendengar, atau ia tidak paham yang saya tuturkan di dekat daun kupingnya.

Setengah jam kemudian—di bawah gerimis yang ritmis—saya sudah tiba dan langsung menuju langgar Assalam yang masih sunyi. Tak ada peserta pelatihan yang menunggu ketika kaki saya sampai lebih dahulu. Saya menunggu sambil menyulut perapian yang saya masukkan ke dalam mulut, agar dingin pegunungan tidak terlalu menggigit. Dan, yang membuat jantung tetap berdenyut adalah inspirasi yang berdatangan dari segala penjuru. Ada yang berlompatan dari pohon monyet, ada pula yang masih bersembunyi di genting rumah pengasuh Assalam. Sungguh, saya ingin menulisnya.

Saat asap rokok melambung memenuhi langit, Kiai Homaidi muncul membawa seulas senyumnya untuk menyambut semangat saya yang sudah menginjak tanah kediamannya. Lalu, disusul santrinya yang menghidangkan senampan kopi yang dituang dari teko lusuh yang jarang dibasuh. Setenguk membasahi tenggorokan, hingga binar mata saya yang sedikit sayu karena diserang dingin yang memuncak.

Saya berbasa-basi dari ruang hati yang tulus, sambil bertutur kisah perjalanan yang ditimpa gerimis yang menyengat. Parcabisan yang dimulai dari pengharapan bagi beberapa anak didik yang “harus” tahu dunia literasi, perlu kiranya dikenalkan. Setidaknya, saya bisa menceritakan rasa manis yang sudah saya rasakan lebih dahulu di belantara denging kosakata, sebelum akhirnya mereka menceburkan diri pada sungai yang tekanan udaranya bermacam rupa.

Begitulah, saya bertutur sapa saat mula-mula “menggurui” anak-anak santrinya yang memang harus saya gurui. Saya memaklumi keterlambatannya, karena hujan baru saja reda, dan cinta baru saja tiba. Kosakata cinta yang saya sampaikan, diharap bisa merenggut hatinya, agar dunia literasi menjadi bayang-bayang di dalam setiap aktivitasnya.

Saya tak kehabisan kosakata literasi, untuk dihidangkan kepada mereka setelah sekian lama saya luntang-luntung dari pelosok desa hingga pelosok kota. Di kota, saya tak terlalu khawatir, karena rasa adil sangatlah nyaman, tetapi di desa yang diinjak ketidak adilan perlulah kiranya mendapat sentuhan yang super ajaib.

Kepada mereka yang masih unyu mengenal dunia yang saya tekuni, saya meminta untuk memilih genre tulisan yang paling nyaman, meski itu hanya sekadar catatan harian berupa kisah-kisah cinta yang biasa digandrungi. Mereka harus memulai dari yang mereka rasakan sendiri, hingga kelak bisa menulis yang menjadi penderitaan dan kebahagiaan orang sekitarnya.

Tak perlulah mereka menunggu teladan dari para gurunya yang sudah loyo alias gagal memiliki semangat menulis sendiri. Tak perlulah mereka bercermin kepada basa-basi ribuan teori yang mengantung di langit-langit. Cukuplah kiranya, surau Assalam memotivasi mereka, agar senantiasa menjadi maujud serupa rancang bangunnya yang terpahat di simpang jalan yang nyaris sunyi.

Menjelang matahari redup, saya sudahi kisah-kisah dan pengharapan yang saya selipkan pada saku bajunya untuk dibawa pulang. Dan, ketika maghrib tiba, ternyata saya sudah di Menara Cling; tempat berteduh selama lima tahun.

Semoga, saya bisa memberikan manfaat kepada umat Muhammad. Begitulah harapan anak seorang nelayan yang lahir dari keterpencilan.


Assalam Prancak Sumenep, 21 Oktober 2016




Penulis: Nun Urnoto

Sumenep, 13 Oktober 2016
Catatan yang terlambat ditulis  

0 komentar

GURU BERTANGGUNG JAWAB MENGAMPANYEKAN BACA-TULIS

Pondok Pesantren al-Anwar Geddhu Kecamatan Ganding, mengundang saya untuk memberikan motivasi menulis dengan tema, “My Pen May Adventure” mulai pukul 08:00 dan berakhir 11.00 WIB. Pesertanya terdiri dari santri putra saja, sedangkan santri putri yang pondoknya berjauhan masih belum mendapatkan kesempatan. Saya berharap suatu saat nanti, mereka bisa menyusul.

Saya senang sekali jika ada orang “pedalaman” yang mau melek dengan dunia literasi yang saat ini hampir di dominasi oleh orang-orang perkotaan dan pesantren-pesantren besar seperti Pesantren Annuqayah, al-Amin, Banyuanyar, Bata-Bata, dan pesantren besar lainnya di Madura. Akhir-akhir ini, saya sedang berupaya untuk memasyarakatkan baca-tulis di kalangan anak-anak muda pelosok untuk menyongsong “perang dingin ke-3”yang sudah pecah.  

Perkembangan baca-tulis di kalangan pelajar pelosok-pelosok desa, sungguh miris sekali. Sekelas Madrasah Aliyah, masih belum tahu bedanya karangan fiksi dan nonfiksi. Cerpen disangka nonfiksi, artikel diduga fiksi. Sungguh, terlalu bukan?

Jangan tanya minat bacanya. Minat baca mereka tak ada. Minat mereka hanya mempertinggi nilai rapor, yang entah bagaimana caranya. Semoga tidak dengan cara-cara curang sebagaimana yang biasa dilakukan para gurunya. Jika saja guru memberikan teladan membaca, termasuk menulis, maka saya yakin nilai rapor dan ijazah siswanya tidak perlu dikatrol dengan cara-cara yang tidak jujur. Insya Allah, siswa akan meneladani aktivitas membaca dan menulis yang dilakukan para gurunya.

Krisi moral membaca dan menulis bagi guru, termasuk krisis prestasinya, turut andil bagi terpuruknya semangat belajar (baca-tulis) peserta didiknya. Hal seperti itu yang seharusnya menjadi keprihatinan bersama untuk diubah.

Saya pikir, banyak para guru yang tidak merasakan/tidak tahu manfaatnya membaca dan menulis, sehingga mereka tidak tertarik untuk mengampanyakan kepada anak didiknya. Rasanya, jika membaca dan menulis menjadi spirit intelektual bagi para guru dan mengetahui nikmatnya membaca dan menulis, pastilah mereka akan getol untuk menyuarakannya. Dengan kata lain, mayoritas para guru ternyata malas membaca, apalagi menulis. Itulah fakta yang tidak bisa dibantah, dan saat ini masih berlangsung.

Kepenulisan yang menjadi bagian komptensi di dalam pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, masih dianggap tabu, sehingga sangat kaku untuk diberdayagunakan dalam kehidupan anak didiknya. Banyak guru yang tidak tahu, bahwa menulis akan membuat anak didiknya rajin membaca. Silakan pikir sendiri, bagaimana logikanya menulis bisa membuat anak didiknya bisa belajar?

Jika anak didiknya tidak mau belajar, maka gurulah yang seharusnya disalahkan terlebih dahulu, karena moral membacanya sangat cacat, dan sama sekali tidak memberikan teladan yang menginspirasi bagi keberlangsungan intelektual perserta didiknya. Guru seperti itu, sudah seharusnya modar dari dunia sekolah tempat mereka mengajar. Jika tidak, maka kebodohan akan semakin menggila selamanya. Guru, termasuk dosen yang tidak punya semangat belajar adalah biang kerusakan pendidikan di tanah air. Lebih mengerikan lagi adalah guru dan dosen yang menjadikan peserta didik hanya sebagai ladang penghasilan, alias dijadikan “binatang ternak” untuk mendapatkan jatah penghasilan.

Saya berharap, ada perubahan radikal untuk meningkatkan minat baca-tulis yang dimulai dari para guru. Negeri ini akan berkembang pesat di tangan para guru, bukan di tangan para politisi, petani, apalagi di tangan para penumpuk harta. Belajarlah pada Jepang yang ketika Hiroshima hancur, gurulah yang pertama kali ditolong. Dan,  sekarang, Jepang—yang mayoritas non muslim itu—menjadi negara maju.Melalui baca-tulis, insya Allah kebodohan akan lenyap. Semangat belajar akan bangkit, lalu jayalah negara yang mayoritas muslim ini dalam percaturan berbangsa dan bernegara, hingga sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

Anak-anak didik saat ini adalah aset besar bagi keberlangsungan hidup yang semakin ketat. Tak ada ampun untuk membuat mereka senantiasa belajar, hingga masuk ke liang lahad. “Perang dingin” saat ini hanya bisa ditaklukkan melalui semangat membaca dan menulis yang menghasilkan berbagai prestasi dalam segala bidang kompetisi.

Dimulai dari guru (dosen, kiai, ustaz, tutor, dll.) maka aktivitas baca-tulis akan menyebar ke semua masyarakat untuk bersama-sama dikampanyekan. Jika demikian, maka baca-tulis yang Allah firmankan sudah tidak termasuk yang “dilecehkan” oleh mayoritas muslim di negeri ini. Jangan lupa, pelecehan terhadap ayat-ayat suci tidak hanya yang diverbalkan tetap juga yang tidak sudi diamalkan.

Wallahu’alam.
(Urnoto)


Sumenep, 13 Oktober 2016
Catatan yang terlambat ditulis.  

0 komentar

ANAK-ANAK PANGARO MEMBEKALI MAHASISWA SE-JAWA, NUSA & BALI


Kali ini (5/10/2016), Anak-Anak Pangaro yang lahir dari kesunyian dan kegelisahan saya, dibedah di gedung auditorium STAIN Pamekasan Madura. Di hadapan para mahasiswa se-Jawa, Nusa, dan Bali, Anak-Anak Pangaro menghaturkan selamat datang, sekaligus membingkiskan pesan-pesan tekstual dan kontekstual yang termaktub di tubuh Anak-Anak Pangaro. Peserta bisa mengenal sebagian tanah Madura lewat Anak-Anak Pangaro. Di dalam tubuh Anak-Anak Pangaro yang saya lahirkan itu, ada aroma tanah Sakera, Karapan, Saronen, Macapat, Samroh, sihir, pembunuh bayaran, kekeringan, reboisasi, perlawanan, cerita hero, guru baik hati, dan lain sebagainya. Saya memintanya untuk dibawa pulang sebagai bekal dan pengharapan.

Acara dimulai pukul sembilan. Agak molor dari yang dijadwalkan. Harap maklum, sebab molor itu sudah kebiasaan anak-anak bangsa, terutama anak-anak di kampung saya. Termasuk saya sendiri. Memang menyedihkan, tapi bisa dimaklumi selagi tetap ada upaya untuk tidak diulangi di masa-masa yang akan datang.

Gedung auditorium yang dipenuhi oleh peserta, semakin terdengar menggema saat saya membedah Anak-Anak Pangaro. Meski gemanya tidak enak di telinga, saya tetap memaksakan diri untuk memaparkan berbagai unsure di dalam tubuh Anak-Anak Pangaro dari kepala hingga kakinya. Saya tidak perduli lagi dengan gaung ruangan yang bergemuruh, saya juga cuek jika ternyata mahasiswa bernasib sama dengan penderitaan telinga saya, akibat gema auditorium yang sungguh tak nyaman. Saya terus menjelaskan tema novel yang saya tulis. 

Tema novel yang dilahirkan dari darah daging jiwa saya itu tidak lain adalah RESTORASI, yaitu upaya besar-besaran mengembalikan kondisi pulau atau setting cerita kepada keadaan semula. Mengembalikan alam yang rusak, dan memanusiakan ketersesatan penghuninya ke jalan semula.

Alam yang rusak akibat kerakusan para penghuni setting cerita, menjadi kausalitas lahirnya orang-orang baik yang datang untuk memperbaikinya. Begitulah takdirnya. Namun, saya perlu mendetailkan kerusakan apa saja dan bagaimana akibatnya. Kerusakan alam pada setting novel yang saya tulis, disebabkan oleh manusia yang menebangi pepohonan secara sembarangan, termasuk pembuatan tambak garam yang membabi buta, dan penambangan pasir sepanjang pesisir yang mengakibatkan abrasi. Rusaklah alam yang mengakibatkan kurangnya ketersediaan air selama bertahun lamanya. Setting cerita novel saya, dilanda kekeringan yang sangat akut dan mengerikan. Setting itu adalah fakta yang saya rumuskan ke dalam satu rekonstruksi cerita utuh dalam bentuk novel, agar bisa menjadi khabar bagi para penghuni bumi sekaligus sebagai peringatan agar tidak memperlakukan alam semena-mena.

Tidak hanya kurangnya air yang memancar dari perut bumi, tetapi air dari langit juga enggan turun, seolah hawa panas yang menguap mampu mengusir curah hujan. Hal itu terjadi sepanjang musim penghujan. Saya bertanya-tanya, apa gerangan yang terjadi? Ternyata, maksiat yang merajalela menjadi jawaban atas semua itu. Dari mana saya tahu? Dari kitab suci al-Qur’an surah al-‘Araaf, ayat 96, atau di dalam surah Hud, ayat 52, atau di dalam surat Nuh ayat 10-13, dan masih banyak lagi ayat dan hadis yang menjelaskan sebab-akibat tidak turunnya hujan.

Setelah menjelaskan tema cerita di dalam novel Anak-Anak Pangaro, saya menjelaskan setting cerita, alur cerita, penokohan, sudut pandang, hingga pada pesan cerita yang disampaikan di dalam Anak-Anak Pangaro. Penjelasan saya, terutama masalah pesan yang terkandung di dalam novel Anak-Anak Pangaro diharapkan menjadi bekal pulang bagi seluruh mahasiswa ke tanah kelahirannya masing-masing.

Tidak perlu khawatir dengan cerita yang saya tulis, sebab itu menjadi bagian dari tafsir ayat-ayat suci yang saya rekosntruksi dalam bentuk cerita. Ayat-ayat Tuhan tidak selamanya harus disampaikan dalam bentuk kutipan-kutipan ceramah, tapi bisa juga dalam bentuk gerak tubuh, dan cerita-cerita inspiratif.

Usai mendedah novel Anak-Anak Pangaro, acara dilanjutkan dengan sesi tanya-jawab, karena panitia tidak menyediakan pembanding. Penanya dari berbagai utusan diberi kesempatan untuk satu pertanyaan, hingga akhirnya acara usai.

Ritual selanjutnya adalah foto bersama, yaitu ritual yang terasa rugi jika di zaman digitalisasi ini ditelantarkan begitu saja. Foto-fotonya diharapkan memberikan motivasi dan menggoda yang lain untuk kompetisi dalam kebaikan.
  
 
Wallahu’alam.
Penulis: Nun Urnoto El Banbary

Sumenep, 17 Oktober 2016
Catatan yang terlambat ditulis.  


0 komentar

BEM INSTIKA MEMBEDAH ANAK-ANAK PANGARO


Panitia Festival Cinta Buku, atau lebih dikenal FCB mengundang saya untuk membedah novel Anak-Anak Pangaro yang diterbitkan oleh Penerbit Metamind, lini dari Penerbit Tiga Serangkai yang bermarkas di Solo Jawa Tengah. Meski novel yang saya tulis terbit pada bulan Mei 2015, tetapi masih cukup relevan untuk didedah di hadapan para mahasiswa INSTIKA Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep.

Panitia tetap bersikeras untuk membedah novel Anak-Anak Pangaro, meski tanpa support dari pihak penerbit. Panitia sudah berkali-kali menghubungi penerbit untuk kerjasama, tetapi pihak penerbit seperti kurang bersemangat meresponnya. Namun demikian, acara tetap berjalan dengan lancar, aman, dan terkendali.

Acara dimulai pukul 14.00 WIB., dengan melibatkan peserta dari mahasiswa putra dan putri. Selama saya membedah novel Anak-Anak Pangaro, yang substantif saya sampaikan kepada audiens adalah pesan-pesan dari setiap peristiwa yang terjadi sepanjang alur cerita. Tentunya, terlebih dahulu saya sedikit menjelaskan tentang tema, latar, penokohan, penyudutpandangan, alur, hingga pesan-pesan yang termaktub dalam setiap adegan yang diwakilkan kepada para tokoh-tokohnya.

Setelah membedahnya, saya harus menyimak paparan pembanding dari Kiai Muhammad Affan tentang novel yang saya tulis tersebut. Beberapa hal disampaikan oleh beliau, mulai dari kelebihan dan kekurangannya. Kiai Muhammad Affan menyebut novel Anak-Anak Pangaro sebagai novel petualangan yang tak kalah seru dengan novel Laskar Pelanginya Andrea Hirata.

Setelah pembanding menyampaikan argumentasinya tentang isi novel Anak-Anak Pangaro, kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab, tentang proses penciptaan novel Anak-Anak Pangaro dan pengaruhnya terhadap para pembaca. Mahasiswa INSTIKA dengan slogan kampus tatakramanya mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang cukup menggelitik untuk saya jawab dengan serius, terutama pertanyaan, seberapa besarkah pengaruh novel yang saya tulis bagi para pembacanya.

Jika seberapa besar pengaruhnya, maka saya tidak atau belum sempat melakukan penelitian. Namun, indikasi ke arah itu ada fenomenaya. Misalnya, ketika novel Anak-Anak Pangaro diteliti oleh Robiatul Adawiyah seorang mahasiswa UHAMKA Jakarta Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia dengan judul: NILAI MORAL DAN SOSIAL DALAM NOVEL ANA-ANAK PANGARO KARYA NUN URNOTO EL BANBARY SERTA DAMPAKNYA TERHADAP PEMBELAJARAN SASTRA DI SMA. Fenomena lain misalnya, seringnya di bedah di dalam beberapa tempat, diresensi, dan sebagainya. Hal itu bisa menjadi indikator, bahwa novel yang saya tulis memberikan pengaruh, meski kadar pengaruhnya sulit untuk diukur secara matematis.

Lepas dari apakah novel tersebut memberikan pengaruh atau tidak, yang pasti novel yang saya karang akan berumur panjang, bahkan akan melampaui usia saya sendiri. Boleh jadi hari ini pengaruhnya tidak terasa, tetapi kita tidak tahu di belakang hari pengaruhnya seperti apa.

Setelah sekian pertanyaan terjawab, akhirnya bedah novel berakhir pukul 16.00 WIB., dan ditutup dengan pemberian buku kepada para penanya. Saya sudah lumrah, setiap kali ada pelatihan, bedah buku, dan semacamnya, selalu menghadiahkan buku-buku kepada para peserta atau panitia. Pemberian itu tidak lain untuk membangkitkan semangat membaca yang—di negara ini—masih masuk urutan 59 dari 61 negara yang disurvei.

Semoga kegiatan bedah novel Anak-Anak Pangaro menjadikan INSTIKA PANGARO, meski hingga hari ini panitia masih belum sempat melunasi uang novelnya. Sekian terima kasih.
  
 
Wallahu’alam.
Penulis: Nun Urnoto El Banbary

Sumenep, 13 Oktober 2016
Catatan yang terlambat ditulis.  


0 komentar

PEMUDA SURABAYA BELAJAR MENULIS NOVEL

Sekelompok anak muda yang tergabung dalam komunitas Forum Lingkar Pena (FLP) di Surabaya, tengah bersemangat menggalakkan tulis-menulis. Bertempat di perpustakaan Ngagel Surabaya, mereka berkumpul dan berdiskusi tentang seluk-beluk menulis, editing, hingga publikasi karya.


Saya mendapat jatah pelatihan menulis novel. Tepatnya bukan pelatihan, tapi sekadar sharing dan motivasi. Saya sampaikan, bahwa menulis novel—berdasarkan pengalaman saya—sangatlah mudah dan gampang, dengan syarat kaya kosa kata dan memiliki imajinasi yang tak terbatas. Memperkaya kosa kata dan memperkuat imajinasi hanya bisa ditempuh dengan banyak membaca buku dan menyimak berbaga ilmu dari sumber-sumber terpercaya.

Saat menulis novel, sediakan seperangkat alat yang memudahkan penulis untuk terus merangkai cerita-ceritanya, semisal menyediakan referensi beruapa Kamus Besar Bahasa Indonesia, Kamus Tesaurus, dan beberapa buku referensi lainnya yang berkenaan dengan tema yang tengah ditulisnya. Jika penulis mentok, maka seperangkat alat menulis itu bisa dimanfaatkan untuk memperluas ruang imajinasi yang buntu tadi.

Peserta yang terdiri dari anggota baru di FLP Cabang Surabaya itu, cukup antusias. Terlihat dari wajah-wajah mereka seolah ingin merampungkan naskah novelnya besok pagi. Luar biasa bukan? Namun, hingga tulisan ini dipublis, saya masih belum mendapat konfirmasi keberhasilannya. Semoga saja mereka tidak patah semangat untuk membikin novel yang lebih tebal dari antologi puisi dan cerpen itu.

Sharing dan motivasi sempat diskorsing, karena harus melaksanakan salat Zuhur. Beberapa peserta sempat menanyakan proses kreatif yang saya tekuni secara pribadi saat menuju masjid. Artinya, mereka benar-benar punya semangat untuk menulis novel. Menulis novel punya bargaining yang cukup menggiurkan dibandingkan dengan menulis genre yang lain. Namun, perjungannya membutuhkan kesabaran dan ketekunan. Tekun saja tidak cukup, tanpa diikuti kesabaran. Kesabaran, akan membuat penulis novel tidak mudah patah hati saat ditolak oleh penerbit. Demikian juga saat ditolak oleh si doi.hehe.

Menulis butuh kekuatan fokus. Fokus yang saya maksud bukan mata mendelik di depan laptop lalu menjadi tuli dengan alunan musik yang keluar dari Gom Player. Fokus yang saya maksud adalah fokus hanya menulis satu genre. Misalnya menulis genre novel. Tapi, bukan berarti tidak mau menulis genre lainnya. Anggap saja selain novel hanya sampingan dan hanya bisa dilakukan sesekali ketika dibutuhkan. 

Dengan demikian, seluruh energi terkonsentrasi menyelesaikan novel yang ditulisnya. Selesailah karya novel. Kemudian lakukan editing. Namun, ketika menyelesaikan naskah, jangan melakukan editing. Editing kadang membuat momet untuk menyelesaikan naskah. Rampungkan terlebih dahulu, lalu lakukan editing. Selesai editing, jangan malu-malu mengirimkannya ke penerbit. Kirim dan segera tawakal. Siapkan mental untuk menerima konsekwensinya. Jika konsekwensinya bagus, segeralah tasyakuran. Jangan lupa undang saya.hehe.

Sekitar pukul satu siang, akhirnya acara sharing dan motivasi berakhir. Di antar Noevil ke terminal Purabaya, saya pulang ke Menara Cling sambil melamunkan seribu khayalan anak muda. Meski usia sudah senja, namun khayalan anak bujang tetaplah berdaya muda. Mudah-mudahan, Allah memberikan kekuatan untuk terus berkreativitas.
    



Wallahu’alam.
Penulis: Nun Urnoto El Banbary


Sumenep, 13 Oktober 2016
Catatan yang terlambat ditulis.  


0 komentar

GUCIALIT BUKIT KOSA KATA


Saya harus membersamai teman-teman Forum Lingkar Pena Jawa Timur di Gucialit Lumajang (12-14 Agustus 2016) dalam program Silatwil yang merupakan bagian dari program kerja Forum Lingkar Pena Wilayah Jawa Timur. Saya yang paling bertanggungjawab menjalankan program tersebut, karena menjadi bagian program Kaderisasi, meski faktanya panitia pelaksana hampir tidak mengomukasikannya dengan saya. Hal itu menjadi maklum, mengingat panitia adalah orang-orang baru yang terjun di komunitas Forum Lingkar Pena, alias baru berdiri dan secara organisatoris belum sepenuhnya memahami.

Cuaca puncak Gucialit yang lebih dingin dari kota malang membuat beberapa pesarta kesemutan dengan gigil yang nyaris tak tertahankan, termasuk saya sendiri. Di tambah kepala pening akibat mabuk darat sepanjang Surabaya hingga ke Gucialit. Namun demikian, saya dan peserta tetap bersemangat mengikuti rentetan acara sejak hari pertama hingga hari terakhir. FLP dari berbagai cabang sejawa timur tumpah semangatnya ditempat itu.

Hari itu, seolah Gucialit menjadi bukit kosa kata yang bersedia menerima torehan tinta anak-anak FLP, yang didominasi anak-anak muda. Saya pikir, aktivitas literasi menjadi yang pertama di Gucialit. Itulah sebabnya, Gucialit menjadi perbincangan hangat setelah orang-orang membaca tulisan-tulisan peserta Silatwil. Paling tidak, Gucialit menjadi berita nasional melalui berita yang tersebar di dunia maya.

Substansi dari Silatwil itu tidak lain adalah sebagai upaya untuk membangun silaturrahim sesama anggota FLP Sejawa timur, agar tetap saling menguatkan diri di dalam berkarya, berbakti, dan berarti bagi agama, nusa, dan bangsa.

Dukungan dari berbagai pihak, mulai dari panitia sendiri, pemerintah (dalam hal ini pihak Kementerian Pendidikan Kabupaten Lumajang), dan para mentor seperti Kang Masdar, Ibu Sinta Yudisia selaku ketua FLP Pusat, dan yang lainnya menjadi energi yang cukup dahsyat secara moral bagi para peserta Silatwil. Tanpa mereka, barangkali Silatwil menjadi hambar.

Bangsa ini, akan menjadi besar dengan ikut andilnya kaum muda menyemarakkan kegiatan-kegiatan literasi, hingga ke pelosok-pelosok desa. Saya percaya, di tangan mereka kegiatan literasi akan senantiasa hidup. Mereka tidak hanya menulis untuk dirinya sendiri, tetapi ikut ambil bagian memberikan pencerahan bagi masyarakat yang masih belum melek terhadap minat baca dan minat menulis. Minat baca bangsa ini menurut penelitian UNISCO berada diurutan nomor dua terakhir dari 61 negara, alias masih ada diurutan 59 dari 61 negara yang disurvei. Sungguh menyedihkan!

Sekarang, gerakan anak-anak FLP yang dimotori oleh Helvy Tiana Rosa itu, terus mengepakkan sayapnya melalui perpustakaan-perpustakaan daerah yang terlihat sunyi alias miskin program. Mereka berjibaku, agar masyarakat bisa membaca buku secara gratis dan menjadi menu pokok sehari-hari. Dibeberapa daerah, anggaran untuk perpustakaan mulai dinaikkan, mengingat kian pentingnya membaca bagi masyarakat.

Bukankah keterpurukan bangsa ini adalah akibat dari kurangnya membaca? Politisi yang kurang ajar, anak-anak sekolah yang nakal, mahasiswa yang tidak kritis, ustaz yang tak berkualitas, hukum yang tak punya nurani, dan sebagainya tidak lain disebabkan karena kurangnya membaca, alih-alih menulis! Sunggu terlalu, kata Bang Haji.

Melalui ketinggian Gucialit, berangkai kalimat sudah menggumpal di dalam benak para peserta. Ada yang langsung menungkannya, ada pula yang masih sibuk menghayalkannya untuk dituangkan di rumah masing-masing. Guciali seolah menjadi tempat tumpahnya inspirasi, dan hingga sekarang (saat tulisan ini rampung) mereka sudah berkarya. Mereka mulai menulis puisi, cerpen, esai, artikel, bahkan mereka berkometmen membuat novel. Saya yang mendapat tugas memberikan bimbingan menulis novel, sudah melihat beberapa peserta merampungkan novelnya. Sungguh kemajuan yang luar biasa bukan? Maka, sungguh Silatwil telah memberikan manfaat datangnya rezeki berupa kemampuan menulis. Kemampuan itu adalah rezeki dari musabab silaturrahim. Banyak-banyaklah silaturrahim. Jangan menutup diri dan menganggap dunia orang lain tidak layak dikonsumsi. Dikonsumsi menjadi karya tulis, itu sangat luar biasa.


Akhirulkalam, semoga yang sudah tercerahkan lewat program Silatwil tidak surut dan modar oleh karena putus harapan. Jangan lupa, bahwa Tuhan tidak akan pernah menyia-nyiakan harapan-harapan seorang hamba, sepanjang hamba itu mau bersabar melewati prosesnya. Tuhan, juga tak akan pernah menyia-nyiakan naskah-naskah hambanya, sepanjang hamba itu mau bersabar hingga naskahnya menemukan jodohnya.

Wallahu’alam.
Penulis: Nun Urnoto

Sumenep, 13 Oktober 2016
Catatan yang terlambat ditulis.  


0 komentar

SANTRI BANYUANYAR SEMANGAT MENULIS


Tanggal 28 Maret 2016, saya mengisi motivasi menulis di Perpustakaan Pusat Pondok Pesantren Banyuanyar Pamekasan. Kegiatan yang bekerjasama dengan penerbit Pangaro Media Utama itu dimulai sejak tanggal 28 Maret sampai 1 April 2008. Kegiatan tersebut dibuka oleh pengurus pesantren, dan diikuti oleh para santri yang berminat terhadap dunia literasi. Antusiasme peserta selama saya memberikan motivasi cukup menggembirakan. Terbukti, dari sikapnya yang dengan saksama menyimak apa yang saya sampaikan, juga nampak dari mereka yang menanyakan hal-hal terkait dengan dunia tulis-menulis.

Menulis—sebagaimana yang saya sampaikan kepada peserta—adalah tradisi ulama-ulama terdahulu yang kitab-kitabnya banyak dikaji di dunia pesantren. Maka, sudah seyogianya mereka meneladani apa yang sudah dilakukan oleh para pengarang kitab-kitab klasik—yang karya-karyanya mereka baca.

Santri harus bisa menulis sebagaimana yang telah mereka lakukan. Paling tidak, mereka bisa merekonstruksi gagasan-gagasannya menjadi karya tulis baru yang bisa mencerahkan zamannya. Ulama-ulama terdahulu, kompetisinya dibidang ilmu pengetahuan sangat besar, maka jika santri gagal mengikuti jejaknya, itu satu kegagalan intelektual yang selama ini tanpa sadar telah dilestarikan.

Santri yang masih berdomisili di pesantren punya kesempatan besar untuk berkarya tulis, sebelum akhirnya disibukkan dengan banyak urusan setelah keluar dari pesantren. Santri bisa menulis puisi, cerpen, novel, esai, atau bahkan berjuang mengarang tafsir al-Qur’an, agar menjadi “mazhab” baru yang mungkin akan menjadi rujukan untuk kehidupan yang makin kompleks seperti sekarang.

Peserta yang terdiri dari lintas kelas itu, banyak menanyakan perihal sastra. Artinya, mereka lebih berminat pada dunia sastra seperti puisi, cerpen, atau novel. Kepada hal-hal yang beraroma hukum Islam, seperti halnya fikih, tauhid, tasawuf, mantiq, tak ada sama sekali. Barangkali, mereka menganggap ilmu-ilmu itu sudah final dan dianggap cukup ditangani para salafus sholeh.

Saya berpikir, seandainya para santri berhasil melakukan rekonstruksi pemikiran fikih sebagaimana halnya Imam Syafie yang merekonstruksi pemikiran gurunya, Imam Maliki, maka khazanah keilmuan yang mandul selama ini, akan hidup kembali dan peradaban Islam akan bangkit. Barangkali saat ini, masih belum masanya. Namun, saya yakin proses ini tengah berlangsung, tapi entah di pesantren mana.  

Tiga hari setelah mengisi acara motivasi (1 April), saya masih didaulat untuk membedah novel “Anak-Anak Pangaro”. Pada sesi bedah novel ini, peserta dan pembanding cukup bersemangat. Mereka menanya setting, alur, penokohan, bahkan tata bahasa dan istilah-istilah yang mereka anggap tidak sesuai dengan setting cerita. Suasana benar-benar menjadi gayeng bahkan lebih hidup dibanding saat acara motivasi menulis.

Motivasi menulis berlangsung hingga pukul  sebelas malam, dan ditutup dengan doa oleh pengurus pesantren Banyuanyar. Sedangkan bedah novel berlangsung setelah salat Jumat.
Dan, seperti biasa sebelum saya pulang, kegiatan tersebut diabadikan di depan kamera sebagai jejak sejarah untuk tidak di lupakan.








Sumenep, 13 Oktober 2016
Catatan yang terlambat.


0 komentar

UPGRADING MELAHIRKAN PENULIS


Rusunawa ramai oleh para penulis dari pelosok Jawa Timur. Mereka adalah aktivis Forum Lingkar Pena (FLP) yang akan mengikuti Upgrading selama tiga hari mulai 6 hingga 8 Februari. Mereka akan dimantapkan tentang keorganisasian dan kepenulisan, sehingga menjadi bekal pulang dan dapat dikembang di wilayah kekuasaan FLP masing-masing.

Ketua FLP Jawa Timur, Bapak Rafif memberikan beberapa solusi terkait berbagai manajemen organisasi yang terkadang menjadi kendala di masing-masing cabang, termasuk sistem rekruitmen anggota yang terkesan longgar dan juga terkesan ketat. Ketua FLP Jawa Timur memberikan jalan tengah yaitu untuk tidak terlalu ketat sekaligus tidak terlalu longgar.

Selain keorganisasian, peserta juga diajak fokus pada genre tulisan yang paling diminati. Kekuatan fokus ini dimaksudkan untuk memaksimalkan hasil. Peserta diharapkan bisa menghasilkan satu karya buku semisal fokusnya menulis genre novel saja atau cerpen saja, tetapi bukan berarti mengabaikan genre lain yang barangkali juga diminati. Paling tidak kekuatan fokus menjadikan peserta lebih maksimal menghasilkan sebuah karya dalam bentuk buku.

Peserta dipacu menghasilkan satu karya yang kelak jika sudah balik kandang bisa menjadi modal awal untuk mengajak yang belum melek literasi agar mengikuti dirinya yang sudah punya modal berupa hasil karya tadi.

Dengan demikian orang tidak menjadi apatis jika diajak bergabung dengan Forum Lingkar Pena yang terus didengungkan eksistensinya. Masyarakat tentu tidak ragu lagi bergabung jika ada bukti kongkret dari para pengurusnya atau dari para anggota yang sedang dibinanya.

Karya tulis para stake holdernya hrus menjadi bukti nyata bahwa bergabung dengan FLP akan melahirkan karya tulis yang benar-benar nyata.

Banyaknya organisasi kepenulisan saat ini harus menjadi pecut bagi generasi FLP untuk terus bersaing menghasilkan sebuah karya tulis yang bisa dinikmati dalam bentuk buku. Versi digital juga demikian, meski nilai sakralitasnya masih jauh didominasi dalam bentuk buku.

FLP sebagai organisasi kepenulisan terbesar dan punya cabang hingga manca negara, tidak boleh berdiam diri agar setiap pengurus dan anggotanya menghasilkan karya dalam bentuk buku. Paling tidak demikian dahulu yang bisa dilakukan oleh anggota FLP. Jangan sampai kebesaran FLP hanya menjadi dominasi seniornya belaka, sementara para yunior, susahnya setengah mati menghasilkan karya tulis.

Upgrading Jawa Timur adalah tonggak sejarah baru untuk kelahiran generasi-generasi baru yang sebentar lagi juga akan memelahirkan karya tulis untuk menyaingi seniornya.

Semoga FLP menerima sinar matahari dan rembulan dari segala penjuru, sehingga lebih hebat dari hari-hari sebelumnya.

_______________

Ditulis Nun Urnoto, yang terlambat memberikan catatan selama upgrading.


0 komentar
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Kabar Nun - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger