"Surga tempatnya orang-orang berprestasi"(KH. Ilyasi Siraj, M.Ag.)




BURUNG NUN

Cerita ini ikut memenangkan lomba Cerpen Sastra Hijau 2014





           Entah sejak kapan aku menjadi burung yang beterbangan menembus udara. Tak ada proses ajaib serupa ulat yang bertapa untuk menjelma kupu-kupu yang bisa terbang. Semua yang kualami menjadi tiba-tiba. Serta-merta. Kun fayakun. Jadilah! Maka jadilah aku seperti ini: burung!
          Apakah karena aku dikutuki oleh semua burung yang selama ini dipelihara ayahku? Ataukah ini hanya peristiwa sekejap yang akan kembali seperti sedia kala? Ah! Masih tanda tanya. Tapi, kali ini aku tak ingin memikirkannya. Aku ikhlas, apa pun yang terjadi pada diriku. Entah aku dikutuk atau hanya sekadar disulap. Aku tak perduli. Apa perduliku?
          Aku masih merasa seperti manusia meski tubuhku burung. Aku mengerti bahasa ibuku yang memanggil-manggil, karena aku tak kunjung datang memenuhi teriakannya. Padahal, aku sudah bertengger di kepalanya yang dibalut rambut uban. Tapi, ibu tak mengerti bahwa aku sudah mendatanginya. Ibu tak mengerti bahasaku. Ibu tak paham bahwa burung di kepalanya adalah diriku.
          Sekali lagi aku menggelapar, bahkan jatuh di dekat kakinya yang sudah keriput dan berusaha mematuknya, agar mau mengerti bahwa aku sudah datang. Andai ibu mengerti bahasaku, ia akan berhenti berteriak. Haruskah aku mendatangkan Sulaiman agar ibu mendapat ijazah seribu bahasa?
          Ketika ibu berucap, “Belikan aku kecap penyedap bumbu!” aku segera melesat ke pasar memberikan uang seribu pada pemilik toko, lalu tanpa basa-basi aku mengambil kecap itu. Nyonya toko terbengung melihat kelakuanku dan bersusah payah menangkapku. Aku melejit tinggi-tinggi lalu pergi.
          Aku segera datang pada ibu membawa sebungkus kecap. Ibu tercengang melihat aku melempar kecap yang diinginkan. Matanya melotot serupa orang kerasukan makhlus halus penunggu pohon kapuk di belakang rumah. Ah! Ibu masih saja tak mau mengerti, bahwa aku adalah anaknya, janin yang dilahirkan dengan serpihan keringatnya.
          Aku kembali terbang. Bergabung dengan burung-burung lain yang menyukai warna buluku. Di pohon kapuk yang dianggap keramat, aku bersuka-ria. Burung betina yang genit menggodaku. Terkadang melempar senyum, kadang hanya mengerling, agar aku mengejarnya untuk kusenggamai berkali-kali. Ah! Burung!
          Saat burung-burung betina mengelilingiku, tiba-tiba datang kaum pejantan hendak menerkam. Tapi burung betina yang lagi libidonya mengiang diubun-ubunnya menyambutnya dan meredam amarahnya, lalu bercumbu-ria bergantian di sela-sela dedaunan kapuk yang rimbun. Aku diajak ikut serta. Aku hanya menggeleng sambil bersiul-siul mengintip dari celah-celah setiap adegan yang menegangkan protoplasma yang kian lama menggeliat di sekujur pinggangku. Aku tahu, apa itu artinya! Tapi, aku tak mau melakukannya. Aku malu! Aku burung pemalu.
          Terdengar ibu memanggilku kembali. Aku datang. Bertengger di kepalanya yang sudah disisir, “Belikan aku Rinso!” Ibu berseru-seru sambil mengusirku berkali-kali agar tak hinggap di kepalanya.
          Aku mengambil uang di tangannya yang masih berlepot busa karena belum rampung mencuci baju seluruh keluarga. Aku segera terbang, dan melempar uang seribu di hadapan si nyonya toko. Aku melesat menyambar renso lalu pergi sambil meninggalkan siul indah di daun telinganya. Sebelum pergi, si nyonya toko yang feminin berusaha menangkapku. Aku melejit. Si tuan toko semakin garang. Gairahnya meluap serupa kuda yang berahinya membara.
          Di depan ibu, aku kembali melempar perintahnya, berupa rinso pesanannya, dan segera terbang kembali ke pohon kapuk menemui sekawanan burung yang lagi memadu asmara tak berjeda. Menjadi burung, bebasnya luar biasa. Bisa terbang kemana saja. Tak perlu repot membayar angkot.
          Ahai! Akulah burung. Penjelma paling ajaib dari bangsa manusia. Dikutuk raja burung yang murka. Aku benar-benar merdeka. Tak ada undang-undang yang menjeratku. Tak wajib membayar pajak pada penguasa. Tugasku hanya bersiul pada waktu-waktu tertentu sebagaimana Tuhan sematkan pada instingku.
          Pagi-pagi sekali, sebelum manusia terjaga dari nyenyaknya, aku sudah bersiul indah memuji keagungan Tuhan. Lalu, ketika manusia sudah terjaga aku menghibur manusia dengan lagu termerdu. Biasanya, manusia menjadi pesong setelah mendengar suaraku. Mereka bagai terkena tenun pengasihan yang melumpuhkan saraf-sarafnya. Di kepalanya, hanya ada suara indahku. Mereka mabuk! Mereka kasmaran. Mereka memburuku!
          Tiba-tiba aku kasihan pada burung-burung yang dikurung ayahku. Mereka pasti ingin bebas sepertiku yang mengepakkan sayap sambil menciap-ciap. Maka, atas nama perasaan senasib dan sepenanggungan, aku segera membuka gerendel dan membiarkan pintunya terbuka lebar. Melihat aku berulah, burung-burung piaraan ayahku nampak ragu melewati pintu. Aku hanya mengerjapkan mata. Memberi sinyal kemerdekaannya! Lalu, mereka pergi entah kemana?
          Ibu yang menyaksikan kelakuanku tak mau perduli. Mungkin ibu sudah tidak sanggup memberi makan segerombolan burung-burung yang dipelihara ayah. Dan, ibu baru terkejut saat semua burung di sangkarnya benar-benar lenyap. Ibu seperti ketakutan. Takut didamprat ayah yang lebih mencintai burungnya dibanding dirinya.    
          Tanpa perduli dengan rasa kaget yang menyelimuti wajahnya, aku segera ikut terbang tinggi. Tapi, aku tak bisa pergi jauh dari ibu. Cukup pohon kapuk tempatku bertengger atau sejauh suara ibu memantul. Di situlah aku mengepakkan sayap. Dan benar! Tak lama setelah burung-burung pergi, ibu memanggil-manggil namaku.
          “Nuuun ....!” serunya. Memantul ke mana-mana.
          Aku segera datang. Menemuinya dan hinggap kembali di kepalanya. Tapi setiap kali aku datang, ibu belum mengerti bahwa aku adalah anaknya. Ibu masih saja mengusirku setiap kali kepala itu kuhinggapi. Ah, ibu!
          “Belikan aku beras satu kilooo ...!” serunya bertalu-talu.
Aku kaget bukan kepalang. Bagaimana mungkin tubuh kecilku bisa mengangkat beras sekilo! Aku memutar otak. Sejumput ide diselipkan oleh Tuhanku. Segera saja aku menyambar uang di tangan ibu. Aku melambung ke udara tinggi-tinggi. Ibu melihatku dengan matanya yang mendelik. Aku bersiul-siul dan nyaris seantero tanah air mendengarnya. Tidak berapa lama setelah aku hinggap di pohon kapuk di belakang rumah, puluhan bahkan ratusan burung menghampiriku. Mereka bertanya-tanya kepadaku.
          “Apa gerangan yang terjadi, wahai pahlawanku?” tanya salah satu burung yang pernah kubebaskan dari penjara ayahku!
          “Aku butuh batuan kalian ...,” jawabku, sambil memasang wajah sedih seperti menanggung beban teramat berat.
          “Apakah itu?” tanya yang lain.
          “Bantu aku mengangkut beras!” sahutku.
          “Di manakah itu?” tanya mereka.
          “Di toko sebelah sana,” jawabku sambil menunjukkan sebuah toko yang dijaga seorang tante muda yang masih binal.
          “Bagaimana kalau kita ditangkap lalu digoreng?”
          “Kita goda penjaga toko itu. Sekelompok burung bertengger dan bersiul-siul indah di samping rumahnya hingga si penjaga meninggalkan tokonya. Sekelompok yang lain segera mengulak beras dengan paruhnya. Lalu segera dibawa pergi, mengikuti jejakku.
Tanpa banyak bacot, sekawanan burung segera melaksanakan petunjukku. Mereka beranjak dari pohon kapuk. Terbang bergerombol sambil bersiul-siul dendangkan orkestra dari mozaik tanpa rupa, hingga akhirnya menggoda gerombolan manusia yang terlihat melata dari ketinggian lagit.
Sekejap saja, misiku berhasil dan membuat si penjaga toko terkesima hingga terlupa kalau berasanya telah kami bawa. Tapi, kami tidak mencuri. Kami membayarnya dengan kepingan yang ibu berikan kepadaku. Ketika si penjaga kembali ke toko, aku memberikan uang dengan paruhku. Si penjaga terkaget. Mulutnya tak kunjung terkatup. Tapi, sebelum niat busuknya meluap untuk menangkapku. Aku segera terbang. Melayang-layang di atap rumahku, dan beras telah terhidang di depan ibu.
Ibu terperangah. Seperti baru tersadar bahwa burung-burung yang selama ini di penjara telah membalas kebaikannya. Membalas budi baiknya yang memberi makan selama bertahun-tahun. Burung-burung itu sama sekali tak menaruh dendam kesumat, meski terkekang di kawat besi. Mata ibu terpana menyaksikan kami yang berjumlah ratusan terbang ke pohon kapuk yang rimbun. 
Halaman rumah yang riuh kembali sunyi. Kami ngumpet sambil bercerita kelakuan penjaga toko yang berubah menjadi bego saat mengangkut beras. Aku termenung sendirian di ujung pohon kapuk sambil menikmati ayunan rantingnya yang melena rasa. Tiba-tiba saja aku tergeragap mendengar suara tak asing yang berderai-derai dari rumah.
Ayah telah datang dari sebrang menjual beberapa anak burung pada kaum tengkulak. Suaranya yang kasar seperti mendamprat ibu habis-habisan. Pertengkaran hebat telah terjadi. Aku sudah menduga bahwa ayah akan murka.
Segera saja aku terbang mengintip. Apa gerangan yang terjadi pada ibu. Ternyata benar. Ayah murka besar.
“Siapa yang melepas burung-burung itu!” bentaknya seperti kerasukan demit yang haus sesajen.
Ibu hanya diam serupa orang bersalah yang tak berdaya. Ia duduk bersimpuh di depan tomang[1] sambil menanak beras yang baru saja aku beli.
“Kalau tidak menjual burung-burung itu, dari mana kita akan membayar utang!” bentaknya sambil mencari-cari burungnya.
Teman-temanku ngumpet di atas ketinggian pohon kapuk. Mereka ketakutan kalau-kalau ayah menemukannya dan ngatapel tubuhnya. Aku juga bergidik kalau sampai ayah mengambil senjata pamungkasnya itu. Ah, ayah selalu sangar bila burungnya diganggu, apalagi dicuri, lebih-lebih lenyap tanpa jejak.
Kulihat ayah mulai kalap, ketika tak menemukan seekor burung pun. Mukanya yang hitam bertambah legam, dan lagi-lagi ibu menjadi pelampiasan amarahnya. Nyaris tangannya yang kasar bagai baja itu menampar pipi ibu yang lembut. Aku nyaris menjerit. Beruntung paruhku tertekan lubang kecil tempatku mengintip.
Aku segera mengepakkan sayap menuju pohon kapuk. Teman-temanku termangu dengan wajah tegang.
“Apa yang terjadi?”
“Tuanmu, murka!” jawabku, tanpa membuka identitas bahwa aku adalah burung kutukan.
“Apakah dia memukuli istrinya?”
“Nyaris!” jawabku singkat, karena perasaanku mulai tertekan.
“Apakah dia mengambil senjata pamungkasnya?”
“Sepertinya akan begitu!” seruku.
“Cilaka![2]” seru yang lain.                            
Kubiarkan saja mereka gaduh dengan senjata ayahku yang ampuh: katapel. Ayah selalu menggunakan senjat itu untuk memburu burung-burung liar yang hendak ditangkapnya. Dahulu, aku juga menggunakan senjata itu untuk berburu.
Diam-diam aku mulai merasa berdosa pada ibu, karena dibentak-bentak ayah yang lebih mencintai burungnya. Aku menjadi buntu. Tak menemukan jalan keluar untuk mengatasi masalah itu. Semua itu gara-gara aku yang membebaskan semua burung.
Sekali lagi terdengar suara ayah yang mulai kalut. Suaranya menggelegar bagai halilintar. Rupanya, ayah murka lagi. Kali ini, suara ibu terdengar menjerit-jerit. Aku segera bergegas mengitip kelakuan ayah yang kalap.
Aku kaget bukan kepalang. Ayah membawa kapak bergigi tajam menuju pohon kapuk yang kami singgahi.
“Jangan tebang pohon kapuk itu!” seru ibu setengah menjerit.
“Pohon kapuk itu mungkin bisa melunasi hutang-hutang kita pada kaum rentenir!”
“Jangaaan! Itu punyanya Nun. Jangan kau jual sebelum minta izinnya!” seru ibu meratap-ratap.
“Nuuun ...!” jeritnya sambil memanggil-manggil namaku.
Ayah mulai mengayunkan kapaknya yang akan menjadi bencana bagi kaumku. Haruskah aku membuka rahasiaku? Oh! Rasanya tidak mungkin! Ayah tidak akan percaya sama sekali, bahwa aku adalah darah dagingnya yang telah dikutuk menjadi burung indah!    
Aku harus segera menghentikan kapak ayah. Gigi kapak tak boleh menyentuh pohon kapuk yang sudah lama menyimpan sumber mata air bagi kehidupan makhluk alam. Hanya tinggal pohon kapuk raksasa ini yang menjadi harapan tersimpannya kristal-kristal air. Kalau sampai ditebang, boleh jadi erosi akan melanda tanpa henti. Bisa-bisa kaumku akan mati.
Aku melonjak terbang rendah seraya dendangkan suara merduku yang mampu menggoda kuping ayah. Seketika kapak terhenti. Ayah terkesima melihatku melenggang dengan bulu-bulu halus yang mampu meredakan angkuhnya.
Namun sial! Ayah bergegas menyelinap ke dalam rumah dan segera keluar membawa katapel dan dibidikkan ke tubuhku yang berputar-putar di atas kepalanya. Sebuah batu keras menghantam lambungku. Seketika itu aku terpelanting berdebam tak jauh dari kaki ayah. Aku berusaha bangkit dan hendak terbang. Tapi tak berdaya. Dadaku terasa sesak. Aku menggelepar memanggil-mangil ibu.
“Tolooong ....!”
Aku terbangun. Tangan ibu meraba-raba ubun-ubunku.
“Bangun, Nak ...! Kamu bermimpi buruk?”
“Jangan lupa membaca doa kalau mau tidur. Setan selalu menghantui hidup manusia, Nak ...!”
“Iya, Bu ...!”
“Oh, mimpi!”
Sumenep, Pebruari 2014



[1] Tempat menanak nasik yang terbuat dari tembikar.
[2] Celaka!

Share this article :
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Kabar Nun - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger