"Surga tempatnya orang-orang berprestasi"(KH. Ilyasi Siraj, M.Ag.)




ANAK PENGEMIS JADI BINTANG




Novel Gadis Bermata Ruby karya Alfin Nuha ditulis dengan latar batu-batu dan kerikil kemiskinan di pedalaman sebuah kampung Pragaan di tanah Sumenep Madura, yang konon mata pencaharian penduduknya mayoritas sebagai pengemis yang meminta-minta dari rumah ke rumah, dari toko yang satu ke toko yang lain. Paceklik dan tanah tandus membuat para penghuninya memilih jalan itu untuk mempertahankan hidupnya. Bocoran sorga tidak berlaku di pedalaman Pragaan.

Aktivitas semacam itu tidak hanya ditekuni oleh para orangtua, tetapi anak-anak mereka yang seharusnya sekolah ikut dilibatkan untuk mendapatkan penghasilan yang mengepulkan dapurnya. Namun, di sela-sela aktivitas yang berkeluh kesah itu, seorang anak kecil bernama Rubiah melakukan pemberontakan terhadap kegiatan orangtuanya yang sering mengajak dengan paksa untuk mengemis di kota-kota. Rubiah dianggap memberikan nilai tambah bagi penghasilan orangtuanya, karena penampilannya yang membuat orang iba menatap raut mukanya.

Rubiah lebih memilih untuk sekolah bersama teman-temannya. Ia tak ingin menderita kepanasan atau kedinginan di jalan raya, atau malah dihardik orang saat menganggu si tuan. Rubiah ingin punya prestasi, dan prestasinya kelak diharapkan akan mengubah perilaku orangtuanya yang peminta. Tetapi, Rubiah selalu mendapatkan perlakuan tidak nyaman dari ayahnya, dan ancaman selalu mengintai hidupnya. Rubiah bergeming. Ia tetap saja tidak mau ikut ayahnya mengemis. Rubiah lebih memilih sekolah, setelah dibantu penyakit yang mendera badannya.

Seorang guru muda, bernama Yuliawati Evandiari  sangat perhatian kepada Rubiah dan teman-temannya untuk belajar. Maka, tak ayal, akhirnya Rubiah seperti orang-orang bermain petak umpet dengan ayahnya yang bersikeras untuk mengajaknya mengemis. Rubiah tetap tidak mau, hingga pada waktu yang dijanjikan ia menjadi bintang yang berhasil menyabet lomba bergengsi di kota. Bukan main bahagianya sekolah yang telah mendidiknya, termasuk ibunya yang selama ini hanya kuasa menangis saat keganasan suaminya menyambar mukanya.

Rubiah mendapat penghargaan, penghormatan dan uang saku yang cukup untuk biaya sekolahnya sendiri, tanpa harus memakan jerih keringat orangtuanya. Namun kebahagian Rubiah dan ibunya tak berselang lama, karena musibah tiba-tiba menenggelamkan dirinya dalam simbah air mata saat pulang dari kemenangannya. Maka, jadilah suka berganti duka, dan si anak kecil itu terus menyuri hidupnya.

Tangan mungil Rubiah gemetar mengusap darah yang mengucur dari kepala ayahnya. Buku Tabanas di tangannya ikut berlumur darah. Pupil matanya yang berkilatan bagai permata ruby, kian nanar. Mata itu memerah, seolah menjelma batu permata indah. Serupa batu ruby yang banyak disukai para kolektor dari berbagai negeri. (halaman 107).

Musibah yang menimpa Rubiah datangnya tak pernah diterka. Derai airmatanya adalah duka seluruh orang-orang yang telah membesarkannya, yang telah mencintainya.
Novel tipis ini, mengandung sari-sari hikmah bagi anak-anak, para orangtua, guru, dan bagi semua orang yang senang mengambil pelajaran dari semua peristiwa. Selamat membaca, “Gadis Bermata Ruby



Data Buku:

Judul: Gadis Bermata Ruby
Penulis: Alfin Nuha
Penerbit: Pangaro Media Utama Yogyakarta
Cetakan, 1 Juli 2014
Tebal: 112
Harga: 30.000
Share this article :
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Kabar Nun - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger