"Surga tempatnya orang-orang berprestasi"(KH. Ilyasi Siraj, M.Ag.)




POSTINGAN HARI INI
print this page
POSTINGAN TERBARU

MEMANJAT PESONA

Bagai dendam kesumat, tiga hari setelah keluar dari pesantren yang memenjaranya selama tiga belas tahun, tiba-tiba saja Balia mengikrarkan hatinya untuk seorang gadis jelita dari tanah Pakuniran. Seumur-umur, ia belum pernah jatuh dalam kubang cinta yang maha dahsyat. Ia hanya mendengar dari cerita novel, atau mendengar syair-syair cinta dalam Nazham Alfiyah yang ia baca selama badannya terpenjara.

Kini, ia tak lagi bermimpi, tak lagi membangun istana cinta dalam dunia imajinasi. Gadis jelita di depannya telah memberi kabar, bahwa kehendak hatinya serupa dengan kehendak dirinya. Lalu, senyum gadis yang mampu meruntuhkan singgasana khayalnya itu, merekomendasikan dirinya untuk meminangnya. Kehendak Tuhan pun mulai bersambut.

Balia pergi menelusuri lekuk zaman, memasuki rahasia tanah sang kekasih dan berusaha membangun segala impiannya di tanah itu, namun, sekelompok Ifrit telah merasuk pada lakon cintanya, mencabik, dan meruntuhkan indahnya syair-syair cinta yang membahana di kelopak kalbunya.

Kehendak cinta pada kekasihnya, berhadapan dengan kekuasaan Ifrit yang selalu rela menghadirkan elegi lama, seperti halnya elegi Romeo and Juliet yang tragis itu.

Balia tak kenal lelah mencari celah, agar cintanya tak masuk dalam kubang sejarah yang membuatnya sakit parah. Ia ingin buktikan pada kekasihnya, bahwa dirinya adalah satu-satunya perjaka paling setia. Ia terus berjuang, mewujudkan cinta yang menggetarkan seluruh sendi hatinya, meski perjuangannya terpelanting dalam ending yang terus menggelinding.
------------------

Beberapa endorsmen:


  1. Keberanian dalam berkarya bersanding dengan pemahaman keagamaan yang mencukupi adalah kombinasi yang menjanjikan. Liar, tapi terjaga. Karya ini salah satunya. (Tasaro, Penulis Novel Muhammad saw; Lelaki Penggenggam Hujan
  2. Tidak semua orang bisa menulis kisah cintanya menjadi sebuah buku, tapi Nun, bisa melakukannya. (Evi Rakhmawati, Mantan Ketua FLP Mojokerto) 
  3. Membaca novel Memanjat Pesona, kita bagai diseret ke ranah romantika tak bertepi. Terkadang mengusik, lain kali menusuk. Nun, mengisahkannya dengan alur tak terduga. (Refdinal Muzan, Penulis buku Salju di Singgalang)
  4. Beragam kisah cinta memenuhi dunia kepenulisan tanah air, tapi sedikit yang benar-benar menyisakan kesan menggundah hati, dan novel Memanjat Pesona telah menyisakan kesan itu. Karya Nun Urnoto, nominator Tulis Nusantara ini, layak menjadi literatur cinta akhir zaman. (Risky Fitria Harini, penulis, dan Guru Sekolah Luar Biasa di Bondowoso)
  5. Kekuatan suatu cerita, sejatinya bukan terletak semata pada alur yang menggetarkan. Sebuah cerita menjadi bermakna, justru ketika memberi ruang bagi pembaca untuk mematangkan jiwa, dan jika  benar kematangan jiwa dibentuk oleh serangkaian proses labirin yang berliku dan gelap, maka Balia—tokoh dalam novel Memanjat Pesona ini—mesti diapresiasi sebagai sosok yang tengah menguji kecahayaan nilai-nilai yang puluhan tahun ia gali dan digeluti di bumi pesantren. Sebuah sisi lain yang tak kalah menggetarkan. (As’ari Khatib, Penerjemah Bilik-Bilik Cinta Muhammad, dan Guru di PP. Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep)
  6. Novel ini layak dibaca, bagi yang baru dijerat cinta (Abdur Rahem, Kontributur RCTI)
  7. Kau pernah membaca novel perjuangan? Ini adalah salah satunya. Bukan! Ini bukan tentang perang. Ini kisah tentang Balia dalam memperjuangkan cintanya. Ceritanya mengalir apa adanya. Satu hal yang pasti, bahwasanya ungkapan klise yang mengatakan bahwa jodoh itu adalah urusan Allah, benar adanya. Novel ini membuktikannya. (Uda Agus, penulis novel Rumah Mande)
 

1 komentar

PUASA SEBAGAI PESAN MORAL

Hai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kamu berpuasa
sebagaimana halnya ia telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu,
agar kamu menjadi orang-orang bertakwa ”. (Al-Baqarah: 183).


Di bulan inilah, Tuhan Yang Maha Bijaksana memanjakan orang-orang beriman untuk meraih pahala yang meruah, melebihi bulan-bulan lainnya. Terlebih lagi, apabila kita bersua dengan malam Lailatul Qadar, kita akan mendapat pahala bagaikan beribadah seribu bulan. Sungguh pemandangan spritual yang sangat mencengangkan. Maka, sudah sewajarnya kita memanfaatkan momen puasa semaksimal mungkin.

Puasa merupakan ibadah wajib yang memerlukan niat ikhlas, baik lahir maupun batin agar bisa diterima dan menjadi kesalehan sosial yang bisa dirasakan oleh masyarakat sekitarnya. Puasa tidak hanya membutuhkan laku fisik, tetapi juga laku batin untuk mengasah hati, rasa, nurani, dalam menyikapi segala persoalan dalam setiap detak kehidupan yang kian hari terasa memilukan.

Puasa (shaum) merupakan sarana untuk menahan diri dari nafsu-nafsu jasmaniah dan memutuskan hasrat-hasrat duniawi yang muncul dari gagasan setan dan sahabat-sahabatnya, memosisikan diri sebagai orang yang sakit yang tidak menginginkan makanan maupun minuman dan mengharapkan kesembuhan dari penyakit kesalahan. Berpuasa juga bisa membunuh hasrat diri dari nafsu keserakahan, dan dari situ pula akan muncul sifat dermawan sebagai terjemahan nilai-nilai positif dari ibadah puasa.

Puasa bukanlah ritual semata, puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, puasa tidak hanya kewajiban yang hampa makna. Akan tetapi puasa adalah instrumen untuk menyucikan pikiran manusia yang bergelimang dosa. Puasa adalah medium untuk saling merasakan penderitaan diantara sesama. Maka sangat ironis, ketika seorang muslim yang mengklaim dirinya berpuasa tetapi masih tidak memiliki kepedulian terhadap sesama. Bulan Ramadlan yang penuh berkah, ampunan, dan pahala ini tidak akan ada artinya apa-apa apabila tidak diaktualisasikan dalam bentuk kesalehan sosial.

Dalam konteks sehari-hari, puasa bisa menumbuhkan rasa solidaritas sosial karena orang yang sungguh-sungguh berpuasa bisa merasakan bagaimana rasa lapar dan dahaganya orang-orang miskin, orang-oang yang kelaparan, orang-orang yang kekurangan sehingga kenyataan pahit (kemiskinan) yang banyak bertebaran di bumi pertiwi ini lambat laun bisa teratasi. Andai kata umat islam terbesar yang ada di Indonesia ini mampu melaksanakan puasa dengan khusuk, dan mampu mengimplementasikan dalam bentuk kesolehan publik maka tidak mungkin ada kemiskinan, perampokan, penjarahan, koropsi, dan segala macam ketimpangan sosial.

Berpuasa di era yang super sibuk kerja ini memerlukan kesabaran ekstra. Karena komplikasi godaan begitu menggiurkan dan sangat paradoks dengan nilai-nilai pelaksanaan puasa. Pertama, bulan Ramadlan memberi kesempatan kepada orang-orang Islam untuk mendapat pahala sebanyak-banyaknya. Kedua, ketika kita berusaha khusuk menjalankan ibadah puasa, kita juga di kepung oleh budaya kapitalisme yang tak henti-hentinya merayu dan menggoda kita. Iklan-iklan promosi, baik dimedia elektronik maupun media cetak, kita seolah dibujuk, dirayu, dihipnotis dengan tawaran produk-produk yang menggiurkan. Termasuk hiburan-hiburan yang kadang mengandung unsur pornografi, erotisme, sensualitas dan hiburan yang menggoda lainnya.

Selain itu puasa merupakan ibadah yang unik, kenapa? Karena puasa merupakan rahasia antara Tuhan dan orang yang berpuasa itu sendiri, orang lain tidak pernah tahu apakah seseorang benar-benar berpuasa atau tidak, atau hanya sekedar berpura-pura saja. Bukankah orang yang berpuasa dapat bersembunyi untuk makan, dan minum, atau hal – hal yang membatalkan puasa.

Ada hadist nabi saw. yang perlu direnungi, “ Banyak diantara orang-orang yang berpuasa tidak memperoleh sesuatu dari puasanya, kecuali rasa lapar dan dahaga.” Bila dipahami secara substansial, hadist tersebut seolah menegaskan bahwa lapar dan dahaga bukanlah substansi dari puasa itu sendiri. Hakekat puasa itu sendiri pada hakekatnya lebih menekankan pada aspek ketakwaan, sebagaimana firman Allah dalan surah Al-Baqarah ayat 183 di atas. Takwa dalam arti, orang yang berpuasa secara ihklas mau menerjemahkan pesan moral yang terkandung di dalam ibadah puasa tersebut.

Sebagai muslim, berpuasa tidak hanya sebatas formalitas belaka, tetapi berpuasa secara substantif berarti meninggalkan pikiran, perasaan dan kehendak hati yang mengajak kepada dosa, kemaksiatan, kemungkaran, dan sejenisnya. Apabila kita mampu berpuasa dengan meninggalkan hal-hal tersebut di atas, maka insya Allah kita akan mampu membendung berbagai bentuk kemungkaran yang kerap kali menggoda libido kita.

Di tengah kondisi zaman seperti ini, seorang muslim harus pandai-pandai menyikapi keadaan, memiliki kesadaran moral, kritis terhadap berbagai westernisasi, dan tidak mudah terkena bujuk – rayu oleh berbagai macam produk yang bisa membatalkan pahala puasa kita. Sikap kritis seorang muslim tidak akan mudah dipecundangi oleh orang-orang yang mau mengambil keuntungan dari memon bulan puasa ini.

Puasa sebagai benteng yang kokoh bisa melatih kita untuk senantiasa bisa mengendalikan diri dalam menghadapi problem kehidupan. Di samping itu puasa juga bisa menjadi instrumen untuk melakukan pendekatan spritual kepada Allah swt, sekaligus sebagai wahana untuk menolak berbagai bencana yang akhir-akhir ini sering melanda negeri ini.

Dari sisi medis pun, puasa juga bermanfaat untuk mengembalikan organ-organ tubuh agar kembali bugar karena terlalu dipenuhi kerja-kerja biologis, dan metabolisme tubuh kembali normal. Seperti mencerna makanan yang tiada henti kita makan dalam porsi yang sangat banyak. Dengan kata lain, puasa memberi istirahat kepada sebagian organ-organ tubuh untuk tidak bekerja.

Pendeknya, puasa tidak akan menjadikan mu’min sebagai manusia kapitalis, puasa tidak akan menjadikan muslim sebagai manusia kanibalis yang tega membiarkan penderitaan sesamanya. Akan tetapi puasa akan memberikan pencerahan spritual yang berjangka panjang. Disamping itu, puasa juga bisa menjadikan kesalehan individu seorang mukmin, menjadi kesalehan sosial yang bermanfaat bagi alam sekitarnya. “Khoirunnas ‘Anfa’uhum Linnas” (sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya). Semoga kita menjadi Shoimin yang berguna. Wallahu’alam.



Sumenep, 20 September 2006
0 komentar

KEBANGKITAN PENULIS MADURA

Diambil dari film, Tanah Surga, Katanya.

Sebelum meninggalkan tahun 2013, saya ingin menyampaikan catatan penting tentang dunia kepenulisan dari tanah Madura sepanjang tahun 2013. Setidaknya catatan ini menjadi jejak sejarah bagi masyarakat Inodonesia, khususnya masyarakat Madura sendiri.

Tahun ini saya merasa bangga, melihat fenomena yang tidak samar lagi tentang kebangkitan dunia literasi di tanah Sakera. Madura yang hanya dikenal dengan budaya karapan sapi dan caroknya, kini perlahan-lahan menunjukkan entitas baru di dunia literasi. Banyak karya tulis yang bermunculan di media, baik media on line maupun of line, mulai dari tulisan esai, artikel, puisi, cerpen, hingga karya sastra novel.

Di penghujung tahun ini pula, saya merasa dunia literasi di Madura benar-benar mengalami kebangkitan yang cukup signifikan, yang tidak hanya dibangkitkan oleh generasi tua semisal Kuswaidi Syafi’ie, M. Faizi, D. Zawawi Imron, Abdul Hadi WM, dan cakancana, tapi juga digerakkan oleh generasi muda, seumpama Suhari Rahmad, Untung Wahyudi, Alfin Nuha, Ana FM, A’yat Khalili, Paisun, Ahmad Khatib, Syafikurrahman, dan cakancana pula.

Momen berharga ini layak diapresiasi, setidaknya menjadi cermin bagi dunia pendidikan untuk membangkitkan gairah belajar anak didiknya dengan cara gemar menulis. Bukankan kegiatan menulis, akan menjadi motivasi belajar yang cukup ampuh bagi siapa saja? Kalau tidak percaya, silahkan tanya pada mereka yang gemar menulis. Mereka pasti rajin belajar, rajin membaca untuk menu tulisan-tulisannya, dan menjadikan pikiran serta hatinya makin bergizi.
Di penghujung tahun ini, yang membuat saya kaget adalah torehan prestasi menulis yang diraih penulis-penulis muda yang menggeliat mengikuti jejak seniornya. Sebut saja siswa dari Pondok Pesantren TMI Al Amin, Alfian Fawzi yang menjadi juara 1 dengan hadiah 16 juta, atau Yustrina Azimah yang juga santri TMI Al Amin dengan uang saku 11 juta,  pada ajang lomba menulis nasional yang diadakan oleh Pusat Perbukuan.
Selain itu, ada Vita Agustina dari Kecamatan Bluto Sumenep yang saat ini merampungkan studi Program Pascasarjana di UIN Kalijaga, yang juga meraih prestasi menulis untuk kategori novel remaja pada ajang lomba PUSBUK tahun ini, dengan hadiah uang 25 juta. Ada Badrul Munir, yang novelnya juga meraih jura 1 pada lomba Tulis Nusantara dengan hadiah 20 juta. Ada Nun Urnoto El Banbary yang novelnya juga menjadi Jawara pada Milad penerbit AGP Yogyakarta dan mendapat kontrak penerbitan 128 juta. Ada Taufiq Rahman dari PP. Annuqayah yang meraih juara 1 Lomba Karya Tulis Ilmiah yang diadakah oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Balitbang Kemdikbud bekerjasama dengan FLP Pusat dan Rumah Belajar, dengan hadiah 10 juta ditambah bingkisan uang saku 4 juta dari Bupati Sumenep.   
Selain torehan prestasi di atas, banyak pula karya tulis yang mulai diterbitkan menjadi buku. Sebut saja, karya Ra Musthafa, Sekolah dalam Himpitan Google dan Bimbel, 10 Bulan Pengalaman Eropa, atau buku karya Untung Wahyudi yang sudah naik cetak tahun ini (judul masih of the record). Novel Anak-Anak Revolusi, dan novel Memanjat Pesona, karya Nun Urnoto El Banbary juga akan segera beredar menjelang akhir tahun ini.
Tidak lupa pula saya catat bahwa penulis generasi tua Bapak Tadjul Arifin R., juga meraih juara 1 dalam Lomba Penulisan Sejarah Lokal Tingkat Propinsi Jawa Timur yang diselenggarakan Disbudparpora dalam rangka hari Jadi Propinsi Jawa Timur ke 68, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Catatan prestasi literasi yang cukup prestisius di atas, semakin menegaskan entitas orang Madura yang tadinya identik dengan budaya Karapan Sapi dan Carok, kini perlahan namun pasti telah menjelma menjadi kaum intelektual harapan masa depan. Hidup Madura, Jaya Indonesia Raya.
Semoga catatan ini meneguhkan entitas baru bahwa bangsa Madura ternyata sarangnya orang-orang hebat! Berikut beberapa prestasi literasi yang sempat saya catat di penghujung 2013. Bila ada yang tercecer mohon ditambah sendiri.

Tanjung Kodok Sumenep, 5 Desember 2013

0 komentar

SETAN MERAH DI TAMAN ADIPURA





Penulis Abadikan Taman Adi Pura
            Betapa kagetnya saya, ketika menyaksikan batang-batang tetumbuhan di Taman Adipura Kabupaten Sumenep bergelang cat merah dan hitam. Baru sekarang saya merasa Taman Rakyat serupa mata iblis yang mengerikan. Membuat saya—secara alami—tidak nyaman lagi berteduh di sana. Mungkin, demikian juga pengunjung taman yang lain, yang tak punya nyali bersuara atau diam-diam mereka sudah terkena virus merah itu.
            Melihat warna merah mencolok yang bertebaran di seluruh taman, saya segera teringat bahwa sebentar lagi pemilu akan segera tiba. Saya berkeyakinan, bahwa itu adalah ulah pemerintah. Partai politik tidak mungkin berani tanpa rekomendasi dari pemerintah yang punya otoritas mengelola Taman Adipura secara profesional.
            Tapi kenapa harus merah? Bukankah Taman Adipura sejak lahir warnanya sudah hijau? Penguasa tertingginya juga hijau? (semoga bukan kolor ijau) Siapa sebenarnya aktor tidak intelek yang telah berani merenggut keperawanan tamanku yang asri, dan berani-beraninya menginjak penguasa yang sebenarnya juga suka warna hijau? Apakah sang penguasa sudah dirasuki setan merah, lalu lupa warna hijau yang dahulu dibelanya setangah mati? Atau jangan-jangan sang penguasa sudah menjadi boneka yang tak berdaya. Atau malah tengah keasyikan bermain boneka panda yang dibelinya dari pulau tetangga?
            Sebagai rakyat kecil, saya menjadi bego memaknai kehendak pemimpin saya—yang saya kira juga tertular bego yang melanda diri saya—atau juga tertular bego rakyatnya yang terlanjur dianggap bego dengan warna seribu merah di taman itu. Sungguh saya bingung!
            Saya mulai merasa hawa panas Taman Adipura menyergap sekujur tubuh. Wajah politikus yang tiba-tiba muncul dari tengah-tengah taman Adipura datang menyelinap ke dalam benak saya, membawa cat merah agar saya mengecat becak yang baru saja saya tumpangi. Sial nian saya ini! Politikus gentayang di Taman Rakyat yang sudah tak lagi perawan dan menyemburkan api virus yang nyaris mengenai wajah saya.
            Siapa yang telah memerintahkan Taman Adipura dikuasa Setan Merah? Lihatlah! Setan merah mulai berkampanye dengan alihrupa serupa bunga-bunga, dan sama-samar menjelma menjadi batang-batang kayu yang tumbuh rindang di sepanjang gang kecil yang lengang, karena rakyat mului ketakutan berkunjung, kecuali pada malam-malam gelap,  karena si Merah tak terlalu nampak ke permukaan taman yang pengap.
            Waduh, tadinya saya mau menulis esai kritik tentang taman, kok malah jadi cerita horor seperti ini? Jangan-jangan saya mulai kerasukan Setan Merah yang diam sudah menjangkit di dadaku. Aku berlindung dari godaan setan merah yang terkutuk itu.
            Jangan sampai kota kita, Taman Adipura tercinta atau bahkan Masjid Jami’ yang berdiri di dekatnya kerasukan juga. Mari, jaga anak-anak kita, rumah kita, tetumbuhan yang di tanam di depan rumah, lembu-lembu di kadang atau apa saja yang kita punya, dari gangguan Setan Merah yang sudah merampas fasilitas negera, fasilitas tempat kita rehat saat penat.
            Sesungguhnya, kita telah berdosa membiarkan taman yang kita cinta berabad-abad lamanya dirampas dan dicoreng seenaknya saja. Bantulah sang penguasa yang konon kata orang-orang sudah menjadi boneka setan merah. Bergeraklah! Sebelum masji Jami’ menjadi tumbal berikutnya.
            Kita tak buta warna bukan? Jadi, jangan biarkan mereka menginjak-nginjak mata kita, karena sesungguhnya kita tak buta. Jangan katakan, warna dan taman hanya persoalan sepele, sebab nanti mereka akan lebih bernafsu untuk menguasai, saat kita merelakan diri untuk diperkosa berkali-kali.
            Setiap penindasan, sekecil apa  pun, harus di lawan! Mungkin hanya kemampuan macam itu yang nanti di hadapan Tuhan, kita haturkan! Mungkin suara penolakan kecil kita pada kezaliman membebaskan diri kita dari sengatan neraka jahanam. Sekali lagi, jangan relakan kehormatan kita diinjak dengan warna-warna yang membodohkan.  
            Jangan lupa, larangan penggunaan fasilitas negara tertuang dalam Pasal-Pasal 84 ayat (1) huruf h UU No. 10 Tahun 2008 tentang Pemilu Legislatif, Pasal 3 jo Pasal 21 PP No. 14 Tahun 2009, Pasal 26 ayat (1) huruf h Peraturan KPU No. 19 Tahun 2008 tentang Pedoman Pelaksanaan Kampanye Pemilu Anggota DPR, DPRD, DPD.
            Lawan, Wahai Anak-Anak Revolusi! 
0 komentar
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Kabar Nun - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger