"Surga tempatnya orang-orang berprestasi"(KH. Ilyasi Siraj, M.Ag.)




DENDANG BUJANG TANAH SEBERANG

inilah dendang Bujang di tanah seberang
pendulang ilmu pemantik bintang
berharap hidupnya gemilang
tak gamang jalan pulang
meski lama melanglang
mari, papar panjang-panjang
siapa sang Bujang?

Biang Tanah Gersang
ketika bujang pulang
kakinya menginjak tanah tandus nan malang
kering-kerontang membentang sepanjang pematang[1]
dada bujang meradang serupa terjangan menjangan
sebab tak tega tanah menjelma tanah liang!

Bujang menatap ke depan
melempar pandang ke belakang
matanya nanar menatapi tanah-tanah berlubang
bergelimang gersang

Bujang semakin garang ingin segera mendulang gemilang
matanya menusuk bagai mata elang
jiwanya ngalengsang.[2]
Dada bidangnya mendendang:
“percuma aku datang bila gagal mendaur ulang
tanah tandus harus mendulang keberuntungan
dan aku siap  menjadi dalang penghilang bimbang
bagi penduduk kampung yang patah harapan!”

Watak bujang watak pejuang
pewaris gairah buyut Samman
yang meninggal di tiang gantungan
lantaran menentang penjajah Jepang

Bujang hidup hendak membalas dendam
hingga nyawanya diantar ke tanah liang
tapi musuh bebuyutan telah berpulang
kini tinggal bencana kekeringan
akankah Bujang tetap berjuang?

lihatlah sekarang!
tanah kerontang menantang bujang
menatap sarung yang berselempang
agar menabur keselamatan

Bujang melangkah tanpa gamang
demi kampung halaman ia berseru dengan lantang:
“untuk apa kembali pulang
bila hanya pesakitan menghantam tulang
kini aku telah pulang dari tanah tualang
jatah peluang tanah tandus nan gersang”

Usut Cerita
di pesantren Bujang dibimbing makna imbalan tanpa bayaran
menggadai hidup hanya untuk Tuhan
dan Tuhan menyelip janji sejuta menang
pada setiap insan pembusung iman
itulah muasal Bujang bangkit berjuang
Bujang tak perduli matahari memanggang
jiwanya melangkah pada setiap jengkal tanah gelombang
demi cita-cita agar tanah kelahirannya kembali berkilauan
bertunas permata, berkembang uang

Bujang berseru pada segerombolan orang:
“kekeringan bukan kehendak Tuhan
salah kalian yang tak berperikemanusiaan
membabat hutan sembarangan tanpa perhitungan
akibat ulah yang kalian tuangkan
kita menderita tujuh turunan
hingga bebatuan dan segenap binatang-binatang[3]

Bagi Bujang, pulau adalah impian masa depan
tempat anak-cicitnya menyongsong langit terang
itulah sebabnya Bujang wajib berjuang,
menata kembali yang tergelimpang

pada suatu siang, bujang datang pada tetua kampung
berujar dengan tenang:
“bilamana musim penghujan datang,
rintikpun enggan tertuang
kenapa tuan-tuan diam?
tidakkah tuan curiga pada kenyataan?
ketika pulau seperti menguapkan bara setan
yang hanya mencipratkan panas tak kepalang?”

tetua kampung membalas luapan Bujang:
“beruntung engkau datang Bujang
pertanda Tuhan memberi jalan kesadaran
bahwa bumi kampung tak bakal terpanggang”

pada musim panas, para penghuni kampung seperti ditindas
dilindas, diperas!
karena terlalu panjang menanti tumpah hujan deras
penghuni tergilas, memelas, mengenas, tak tuntas-tuntas.

tak satu pun pejabat dan politisi datang mengulas
apalagi mengelus
kalau pun ada,
hanya basa-basi belaka
sarat kepentingan politis nan culas.

penduduk kampung mudah terlena rayuan gombal
membiarkan pejabat dan politisi mengelus-ngelus pundaknya
lalu dirinya rela ditendang tanpa merasa
bodohnya penduduk kampung tak kepalang
tak ketulungan.

setelah suaranya dilacurkan begitu saja
nampak nyata
berbagai ketimpangan melanda
penghuni kampung terus menuai celaka setiap masa
tanpa jeda untuk sekadar tertawa.

di hari belakang
kering-kerontang menjelma Global Warming 
proyek baru para pecundang untuk meladang uang
mengusung aroma kekeringan panjang
yang belakangan ternyata bohongan.[4]

Bujang tak perduli perang saraf elit global warming
Bujang membiarkan konspirasi digempurkan kaum jalang
bujang hanya tetap berjuang tanpa mengemis bantuan
demi rakyat sekarat yang mengerang kesakitan.   

Bujang tak nyenyak sepanjang petang
memikirkan derita pulau, tempat ari-arinya di semayamkan
pikirannya kerasukan penderitaan orang-orang
yang mengayuh sepeda onthel mulai pagi hingga petang
hingga matahari kembali bersinar terang

orang-orang tak perduli jalanan berbatu nan tajam bagai ujung pedang
hasil koruptor punggawa desa penyeleweng anggaran tak berbilang
yang tak tersentuh kebijakan pengadilan binatang

derap sepeda terus melaju menuju ujung pulau
sumur Beringin[5], tempat satu-satunya sumber air mengalir
berteduhnya semua semut dan umat
bertumpuknya semua keringat

mereka terus mengayuh, tak perduli matahari menyengat
dadanya bergemuruh, semangatnya mengkilap
semakin menghangat demi seteguk air yang menciprat
bertarung dengan kiamat meraih nikmat

mata air surut entah kemana?
pelan-pelan hilangnya, tak terduga, tak disangka
tak dinyana.

sumur-sumur kering menggaring
berkali-kali umat menggalinya[6]
tapi mata air semakin mengering

kalau pun ada, mata air tak mampu bertahan lama
bila diminum perut menjadi celaka
diserang muntaber tak berjeda
salah manusia!

Derita Berikutnya
tibalah saatnya gaung penyakit melanda Raja
diare[7] merajalela, rakyat semakin celaka
tangan pemerintah terlambat datangnya
maklum, mereka
masih menghitung untung rugi untuk saku bajunya

Celaka Berikutnya
suatu hari yang tak terlacak di almanak
bantuan desalinasi[8] muntah dari kantong negara
nilainya 1,6 milyar
kegembiran bertebaran di wajah-wajah penduduk yang dibalut derita
ada harapan di pelupuk matanya,
tapi sial!
di lapangan pelaksanaannya bikin mual
hasil penyulingan dijual dengan harga mahal.[9]

Bantuan desalinasi tidak berfungsi
tak ada sama sekali
hanya proyek pejabat negera yang berdasi
cara lain untuk korupsi

dua bulan kemudian, semua fasilitas desalinasi raib
terbengkalai di balai desa dalam keadaan sekarat”[10]
siapa yang bertanggung jawab?

Bujang semakin terpukul dadanya
tak tega menyaksikan masyarakat berkalang derita
tak tahu solusinya,
dan hanya menjadi proyek pesugihan kaum durjana

orang-orang menjadi bodoh, enggan diajak bicara
kecuali hanya masalah harta
mereka terperangkap dalam kidung cintanya
cinta dunia semata
masyarakat semakin tersiksa
tak hanya paceklik air, deare, dan korupsi,  
mengganggu mereka
tapi nafkah keluarga kian mendera

Bujang tak punya kuasa
hanya jerit tak berdaya yang melanda hidupnya
dan Bujang hanya bisa bersuara

maka serentak!
setiap keluarga bertarung melawan ancaman nista
sebab pulau sudah tak bisa diharapkan bak surga
semuanya putus asa
Sangtasangsang[11] tanpa tahu batas ruang dan petanya

akibat kekeringan yang tak kunjung berakhir
umat penghuni pulau jadi galau
mereka eksodus dari tanah tandus
menelikung pada kehidupan baru
meski hanya berpapas dengan andropogon nardus[12]
yang menjanjikan selindas masam peredam haus

tak hanya itu,
mereka merantau entah kemana
lalu tak pernah kembali lagi ke pulau Raja
serupa sirna ditelan masa

tersiar kabar perantau tak sabar
mereka menjarah bagai kaum barbar
otaknya berisi uang berlembar-lembar

Bujang semakin gelisah
serupa orang putus asa dilanda resah
idealismenya lumpuh dalam rapuh


Bujang bangkit
ia tuangkan resah pada sujud panjang
tahajud yang berkah
sepanjang malam melawan lelah
sebab dirinya tak mau kalah
agar gamang tak datang menjajah

orang-orang pulau, berpendidikan rendah
lulusan pesantren Madrasah Aliyah 
merasa belum cukup umur memikirkan hal-hal megah
masyarakat limbah

mereka hanya tahu mengaji tanpa tahu arti
paling tinggi pintar membaca barzanji
saat akad nikah anak-anak usia dini[13]
yang dilestari hingga hari ini

Bujang tak putus harapan
demi pulau di masa datang
ia pun benar-benar menerjang

Bujang memikirkan strategi juang
agar umat melakukan sembahyang
tak menentang perintah Tuhan
sebab menurut Bujang
musibah kekeringan akibat pembangkangan
termasuk sekelompok penduduk
yang menamakan dirinya grup pettheng[14]
: para pembunuh bayaran berkedok uang
mengatasnamakan kebenaran

Bujang Meniti Juang
setiap petang Bujang mengaji peluang
mencari jalan ke luar disetiap timpang
bagai leleki kurus yang memikirkan hutang
kongkolusinya mengejutkan:
perzinahan
perampokan
pembunuhan
pemerasan
persekongkolan
:penebangan sembarangan
berakibat erosi
:penambangan pasir liar
berakibat abrasi[15] 

Bujang menulis kesimpulannya pada seutas kertas
dibuat proposal sebagai penjelas
demi kesejahteraan umat yang diserang panas
dan penderitaan yang kian mengganas

Bujang menjadi buah bibir seluruh kampung
bak bintang terang
karena bernafsu mengalahkan musibah busung
kata mereka:
“tak mungkin Bujang mengalahkannya
maksiat sudah merajalela
penduduk bebal jiwanya
sebagian bebal hatinya
mana mungkin bisa?”

Bujang terus meradang
tak perduli orang-orang mengahantam dengan kelewang
niat sucinya harus mendapat ruang dan sejuta dukungan
meski sejuta ejek mengiang-ngiang

Bujang datang pada haji Imam[16] berharap dukungan,
tapi sial, haji Imam bersitegang:
itu mustahil dilaksanakan
dosa umat sudah karatan
hanya menunggu luap lautan selat tumpah ke daratan
penghapus dosa para dedengkot kemaksiatan.”
­
Bujang nyaris putus harapan
orang-orang enggan rembukan
mereka sibuk mencari sesuap makan
tak lagi menghiraukan ketentuan Tuhan
apalagi kesepakatan kehendak Bujang

dengan haqqul yaqin, Bujang masih saja meradang
hatinya terus-terusan dilanda posang[17]
sebab kakinya tak leluasa menendang

dengan mesin ketik manual kumal
Bujang kembali menyuguhkan proposal
pada para tetua yang buntu otaknya
isinya mengusung cinta dan perubahan

dada para tetua membusung
lidahnya menyambung
“itu tak mungkin dilakukan!
jangankan anak yang baru datang dari tanah tualang
para tetua yang sudah bergelimang
akhirnya bernasib malang!”

Dada Bujang berdebar
kepalanya  terbakar
idealismenya dilempar
selaksa harga tembikar yang kasar


Bujang coba pejamkan matanya ke dalam gelap
menguaplah segala yang bergulat
para tetua belum siap bersikap
sebab sudah lama pikirannya disekap penguasa laknat

hari itu Bujang berusaha membuka mata para tetua
sentrongkan cinta mata buta mereka
agar mampu membangkitkan kembali
kematian pulau yang lama durja

kalaulah tetua agama tak bisa diajak bicara
tak bisa mendukung rencana besarnya
maka punggawa desa tak mengabulkan ide-ide besarnya
sebab sabda para tetua sangat berharga

tengah malam Bujang bangun
tengadah di keheningan petang
menyerukan ampunan untuk penduduk kampung
sebab harapan terakhir hanya Tuhan yang Maha Rahman
Bujang bentangkan proposal ketikan manual
tepat di atas sajadah panjang yang kumal

lembar demi lembar benar-benar ia papar
agar Tuhan tak pula melempar
seperti para tetua yang tak paham antara salah dan benar

di hadapan Tuhan, di atas sajadah kumal
Bujang tak merengek dan tak pula bersimbah air mata penyesalan
disampaikan impiannya menyemat harap
untuk mendekap umat yang terus dihantui sengat

esok siang setelah mengeluarkan keringat
karena memacu sepeda onthelnya yang karat
Bujang kembali membolak-balik proposal untuk kehidupan
di masa yang akan datang
semangatnya tak padam
gelora juang terus meradang seperti pejuang ’45 yang tak sudi dikalahkan
seolah tadi malam, Tuhan telah menyematkan lencana gemilang
agar tak melenceng dari jalan kebenaran

Sambung teman Bujang yang ikut meradang:
“tentu saja, dimana-mana, hanya semangat baja
yang mampu menaklukkan banyak kenyataan
bukan janji palsu para politisi yang ngumpet di gedung senayan
dengan sejuta alasan sambil mengintimi jatah rakyat yang hendak ditilep, atau;
bukan persekongkolan antara tikus dan kecoak
yang mempermainkan nasib rakyat yang diamanat atau;
bukanlah rakyat yang hanya pandai mengumpat dan menjilat

sudah saatnya semangat saling merapat
menyuarakan kebenaran tak bisa dilangsungkan
dengan satu akal sehat
harus berjamaah di antara belantara persepsi yang berbeda-beda
dan tak juga terpecah-belah!
Bersatu Kita Teguh, Bercerai Kita Runtuh”

kini Bujang tak sendiri lagi
beberapa teman ia dapati
ia rasuki
mereka empati

seru Bujang:
“kunamai kalian Pasukan Garuda,
agar semangatmu membaja”


Bujang tak berjeda berpikir
mencari jalan idealisme pembebasan,
agar tidak parkir
tak hirau jalan terjal yang membuat kaki terkilir
bahkan licin dan membuat para pendaki tergelincir

sudah mafhum, di mana-mana kebaikan berbentur
dengan kejahatan, atau paling tidak ada palang penghalang
yang tidak seberapa besar merintang
kuncinya tidak lain adalah jangan ciut oleh ketakutan
akan ada saja jalan terbentang
tempat kebaikan meladang
begitulah yang termaktub dalam dada Bujang
undang-udang yang tak bisa diperjual-belikan

Bujang menemukan boncengan mengajukan proposal
yang tanpa putus asa selalu dijajakan
kendaraan itu adalah produknya sendiri
pada tahun-tahun silam
tepatnya hari Kamis 11 Juli 2002[18]
yang mengalami regenerasi berkali-kali
kendaraan itu bernama foksi
penumpangnya kaum santri
hampir seluruh santri pulau Raja antri
ketika pulang kampung mereka saling berbagi
bernaung dalam  rindang taxi foksi

foksi menjadi satu-satunya
kendaraan penduduk kampung-kampung
tempat orang-orang menanam cinta dan malepataka
tempat membuang sampah dan luka
tempat mengeluhkan derita lara
akibat ulah kaum durjana

Bujang menggempur para penumpangnya
dengan ancaman kekeringan nan berkepanjangan
yang akan diwariskan pada anak cucunya di masa datang
agar mereka meregang dan berani melakukan perubahan

dada penumpang foksi bergelora
membara serupa panas kemarau yang celaka
Bujang tak bisa mendiamkan gejolak mereka
mereka harus buka suara pada Tuhan dan;
kaum durja yang telah memerkosanya dengan paksa

Bujang terus saja meradang
setiap pejabat kampung ia ajak berjuang
juga para kaji dan tetua kampung

di masjid dan mushola, Bujang meradang juang
di pasar, Bujang cerita pada para pembeli dan pedagang
di mana-mana Bujang meradang,
bahwa kelak ketika pulau benar-benar kerontang
mereka akan menanggalkan jualan
sebab makhluk kampung sudah pergi tanpa mandi
tubuhnya busuk sekali

lambat-laun penduduk kampung-kampung
sudah terpasung isu yang diusung
andai seluruh makhluk kampung digiring
ke dalam kotak suara,
pastilah kemenangannya menggema
ke seantero persada

rasa putus asa yang terus dikalahkan
berbuah suka
Bujang girang penduduk bertaubatan nasuha[19]
hendak memenuhi tikar pandan di lapangan Sa’angan[20]
tempat anak-anak muda bertarung bola
serupa Diego Armando Maradona.[21]

tersiar berita,
separuh penghuni pulau akan meruah
mengharap berkah tumpah,
termasuk pejabat desa yang serakah,
karena sering melahap aspal jalan yang terjatah

Bujang bersyukur
mendengar kabar, meski masih kabur
sepanjang petang Bujang tersungkur di atas sajadah panjang
hendak menjadi penyambung antara Tuhan dan kehidupan liar
dalam hidupnya yang tiada gentar

menjelang pesta hari raya[22]
di bawah terik matahari yang kejam
foksi menggelar tikar pandan dan sedikit perindang
yang dipinjam dari saudagar kaya meski berbayar

TOA[23] melebihi astron menyalak dari telinga-ketelinga
shalawat penggugah hati yang mati, membahana
penduduk kampung datang

satu, dua, tiga,
orang-orang merentang sorban dan selendang
menggelar sajadah panjang di atas tanah lapang
yang pecah-pecah serupa jurang
taubatan nasuha
mimpi Bujang jadi kenyataan

namun,
hingga jam sepuluh siang, orang-orang segelintir datang
sa’angan masih kosong
hati bujang kecewa tak terhalang
memandang tanah lapang hanya beberapa orang
pejabat tak seorang pun bertandang

Seru Para Bujang
“apa tak celaka, bila ajakan taubatan nasuha
hanya dianggap angin belaka
kerjaan anak kecil bahu kencur
dianggap melangkahi batas teritorial
para punggawa kampung

bagaimana, Tuhan
akan menurunkan rahmatnya dari langit
bila penghuni kampung-kampung enggan
memanjat istighfar?
Bagaimana mungkin mata air akan tumbuh,
hujan runtuh,
bila kampung-kampung dipenuhi dosa-dosa
hubbuddun-ya,[24]
merasuki dada mereka.

setelah di tanah lapang,
jamaah foksi bersidang
berbela sungkawa
atas ulah para pecundang yang tak datang

Bujang berkata lantang:
“kita telah berhasil
selanjutnya reboisasi
tak usah hiraukan mereka
meski hanya segelintir orang di tanah lapang.

tanpa bimbang, Bujang melantang juang
pada kaum Bujang yang dikumpulkan
“kita tak rugi
jangan pikir bulir keringat yang mengucur
biar Tuhan yang memutuskan
ini bukan jalan perih
ini jalan jerih
tanpa pamrih

berapi-api Bujang menebar semangat,
menebar sengat

“masih banyak rencana yang belum kita rampungkan.
Hidup tak boleh digadaikan,” serunya lebih jauh.

Reboisasi Bukan Mimpi
sepanjang perjalanan mewujudkan penghijauan
seiring hujan berjatuhan
kaum Bujang menanam penghidupan untuk hari depan
mulai batang pisang hingga batang kelor yang memanjang

meski tak ada kepastian, penghijauan tetap berjalan
tak perduli apa kata orang
tak perduli  cibiran
tak perduli penghargaan
pengabdian tetap dilaksanakan
lambat-laun kampung-kampung merasakan penghidupan

Bujang menghilang!
Bujang jadi Bintang
--------

Madura,  8 Oktober 2013


Puisi Esai, Nun Urnoto El Banbary ini menjadi 10 terbaik lomba puisi esai 2013

 




[1].  Kekeringan melanda pulau Raja/lebih akrab dikenal dengan sebutan pulau Giliraja kecamatan Giligenting. Berdasarkan hasil wawancara dengan penduduk setempat, saudara Mulyadi, Misnoto, A. Rofiq, dan Dadang Hariyanto (Riset, 14/08/2012), bahwa  kekeringan di pulau Raja/Giliraja terjadi sekitar tahun 1988, jauh sebelum isu Global Warming membuat panik para pemimpin negara. Lihat pula (Jawa Pos, 02/11 2007) dan (News Room, 14/07/2009). Sepanjang mata memandang, tanah-tanah sawah penduduk sangat gersang, dan bila musim penghujan datang, hujan jatuh hanya terkadang.

[2]. Perasaan tidak tenang, risau, galau, bimbang. Bahasa Madura: ngalengsang, posang.
[3].   Menurut Kyai Adam Biono, Pengasuh Pesantren Darul Ulum di pulau Giliraja (13/08/2012), kekeringan disebabkan oleh penebangan pohon sembarangan seperti yang dilakukan oleh sebagian masyarakat yang tidak bertanggung jawab. Kyai Adam Biono juga menjelaskan bahwa kekeringan bisa terjadi akibat manusia sering melakukan maksiat. Hal senada juga di sampaikan Moh. Horri (14/08/2012), seorang pedagang kain, bahwa kekeringan disebabkan oleh ulah masyarakat pinggir pantai yang membuat tambak garam hingga jauh ke daratan.
[4].   Jesse Ventura, menganggap pemanasan global sebagai rekayasa pemerintah dan kaum intelektual untuk mendapatkan uang dan keuntungan, serta untuk mendapatkan kekuatan mengontrol populasi dunia. Global Warming adalah mitos untuk menipu masyarakat dunia. Berita tersebut bisa di lacak melalui: http://indocropcircles.wordpress.com/2012/02/25/gila-global-warming-atau-pemanasan-global-ternyata-bohong.

[5].   Nama salah satu sumur dari tiga sumur yang terletak di ujung pulau, tempat ribuan penduduk empat desa melepas dahaganya.

[6].   Raja adalah nama nasional untuk pulau Gili Raja. Penduduk kampung lebih akrab dengan nama Gili Raja.
[7].    Tahun 2008 masyarakat kepulauan Gili Raja semakin terisolasi dari bantuan pemerintah. Partai politik yang pernah mengobral janji saat kampanye sudah seperti orang-orang tuli, hingga berjatuhan korban diare, akibat kekurangan air bersih. Penduduk Gili Raja yang terdiri dari empat desa hanya mengandal tiga sumur untuk minum, mandi, dan mencuci. Berita serangan diare bisa dilacak di: http://www.elshinta.com/v2003a/readnews.htm?id=55571

[8].   Proses membuat tawar air laut/air asin
[9].    Air hasil desalinasi dijual kepada para penduduk oleh punggawa desa, seharga Rp 2000-3000 per 5 liter, hingga penduduk tak berdaya membelinya (tutur ayah saya yang berprofesi sebagai pengangkut air).

[10].  Alat-alat berat desalinasi yang bernilai 1,6 milyar tak lagi berfungsi dan hanya ditumpuk di balai desa. Mulyadi, warga desa Banbaru menuturkan peralatan yang terbengkalai mubadzir itu. Penulis mencurigai proyek desalinasi adalah proyek untuk para koruptor, karena kuliatas mesinnya sangat tidak sesuai dengan nomenal 1,6 milyar. Kasus ini tak bisa dilacak di internet, karena tak ada media yang berani mengeksposnya. (Hasil riset, 14/08/2012).
[11].    Terdampar

[12].  Nama pohon yang buahnya masam dan rasanya masam. (Kamus Bahasa Indonesia terbitan Pusat Bahasa, tahun 2008, hal. 740) buah macam itu banyak tumbuh di pulau Raja pada musiam panas.

[13].  Orang pulau Raja punya tradisi menikahkan anaknya di usia dini, bahkan masih di dalam kandungan sudah ditunangkan.
[14].  Sejaka tahun 1999, pulau Giliraja dilanda ketakutan dengan hadirnya Grup Pettheng, yaitu segerombolan pembunuh yang sangat kejam. Mereka melakukan pembunuhan dengan motif menghabisi tukang santet secara membabi buta, sehingga yang hanya “disangka” juga ikut menjadi korban kebiadabannya. Kabar ini disampaikan oleh Ali Baba yang saat ini mencari penghasilan hidupnya di Jakarta sebagai pedagang (Hasil riset, 14/08/2012).

[15]. “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supay Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (Q.S. Ar Ruum: 41) Lihat pula (QS. Al Maaidah: 32), (Q.S. Al Kahfi: 94), (Q.S. Al Qashash:77), 
[16].  Seorang ta’mir masjid Babussalam di desa Banbaru.
[17].   Galau.
[18].    Di lacak pada dokumen Forum Kajian Santri (FOKSI) Giliraja pereode 2002-2003
[19].   Taubat yang sebenar-benarnya.

[20].   Lapangan paling luas yang ada di pulau Giliraja kecamatan Giligenting Kabupaten Sumenep, dan menjadi satu-satunya tempat pelaksanaan even-even besar di pulau.

[21].   Diego Armando Maradona adalah  legandaris sepek bola dari Argentina. Lahir 30 Oktober  1960 di kota Buenos Aires Argentina
[22].   Program Taubatan Nasuha terjadi pada tahun 2007, pada masa kepemimpinan Hosnan Hermawan di FOKSI.

[23].  Pengeras suara.
[24].    Cinta dunia.
Share this article :
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Kabar Nun - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger