"Surga tempatnya orang-orang berprestasi"(KH. Ilyasi Siraj, M.Ag.)




KEKUATAN PENA

Pendahuluan
Menulis adalah aktivitas intelektual yang melibatkan dua komponen penting yaitu, membaca dan penelitian. Kerja yang berorientasi otak ini memiliki efek samping yang dominan untuk menciptakan perubahan, baik perubahan pemikiran, budaya, bahkan perubahan peradaban. Maka tidak heran jika, Winston Churchill mengatakan bahwa, "Pena lebih tajam daripada pedang." Artinya, kehebatan pena (tulisan) sangat dahsyat, bisa mengubah banyak hal, bahkan bisa menghilangkan nyawa. Seorang panglima perang Perancis, Napoleon Bonaparte juga pernah berujar, "Saya lebih takut pada pena daripada seratus meriam." Sebab, pena membunuh orang secara pelan-pelan, dan pdang hanya sekali tebasan.

Saya sendiri pernah berkirim surat kepada ketua Yayasan meminta memecat kepala sekolah yang terlibat manipulasi KF (Keaksaraan Fungsional), dan seminggu kemudian kepala sekolah tersebut diberhentikan dari jabatannya. Hanya dengan bermodal tulisan 4 lembar halaman, tulisan saya bisa menghentikan angkara murka tanpa harus demonstrasi.

Ternyata kekuatan pena dahsyat sekali. Saya semakin yakin bahwa tulisan bisa mengubah dunia. Maka, mengapa kita tidak menulis untuk menyampaikan pesan, semisal dakwah bil qalam, pesan-pesan politik, atau (bagi remaja) ayat-ayat cinta, petuah-petuah bijaksana, dan sebagainya?

Seorang seperti saya yang lahir dari seorang nelayan dan petani tulen di tanah pulau, tidak pernah bermimpi duduk di depan audien memberikan ceramah. Dan, saya sudah melakukannya dibanyak tempat. Mereka mendengar, mereka menghargai saya, mereka membayar saya, dan mereka membaca karya saya. Begitulah (di antaranya) Allah mengangkat derajat seseorang. Terima kasih, Tuhan.

Hanya dua karya novel dan beberapa tulisan di koran, saya sudah bisa membuat schedule mengisi seminar, workshop, bedah buku, sekolah menulis, dan lain-lainnya. Benarlah pesan Imam al-Ghazali, “Jika kamu bukan anak seorang raja, bukan pula anak ulama ternama, maka menulislah.” Pesan sederhana yang sangat saya rasakan karena saya telah mengalaminya. Dahulu, saya hampir tak memercayai petuah itu. Maka, jangan bersikap seperti saya tempo dulu. Menulislah segera, sebelum tua seperti saya.  

Menulis tidaklah serumit membayangkan wajah kuntilanak atau pocong, cukup bermodal kosakata (caranya banyak membaca), dan sebatang pena untuk menuangkanya, maka jadilah tulisan. Lalu, sebarlah tulisan itu agar bisa memberi manfaat kepada sesama. Dan, berharap menjadi berguna bagi sesama agar di alam kematian kita berlimpah kebaikannya. Tulisan akan mengabadikan penulisnya serupa ulama-ulama yang sudah wafat berabad lamanya.

Sekali lagi, menulis tidaklah rumit. Mungkin—sementara—cukuplah petuah Stephen King digunakan sebagai dalil, “Tak ada jalan pintas menjadi penulis, kecuali membaca dan menulis itu sendiri.”
Membaca
Aktivitas membaca sebenarnya bukan dalilnya Stephen King, tetapi dali asli dari Allah untuk umat manusia apa pun agamanya. Muslim Kordoba pada abad ke-10 mengalami masa-masa keemasan karena membaca dan menulis. Konon, tumpukan buku yang dibuang ke laut merah bisa dilalui oleh pasukan berkuda, dari saking banyaknya karya-karya mereka pada waktu itu. Namun, petaka menimpanya ketika kaum salib mengalahkan mereka dan membakar karya-karya monumental itu.

Membaca akan memperluas wawasan, menambah kosakata, menambah informasi, bisa melakukan rekonstruksi pemikiran, tidak menjadi ekstrim ketika melihat pemahamannya sendiri berbeda dengan orang lain, tidak menjadi stagnan ketika berbicara dengan orang lain. Intinya, membaca akan membebaskan manusia dari kebodohan, dan kejumudan berpikir.

Hanya orang-orang yang kaya kosakata yang bisa menulis, sebab mustahil orang yang fakir kosakata bisa merangkai kalimat-kalimat hingga menjelma menjadi pesan-pesan yang bijaksana.

Menulis  
Menulis, bukan pula ajaran Stephen King. Menulis, jauh hari sudah “diperintah” oleh Allah secara tersirat. Pesan tersirat bisa dilihat pada kitab suci al-Quran, surah al-Qolam ayat 4 sampai ayat 5. Jika ini sudah jelas sebagai keajaiban dari Allah, maka mengapa kita masih menyia-nyiakannya? Mengapa kita masih diam untuk tidak menulis dan hanya berleha-leha dengan makhluk tak berguna macam handphone?

Mengapa kita kalah pada Stephen King yang bukan muslim itu? Jangan biarkan orang-orang di luar kita mencuri keajaiban dari kitab suci. Kita (umat Islam) lebih berhak untuk mendapatkannya. Bacalah ayat-ayat Tuhan, lalu rasakan khasiatnya.

Banyak ragam tulisan yang bisa kita pakai untuk menumpahkan ide, gagasan, yang mengendap dalam pikiran kita. Kita bebas memilihnya sesuai dengan batas-batas kemampuan kita. Hanya saja saya lebih menyarankan untuk memili tulisan fiksi dengan genre sastra prosa seperti puisi, cepern, novelete, dan novel. Genre sastra lebih bebas tanpa ada tuntutan menampilkan literatur sebagaimana karya tulis ilmiah. Tetapi, bukan berarti menafikan pelajaran tulis-menulis karya ilmiah, karena bagi yang akan masuk perguruan tinggi tak akan lepas dari tugas-tugas penelitian ilmih.

Jangan khawatir, tulisan ilmiah lebih mudah dari tulisan fiksi yang selalu bergumul dengan kekutan imajinasi. Syaratnya hanya tiga: data, literatur, dan argumentasi penulisnya sendiri berdasarkan hasil pemikirannya, bukan hasil plagiasi karya orang lain atau asal kopas dari internet. Mudah bukan?

Memilih Tulisan Fiksi
Mengapa memilih tulisan fiksi. Inilah riwayatnya. Mari baca baik-baik dan renungkan hingga mendarah daging, lalu bersemangat menjadi penulis.

1.Modalnya Sedikit
Ternyata, menulis fiksi lebih gampang terutama bagi pemula. Penulis pemula bisa menuangkan idenya dalam bentuk cerita pendek, puisi, novelet, novel, dongeng, dan sebagainya. Syarat menulis fiksi hampir tidak ada, selain hanya imajinasi. Imajinasilah yang memiliki peran penting dalam menulis karya fiksi. Tanpa imajinasi, seorang professor sekali pun tak akan mampu membuat karya cerpen atau novel. Lebih sedikit lengkap, modalnya hanya data, referensi, dan imajainasi. Sedikit bukan?

Jika ingin lebih detail dalam menulis fiksi, maka sebagaimana di ajarkan di sekolah-sekolah, penulisan fiksi harus meliputi unsur intrinsik: tema cerita, penokohan,sudut pandang, alur, latar, amanat. Namun, penulis pemula banyak yang gagal ketika unsur-unsur itu simpang siur di dalam benaknya. Penulis pemula “sebaiknya” menjauhi masalah itu, tatapi bukan berarti tidak memperlajari sama sekali. Lebih baik langsung praktik menulis.  

2. Mudah Diterima Pembaca
Hampir semua manusia di muka bumi suka cerita. Tidak ada anak-anak TK yang minta dibacakan karya ilmiah yang rumit. Mereka, 100% suka dengan cerita-cerita. Bahkan, seorang guru yang selalu bercerita di dalam kelas lebih disukai daripada yang tidak sama sekali. Cerita bikin pikiran/imajinasi melayang, dan semua orang pernah berimajinasi. Tetapi sayang sekali, imajinasinya tak pernah dituangkan dalam bentuk yang lebih berguna, semisal dikemas menjadi buku.

3. Cepat Populer    
Penulis yang—meski pun—tidak sepopuler Andrea Hirata, Habiburrahman El-Shirazy, HAMKA, Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, paling tidak populer di kampungnya sendiri. Sebut saja Penulis Kampung. Itu sudah bisa dianggap bagus daripada tidak populer sama sekali. Popularitas akan mengangkat derajat seseorang asal tidak congkak. Begitu pentingnya popularitas, hingga ada politisi yang rela menghabiskan uangnya demi meraih ketenaran itu. Seorang penulis, bisa melakukannya tanpa harus memasang gambar di pohon-pohon bibir jalan. Percayalah, menulis akan membuat Anda terkenal.

4. Lebih Abadi
Sebagaimana tulisan lain (nonfiksi) menulis fiksi juga membuat penulisnya akan dikenang sepanjang sejarah umat manusia, kecuali ditenggelamkam oleh keganasan alam macam kaum Sodom yang masuk ke perut bumi. Imam al-Ghazali sudah ratusan silam wafat, tapi kita masih bisa membaca Ihya’ Ulumuddin. HAMKA sudah lama meninggal, tapi kita masih bisa mengenalnya dengan cara membaca novel Tenggelamnya Kapan Van Der Wijck atau menonton filmnya. Pramoedya Ananta Toer sudah lama berkalang tanah, tapi kita masih bisa menikmati Bumi Manusia, Arok-Dedes, Perburuan, Drama Mangir, Gadis Pantai, dan karya lainnya. Kita jangan samapai ludes ditelan tanah. Bersegeralah menulis dan segera cetak jadi buku. 

5. Membuat Kaya
Hampir tidak ada penulis yang miskin, kecuali penulis pemula yang masih terus berproses. Meski tidak kaya raya atau tidak kaya harta, paling tidak penulis kaya pengetahuan, kaya informasi, kaya kosakata, kaya gagasan, dan kaya lainnya. Dan, Insya Allah kaya harta. Novel Laskar pelangi sudah beromzet 3,6 miliar, Ayat-Ayat Cinta 2,4 miliar, Cinta Sepanjang Amazon karya Mira Widjaya 2 miliar, dan Dewi Lestari dengan Supernovanya mencapai 1,5 miliar, dan masih banyak lagi yang lainnya.

6. Sebagai Amal Jariah
Meski tulisan fiksi, namun memberikan manfaat kepada sesama, maka hal itu akan berpahala pula. Sebagai sebuah karya yang (mungkin) akan berumur panjang seperti halnya karya Pram dan HAMKA, maka karya fiksi akan memberikan manfaat, meski (mungkin) manfaatnya tidak seperti mereka. Si penulis, meski sudah berkalang tanah, akan terciprat manfaatnya dalam bentuk pahala kebaikan.

Harta benda akan ludes, bahkan jadi rebutan ahli waris ketika kita sudah tiada, tetapi kekayaan intelektual yang disebar lewat karya tulis akan mengamankan diri kita dari pataka macam tersebut.

Tunggu apalagi. Mulai sekarang menulislah. Bunuhlah rasa takut, rasa tak percaya diri, dan rasa pesimis lainnya. Allah tidak akan menyia-nyiakan jerih payah hambanya, dan saya sendiri sudah membuktikannya, meski nyaris terlambat.

Penutup  
Akhir kata—sebagaimana pesan Pramoedya Ananta Toer (Pram), “menulis akan memanjangkan umur manusia.” Semoga kita panjang umur meski tubuh sudah tak berguna di liang lahad sana. Bermetamorfosislah melalui karya tulis, senyampang tubuh belum berkalang tanah, kecuali Anda sudah yakin tidak akan mati.[]

Share this article :
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Kabar Nun - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger