"Surga tempatnya orang-orang berprestasi"(KH. Ilyasi Siraj, M.Ag.)




POSTINGAN HARI INI
print this page
POSTINGAN TERBARU

KEAJAIBAN DOA

Introduksi
Banyak sekali dalil yang justifikasi bahwa doa seorang muslim (bahkan orang kafir) diterima oleh Allah swt. Dalil-dalil dari al-Quran antara lain firman Allah swt, sebagai berikut:
“Dan Tuhanmu berfirman: Berdoalah kamu kepada-Ku, niscaya Aku perkenankan permintaanmu.” (Al Mu’min:60)

“Berdoalah kamu kepada Tuhanmu dengan merendah diri dan suara lembut. Sesungguhnya Allah tidak suka terhadap orang-orang yang melampaui batas.” (Al ‘Araf: 55).

“Dan jika ditanya kepadamu oleh hamba-hamba-Ku tentang diri-Ku, maka bahwasanya aku itu dekat. Aku menerima permohonan orang yang berdoa (memohon) apabila mohon sungguh-sungguh. Maka hendaklah mereka memperkenankan seruan-Ku , dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, mudah-mudahan mereka mendapat petunjuk.” (Al-Baqarah: 186)

“(sebenarnya) Siapakah yang mengabulkan doa orang yang sangat berhajat kepada pertolongan, tatkala mereka berdoa kepada-Nya?” (An-Naml 62).

Masih banyak lagi dalil yang menjelaskan tentang keampuhan do,a. Selain dalil di atas, ada juga dalil dari baginda Nabi Muhammad SAW., antara lain sebagai berikut:

“Dari Annu’man bin Basyir r.a. berkata: Bersabda Nabi saw.: Doa adalah ibadah” (H.R. Abu Dawud dan At-Tirmidzi).

“Dari Aisyah r.a. berkata: Rasulullah saw. gemar sekali pada kalimat doa yang singkat tetapi meliputi semua maksud dalam do’a dan meninggalkan selain itu” (H.R. Abu Dawud).

Masih banyak lagi dalil yang menjelaskan tentang keajaiban doa yang diajarkan oleh Allah sendiri maupun oleh Rasulallah saw. Sebagai seoran Mukmin yang percaya kepada yang gaib, maka sudah seyogyanya memercayai ke-mustajaban doa yang dipanjatkannya.

Pengalaman Penulis
Melanjutkan pendidikan keperguruan tinggi hanya mimpi bagi orang seperti saya. Kemiskinan dan derita hidup yang mendera, telah menjadi bencana di lingkungan keluarga. Meski begitu, ternyata Allah memberikan semangat yang kuat di dalam diri saya, untuk terus menuntut ilmu, karena menuntut ilmu dalam termenologi keyakinan saya adalah wajib. Itulah sebabnya, akhirnya saya nekat pinjam uang untuk mendaftarkan diri di perguruan tinggi swasta di kabupaten Sumenep Madura. 

Sambil nyantri sekaligus ngajar ngaji di Pondok Pesantren Nurul Islam Karangcempaka Bluto, saya melakoni ritual kuliah setiap hari. Semester pertama rasa cemas yang mengganas meremas iman saya. Cemas, karena saya harus ngutang kiri-kanan untuk bayar ongkos angkot sebesar 4000 ribu rupiah pulang-pergi. Saya juga cemas tidak dapat melunasi SPP yang dibayar setiap akhir semester, tapi saya tetap percaya bahwa rasa cemas adalah adalah ketakutan yang lumrah, dan bisa terjadi pada diri siapa saja. Saya tak mau putus asa, meski hutang mulai membentuk bukit-bukit kecil.

Jarak tempuh yang cukup jauh antara Pesantren dan perguruan tinggi, membuat saya kelimpungan. Saya sempat berpikir mencari kos-kosan di sekitar kampus, tapi faktanya tidak menjanjikan lebih baik seperti di pesantren yang saya tinggali. Di pesantren saya bisa mengajar dan mendapat sedikit honor untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Selain itu, pesantren lebih steril dari hal-hal negatif yang sering kali gentayangan dan mengintai iman saya yang masih rapuh. Pilihannya, saya harus sabar dengan kondisi yang tengah saya hadapi saat itu.

Setelah enam bulan saya melalui proses kuliah yang serba mencemaskan, akhirnya saya tuntas juga menjalani ritual semester pertama, meski hutang belum terlunasi. Setiap seperempat akhir malam, saya tidak berhenti berdoa, bahkan tak jarang menguras air mata, agar Allah memberikan jalan keluar bagi penderitaan saya.

Pada semester kedua, kecemasan semakin menyiksa. Hutang semakin berlimpah, dan menurut akal sehat, saya sudah harus berhenti dari kampus, sebab sudah keterlaluan. Bahkan, jika hidup saya disita sekali pun untuk bayar hutang, maka tak akan cukup. Benar-benar mengenaskan. Pikiran saya semakin kalut. Saya harap, Anda jangan jadi orang miskin.

Sebenarnya, yang menjadi sumber masalah adalah biaya tranportasi yang jika dikalkulasi lebih besar dari biaya satu semester. Saya berusaha mencari alternatif, agar bisa menekan biaya tersebut. Maka, saya mencari pinjaman uang untuk membeli sepeda onthel, agar bisa menempuh jarak yang jauh itu. Hasilnya di luar dugaan. Saya tidak mendapatkan pinjaman uang sepeser pun, tapi ajaibnya saya tiba-tiba dibelikan sepeda oleh seseorang, setelah sebelumnya saya sempat berkabar akan keinginan saya. Sebenarnya, saya disuruh memakai sepeda motornya untuk kuliah, tapi saya menolak lantaran merasa kurang sopan memakai sepeda motor di lingkungan pesantren yang memang dilarang.

Berbekal sepeda onthel -pada semester kedua- saya dapat menekan pengeluaran yang lebih besar dari sebelumnya. Saya dapat menyimpan uang yang seharusnya digunakan untuk membayar angkot setiap kali saya kuliah.

Setiap jam satu siang, ketika terik matahari menyengat kulit, saya berangkat dengan semangat membara. Tidak banyak kesulitan ketika menempuh jarak yang jauh itu, karena jalan yang saya tempuh tidak menanjak, dan terik matahari tentu saja tidak terlalu kentara panasnya dengan kondisi perjalanan seperti itu. Tetapi ketika pulang, malah terjadi sebaliknya. Meski saya menempuh jalan pintas, tetap saja jalan yang saya tempuh menanjak. Saya harus mengeluarkan energi lebih banyak lagi untuk mengalahkan jalan itu. Saya harus berkeringat ria untuk sampai ke pondok sebelum waktu azan maghrib berkumandang.

Tahukan? saya melakukan ritual seperti itu hampir empat bulan. Dan disetiap pedalan sepeda, saya merintih kepada-Nya, agar dimudahkan jalan untuk menuntaskan cita-cita. Hati saya menangis menekuri nasib yang tidak sama dengan orang kebanyakan. Hanya saya dan Allah saja yang tahu romantisme doa yang terpanjat ketika itu. Tanpa henti, saya merayu-Nya, agar menjadikan diri saya sebagai orang yang kuat, sabar, dan istikamah dengan ketentuan-Nya.

Saya telah berdoa cukup panjang: setiap malam, setiap tarikan nafas, dan setiap putaran roda sepeda selama kurang lebih tiga bulan. Saya telah berdoa dengan mengerahkan seluruh kemulut hati. Banjir air mata dan rintihan tangis di setiap petang dan siang, telah akrab dengan penderitaan saya. Saya yakin, Allah yang Maha Halus mendengar doa saya. Maka, peristiwa selanjutnya akhirnya benar-benar terjadi.
Ketika hampir sempurna empat bulan mengayuh sepeda onthel dengan segala segala keletihannya, Allah akhirnya menganugerahi keajaiban pada diri saya. Keajaiban yang sulit dijangkau oleh akal sehat manusia. Hanya orang-orang beriman saja, yang percaya dengan kejadian yang saya alami. Maha besar Allah yang selalu merahmati hamba-hamba-Nya.

Saya akhirnya memusiumkan sepeda onthel itu, sahabat sejati yang tak terlupakan. Saya telah punya uang. Saya pasti punya uang untuk ongkos angkot, yang setiap kali akan berangkat kuliah tanpa tahu dari mana uang itu berasal, ada di saku baju saya. Uang itu ada di saku baju saya, meski sesekali saya tahu datangnya--saya terima--dari orang lain secara nyata. Pokoknya saya pasti punya ongkos. Saya tidak perlu ngutang lagi seperti pada semester pertama.

Subhanallah. Selain mendapat ongkos angkot, saya juga mendapatkan beasiswa dari kampus, namun bukan beasiswa prestasi, tapi lantaran saya masuk golongan orang-orang yang miskin, dhuafa’, orang-orang yang lemah secara ekonomi. Sekali lagi, jangan jadi orang miskin. Orang miskin itu tidak nyaman.

Doa yang saya panjatkan bersamaan dengan gerimis air mata pada setiap malam, atau pada setiap ayunan kaki ketika memutar roda-roda sepeda onthel, ternyata dikabulkan oleh Allah Yang Maha Rahman. Allah mulai menghapus kesedihan dan penderitaan, tetapi saya tetap merasa cemas lantaran takut tidak bisa menyukuri karunia itu.

Karunia-Nya terus mengalir seperti air yang tumpah dari langit. Tidak hanya beasiswa dari kampus, tapi dari pemerintah daerah juga mendapatkannya, yaitu beasiswa dari BAPPEDA sebesar dua juta. Maka segala yang bersangkut-paut dengan keuangan kampus, akhirnya terobati.

Selain itu, seorang teman memberi kesempatan kepada saya untuk jualan buku-buku seperti buku-buku kuliah, novel, dan lain sebagainya tanpa harus mengeluarkan modal sama sekali alias konsinyasi. Hingga akhirnya, saya tuntas menyelesaikan kuliah dan mendapat gelar sarjana. Gelar sarjana dari keringat perjuangan, nikmatnya luar biasa.

Keyakinan saya terhadap keampuhan doa, tentu tidak berhenti ketika saya tuntas menyelesaikan pendidikan sarjana. Keyakinan terus melekat kuat di dalam diri saya. Dan selalu hanya kepada-Nya saya mengadukan segala persoalan, dengan ikhtiar semaksimal mungkin.

Sampai saat ini, keampuhan doa yang sering saya panjatkan senantiasa menuai jawaban dari Allah SWT., terbukti ketika saya diminta mendoakan anak kecil yang tidak berhenti menangis alias sawanan, terkabul seketika. Atau ketika saya mendoakan orang yang lehernya tersangkut tulang ikan yang -katanya- sakitnya tidak terkira, langsung hilang seketika itu juga. Tidak hanya sebatas itu, saya seringkali diminta mengobati orang sakit gigi lewat saluran handphone, dan hasilnya casplang. Saya melakukannya dengan hati yang yakin, bahwa doa saya terkabulkan.

Sampai saat ini saya sering memberikan pengobatan kepada orang-orang yang menderita sakit gigi, tanpa saya pungut biaya sepeserpun, karena saya hanya ingin memberikan manfaat kepada orang lain dengan karunia Allah yang diberikan kepada saya. Pasien saya dalam pengobatan sakit gigi sudah sampai ke Jakarta, Surabaya, Banyuangi, Situbondo, Bondowoso, Jember, dan di Madura sendiri. Entah dari mana mereka tahu.Tuhan punya kuasa untuk mengabarkannya.

Perlu ditegaskan di sini, bahwa pengobatan yang saya lakukan hanyalah ikhtiar, sedangkan kesembuhan adalah hak prerogatif Allah. Saya sering memperingatkan kepada pasien saya, bahwa kesembuhan datangnya dari Allah, bukan dari saya. Saya hanya bisa mendoakan dengan setulus-tulusnya tanpa mengharap pamrih. Peringatan itu saya lakukan agar para pasien tidak terjermus kelembah kesyirikan yang mengakibatkan murkanya Allah swt.

Doa adalah senjata paling ampuh bagi seorang muslim. Keajaiban doa sudah terbukti mujarab dan terasa manfaatnya bagi orang-orang yang selalu mendekatkan diri kepada-Nya. Bahkan, sejarah telah menceritakan bahwa kemerdekaan Republik Indonesia adalah representasi dari doa orang-orang saleh, yaitu rang-orang yang selalu menebarkan kebaikan meski kemampuannya hanya bisa berdoa. Keteladan mereka yang doanya ampuh, seharusnya menjadi pelajaran berharga bagi kita agar tidak menafikan peran doa dalam hidup sehari-hari.

Saya telah membuktikan dan menjadi saksi nyata, bahwa Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan munajat para hamba-Nya. Allah tidak akan mengingkari janjinya kepada para hamba yang beriman. Dia selalu bersama kita.

Jika ingin doa kita makbul, maka sering-seringlah beristighfar kepada-Nya. Bacalah salawat buat baginda Nabi Muhammad saw., sebanyak-banyaknya. Selalu berbuat baik kepada orang lain. Bersabar dengan segala ketentuan-Nya yang menimpa diri kita, baik yang terasa nyaman maupun yang menyebalkan. Jangan sekali-kali protes jika belum diistijabah secara langsung oleh Allah. Tetaplah istiqamah dengan segala ketentuan hukumnya. Yakinlah, tak ada doa yang tidak dikabulkan.

Penutup
Terakhir, pesan buat sesama muslim yang mengandalkan keajaiban doa sebagai benteng terdepan dalam hidupnya adalah jangan sampai merasa lebih baik dan lebih diterima doanya dari orang lain. Sebab boleh jadi perasaan seperti itu merupakan awal dari bencana yang terselubung oleh perasaan kita sendiri, sehingga doa kita tidak makbul lagi. Saya sarankan demikian karena saya sudah banyak menyaksikan kenyataan pahit yang tadinya doanya makbul tiba-tiba tumpul. Na’udzubillahi mindzalik. Mari kita saling mendoakan agar kita dikarunia keselamatan oleh Allah Yang Serba Maha. 

Wallahu’alam.


Sumenep, 12 Mei 2010
0 komentar

PERMATA DI MATA ISTRIKU

Cleopatra
Keluhmu mencucurkan peluh dunia Hana! Diamlah, nikmati keheningan malam ini berdua saja. Biarkan desah malam terkalahkan oleh desah kita yang membahana ke sudut-sudut ruangan yang kita bangun dari nilai rasa. Kau tak perlu risaukan rezeki esok siang, karena akulah yang akan membalik tanah untuk menemukan permata-permata yang tidak seindah dirimu. Aku hanya akan mempersembahkan untukmu saja, tidak untuk yang lainnya.

Lihatlah permata itu yang terpancar dari kejernihan matamu yang mengkilat-kilat. Itulah permata yang sesungguhnya, permata yang bisa memancarkan cahaya tuhan yang kita rindukan bersama. Lihatlah senyummu yang selalu menggoda imanku, senyummu mencipratkan lautan cinta yang cukup luas, membuat dahaga setiap mata yang sempat menatapnya. Tapi itu hanya untukku, bukan untuk lelaki yang lainnya, bahkan tuhan pun tak berhak merampasnya dari aku.

Pejamkan matamu, permataku. Lihatlah cahayaku dalam gelap. Lupakan lapar yang merayap dalam perutmu, karena sebentar lagi aku akan mengisi perutmu dengan kisah-kisah nabi adam dan hawa. Kamu tak akan lapar lagi sebelum pagi menggantung cahayanya di daun pintu rumah kita.

Sungguh hatimu malam ini amatlah tangguh, lebih tangguh dari hari-hari sebelumnya. Kita semakin dewasa menapaki hidup yang disederhanakan oleh tuhan. Kita bisa menikmati lapar setiap malam, dan menemukan sekali makan ketika siang. Kamu tidak latah dengan keberadaan para tentangga yang payah karena mengejar dunia yang fana; kata agama. Mereka mengejar materi, sayangku…! Tapi kita mengejar immateri yang mengabadi dan menjadi energi disetiap ruas rusuk tulang kita.

Besok pagi kita akan pergi jauh, melintasi awan tanpa lapar tapi penuh dendang para pemetik dawai. Mereka akan menjemput kita dengan mengalungkan selendang berbahu sorga yang belum pernah merasuki panca indra kita. Pejamkan matamu, sayangku? Kita akan segera sampai pada terminal letih yang tertatih-tatih kita raih. Tuluskan hatimu, karena tak perlu ada gerutu di antara para hamba. Kita hanya budak-Nya, bukan budak materi yang banyak dipuja. Kata-kataku bukan mengantarmu keliang keabadian, tapi agar hati kita yang mati hidup kembali. Bukankah kita telah tersesat terlalu jauh. Sejauh langit dan bumi.

Baru kali ini tuhan mencurahkan nikmatnya kepada kita, setelah sekian hari kita bertarung memperebutkan sesuatu yang tak jelas judulnya. Padahal aku hanya memperebutkan permataku yang hilang pada dirimu. Tapi malam mini, aku benar-benar telah menemukannya, setelah sekian waktu terhijab oleh tabir kelabu yang disebarkan oleh para iblis. Kita hidup di tengah gosip dan omong-kosong dunia entertaimen.

Malam ini kita telah menemukan, siapa diri kita yang sesungguhnya. Baru kali ini aku mampu mendekatkan nafasku kenafasmu setelah sekian waktu kita menjalani hidup di atas atap yang satu, tapi tak pernah jiwa kita bersatu. Kamu adalah aku, dan jantungku kini telah saling berjawaban dengan jantungmu.
***

Itulah cerita terahirku dengan istri yang paling aku cintai sedunia. Ia telah pergi menembus singgasana tuhan. Pergi bukan untuk selamanya, tapi pergi untuk menungguku diterminal yang sudah disediakan oleh tuhan yang mengatur jalannya kematian yang membahagiakan. Banyak jalan menuju mati, dan istriku telah mampu menjalaninya dengan menghembuskan nafanya pada malam itu. Malam dimana saat kami hendak menikmati kebersamaan hati yang tertelan broken home sejak malam pertama itu.

Jalan menuju sorga, tiketnya ada padaku. Tuhan tidak mungkin mengantarnya ke sorga tanpa tiket. Karena aku tahu, tuhan paling komitmen dengan aturan dan tidak mungkin menghianatinya. Aku hanya ingin istriku menjadi bidadariku, bukan seperti yang dijanjikan tuhan. Tiket masuk ke sorga ada dalam genggamanku, dan aku pati memberikan tiket itu pada waktu yang tepat.

Hanya hati yang diliputi rasa cinta yang mampu menemukan sorganya tuhan yang tersembunyi di balik kobaran neraka yang dijaga ketat oleh para malaikat Zabaniah. Maka, cinta tuhan aku segera kutemukan. Tak hanya itu, tuhan pun besok pagi akan kutemukan. Aku sudah merindukan istriku yang mangkat lebih awal, tapi sungguh aku penasaran, seperti apa rupa tuhan yang menciptakan wajah istriku hingga elok rupawan seperti itu.

Aku sudah tak sabar, ingin segera menimang pagi di jembatan Suramadu. Jembatan yang dibangun dari keringat rakyat itu, cukup menjadikan aku terbang ke langit, sementara tubuhku kembali keasalnya; tanah. Orang-orang akan menangisi, menggigil ketakutan melihat tubuh mulusku yang perkasa dihuni belatung atau dicubiti ikan hiu yang kelaparan. Kusedekahkan daging empukku untuk umat tuhan yang ada di laut, sebagai bentuk balas budi atas keikhlasannya menyedekahkan dagingnya selama aku hidup.

Ah! Tentu saja, umat Madura akan gempar melihatku membuat sensasional sebagai penerjun profesional yang tidak hanya mampu menembus ke dalaman laut, tapi mampu menembus singgasana tuhan. Aku pun tak perlu repot-repot melayani wartawan infotaimen yang terkadang tak kenal perasaan mempublikasikan privasi orang.
Popularitas setelah kepergianku tak akan membuat telingaku tambah besar, dan hidungku tambah mancung, serta aku akan terhindar dari riya’ yang dilarang oleh tuhan. Bukankah setiap larangan tuhan adalah dosa?

Melompat dari ketinggian jembatan Suramadu tak akan membuatku mati, aku hanya ingin membebaskan rohku dari belenggu badanku yang rakus, serakah, dan terkadang sok hedonis. Setelah itu aku akan menemui tuhan. Lalu berbicara panjang lebar tentang banyak hal, serta berdiskusi bagaimana caranya tuhan merekayasa kasus Bank Century menjadi media amal jariyah bagi para politisi yang benar-benar mau mengungkapkan kebenaran. Tentu saja aku akan menanyakan, bagaimana rakyat miskin bisa mendapatkan duit sebanyak-bayaknya agar nasibnya tidak selalu melarat.

Sebentar lagi pagi sudah tiba. Adzan subuh mulai menggema di sudut-sudut kamarku. Sebelum semua kutinggalkan, aku harus menyembah tuhan dulu, memintanya berkenan menerimaku dengan cara yang konon dilarang oleh para mubalihg. Kenapa dilarang? Karena mubaligh cemburu, orang-orang segera menemui tuhannya mendahului dirinya.

Seandainya, Hana, istriku masih barada di sini, ia akan tersenyum melihatku sholat bak Kyai yang mengimami para jemaahnya. Kata istriku, aku ine bertampang seorang Kyai, cara baca Al Qur’an pun seperti imam Majid Haramain di makkah, atau minimal seperti imam Masjid Istiqlal di Jakarta. Ah! Aku bahagia dengan pujian istriku. Energiku cintaku bagai dicas dengan tegangan yang cukup tinggi. Aku segera ingin pergi meninggalkan kisah hidup yang pengap. Hidup yang penuh intrik kotor dan tak pernah ikhlas untuk berbuat. Tunggulah Istriku! Pas matahari nongol dari perut bumi aku akan segera menjemputmu di terminal. Jangan risau, aku selalu ada di sisimu.

Sehabis salam dalam shalat, aku berdo’a sejenak. Kemudian hening, menunggu petunjuk malaikat, barangkali mau berbagi informasi soal istriku di terminal sana. Setelah terasa tidak ada, aku pun setengah berlari ke Jembatan yang lagi popular di media masaa. Menaiki tangganya yang menjulang ke langit, agar aku segera sampai pada tuhan dan mengantarku menemui istri tercinta.
Di sini, di puncak yang paling tinggi, aku sudah merasakan bahu tubuhnya, dan harum rambutnya yang bahu cendana. Jauh di bawah sana, lautan terbentang luas dan riak gelombangnya melambai-lambai kepadaku. Semburat merah di ufuk timur mulai bertebaran, dan sebentar lagi matahari akan terbit dengan segala ceritanya.

“Hoi...sedang apa kau di situ?” sebuah suara memantul-mantul membentur gendang telingaku. Rupanya ada orang yang melihat tingkahku
“Hai…turun!!!”

Kubiarkan saja suara itu diterbangkan angin pagi yang dingin. Kuanggap sebagai cobaan yang mencoba menghalang-halangi kehendakku menemui istriku yang disembunyikan oleh tuhan disebuah terminal.

“Hoi!!! Cepat turun, berbahaya”
“Iya, ayo cepat turun” satu suara lagi membentur telingaku. Tapi kubiarkan lewat di telinga kananku.
“Hooooooo!!!” suara di bawah sana semakin brutal memanggilku. Sementara matahari seperti terhenti untuk terbit. Aku mulai membenci matahari, karena pas matahari terbit tuhan akan segera menjemputku. Para malaikat dan para bidadari akan mengawal menjumpai istriku.

“Hai gila…, Ayo turun” seseorang di bawah sana memanggilku, gila. Mereka tak tahu bahwa aku lebih tinggi maqomnya dari mereka. Mereka tidak merasa betapa penasarannya aku pada tuhan dan betapa rindunya aku kepada istriku. Maklum, perut mereka kekenyangan lantaran terlalu rakus dengan dunia. Mereka terus memanggilku, seperti memanggil anaknya yang hilang diculik para penyamun.

Beberapa orang memanjat tangga jembatan yang aku naiki, mereka mengejarku. Nafasnya memburu seperti seorang lelaki yang memburu istrinya pada malam pertama. Aku tenang-tenang saja sambil menunggu matahari yang tak kunjung terbit. Sambil berdiri membentangkan tangan ke samping kiri dan kanan, aku pejamkan mata menembus pekatnya mataku yang terpejam rapat.

Dua orang tiba di sampingku sambil menahan nafasnya yang tersengal-sengal. Keduanya lalu meringkus tanganku seperti meringkus tangan maling. Aku biarkan saja mereka menikmati mangsanya. Aku segera bergumam kepada mereka sebelum membawaku pergi menapaki bumi.

“Kenapa engkau rampas hakku ketika aku hendak menemui tuhan dan istriku? Engkau ingin merampas kebahagiaanku?”
“Bukan seperti ini, engkau menemui tuhan, apalagi istrimu?”
“Lihatlah istrimu di bawah sana, dia menangisi tingkahmu yang mengerikan ini!!” kata seorang lagi, sambil menunjuk ke bawah.

Aku melongok, mencari-cari istriku yang katanya ada di bawah. Aku tak melihat istriku, yang kulihat hanya sekumpulan orang yang riuh gemuruh menyambut kedatanganku. Aku segera dibopong oleh dua tubuh yang kekar itu. Tubuhku yang lemas karena puasa tujuh hari tujuh malam terasa tak berdaya untuk memberontak dengan cengkraman tangan-tangan mereka.

Matahari masih saja tertahan di perut bumi, seperti tak mau mengerti dengan keinginan muliaku.
“Berhenti, berhenti! Kalau tidak, aku akan berontak dan melompat ke bawah. Dan kalau aku mati maka kalian akan dijebloskan ke penjara” Bentakku sambil keduanya berhenti membopongku.

Dua orang yang nampak bodoh dan lebih memamerkan otot-ototnya itu nampak gusar, dan menyandarkan aku pada besi-besi tangga jembatan yang sudah terkelupas dimakan sinar matahari.
“Kau kira aku siapa?” Tanyaku dengan suara datar karena sudah stabil menahan lapar.

“Aku ini hamba tuhan yang bebas melakukan apa saja, tanpa harus merugikan orang lain, termasuk tidak merepotkan kalian. Aku bukan anak kecil yang bisa kalian bopong ke sana-kemari” Lanjutku, dengan suara sedikit meninggi.

“Tapi kenapa kau mau bunuh diri?” seorang dari mereka bertanya dengan mata melotot hendak menerkamku.
“Bukankah itu merepotkan orang banyak” Tanya lelaki yang satunya.
“Yang merasa repot kan cuma kalian, tuhan kan tak pernah repot. Aku ini ingin menemui tuhan dan istriku?” sekali lagi kutegaskan niatku
“Tuhan tengah menunggumu di sana, bukan di sini” kata seorang sambil menunjuk ke arah yang tidak jelas.
“Dan istrimu, ada di kerumunan orang-orang itu. Dia pingsan dan menangis histeris. Apa kau tidak menyusahkan, kalau seperti ini?” cecarnya dengan ungkapan yang berapi-apai.
Aku melihat ke bawah, mencari-cari wajah istriku yang mereka katakan.
“Tapi apa bisa kupegang ucapanmu?”
“Bisa” jawab keduanya
“Kalau bohong, kau akan mati” Bentakku, menakut-nakauti.

Keduanya tersenyum, kerling matanya mencurigakan, lalu kembali dengan entengnya membopong tubuhku seperti angin menghempaskan kapas. Sebelum sampai menginjak bumi, aku memintanya berhenti.

Riuh rendah suara-suara menyambutku bagai menyambut seorang selebritis. Ada yang bersorak, ada yang menangis, ada pula yang pesimis sambil menampilkan senyum sinis. Aku enggan menginjakkan kaki ke bumi. Dua pengawal yang membopongku tiba-tiba tunduk dan patuh. Keduanya meletakkan aku bagai meletakkan bayi mungilnya diranjang istirah yang nyaman.
“Mana istriku?” tanyaku sambil melemparkan pandanganku keseluruh penjuru angin.”
“Turunlah dulu, kau akan melihatnya”

Aku kembali dibopong menginjak tanah. Dikerubuti orang, hanya sekedar melihatku atau mengabadikan aku di hanphonenya yang antik. Mataku mencari seraut wajah istriku yang pernah kurayu pada malam itu.

“Aku di sini, aku di sini Nun” Suara perempuan memanggilku. Tapi suaranya, asing.
Aku menoleh, pengawalnya juga melongok ke sela-sela kerumunan orang yang memanjang. Mataku terdampar di antara mobil dan bermacam-macam kendaraan. Seorang perempuan merusaha menembus lapisan orang yang berkerumun.

“Mas Nun…aku di sini!”
“Kau…”Suaraku tergagap, energi yang tersisa disekujur jiwaku seperti meledak dan menyekat kata-kataku.
“Kau…”Kembali suaraku tersendat seperti ditelan ribuan virus.
“Kau Istriku…?” Suaraku berusaha menggelepar
“Ya…aku Hana Mas?”

Tubuhku lalu melayang, terbang menembus awan, melintasi matahari, planit, dan jutaan satelit buatan manusia. Hana memeluk tubuhku yang lunglai. Aku sudah menemukan istriku diterminal jembatan itu. Maka seperti janjiku, setelah itu aku menemui tuhanku. Agar rasa rinduku yang penasaran segera terobati.

“Tunggulah aku kembali” kataku lantang.

Dua pengawal yang bengung seperti tuli. Orang-orang yang mengerumuni tubuhku telinganya seperti diserang ribuan tawon hingga tidak mendengarku.
“Mereka telah menjadi tuli”

Hanya Hana, istriku yang akan mendengarku, bila kutatap matanya yang menyembunyikan permata. Permata di mata itu adalah kehidupanku. Kalau Hana tetap membuka matanya, maka dia akan mampu melihatku di mana-mana. Hana adalah kehidupanku, permata yang tak akan pernah lusuh oleh waktu dan buku-buku yang tidak laku.

Ada permata di mata istriku, bukan di mata istri para tetanggaku. Tentu saja, aku akan segera menembus waktu dengan dengus nafas seperti pada malam-malam itu. Aku pun tak tahu kenapa istriku kembali, padahal pada hari itu dengan kepalaku sendiri, aku melihat orang-orang menguburnya dan memberikan nisan di tanah yang basah. Permata itulah yang mungkin mengakibatkan ia bangkit kembali dari cerita masa lalunya.

Hana!Aku akan segera kembali.


Sumenep, 2010
0 komentar

KEBANGKITKAN PERADABAN MADURA

(Tanggapan Terhadap Tulisan Moh. Suhaidi RB)

Tabloid Info dalam kolom Agama dan Budaya edisi II, 8 – 15 September 2006, memuat tulisan saudara Mohammad Suhaidi RB yang ‘menggugat’ nilai-nilai relegius orang Madura yang mulai tergerus oleh berbagai tete’ bengi’ yang memunculkan kesumpekan sosial dan kepenatan relegius. Saudara Mohammad Suhaidi, menyuguhkan satu contoh kasus tentang tradisi ngampar teker sambil menikmati sinar rembulan yang terasa sejuk di dalam angan, dan budaya Adhunggeng (berdongeng) yang telah dirasa hilang dari masa silamnya (sebagai masyarakat Madura) yang ‘malang’. Pesimistis Itu seolah menjustifikasi masyarakat Madura sebagai masyarakat yang tanpa sadar telah “melacurkan” budayanya sendiri.

Ekspresi yang ditampilkan oleh mantan ketua LPM STIKA itu tentu bukan sebuah kekecewaan kolektif yang dirasakan oleh masyarakat Madura secara umum. Ekspresi tersebut tidak lebih bersifat individual sebagai akibat dari keterpasungan jiwanya, karena semangat relegiusitas kemaduraannya yang behavioristik sejak kecil, tiba-tiba tergerus, ditelan arus euforia globalisasi. 

Ekspresi penulis “Madura Relegius yang Tergerus” itu bisa sedikit dimaklumi, tetapi tidak seluruhnya harus “diampuni”, karena tradisi Madura yang multitafsir itu tidak cukup dipahami dari sudut pandang saja.

Tradisi, budaya, peradaban, dan apapun namanya pasti mengalami pergeseran nilai. Akan tetapi pergeseran tersebut bukan berarti sebuah kegagalan dalam melestarikan tradisi lokal. Tradisi perlu dilestarikan, dalam artian memodifikasi tradisi atau budaya lokal menjadi seirama dengan perkembangan budaya global yang memaksa kita untuk ikut serta bermain di dalamnya. Fenomina seperti itu akan menjadi momentum kebangkitan peradaban Madura. Dan tradisi Madura, termasuk relegiusitasnya tidak akan pernah tergerus.

Tradisi yang diciptakan oleh nenek moyang kita, seperti tradisi ngampar teker dan Adhunggeng, tidak harus selamanya dipertahankan, karena peradaban yang mereka ciptakan bukanlah kebenaran muthlak. Kalau ada tradisi baru yang lebih elegan, kenapa kita mesti harus cemburu untuk sekedar mengakuinya? (maaf, untuk tidak mengatakan bahwa saudara Suhaidi ketakutan mengakui peradaban baru yang lebih seru).

Filtering terhadap berbagai budaya asing yang masuk ke wilayah Madura, tentu telah dilakukan oleh masyarakat Madura, baik secara individu, organisasi kemasyarakatan, dan lembaga keagamaan, seperti pondok pesantren yang banyak bertebaran di bumi Madura yang konon diwacanakan sebagai serambi Madinah.

Masyarakat Madura tidak bisa menghindar dari gempuran budaya luar yang terus meruang dalam kehidupannya. Karena budaya adalah makhluk halus yang lebih samar dibanding dengan jin dan malaikat. Kita tidak bisa serta merta ‘membunuh’ budaya masyarakat lain tanpa secara jantan kita mengakui keunggulan budaya orang lain itu. Inilah perlunya kita memetakan persoalan ragam budaya dari beberapa sudut pandang, sehingga tidak menimbulkan chaos dan kekecewaan.

Westernisasi budaya yang terus membahana kesetiap sudut ruang kehidupan kita perlu ditanggapi dan disikapi dengan tenang, tentunya dengan logika yang lebih santun. Dalam hal ini masyarakat Madura tidak hanya dituntut untuk memiliki filter yang tangguh, akan tetapi lebih dari itu, masyarakat diharapkan mampu mendesain budaya luar sesuai dengan kearifan lokal (local Wisdom), seperti yang pernah dilakukan oleh para penyebar agama yang sukses menjadikan Indonesia menjadi muslim mayoritas di dunia.

Dengan demikian apa yang dikhawatirkan oleh segelintir orang, tidak akan pernah terjadi, dan hanya menjadi mimpi. Budaya Madura akan tetap hidup dan menjadi ciri khas yang tidak pernah tergerus. Dengan catatan, semua elemen masyarakat mampu menjadi desainer budaya yang mumpuni, meski akhirnya budaya asli Madura tidak lagi oresinil. Oresinilatas budaya, jelas tidak bisa dipertahankan secara totalitas, sebab kehidupan dunia yang terus meragkak ini akan terus berurai, menguap, mencair, mencari bentuk baru yang lebih baik bagi kehidupan penghuni planet bumi ini.

Perkembangan teknologi yang banyak memberikan nilai-nilai positif bagi kehidupan masyarakat telah dianggap bumerang yang harus diperangi kehadirannya. Padahal sisi negatif kehadiran teknologi seperti televesi, hanya bagian terkecil sebagai akibat dari perkembangan teknologi itu sendiri. Maka, kalau masyarakat menganggap televesi adalah Dajjal, seperti yang dikatakan Suhaidi, itu hanyalah pernyataan bombastis dari orang-orang yang terkalahkan. Terkalahkan budayanya, terkalahkan tradisinya, atau terkalahkan peradabannya. Dengan kata lain pernyataan seperti itu adalah ungkapan subyektifitas ketika budaya Madura tidak lagi mampu mewarnai budaya ‘ingusan’ yang lebih sitematis.

Nah, disinilah barangkali kita perlu intropeksi diri, mengapa tradisi lokal yang diyakini sebagai kearifan (wisdom) tiba-tiba menggelepar, sekarat, mau mati, dan mau meninggalkan pemiliknya. Untuk menjawab semua persoalan itu, barangkali kita (masyarakat Madura) perlu berkontemplasi, dan memiliki kegelisahan berpikir yang cukup arif untuk menyikapi pergeseran tradisi Madura yang dianggap mulai tergerus.

Nenek moyang kita, yang kita kagumi telah sukses menciptakan beranika ragam budaya untuk anak cucunya. Tetapi perlu diingat, bahwa proses penciptaan budaya itu tidak di dasari oleh sistematika berpikir yang utuh, yang bersifat jangka panjang. Karena ketika itu nenek moyang kita tidak memiliki sistematika berpikir yang sistemik, pola pikirnya sangat sederhana, sehingga wajar apabila budaya yang diciptakannya dikemudian hari (baca: sekarang) menjadi ‘remuk’ diterpa badai budaya yang lebih dahsyat.

Sebagai generasi penerus yang terlanjur mencintai budaya lokal, tentu kita tidak mau disebut sebagai generasi pengekor yang hanya manut dan patuh pada budaya atau peradaban yang diciptakan para pendahulu kita. Kita perlu sesegera mungkin bangkit dari tidur panjang untuk menciptakan budaya baru atau setidaknya kita mampu membuat benteng budaya yang tidak mudah dijebol oleh budaya ‘kanibalis’ yang terlanjur kita taati. Itupun kalau tardisi Madura benar-benar terbukti tergerus.

Sepertinya, penciptaan budaya baru oleh generasi baru yang dihasilkan dari proses kontemplasi, dan dari kegelisahan berpikir dengan melibatkan agama sebagai sebuah indoktrinasi kesadaran, menjadi sebuah keharusan sehingga anak-anak kita tidak lagi tersihir oleh televisi, dajjal kelas teri yang paradoks dengan tradisi Madura. Dan akhirnya televisi akan menjadi media pembelajaran yang efektif dan lebih bijak.

Mampukah kita meciptakan atau membangkitkan budaya Madura yang lebih me-Madura, tanpa menafikan budaya luar yang hanya sekedar berkunjung ke wilayah kekuasaan kita? Selamat menciptakan tradisi baru, sehingga menjadi budaya dan peradaban dambaan bersama. Amin.Wallahu ‘alam.[]
0 komentar
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Kabar Nun - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger