"Surga tempatnya orang-orang berprestasi"(KH. Ilyasi Siraj, M.Ag.)




POSTINGAN HARI INI
print this page
POSTINGAN TERBARU

TIGA HAL MEMBERDAYAKAN MEMBACA


Salah satu cara memecahkan masalah, atau bahkan menemukan masalah adalah dengan cara membaca. Sepanjang sejarah, membaca tidak hanya dianggap mampu memecahkan dan menemukan masalah, tetapi juga mampu melecutkan berbagai potensi manusia dan menyibak berbagai rahasia, dan hal itu tidak mungkin mudah dilakukan kecuali bagi mereka yang mau menyelam ke wilayah membaca itu sendiri. Hampir semua orang takut menceburkan diri ke wilayah itu, kecuali bagi orang-orang yang mendapatkan hidayah dan merelakan dirinya dipaksa tercebur ke dalamnya. Sangat mengerikan jika dilihat dari jarak yang cukup jauh, kerena sepertinya berkutat dengan teks(membaca buku) dan terpekur-pekur dengan semesta sekitarnya (membaca alam) tak ubahnya serupa orang sinting yang tak punya pekerjaan. 

Sebagaimana halnya Nabi Muhammad SWA, yang mengalami kesulitan membaca (iqra') saat dituntun oleh malaikat Jibril, maka (mungkin) seperti itulah orang-orang yang baru memulai dirinya dengan kesibukan membaca. Mereka mengalami kesulitan luar biasa, bahkan mungkin stres dibuatnya. Namun, akhirnya akan merasakan akbatnya setelah mau bersabar dan bersusah-susah melakukannya. Menciptakan minat membaca, apalagi hingga keranjingan membaca, mungkin bisa dilakukan dengan cara-cara berikut ini:

Satu, menentukan niat. Artinya, untuk apa dirinya membaca. Misalnya membaca niatnya untuk mendapatkan informasi, untuk meneliti sesuatu, dan sebagainya. Paling tidak, niat menjadi alasan kuat seseorang untuk membaca. Dan, sebab itulah agama menegaskan bahwa segala sesuatu tergantung niatnya. Niat menjadi bagian tujuan membaca.

Dua, setelah membaca usahakan untuk eksplorasi kepada orang lain. Diskusikan hasil bacaannya. Bicarakan yang ditemukan kepada temannya, agar lebih kuat dalam ingatannya, sekaligus melatih dirinya untuk membuktikan bahwa dirinya baru saja menguasai harta karun berupa tumpukan kosakata dan ide-ide cemerlang. Dengan demikian lambat-laun orang lain akan mengakui "kehebatannya", dan alam akan mengundangnya untuk berbicara.

Tiga, menuliskannya. Maksudnya, menuliskan ide-ide baru yang berhasil digugah oleh gagasan orang lain. Bukan menjiplaknya. Namun, menulis tidak gampang, juga tidak sulit. Maka, sebaiknya pelajari juga cara menulis yang baik dan benar, sehingga aktivitas membaca menjadi sinkron dan tidak membosankan lagi. Efek dari menulis sangat besar manfaatnya bagi aktivitas membaca tadi. Bahkan, seorang teman menjadi keranjingan membaca setelah hasil bacaannya (idenya) ditulis dan dipublikasikan di media massa. Ia dapat mengepulkan dapurnya dengan karya-karya tulisnya.

Tiga hal di atas sangat bisa untuk memotivasi diri rajin membaca. Tentu, masih ada hal lain semisal membaca sebagai kegiatan belajar, yang mana belajar tersebut sebagai kewajiban dari agama yang bernilai ibadah.

Sumenep 12 Desember 2015       



1 komentar

KEKUATAN PENA

Di tengah rasa gamang hidup di pulau gersang, saya terus membaca satu-satunya tabloid bernama Posmo. Sebuah tabloid klenik, dan tabloid itu sangat memengaruhi niat, minat, dan cita-cita saya  menjadi seorang sakti yang punya kekuatan supranatural, yang bisa menyembuhkan banyak penyakit, seperti yang ditulis dalam Posmo. Hampir informasi yang ditulis Posmo saya serap, hingga praktik semacam tirakat saya kerjakan, seolah kekuatan tulisannya tak mampu saya hindari.

Tak ada yang memerintah membaca. Hanya diri sendiri yang memerintahnya, meski ketika saya beranjak usia di bangku MTs., seorang guru bernama Ustaz Sunarso memberi motivasi tentang hebatnya membaca, dan rupanya, kekuatan membaca telah mengantar saya "bisa" menulis. Itu pun baru saya sadari sekarang, ketika saya benar-benar bisa menulis beberapa puisi, cerpen, dan novel. Boleh di kata, tabloid Posmo yang klenik itu telah mengantar saya gemar membaca dan menulis. Tidak hanya itu, keinginan saya punya kekuatan supranatural juga tercapai. Sudah banyak pasien yang saya obati, mulai sakit gigi, kanker payudara, pendarahan, sawanan, terkena santet, hingga keselek tulang ikan ditenggorokan. Pasiennya beragam, mulai petani, siswa, guru, anggota KPU Sumenep, pemain film menembus Mercusuar dan Kemilau Cinta dari Banten, TKW yang bermukim di Malaysia, penyiar radio, hingga pengurus Forum Lingkar Pena Jawa Timur bernama Novi. Supranatural itu sama sekali tak minta bantuan jin apalagi setan. Saya cukup minta kepada Tuhan.

Setelah Posmo dan Ustaz Sunarso menjadi motivasi, Kiai saya, Ilyas Siraj di pesantren mengabarkan kekuatan pena saat memberi pengajian tafsir Jalalain, bahwa katanya, ujung pena lebih tajam dari ujung pedang. Informasi itu tidak langsung saya percayai seratus persen, karena saya belum bisa membuktikannya. Baru setelah saya menegur seorang kepala desa yang zalim ke ayah saya lewat surat, akhirnya saya mulai percayai, apalagi ketika saya memberhentikan seorang kepala sekolah yang korup dengan empat lembar surat tahun 2014 lalu.

Tidak berhenti disitu, saya kemudian menjumpai dawuhnya Syekh Imam al-Ghazali, Sang Hujjatul Islam yang karya-karyanya menjadi rujukan hampir umat Islam dalam sebuah buku yang sudah saya lupa judulnya, bahwa jika engkau bukan anak seorang raja, bukan pula anak ulama ternama, maka jadilah penulis. Dauh itu pun tidak membuat saya lantas mau menulis. Dawuh itu saya percayai setelah karya saya terbit. Tulisan saya dalam bentuk karya sastra novel itu tanpa terduga membawa saya ke forum-forum kepenulisan. Artinya, anak seorang pelaut telah Allah angkat beberapa derajat di antara yang lain.

Bukti itu kemudian kian melecutkan semangat saya yang beku. Rupanya, Allah telah memaksa saya untuk memercayai kehebatan pena dengan cara dipertemukan kepada hal-hal di atas tadi. Kesadaran macam itu rupanya terlambat saya pahami. Saya terlalu lugu (untuk tidak mengatakan dungu) menemukan banyak hikmah dari setiap peristiwa yang Allah sajikan. Allah seolah "mengutus" saya untuk menyampaikan sesuatu lewat karya-karya sastra yang oleh sebagian besar umat manusia sudah dianggap mendapatkan legalitas dari alam semesta.

Bagi saya, kekuatan pena sangat terasa sekali, karena derajat yang terpuruk mencuat begitu sangat. Tentu saja, saya juga melihat kehebatan pena orang lain macam syekh al-Ghazali, atau penulis kekinian macam J.K Rowling, Andrea Hirata, Tere Liye, Helvy Tiana Rosa, A.S. Laksana, HAMKA, Cak Nun, Habiburrahman, Asma Nadia, dan yang lainnya.

Barangkali yang tidak percaya dengan kekuatan pena, perlu langsung membuat satu buku, dan buktikan khasiatnya. Sejelek apa pun isinya, buku itu pasti akan menjadikan penulisnya diperhitungkan orang lain. Buku, atau dalam dunia akademisi sekripsi, tesis, desertasi menjadi bukti konkrit intelektualitas seseorang dan itu sudah pasti dilalui dengan berpeluh-peluh dan berletih-letih. Jangan dikira gampang menyusun ide dan kalimat-kalimat, hingga menjadi buku tebal, kecuali orang-orang genius yang mampu melakukannya.

Sebagaimana yang saya ketahui belakangan dari  embah Stephen King dalam bukunya "Stephen King On Writing", bahwa tidak ada jalan pintas menjadi penulis kecuali membaca dan menulis itu sendiri. Saya termasuk beruntung, karena sebelum mendengar kabar itu sudah keranjingan membaca tabloid klenis. Mata saya yang minus barangkali bagian dari aktivitas jungkir-balik belajar, membaca banyak kitab atau buku-buku. Sebagai anak pelaut yang hidup dalam garis kemiskinan, maka rajin belajar menjadi perlawanan. Perlawanan untuk tidak melarat lagi. Barangkali semangat belajar untuk mendapatkan ilmu pengetahuan mengubah nasib yang kurang mujur. Bukankah orang miskin berhak pula untuk pintar???

Mari belajar, membaca, meneliti, menulis, dan menulis. Publikasi tulisan untuk zaman secanggih sekarang bukanlah sesuatu yang susah, bahkan sangat gampang. Bulatkan tekad, dan kuatkan semangat untuk terus menulis apa pun profesinya, hingga paling tidak melahirkan satu buku sebagai bukti konkret.

Buktikan, bahwa satu saja karya Anda terbit akan membawa Anda kesuatu puncak. Selamat mencoba. Semangat!


***
tanpa editing

0 komentar

SALIM SOPIR SAKTI


Salim. Aku lebih suka memanggilnya begitu. Nama lengkapnya Muhsin Salim. Ia lebih muda lima tahun dari usiaku. Meski begitu, raut wajahku lebih muda dari wajahnya. Maaf, aku tidak sedang mempromosikan wajahku dengan membandingkan dengan wajahnya, tetapi justru aku mempromosikan usia mudanya yang boleh dibilang sukses. Sukses dalam hal lain yang belum bisa aku mampu. Aku tidak mau menceritakan karirnya yang melejit di parlemen. Itu beda urusan, dan aku tidak mau mencampur aduknya dengan yang hendak kuceritakan.
24 Oktober 2015 lalu, kami melakukan perjalanan agak panjang; Madura-Yogyakarta dalam rangka studi banding. Tetapi bukan itu yang hendak kuceritaka. Bukan Studi banding dan hasilnya. Bukan itu. Studi banding hanya penting bagi organisasiku, tapi tidak dengan ceritaku ini.

Cerita ini bersangkut-paut dengan Salim. Kata seorang teman yang tak mau kusebutkan namanya, Salim termasuk lelaki yang gagah, macho, ulet, beruntung, dan—sesuai namanya—selamat. Paling tidak, yang membuatku optimis berkendara dengannya adalah penggalan namanya; SALIM. Setiap kali mengingat namanya saat berkendara, aku berharap keselamatan dari Tuhan.

Aku melakukan perjalanan dengan Salim dari kota Pamekasan, dimulai dari depan perpustakaan daerah. Aku masuk ke dalam mobil Mercy yang sudah kulupa nomor platnya. Salim langsung tancap gas setelah memasang sabuk pengaman. Aku sedikit kaget melihat tangannya memainkan setir mobil dengan lincahnya, seolah Salim sudah benar-benar mahir. Aku sedikit terkesiap menyaksikan beberapa tampilan laju mobil yang melesat kencang. Sebenarnya, aku mau bilang agar pelan-pelan saja, tapi kuurungkan karena sepertinya kami terdesak waktu. Maka, dengan adrenalin yang kupaksa-paksakan kuat, akhirnya aku bisa menikmati gaya nyetirnya yang sangat mudah menyalip beberapa mobil yang larinya tidak sekencang Mercy.

Beberapa kali aku memanjat doa keselamatan, dan sedikit tenang memikirkan nama Salim yang berarti memotivasiku untuk minta keselamatan kepada Allah-ku. Keyakinanku menguat ketika memaknai namanya, hingga aku benar-benar tak ragu lagi, bahwa Allah telah menganugerahkan keselamatan kepada Muhsin Salim, juga kepada yang duduk di sisinya. Tapi, mungkin pula hanya keyakinan yang terkesan kupaksakan di tengah keterdesakan rasa kecut menghadapi laju mobil yang melesat bagai anak panah. Itu masih perjalanan sepanjang Madura Surabaya. Lain lagi ceritanya ketika sudah melaju ke kota Yogyakarta.

Perjalanan dilanjutkan setelah menukar mobil dengan Bapak Fauzi, temannya Salim yang tinggal di Surabaya. Sekarang, mobil yang aku tumpangi adalah mobil Avanza yang juga sudah kulupa nomor platnya. Avanza akan membawa beberapa teman lagi yang akan ikut serta. Mereka adalah kawan seperjuangan, di antaranya adalah Rafif, Amiy, Nuril, Fauziah, Noer, dan Afifah. Mobil berisi delapan jiwa. Tiga cucu Adam, dan lima cucu Hawa. Mereka ikut serta bukan karena ingin merasakan empukya jok mobil, tetapi lebih kepada tanggungjawab yang diamanahkan kepada mereka. Seharusnya, keikutsertaan mereka bisa juga dimasukkan ke dalam rapot bulanan organisasi, sebagai bagian dari keteladanannya menghidupkan organisasi.

Perjalanan dilanjutkan ke Sidoarjo menjemput ketua organisasi yang mungkin sudah gelisah menunggu. Setelah menghabiskan dan membungkus hidangan yang dihampar di meja, kami berangkat dengan sematan semangat yang motivasinya entah datang dari mana. Mungkin motivasi itu datang dari rasa tanggungjawab tadi.

Transit sebentar di masjid Cheng Ho Pandaan Pasuruan, menunggu tiga bidadari yang akan segera turun dari bis kota. Cukup lama kami menunggu. Sekitar satu jam, tiga bidadari bernama Fauziyah, Noer, dan Afifah tak kunjung tiba. Aku curiga, jangan-jangan ketiganya sedang disandera kondekturnya yang mabuk kepayang kepadanya. Bukankah sebagaian pekerjaan kondektor dan sopirnya begitu? Semoga saja tidak demikian.

Saat kami baru selesai selfie di depan masjid, mereka datang dengan wajah berbinar-binar membawa aroma surga. Wajah mereka nampak semringah di atas derita kami yang menunggu hingga kesemutan. Sudahlah, itu tak penting. Masih ada yang sangat penting tentang kisah sopir Salim yang kisahnya sangat mengerikan. Mari baca kelanjutannya.

Setelah melewati beberapa kabupaten, kami berusaha mengejar sisa waktu yang masih tertinggal. Prediksi Salim, rombongan harus tiba di Yogyakarta sekitar pukul 22.00 WIB. Alasan itulah yang mungkin membuat Salim mengemudi seperti lesatan anak panah. Duh, moga-moga selamat. Aku agak ngeri dengan lesatan mobilnya. Gayo mengemudinya mirip-mirip Dayat. Teman sejawatku dari kota Pamekasan.

Ketika perjalanan melewati hutan jati di dearah perbatasan Jawa Timur, tiba-tiba kami menjerit histeris. Mobil yang dikemudikan Salim dengan kecepatan tinggi tiba-tiba padam lampunya. Kaum Hawa yang duduk di depan kami sudah seperti orang kesurupan, hingga aku yang duduk di jok belakang bersama Rafif ikut-ikutan kesurupan dengan jeritan yang serupa. Aku merasakan degup jantungku tak keruan. Benar-benar padam dan cukup mengerikan. Anehnya, Salim tidak mau berhenti. Ia terus melaju dengan sedikit modal temaram cahaya yang dipancarkan oleh sinar rembulan yang menerobos celah-celah lebatnya daun jati.

“Hidupkan lampunya,” seru kaum Hawa yang sudah seperti orang sekarat di depanku. Aku ikut-ikutan nyambung, “Saya belum nikah broo. Hat-hati!” Setelah diperingati beberapa kali lampu kembali normal, sambil sesekali terdengar cekikian Salim yang sepertinya berhasil memainkan cerita dramatic dan berhasil mengaduk-aduk perasaan kami.
“Jangan ulangi lagi,” seru Fauziah yang sepertinya sudah sangat kelelahan akibat menahan letupan adrenalinnya.

Ketegangan segera mencair setelah kawan kami bernama Nuril terdengar celotehnya. Celoteh yang sepanjang jalan cukup menghibur dan membuat seisi mobil hilang letihnya. Namun, beberapa saat kemudian lampu kembali padam, dan kami kembali dengan jeritan yang spontan. Kali ini benar-benar aneh dan Salim sendiri tidak menduganya. Mobil yang kami tumpangi serta-merta ada di tengah hutan jati. Kami bingung, dan menjadi ciut. Mulutku komat-kamit membaca mantra. Mulai dari ayat kursi hingga rapalan mantra yang tak kumengerti maknanya.

Aku melihat sekeliling dan berkali-kali mengucek mata, namun kami benar-benar tersesat di tengah hutan belantara. Samar-samar kulihat banyak orang berdatangan dan mobil-mobil aneh mendekat kepada kami. Dugaanku, mobil-mobil yang mendekat itu adalah mobil-mobil hantu yang dibawa oleh demit hutan jati. Kami semakin merasakan bulu-bulu kuduk berdiri ketika orang-orang dengan tubuh aneh dan mobil aneh kian mendekat. Kami mulai kalap dan bersiap-siap mengeluarkan langkah seribu, alias kabur.

Di tengah kekalutan yang luar biasa, Salim menepuk pundakku dan aku tersadar, bahwa mobil yang kami tumpangi mogok di tengah jalan dan mengalami perbaikan. Rupanya, hanya aku sendiri yang kesurupan oleh makhluk-makhluk halus di jalanan sepi yang diapit oleh lebatnya pohon-pohon jati.

Maaf, aku tak sanggup melanjutkan kisah ini. Sekian, mator sakalangkong. Hehe



Menara Cling, Sumene, 14 November 2015  

     


   

0 komentar
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Kabar Nun - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger