"Surga tempatnya orang-orang berprestasi"(KH. Ilyasi Siraj, M.Ag.)




POSTINGAN HARI INI
print this page
POSTINGAN TERBARU

PEMBANGUN CERITA

A. Iftitah
Unsur vital dalam karya prosa fiksi adalah unsur ekstrinsik dan intrinsik. Kedua unsur itu ‘wajib’ ada dalam setiap rangkai cerita. Jika tidak, maka sangat boleh jadi cerita itu akan cacat dan pembaca akan menanggalkannya begitu saja. Namun, kedua unsur tersebut bukanlah sesuatu yang menakutkan, sehingga penulis pemula tidak perlu menjadi surut dan ciut untuk menjadi juru cerita. Setidaknya, dua unsur tersebut menjadi literatur awal sebelum menorehkan cerita, agar terbuka jalan lapang sehingga tidak tersesat.

Penulis pemula yang—misalnya—kebingungan dengan dua teori di atas, sebaiknya tidak dijadikan mazhab atau rujukan saat menulis ceritanya. Tulis saja yang dalam benaknya, tanpa terkungkung oleh dua unsur mengerikan itu. Tetapi yakinlah, bahwa dua unsur adalah penunjuk jalan untuk menjadikan sebuah cerita nyaman dibaca.

Baca, renungkan, khayalkan, lalu tuangkan dalam bentuk tulisan. Jangan ragu dan takut, karena semua cerita yang dihasilkan akan menemukan tempat singgahnya sendiri-sendiri, atau akan menemukan komunitas pembacanya sendiri. Takut tidak bagus, takut jelek, takut tidak menarik, adalah penyakit yang akan menggagalkan impian semua orang. 

B. Unsur Ekstrinsik
Unsur Ekstrinsik menurut Prof. Burhan Nurgiyantoro dalam buku Pengkajian Fiksi, adalah segala sesuatu yang ada di luar teks cerita fiksi, tetapi sebenarnya—tanpa disadari—sudah merasuk ke dalam cerita itu sendiri, karena unsur ekstrinsik adalah ‘nilai’ yang berkembang di sekitar penulis, misalnya nilai-nilai agama, budaya, politik, sosial, dll. Misal, nilai agama yang akhir-akhir ini mengalami benturan ideologi antar sesama pemeluknya, saling maki, mengafirkan, dan sebagainya. Contoh lain adalah politik, yang akhir-akhir ini telah menghalalkan segala cara untuk mencapai kekuasaannya, atau masalah sosial yang saat ini sangat rumit, mulai dari perampokan pembunuhan, pelecehan seksual, pembantaian, hingga korupsi yang merajalela.

Semua itu menjadi unsur ekstrinsik yang (kadang oleh pemula) tanpa disadari berpengaruh dalam penulisan prosa. Segala sesuatu yang terjadi di sekitar pengarang/penulis akan terlibat secara otomatis. Itulah unsur ekstrinsik.     

C. Unsur Intrinsik
Selain unsur ekstrinsik adalah unsur intrinsik. Unsur ini sangat menentukan pembentukan cerita. Tanpa unsur-unsur intrinsik, maka cerita akan pincang. Misalnya, cerita tanpa alur yang logis, sudut pandangnya kacau, atau latarnya tidak konsisten. Berikut unsur-unsur intrinsik yang seharusnya ada dalam prosa.

1.  Tema Cerita
Tema cerita adalah sentral cerita yang harus dimiliki oleh pengarang sebelum menulis ceritanya. Misalkan tema cinta, persahabatan, kesetiaan, kemerdekaan, pendidikan, dan sebagainya. Tema akan membatasi seorang pengarang, agar tidak ke mana-mana saat menulis ceritanya, meski terkadang ada tema-tema kecil, tapi itu pun tidak cukup berpengaruh pada tema pokok.

2.  Penokohan
Setiap cerita pasti ada tokohnya, termasuk tokoh utama, tokoh figuran, atau tokoh-tokoh lain yang terlibat penuh di dalam cerita fiksi. Pengarang bisa menjelaskan karakter tokoh-tokoh rekaannya baik dengan menggunakan narasi mau pun dijelaskan dengan tindakannya. Misalnya tindakan tokoh yang baik, atau tindakan tokoh yang jahat semisal suka membunuh, mencaci, mencuri, dan lain sebagainya.

3.  Sudut Pandang
Sudut pandang merupakan posisi pencerita dalam sebuah kisah. Sudut pandang yang paling sering digunakan adalah sudut pandang orang pertama, “AKU” atau sudut pandang orang ketiga, “DIA.” Sudut pandang orang pertama biasanya dibatasi oleh panglihatannya sendiri, artinya tidak bisa menceritakan perilaku tokoh-tokohnya secara detail. Berbeda dengan sudut pandang orang ketiga yang serba tahu. Sudut pandang orang ketiga tak dibatasi oleh ruang dan waktu. Dia ‘maha’ tahu segala sesuatu yang ada di dalam cerita, bahkan yang terbersit di dalam hati tokoh-tokohnya, dia mengetahui semuanya.

4.  Alur Cerita
Alur cerita berkaitan erat dengan kondisi imajinasi pengarangnya. Jika mentok imajinasi si pengarang, maka tamatlah ceritanya sebelum klimaks. Alur merupakan detail peristiwa dari waktu-kewaktu yang perlu dipertahankan hingga selesai. Maka, jagalah imajinasi agar tidak mati. Caranya, bisa dengan terus menambah bahan bacaan yang bersangkut-paut dengan cerita atau mencari inspirasi lain yang berkait dengan cerita yang tengah ditulisnya. 

5.  Latar Cerita
Latar adalah tempat di mana cerita/peristiwa itu muncul. Gunakan latar yang sudah dikenalnya, agar tidak meracau/ngawur saat menulis. Detail latar sangat penting untuk menggiring pembaca pada suasana yang sudah didesain oleh si pengarang, agar pembaca terhipnosis sehingga terpengaruh dengan suasana yang tercipta.

6.  Amanat
Amanat merupakan pesan moral. Bisa juga disebut visi dan misi penulisnya, yang dikemas ke dalam tema yang sudah menjadi cerita untuk memengaruhi pembacanya. Misal, temanya Cinta. Maka, pesannya boleh: “Cinta Energi Kesetiaan”, atau Cinta Sejati adalah Setia”, Perempuan Paling Setia”, dan lain sebagainya.

D. Penulisan
Penulisan cerita fiksi sebaiknya menggunakan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD), sekalipun lain waktu menyelipkan bahasa daerah atau menjadi boleh ketika terjadi di dalam dialog. Tapi, itupun harus dijelaskan dengan catatan kaki agar pembaca tidak putus pemahamannya. Penulisan titik, koma, tanda kutip, dan lainnya sangat perlu untuk diperhatikan.

Penulisan yang benar akan menjadi point  positif ketika dikirim ke penerbit atau media, karena biasanya penulisan yang benar menjadi standar kemampuan penulisnya. 

E. Penutup
Jika hal-hal di atas terasa rumit dan pikiran semakin kalut, maka sebaiknya ditinggalkan. Langsung saja tulis apa yang membandel di dalam benaknya.
0 komentar

KEKUATAN PENA

Pendahuluan
Menulis adalah aktivitas intelektual yang melibatkan dua komponen penting yaitu, membaca dan penelitian. Kerja yang berorientasi otak ini memiliki efek samping yang dominan untuk menciptakan perubahan, baik perubahan pemikiran, budaya, bahkan perubahan peradaban. Maka tidak heran jika, Winston Churchill mengatakan bahwa, "Pena lebih tajam daripada pedang." Artinya, kehebatan pena (tulisan) sangat dahsyat, bisa mengubah banyak hal, bahkan bisa menghilangkan nyawa. Seorang panglima perang Perancis, Napoleon Bonaparte juga pernah berujar, "Saya lebih takut pada pena daripada seratus meriam." Sebab, pena membunuh orang secara pelan-pelan, dan pdang hanya sekali tebasan.

Saya sendiri pernah berkirim surat kepada ketua Yayasan meminta memecat kepala sekolah yang terlibat manipulasi KF (Keaksaraan Fungsional), dan seminggu kemudian kepala sekolah tersebut diberhentikan dari jabatannya. Hanya dengan bermodal tulisan 4 lembar halaman, tulisan saya bisa menghentikan angkara murka tanpa harus demonstrasi.

Ternyata kekuatan pena dahsyat sekali. Saya semakin yakin bahwa tulisan bisa mengubah dunia. Maka, mengapa kita tidak menulis untuk menyampaikan pesan, semisal dakwah bil qalam, pesan-pesan politik, atau (bagi remaja) ayat-ayat cinta, petuah-petuah bijaksana, dan sebagainya?

Seorang seperti saya yang lahir dari seorang nelayan dan petani tulen di tanah pulau, tidak pernah bermimpi duduk di depan audien memberikan ceramah. Dan, saya sudah melakukannya dibanyak tempat. Mereka mendengar, mereka menghargai saya, mereka membayar saya, dan mereka membaca karya saya. Begitulah (di antaranya) Allah mengangkat derajat seseorang. Terima kasih, Tuhan.

Hanya dua karya novel dan beberapa tulisan di koran, saya sudah bisa membuat schedule mengisi seminar, workshop, bedah buku, sekolah menulis, dan lain-lainnya. Benarlah pesan Imam al-Ghazali, “Jika kamu bukan anak seorang raja, bukan pula anak ulama ternama, maka menulislah.” Pesan sederhana yang sangat saya rasakan karena saya telah mengalaminya. Dahulu, saya hampir tak memercayai petuah itu. Maka, jangan bersikap seperti saya tempo dulu. Menulislah segera, sebelum tua seperti saya.  

Menulis tidaklah serumit membayangkan wajah kuntilanak atau pocong, cukup bermodal kosakata (caranya banyak membaca), dan sebatang pena untuk menuangkanya, maka jadilah tulisan. Lalu, sebarlah tulisan itu agar bisa memberi manfaat kepada sesama. Dan, berharap menjadi berguna bagi sesama agar di alam kematian kita berlimpah kebaikannya. Tulisan akan mengabadikan penulisnya serupa ulama-ulama yang sudah wafat berabad lamanya.

Sekali lagi, menulis tidaklah rumit. Mungkin—sementara—cukuplah petuah Stephen King digunakan sebagai dalil, “Tak ada jalan pintas menjadi penulis, kecuali membaca dan menulis itu sendiri.”
0 komentar

MEREKA INGIN MENJADI PENULIS

Kemarin (26/2/2015), saya kembali memberi pelatihan menulis kepada siswa-siswi MA., Mansyaul Ulum Pasean Pamekasan, setelah setahun sebelumnya juga pernah melakukan hal yang sama. Namun, kali ini ada yang berbeda. Jika tahun sebelumnya hanya melibatkan siswa-siswi MA., Mansyaul Ulum sendiri, sekarang menyertakan sekolah-sekolah sekitarnya.  Artinya, kegiatan tersebut mengalami kemajuan yang cukup signifikan.

Kegiatan menulis yang dikemas dengan karantina itu, dilakukan selama tiga hari dengan aneka kegiantan menulis lainnya. Tujuannya tidak lain membangkitkan semangat literasi bagi semua peserta, paling tidak mereka tidak kaget dengan dunia tulis-menulis yang terkadang membuat kepala para pelajar menjadi pening.

Khusus pelatihan kali ini, saya memfokuskan menulis fiksi, dan hanya sedikit memberikan pemahaman menulis nonfiksi. Mengapa fiksi? Anak-anak sekelas Madrasah Aliyah, masih 'kurang layak' atau masih membutuhkan pelatihan khusus menulis nonfiksi yang sedikit memeras pikiran. Sedangkan fiksi, saya anggap tidak terlalu berat jika hanya menulis fiksi cerpen atau puisi. Mereka hanya cukup bercerita saja dengan modal imajinasinya. 

Saya sampaikan bahwa menulis fiksi tak hanya bermodal imajinasi tetapi rajin membaca adalah kunci utamanya. Gagal membaca, sama halnya gagal mengembangkan imajinasi dan akan menjadi miskin kosakata. Miskin kosakata akan menjadi mustahil merangkai cerita. 

Peserta pelatihan cukup antusias. Mereka mengajukan banyak pertanyaan setelah sebelumnya saya meminta praktik menulis. Bagi saya, semangat mereka adalah modal utama untuk menjadi penulis. Semangat mereka bisa terbangun jika dimotivasi oleh guru-guru mereka, oleh para penulis, dan mereka tahu keuntungan menulis. Oleh karenanya, dalam pelatihan tersebut, 70% materi saya berisi motivasi.

Sekolah yang terletak di pedalaman ini, punya semangat luar biasa. Para siswa-siswi diberi ruang ekspresi untuk menyalurkan keinginannya, termasuk ruang untuk menulis. Sudah ada dua buletin yang diterbitkan oleh peserta didiknya, dan itu salah satu buktinya.

Bagaimana dengan sekolah yang lain? Jangan sampai kalah dengan sekolah yang terletak di pedalaman ini. Sekolah yang jauh dari kebisingan kota ternyata tak bisa diremehkan begitu saja. Boleh jadi mereka lebih maju, lebih bersemangat, dan lebih punya prestasi. 
Semoga memberi manfaat.

"Jika engkau bukan raja, bukan anak ulama ternama, maka menulislah" (Petuah Imam al-Ghazali)
0 komentar
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Kabar Nun - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger