"Surga tempatnya orang-orang berprestasi"(KH. Ilyasi Siraj, M.Ag.)




PUASA SEBAGAI PESAN MORAL

Hai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kamu berpuasa
sebagaimana halnya ia telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu,
agar kamu menjadi orang-orang bertakwa ”. (Al-Baqarah: 183).


Di bulan inilah, Tuhan Yang Maha Bijaksana memanjakan orang-orang beriman untuk meraih pahala yang meruah, melebihi bulan-bulan lainnya. Terlebih lagi, apabila kita bersua dengan malam Lailatul Qadar, kita akan mendapat pahala bagaikan beribadah seribu bulan. Sungguh pemandangan spritual yang sangat mencengangkan. Maka, sudah sewajarnya kita memanfaatkan momen puasa semaksimal mungkin.

Puasa merupakan ibadah wajib yang memerlukan niat ikhlas, baik lahir maupun batin agar bisa diterima dan menjadi kesalehan sosial yang bisa dirasakan oleh masyarakat sekitarnya. Puasa tidak hanya membutuhkan laku fisik, tetapi juga laku batin untuk mengasah hati, rasa, nurani, dalam menyikapi segala persoalan dalam setiap detak kehidupan yang kian hari terasa memilukan.

Puasa (shaum) merupakan sarana untuk menahan diri dari nafsu-nafsu jasmaniah dan memutuskan hasrat-hasrat duniawi yang muncul dari gagasan setan dan sahabat-sahabatnya, memosisikan diri sebagai orang yang sakit yang tidak menginginkan makanan maupun minuman dan mengharapkan kesembuhan dari penyakit kesalahan. Berpuasa juga bisa membunuh hasrat diri dari nafsu keserakahan, dan dari situ pula akan muncul sifat dermawan sebagai terjemahan nilai-nilai positif dari ibadah puasa.

Puasa bukanlah ritual semata, puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, puasa tidak hanya kewajiban yang hampa makna. Akan tetapi puasa adalah instrumen untuk menyucikan pikiran manusia yang bergelimang dosa. Puasa adalah medium untuk saling merasakan penderitaan diantara sesama. Maka sangat ironis, ketika seorang muslim yang mengklaim dirinya berpuasa tetapi masih tidak memiliki kepedulian terhadap sesama. Bulan Ramadlan yang penuh berkah, ampunan, dan pahala ini tidak akan ada artinya apa-apa apabila tidak diaktualisasikan dalam bentuk kesalehan sosial.

Dalam konteks sehari-hari, puasa bisa menumbuhkan rasa solidaritas sosial karena orang yang sungguh-sungguh berpuasa bisa merasakan bagaimana rasa lapar dan dahaganya orang-orang miskin, orang-oang yang kelaparan, orang-orang yang kekurangan sehingga kenyataan pahit (kemiskinan) yang banyak bertebaran di bumi pertiwi ini lambat laun bisa teratasi. Andai kata umat islam terbesar yang ada di Indonesia ini mampu melaksanakan puasa dengan khusuk, dan mampu mengimplementasikan dalam bentuk kesolehan publik maka tidak mungkin ada kemiskinan, perampokan, penjarahan, koropsi, dan segala macam ketimpangan sosial.

Berpuasa di era yang super sibuk kerja ini memerlukan kesabaran ekstra. Karena komplikasi godaan begitu menggiurkan dan sangat paradoks dengan nilai-nilai pelaksanaan puasa. Pertama, bulan Ramadlan memberi kesempatan kepada orang-orang Islam untuk mendapat pahala sebanyak-banyaknya. Kedua, ketika kita berusaha khusuk menjalankan ibadah puasa, kita juga di kepung oleh budaya kapitalisme yang tak henti-hentinya merayu dan menggoda kita. Iklan-iklan promosi, baik dimedia elektronik maupun media cetak, kita seolah dibujuk, dirayu, dihipnotis dengan tawaran produk-produk yang menggiurkan. Termasuk hiburan-hiburan yang kadang mengandung unsur pornografi, erotisme, sensualitas dan hiburan yang menggoda lainnya.

Selain itu puasa merupakan ibadah yang unik, kenapa? Karena puasa merupakan rahasia antara Tuhan dan orang yang berpuasa itu sendiri, orang lain tidak pernah tahu apakah seseorang benar-benar berpuasa atau tidak, atau hanya sekedar berpura-pura saja. Bukankah orang yang berpuasa dapat bersembunyi untuk makan, dan minum, atau hal – hal yang membatalkan puasa.

Ada hadist nabi saw. yang perlu direnungi, “ Banyak diantara orang-orang yang berpuasa tidak memperoleh sesuatu dari puasanya, kecuali rasa lapar dan dahaga.” Bila dipahami secara substansial, hadist tersebut seolah menegaskan bahwa lapar dan dahaga bukanlah substansi dari puasa itu sendiri. Hakekat puasa itu sendiri pada hakekatnya lebih menekankan pada aspek ketakwaan, sebagaimana firman Allah dalan surah Al-Baqarah ayat 183 di atas. Takwa dalam arti, orang yang berpuasa secara ihklas mau menerjemahkan pesan moral yang terkandung di dalam ibadah puasa tersebut.

Sebagai muslim, berpuasa tidak hanya sebatas formalitas belaka, tetapi berpuasa secara substantif berarti meninggalkan pikiran, perasaan dan kehendak hati yang mengajak kepada dosa, kemaksiatan, kemungkaran, dan sejenisnya. Apabila kita mampu berpuasa dengan meninggalkan hal-hal tersebut di atas, maka insya Allah kita akan mampu membendung berbagai bentuk kemungkaran yang kerap kali menggoda libido kita.

Di tengah kondisi zaman seperti ini, seorang muslim harus pandai-pandai menyikapi keadaan, memiliki kesadaran moral, kritis terhadap berbagai westernisasi, dan tidak mudah terkena bujuk – rayu oleh berbagai macam produk yang bisa membatalkan pahala puasa kita. Sikap kritis seorang muslim tidak akan mudah dipecundangi oleh orang-orang yang mau mengambil keuntungan dari memon bulan puasa ini.

Puasa sebagai benteng yang kokoh bisa melatih kita untuk senantiasa bisa mengendalikan diri dalam menghadapi problem kehidupan. Di samping itu puasa juga bisa menjadi instrumen untuk melakukan pendekatan spritual kepada Allah swt, sekaligus sebagai wahana untuk menolak berbagai bencana yang akhir-akhir ini sering melanda negeri ini.

Dari sisi medis pun, puasa juga bermanfaat untuk mengembalikan organ-organ tubuh agar kembali bugar karena terlalu dipenuhi kerja-kerja biologis, dan metabolisme tubuh kembali normal. Seperti mencerna makanan yang tiada henti kita makan dalam porsi yang sangat banyak. Dengan kata lain, puasa memberi istirahat kepada sebagian organ-organ tubuh untuk tidak bekerja.

Pendeknya, puasa tidak akan menjadikan mu’min sebagai manusia kapitalis, puasa tidak akan menjadikan muslim sebagai manusia kanibalis yang tega membiarkan penderitaan sesamanya. Akan tetapi puasa akan memberikan pencerahan spritual yang berjangka panjang. Disamping itu, puasa juga bisa menjadikan kesalehan individu seorang mukmin, menjadi kesalehan sosial yang bermanfaat bagi alam sekitarnya. “Khoirunnas ‘Anfa’uhum Linnas” (sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya). Semoga kita menjadi Shoimin yang berguna. Wallahu’alam.



Sumenep, 20 September 2006
Share this article :
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Kabar Nun - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger