"Surga tempatnya orang-orang berprestasi"(KH. Ilyasi Siraj, M.Ag.)




BLOGGER

Perkenalkan, nama saya Urnoto. Nama saya cukup pendek, seukuran orangnya. Mudah menyebutnya, meski sedikit memerlukan bibir manyun agar lebih fasih. Ada yang mengira, nama saya masih sedarah dengan Naruto. Perkiraan mereka, saya iyakan saja, karena memang ada persamaan fonem dengan nama Naruto dari Jepang yang terkenal itu. Bahkan, boleh dibilang masuk kategori fonem suprasegmental.

Orang-orang kampung, sangat fasih saat memanggil nama saya, meski kadang-kadang ada juga yang iseng dengan memplesetkan panggilan dengan menyebut Not. Saya pun tak risau, karena not berarti tanda nada saat kita bermain musik. Tapi, apalah arti sebuah nama jika hanya bikin ruwet tetangga, dan membuat bau busuk sepanjang masa. Mending tak bernama saja. Lebih damai, dan orang bingung menyebut nama penjahatnya. Ah, terserah Anda. Anda pasti sudah merasa lebih pandai dari Tuhan, bukan?

Saya lahir di pulau terpencil. Jauh dari peradaban kota, jauh dari kebisingannya pula. Pulau saya penuh derita. Penghuninya telah merusak alamnya, dan pemerintah tak ambil pusing untuk memperbaikinya. Saya pun hengkang, karena merasa tak berdaya jika dibanding dengan penghuni lain yang merasa lebih berdaya guna. Saya punya cara lain mendayagunakannya. Paling tidak, saya bisa mengumumkan kepada dunia, bahwa pulau kelahiran saya terbengkalai dari kebijakan yang baik-baik, seperti kebijakan jalan beraspal yang mengilap, atau reboisasi yang menyimpan air saat kemarau membengkak.

Jika hendak ke pulau saya, harus naik perahu selama sejam. Perjalanan ke pulau saya sangat menyenangkan, meski terkadang ada ombak yang hendak menggulung perahu untuk disantap. Angin dan gelombang sudah lama ditaklukkan oleh tukang perahu yang mumpuni. Jadi, jangan khawatir untuk menempuhnya.

Saya lahir hari Senin, hanya saja tanggalnya menjadi misterius. Kata yang satu tanggal sekian. Kata yang satunya lagi tanggal sekian. Maklum, orangtua saya buta huruf, akibat pemerintah nakal meratakan pendidikan yang manusiawi. Sumpah, pemerintah waktu itu sangat menyebalkan dan jahat sekali. Mungkin, kelak bakal dipanggang di api neraka lebih awal. Tak hanya pendidikan, pemerintah waktu itu membuat rakyatnya melarat, miskin, korengan, kurus-kurus karena kekurangan gizi. Tahun lahir saya 1980, yaitu tahun keberuntugan karena nutut pada dua masa, yaitu masa diktator dan masa reformasi. Masa diktator dipimpin Harto dengan segala kejadulannya, alias zaman old. Sedangkan masa reformasi adalah zamannya generasi milenial yang terbentang segala kebebasan dan nyaris kebablasan.

Pulau saya ada di Jawa Timur ujung timur, namanya Sumenep. Sumenep adalah kabupaten paling kaya se-Madura sekaligus penghuninya banyak yang miskin. Sanking miskinnya, banyak penghuninya tak betah tinggal di rumahnya. Mereka bertualang mencari dan menumpuk harta benda hingga ke negeri Jiran, Arab, Amerika, dan menyebar ke seantero dunia. Mungkin, saya termasuk di dalamnya, tapi masuk pelamun yang sedang bertualang.

Sebagai pelamun, saya telah melamukan nama baru. Bahkan, nama-nama baru itu banyak sekali. Pernah sekali saya bernama Urnoto Syarifuddin, Urnoto el-Kailany, Urnoto Rafsanjany, Sastranegara, Markenyot, dan yang cukup terkenal bernama Nun Urnoto El-Banbary.  Gila betul, saya waktu itu. Nama orang sekampung, saya pakai semua. Rakus sekali, bukan? Ya, daripada rakus jadi rentenir mending rakus bikin nama-nama unik saja.hihi

Tak hanya rakus bikin nama saja, tetapi saya juga terkenal anak paling nakal, bandel, dan tukang carok. Tua kecil, kalau sudah salah, saya hajar sampai babak belur. Pokoknya, saya tak tega mengingatnya. Sekarang, saya sudah taubatan nasuha. Ditampar pun, rasanya saya tak akan membalas. Bukan takut, tapi taubatan nasuha. Soalnya, kelak saya takut dihajar pula oleh para malaikat Zabaniyah. Bisa bisa muka saya menjadi bonyok.

Saya anak seorang pelaut yang hingga kini tak pernah pensiun. Barangkali, laut telah menjadi sahabat karibnya, atau memang menjadi suratan perjuangannya. Ayah saya adalah anak laut yang tangguh, yang pernah diguluk ombak, dan nyaris mati di tengah laut. Saya tak berani mengikuti jejaknya. Urat-urat saya tak seperti kawat, tak setangguh ayah saya yang gagah, meski diusianya yang sudah senja.

Orang tua menginginkan saya menjadi seorang guru, tetapi rupanya saya tak cocok. Saya, lebih memilih menjadi pelamun saja. Pelamun yang tidak masuk akal bagi orang-orang yang merasa akalnya sehat. Dahulu, saya memang sempat menjadi guru sekolah formal selama 13 tahun. Sekarang, saya hanya mengajar kursus-kursus pelatihan saja yang tidak rumit dan lebih merdeka, juga mengisi seminar-seminar menulis yang menggelisahkan para pesertanya.

Beberapa tulisan saya barangkali menjadi inspirasi, sehingga saya dianggap layak untuk memberikan kuliah-kuliah literasi. Saya sendiri tak dinyana bisa duduk di forum-forum terhormat yang berbicara tentang pengetahuan, padahal ayah saya hanya pelaut yang buta huruf. Barangkali, doa orang tua terkabul agar saya menjadi seorang guru, hanya saja bentuknya berbeda. Bukankah guru tidak harus di sekolah formal sebagaimana dipahami kebanyakan orang?

Diawal-awal belajar menulis, saya telah melahirkan beberapa tulisan dengan judul sebagai berikut: “Otokritik Pendidikan dan Peradaban Pesantren.” Tulisan ini terbit di harian Radar Madura pada tahun 2004. Demikian juga dengan cerpen-cerpen berikut: Surat Cinta Buat Salma Tiana, Wanita Dongeng, Negeri Keranda, Terkekang, Pemulung, dan Abdul Rakyat.

Di tabloid info yang dikelola oleh pemkab Sumenep, tulisan-tulisan saya juga pernah nangkring. Saya sudah lupa tanggal dan tahun terbitnya. Beberapa judul yang sempat saya ingat adalah sebagai berikut: “Halal Bihalal, Evolusi Pemahaman Keagamaan, Kedewasaan Beragama, Meluruskan Tafsir Keagamaan, Sastra yang Indah:Sastra Kemanusiaan, Kebangkitan Peradaban Madura, dan Kearifan Lokal. Tulisan-tulisan tersebut di atas, banyak saya tulis selama masih di pondok Pesantren Nurul Islam Karangcempaka.

Tidak berhenti sampai di situ, saya terus istikamah menulis, hingga beberapa tulisan saya mendapat penghargaan. Misalnya, novel “Anak-Anak Revolusi” yang mendapat penghargaan sebagai juara pertama lomba menulis di Penerbit Alif Gemilang Pressindo Yogyakarta 2013. Ketika menulis novel ini, saya sudah nyaris putus asa untuk menulis lagi. Pasalnya, tulisan-tulisan saya yang sudah berbentuk buku macam novel di atas, ditolak berkali-kali oleh penerbit. Namun, dipuncak penderitaan menulis, akhirnya Tuhan meloloskan naskah novel di atas hingga diterbitkan. Saya kembali melanjutkan aktivitas menulis meski masih kurang bersungguh-sungguh.

Karya saya yang lain adalah novel “Anak-Anak Pangaro” yang dinobatkan sebagai nominator lomba menulis novel di “Tulis Nusantara 2013”, sekaligus sebagai juara harapan III di Penerbit Tiga Serangkai pada tahun 2014 dan diterbitkan pada tahun 2015 oleh Penerbit Mitamind, yaitu lini penerbit milik PT. Tiga Serangkai.

Saya juga menulis kisah cinta, yang diberi judul “Memanjat Pesona; Jalan Terjal Meminang Cinta” terbit di Pintu Kata Yogyakarta 2014. Novel ini pernah masuk 40 besar dari 400 lebih peserta yang ikut berkompetisi. Memanjat Pesona adalah novel pertama yang saya tulis, meski akhirnya penerbitannya didahului adik kandungnya, yaitu Anak-Anak Revolusi.

Karya saya yang lain adalah cerpen. Cerpern “Karapan” masuk nominator lomba menulis cerpen di Tulis Nusantara 2014. Cerpen “Burung Nun” masuk juara harapan di LMCHL Perhutani Green Pen Award 2013. Karya antologi cerpen juga pernah terbit di Hafsha Publisher Semarang pada 2011, dengan judul “Negeri Keranda”. Cerpen “Emak Pahlawanku” terangkum dalam antologi “Ibuku Berbeda” yang terbit di Diva Press Yogyakarta 2014.

Tak hanya cerpen, puisi saya yang berjudul “Dendang Bujang Tanah Seberang” masuk 10 puisi terbaik pada lomba Menulis Puisi 2013 dan diterbitkan oleh Jurnal Saja. Pada 2014 puisi saya yang diberi judul “Asmaraloka” kembali mendapatkan penghargaan yang sama dan terbit di Inspirasi.co pada 2015. Baru-baru ini (23-26 Oktober 2018) karya novelet saya yang berjudul “Budiman Berdikari” mendapat penghargaan sebagai Juara II oleh Kemendikbud Republik Indonesia.

Selain menulis, saya juga aktif sebagai trainer dan mengisi seminar. Terhitung sejak 2014 hingga 20119 sudah pernah mengisi acara lebih 50 kali. Tidak hanya itu, saya juga mengelola Rumah Baca Anak-Anak Pangaro yang ada di Aeng Tongtong Saronggi dan Tanah Sangkolan di Desa Banbru Giliraja Sumenep, dengan koleksi buku lebih dari cukup untuk dibaca orang sekampung.

Saya pernah menjadi ketua Forum Lingkar Pena (2008-2009) dan Forum Kajian Santri Giliraja (2003-2004). Pernah juga terlibat dalam pengembangan ekonomi PCNU Sumenep pada 2013, dan sekarang aktif di Lesbumi PCNU Sumenep.

Jika ada yang hendak kenalan, atau hendak mengundang saya, atau ada yang hendak meneliti karya-karya saya sebagaimana yang sudah dilakukan oleh beberapa kaum genius, atau bahkan hendak menyumbangkan buku-buku ke Rumah Baca yang saya kelola, bisa menghubungi email: nunurnotoelbabary@gmail.com. Sekian terima kasih.

Share this article :
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Kabar Nun - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger