"Surga tempatnya orang-orang berprestasi"(KH. Ilyasi Siraj, M.Ag.)




POSTINGAN HARI INI
print this page
POSTINGAN TERBARU

BERKENDARAAN MEMBAHAYAKAN

Dok. Nun

Bonceng dua orang, tidak hanya melanggar aturan lalu lintas, tetapi juga membahayakan dan sangat tidak sopan, apalagi dilakukan oleh pelajar seperti di atas. Para orangtua yang menghendaki anaknya selamat dari kecelakaan harus memberikan peringatan keras sebelum kejadian yang tak diinginkan menimpa mereka. Seharusnya, seperti itu tanggung jawab para orangtua. Namun, ketika berseragam macam gambar di atas, siapa yang bertanggung jawab? Tentu saja para guru di sekolah. Anak didiknya harus disadarkan bahwa bonceng dua orang tidak sopan, melanggar lalu lintas, dan membayakan jiwa diri sendiri dan orang lain.

Para guru di sekolah harus benar-benar ketat, karena kesempatan seperti itu justru digunakan oleh anak-anak sekolah ketika lepas dari pengawasan orangtua. Sudah banyak korban kaum pelajar dalam kecelakaan lalu lintas ketika jam-jam sekolah, atau ketika siswa masih belum sempat melepas seragam sekolahnya.

Guru di sekolah tidak harus melulu mengajarkan materi pelajaran yang terkadang tak ada hubungannya dengan sopan santun anak didiknya. Sampaikan sesegera mungkin hal-hal yang terlihat janggal yang sering dilihat di sekitar kehidupannya, agar anak-anak didiknya tidak terjerembab ke lembah yang merugikan. Antisipasi mulai sekarang, sebelum semua bencana terlambat.  

Dok. Nun
Tidak hanya siswa berseragam yang melakukan hal-hal tidak sopan macam di atas, sepertinya hampir semua masyarakat sudah menganggap hal boncengan macam dua gambar di atas sebagai tradisi, padahal tidak sopan dan berbahaya. Lama-lama hal yang demikian akan menjadi sopan dengan sendirinya jika dilestarikan. Melestarikan yang berbahaya, sudah tentu perbuatan setan. Perbuatan setan kok dilestarikan? 

Ah, kan darurat!

Darurat boleh jadi alasan, tapi jika seperti gambar di atas, rasanya alasan darurat tak bisa dijadikan dalil untuk menjustifikasi kesalahannya. Jika ketahuan polisi sudah pasti ditilang dan bayar denda. Polisi tak akan memberikan ampun, kecuali membayar. Artinya, darurat tidak berlaku bukan? Aturan harus ditegakkan, meski tak ada polisi. 

Orang Indonesia tak boleh jadul lagi. Tak boleh barbar lagi. Jika mengakui negara ini sebagai tempat tinggalnya, maka semua aturan negara harus dipatuhi. Jika tidak mau, maka segera hengkang saja dari negeri ini. Kira-kira begitu konsekwensinya. 

Masyarakat kan belum sadar hukum?

Hukum memang harus ditegakkan, tetapi jika masyarakat tidak tahu tentang hukum itu, lalu siapa yang layak disalahkan? Misal, hukum berlalu lintas. Banyak masyarakat yang tidak tahu tata aturan berlalu lintas. Misal, tidak tahu berapa denda tidak pakai helm, tidak tahu denda tidak punya SIM, malah tahu-tahu ditilang dan masuk pengadilan. Kapan para penegak hukum sosialisasi aturan, kok malah langsung main tilang? Seperti tersebut juga menjadi masalah. Sebaiknya, misal hukum lalu lintas, polisi harus memberikan sosialisasi kepada masyarakat termasuk ke sekolah-sekolah. Sosialisasi tersebut diharapkan memberikan penyadaran sepenuhnya kepada masyarakat. Jadi, jika sudah disampaikan, lalu masih ada yang melanggar, hukumlah. Jika masih belum, lepaskanlah dan jangan ditilang.

Hukum tak bisa seenaknya menggeneralisir semua orang sudah tahu hukum, sudah cerdas, sudah mendengar di TV-TV. Hal itu tidak bisa dijadikan hujjah. Masyarakat masih banyak yang bodoh, masih jadul, dan tak suka mencari informasi untuk keselamatannya sendiri. Jadi, harap maklum jika masyarakat tidak cerdas. Kapan cerdasnya? Saat penegak hukum melakukan sosialisasi secara sungguh-sungguh. Maka, masyarakat akan tahu meski belum bisa cerdas.

Biarkan masyarakat merasakan keadilan dengan mendapatkan informasi yang proporsional, sehingga bisa taat hukum, dan tak ada lagi bonceng dua orang, yang mengancam keselamatan diri sendiri dan orang lain.


(nun)  


0 komentar

PEREMPUAN TUA DI BAWAH MATAHARI

Dok. Nun

perempuan tua berjalan di bawah matahari
bersandal jepit
berlipat semangat
mandi keringat

perempuan tua tak sepatah kata
setiap sampah dipungutnya
sampah mutiara
menjadi cinta

perempuan perkasa memunguti sampah
diterik matahari dan deru mobil tuan tanah
hatinya tak latah
imannya tak patah

wahai engkau perempuan tua
alamatmu di angkasa
surgamu di singgasana para Rasul-Nya
berjalanlah ke sana

Tuhan akan menanyakan sampah
yang engkau olah
air matamu di terik matahari tiketmu nanti
perempuan tua sudah senja
malam akan gulita
burung-burung sudah masuk ke sangkarnya
pulanglah ke angkasa

perempuan tua
sungai air mata di selokan-selokan kota
adalah tangis mereka
pungutlah sampahnya di sana
agar jernih air mata deritanya

esoklah datanglah ke sana
pungutlah
pungutlah
pungutlah.
Dok. Nun



Guluk-Guluk, 2 Februari 2015.

0 komentar

LELAKI TUA DI PASAR GANDING

Dok. Nun

Sumenep-Kesulitan ekonomi tidak membuat Pak Komar putus asa untuk mencarinya. Orang tua berusia 70 tahunan ini juga tak ingin hidup berbelas kasihan dari ketiga orang anaknya yang sudah berkeluarga. Ia tetap berusaha berjerih payah, peras keringat, banting tulang, dan tidak menggunakan cara-cara ilegal yang menyengsarakan orang lain. 

Pak Komar dan seorang temannya, Pak Mat Sirat, yang sama-sama dari Kecamatan Dasuk desa Jelbuden, berjualan batu Gamping dari pasar yang satu ke pasar yang lain. Saat saya wawancarai dan menjepretnya, keduanya tengah berjualan batu Ganping di pasar Ganding.

Menurut Pak Mat Sirat, satu timba Gamping seharga 5-10 ribu. Keduanya membawa gamping dari rumahnya sebanyak dua karung. Jika dua karung habis, maka Pak Mat Sirat akan membawa pulang uang sekitar 50-60 ribu rupiah. Saya tercengang, tapi saya hanya mampu diam.

Ketika saya tanya, kenapa tidak anaknya yang membiayai hidupnya, Pak Mat Sirat dengan tegas menjawab, "Saya tak mau makan keringat orang lain, meski itu anak saya." Luar biasa usahanya, bangun pagi peras keringat. Sedang saya, bangun malam pagi mendengkur.

Usaha kedua orang tua yang sudah berusia lanjut, patut diteladani oleh generasi sekarang yang cenderung hedonis tanpa mau bersusah payah dan hanya mengambil jalan pintas, semisal mencuri, merampok, mengharap belas kasih orang tuanya yang kaya, tidak mau bekerja yang berat-berat, dan sebagainya. 

Saya rasa, dua orang tua tersebut layak dijadikan inspirasi oleh kaum muda. Paling tidak meniru semangatnya, dan berupaya mengantisipasi kemelaratan masa tua. Kira-kira, jika kaum muda punya nyali seperti mereka untuk tidak makan lewat keringat anaknya kelak, apa kira-kira yang layak dikerjakan di masa tua tanpa berjemur di pasar? Nah, mulai sekarang silakan mencari jawabannya.  

Saya sendiri juga pusing tujuh keliling, jika Tuhan memberi jatah umur panjang hingga tua seperti mereka. Sementara kita punya nyali tak makan keringat anak-anak kita sendiri, namun di sisi lain kemelaratan cukup menyiksa dan para tetangga eksodus ke Malaysia, dan negara mulai buta. 

Mulai sekarang mari pikirkan, kira-kira apa pekerjaan untuk masa tua kita? Terutama para sarjana muda yang baru lulus kuliah dan susah mencari pekerjaan. Saya yakin, sarjana muda pasti tak punya nyali seperti Pak Komar dan Pak Mat Sirat. 

Jangan bilang, "rezeki urusan Tuhan." Saya sudah tahu itu pasti, tapi jika jalannya rezeki membuat kita lelah dan tak berdaya sebaiknya disiapkan mulai sekarang. Belajar pada dua tokoh inspiratif kali ini, akan menyiapkan mental kita sejak dini, atau bisa memilih pekerjaan yang lebih mulia, lebih gampang dan lebih banyak memberi pengetahuan. 

Dok. Nun

Mari siapkan bekal untuk hidup selanjutnya. Mumpung masih muda, kerahkan tenaga dan pikiran untuk mendapatkan mutiara sebagai bekal di masa tua dan masa hidup selanjutnya. Bagi yang punya kreativitas melukis, maka melukislah dengan baik. Bagi yang ahli ceramah agama, maka belajarlah agama dengan baik. Bagi yang mau menjadi penyair, maka jadilah penyair yang mencerahkan dan orang lain puas membayar syair-syairnya.

Tuhan akan membayar tiap-tiap usaha hambanya. Semakin besar usahanya, maka semakin besar Tuhan memberi ongkosnya. Jangan lupa bersedekah. Berbagi kepada sesama yang lebih membutuhkan. 

Selamat mereka-reka masa depan. Aku juga demikian.
0 komentar

PENYAIR SANDAL JEPIT MENJAMAH GADIS BERMATA RUBY


Sumenep-OSIS SMA 3 Putri Annuqayah Guluk-Guluk mengundang 'Penyair Sandal Jepit' untuk menjadi pembanding dalam bedah novel "Gadis Bermata Ruby" karya Alfin Nuha, hari ini (2/22015). Tanggapan dan kritiknya terhadap karya Alfinnuha, jauh lebih istimewa dari penampilannya yang sederhana. Rasanya, tak rugi SMA 3 Annuqayah mengundangnya. Artinya, anak-anak belia seusia OSIS SMA 3 Annuqayah sangat mengerti 'nilai' pembanding yang punya nama lengkap Muhammad Faizi itu. Jelasnya begini, M. Faizi adalah sosok nasional yang pernah merambah dunia internasional hingga ke Jerman, dan anak-anak SMA 3 sangat menyadari hal itu, ketika para tetangganya tak menyadari nilainya.

Bedah buku juga dihadari oleh penulisnya sendiri, Alfinnuha. Ia bercerita tentang proses kreatifnya secara singkat, namun menginspirasi anak-anak SMA 3. Mereka terlihat gelisah, seperti ingin segera bisa menulis pula. Angin segar dunia literasi dihembuskan oleh Alfinnuha yang pernah mendirikan FLP Ranting Annuqayah pada 2000 lalu. Hembusan pena tentu saja juga datang dari 'Penyair Sandal Jepit' yang telah malang melintang di belantara Sajak Sareyang.

Dua penulis yang masih sedarah itu, layak untuk diikuti jejak prestasinya. Tak perlu jauh-jauh mendatang orang lain, jika masih ada yang lebih baik dengan biaya yang murah meriah. Bukankah mereka bisa pula dijadikan inspirasi daripada yang masuk TV-TV dan hanya dibesarkan oleh media-media, tapi kosong spiritnya? Namun, kadang-kadang banyak yang latah dengan berita bombastis. Itulah kita.

Acara yang dimoderatori oleh Ida ar-Rayyan ini cukup meriah, anak-anak cukup antusias menyimak dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Bahkan, pembanding M. Faizi menyarankan kepada penulis agar memfiktifkan nama tempat, seperti nama sekolah yang ada di dalam novel tersebut.

Kegiatan macam tersebut sangat layak jika terus dikembangkan, dibudayakan, hingga menjadi peradaban. Anak-anak sokolah yang tak hanya belajar buku-buku formal biasanya wawasannya lebih luwes, lebih luas, dan cenderung tidak menjadi makhluk fanatik yang hanya membenarkan diri sendiri dan kelompoknya. Maka, acara diskusi, seminar, pelatihan, bedah buku, termasuk membaca buku sangat cocok dijadikan bagian aktivitas pembelajaran.

Siapa yang berminat dengan acara-acara seperti tersebut, insya Allah saya bisa membantunya. Bantu cari pembicara bermutu, mahal, gratis juga boleh.

Selamat belajar santri Annuqayah.
0 komentar
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Kabar Nun - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger