"Surga tempatnya orang-orang berprestasi"(KH. Ilyasi Siraj, M.Ag.)




PERMATA DI MATA ISTRIKU

Cleopatra
Keluhmu mencucurkan peluh dunia Hana! Diamlah, nikmati keheningan malam ini berdua saja. Biarkan desah malam terkalahkan oleh desah kita yang membahana ke sudut-sudut ruangan yang kita bangun dari nilai rasa. Kau tak perlu risaukan rezeki esok siang, karena akulah yang akan membalik tanah untuk menemukan permata-permata yang tidak seindah dirimu. Aku hanya akan mempersembahkan untukmu saja, tidak untuk yang lainnya.

Lihatlah permata itu yang terpancar dari kejernihan matamu yang mengkilat-kilat. Itulah permata yang sesungguhnya, permata yang bisa memancarkan cahaya tuhan yang kita rindukan bersama. Lihatlah senyummu yang selalu menggoda imanku, senyummu mencipratkan lautan cinta yang cukup luas, membuat dahaga setiap mata yang sempat menatapnya. Tapi itu hanya untukku, bukan untuk lelaki yang lainnya, bahkan tuhan pun tak berhak merampasnya dari aku.

Pejamkan matamu, permataku. Lihatlah cahayaku dalam gelap. Lupakan lapar yang merayap dalam perutmu, karena sebentar lagi aku akan mengisi perutmu dengan kisah-kisah nabi adam dan hawa. Kamu tak akan lapar lagi sebelum pagi menggantung cahayanya di daun pintu rumah kita.

Sungguh hatimu malam ini amatlah tangguh, lebih tangguh dari hari-hari sebelumnya. Kita semakin dewasa menapaki hidup yang disederhanakan oleh tuhan. Kita bisa menikmati lapar setiap malam, dan menemukan sekali makan ketika siang. Kamu tidak latah dengan keberadaan para tentangga yang payah karena mengejar dunia yang fana; kata agama. Mereka mengejar materi, sayangku…! Tapi kita mengejar immateri yang mengabadi dan menjadi energi disetiap ruas rusuk tulang kita.

Besok pagi kita akan pergi jauh, melintasi awan tanpa lapar tapi penuh dendang para pemetik dawai. Mereka akan menjemput kita dengan mengalungkan selendang berbahu sorga yang belum pernah merasuki panca indra kita. Pejamkan matamu, sayangku? Kita akan segera sampai pada terminal letih yang tertatih-tatih kita raih. Tuluskan hatimu, karena tak perlu ada gerutu di antara para hamba. Kita hanya budak-Nya, bukan budak materi yang banyak dipuja. Kata-kataku bukan mengantarmu keliang keabadian, tapi agar hati kita yang mati hidup kembali. Bukankah kita telah tersesat terlalu jauh. Sejauh langit dan bumi.

Baru kali ini tuhan mencurahkan nikmatnya kepada kita, setelah sekian hari kita bertarung memperebutkan sesuatu yang tak jelas judulnya. Padahal aku hanya memperebutkan permataku yang hilang pada dirimu. Tapi malam mini, aku benar-benar telah menemukannya, setelah sekian waktu terhijab oleh tabir kelabu yang disebarkan oleh para iblis. Kita hidup di tengah gosip dan omong-kosong dunia entertaimen.

Malam ini kita telah menemukan, siapa diri kita yang sesungguhnya. Baru kali ini aku mampu mendekatkan nafasku kenafasmu setelah sekian waktu kita menjalani hidup di atas atap yang satu, tapi tak pernah jiwa kita bersatu. Kamu adalah aku, dan jantungku kini telah saling berjawaban dengan jantungmu.
***

Itulah cerita terahirku dengan istri yang paling aku cintai sedunia. Ia telah pergi menembus singgasana tuhan. Pergi bukan untuk selamanya, tapi pergi untuk menungguku diterminal yang sudah disediakan oleh tuhan yang mengatur jalannya kematian yang membahagiakan. Banyak jalan menuju mati, dan istriku telah mampu menjalaninya dengan menghembuskan nafanya pada malam itu. Malam dimana saat kami hendak menikmati kebersamaan hati yang tertelan broken home sejak malam pertama itu.

Jalan menuju sorga, tiketnya ada padaku. Tuhan tidak mungkin mengantarnya ke sorga tanpa tiket. Karena aku tahu, tuhan paling komitmen dengan aturan dan tidak mungkin menghianatinya. Aku hanya ingin istriku menjadi bidadariku, bukan seperti yang dijanjikan tuhan. Tiket masuk ke sorga ada dalam genggamanku, dan aku pati memberikan tiket itu pada waktu yang tepat.

Hanya hati yang diliputi rasa cinta yang mampu menemukan sorganya tuhan yang tersembunyi di balik kobaran neraka yang dijaga ketat oleh para malaikat Zabaniah. Maka, cinta tuhan aku segera kutemukan. Tak hanya itu, tuhan pun besok pagi akan kutemukan. Aku sudah merindukan istriku yang mangkat lebih awal, tapi sungguh aku penasaran, seperti apa rupa tuhan yang menciptakan wajah istriku hingga elok rupawan seperti itu.

Aku sudah tak sabar, ingin segera menimang pagi di jembatan Suramadu. Jembatan yang dibangun dari keringat rakyat itu, cukup menjadikan aku terbang ke langit, sementara tubuhku kembali keasalnya; tanah. Orang-orang akan menangisi, menggigil ketakutan melihat tubuh mulusku yang perkasa dihuni belatung atau dicubiti ikan hiu yang kelaparan. Kusedekahkan daging empukku untuk umat tuhan yang ada di laut, sebagai bentuk balas budi atas keikhlasannya menyedekahkan dagingnya selama aku hidup.

Ah! Tentu saja, umat Madura akan gempar melihatku membuat sensasional sebagai penerjun profesional yang tidak hanya mampu menembus ke dalaman laut, tapi mampu menembus singgasana tuhan. Aku pun tak perlu repot-repot melayani wartawan infotaimen yang terkadang tak kenal perasaan mempublikasikan privasi orang.
Popularitas setelah kepergianku tak akan membuat telingaku tambah besar, dan hidungku tambah mancung, serta aku akan terhindar dari riya’ yang dilarang oleh tuhan. Bukankah setiap larangan tuhan adalah dosa?

Melompat dari ketinggian jembatan Suramadu tak akan membuatku mati, aku hanya ingin membebaskan rohku dari belenggu badanku yang rakus, serakah, dan terkadang sok hedonis. Setelah itu aku akan menemui tuhan. Lalu berbicara panjang lebar tentang banyak hal, serta berdiskusi bagaimana caranya tuhan merekayasa kasus Bank Century menjadi media amal jariyah bagi para politisi yang benar-benar mau mengungkapkan kebenaran. Tentu saja aku akan menanyakan, bagaimana rakyat miskin bisa mendapatkan duit sebanyak-bayaknya agar nasibnya tidak selalu melarat.

Sebentar lagi pagi sudah tiba. Adzan subuh mulai menggema di sudut-sudut kamarku. Sebelum semua kutinggalkan, aku harus menyembah tuhan dulu, memintanya berkenan menerimaku dengan cara yang konon dilarang oleh para mubalihg. Kenapa dilarang? Karena mubaligh cemburu, orang-orang segera menemui tuhannya mendahului dirinya.

Seandainya, Hana, istriku masih barada di sini, ia akan tersenyum melihatku sholat bak Kyai yang mengimami para jemaahnya. Kata istriku, aku ine bertampang seorang Kyai, cara baca Al Qur’an pun seperti imam Majid Haramain di makkah, atau minimal seperti imam Masjid Istiqlal di Jakarta. Ah! Aku bahagia dengan pujian istriku. Energiku cintaku bagai dicas dengan tegangan yang cukup tinggi. Aku segera ingin pergi meninggalkan kisah hidup yang pengap. Hidup yang penuh intrik kotor dan tak pernah ikhlas untuk berbuat. Tunggulah Istriku! Pas matahari nongol dari perut bumi aku akan segera menjemputmu di terminal. Jangan risau, aku selalu ada di sisimu.

Sehabis salam dalam shalat, aku berdo’a sejenak. Kemudian hening, menunggu petunjuk malaikat, barangkali mau berbagi informasi soal istriku di terminal sana. Setelah terasa tidak ada, aku pun setengah berlari ke Jembatan yang lagi popular di media masaa. Menaiki tangganya yang menjulang ke langit, agar aku segera sampai pada tuhan dan mengantarku menemui istri tercinta.
Di sini, di puncak yang paling tinggi, aku sudah merasakan bahu tubuhnya, dan harum rambutnya yang bahu cendana. Jauh di bawah sana, lautan terbentang luas dan riak gelombangnya melambai-lambai kepadaku. Semburat merah di ufuk timur mulai bertebaran, dan sebentar lagi matahari akan terbit dengan segala ceritanya.

“Hoi...sedang apa kau di situ?” sebuah suara memantul-mantul membentur gendang telingaku. Rupanya ada orang yang melihat tingkahku
“Hai…turun!!!”

Kubiarkan saja suara itu diterbangkan angin pagi yang dingin. Kuanggap sebagai cobaan yang mencoba menghalang-halangi kehendakku menemui istriku yang disembunyikan oleh tuhan disebuah terminal.

“Hoi!!! Cepat turun, berbahaya”
“Iya, ayo cepat turun” satu suara lagi membentur telingaku. Tapi kubiarkan lewat di telinga kananku.
“Hooooooo!!!” suara di bawah sana semakin brutal memanggilku. Sementara matahari seperti terhenti untuk terbit. Aku mulai membenci matahari, karena pas matahari terbit tuhan akan segera menjemputku. Para malaikat dan para bidadari akan mengawal menjumpai istriku.

“Hai gila…, Ayo turun” seseorang di bawah sana memanggilku, gila. Mereka tak tahu bahwa aku lebih tinggi maqomnya dari mereka. Mereka tidak merasa betapa penasarannya aku pada tuhan dan betapa rindunya aku kepada istriku. Maklum, perut mereka kekenyangan lantaran terlalu rakus dengan dunia. Mereka terus memanggilku, seperti memanggil anaknya yang hilang diculik para penyamun.

Beberapa orang memanjat tangga jembatan yang aku naiki, mereka mengejarku. Nafasnya memburu seperti seorang lelaki yang memburu istrinya pada malam pertama. Aku tenang-tenang saja sambil menunggu matahari yang tak kunjung terbit. Sambil berdiri membentangkan tangan ke samping kiri dan kanan, aku pejamkan mata menembus pekatnya mataku yang terpejam rapat.

Dua orang tiba di sampingku sambil menahan nafasnya yang tersengal-sengal. Keduanya lalu meringkus tanganku seperti meringkus tangan maling. Aku biarkan saja mereka menikmati mangsanya. Aku segera bergumam kepada mereka sebelum membawaku pergi menapaki bumi.

“Kenapa engkau rampas hakku ketika aku hendak menemui tuhan dan istriku? Engkau ingin merampas kebahagiaanku?”
“Bukan seperti ini, engkau menemui tuhan, apalagi istrimu?”
“Lihatlah istrimu di bawah sana, dia menangisi tingkahmu yang mengerikan ini!!” kata seorang lagi, sambil menunjuk ke bawah.

Aku melongok, mencari-cari istriku yang katanya ada di bawah. Aku tak melihat istriku, yang kulihat hanya sekumpulan orang yang riuh gemuruh menyambut kedatanganku. Aku segera dibopong oleh dua tubuh yang kekar itu. Tubuhku yang lemas karena puasa tujuh hari tujuh malam terasa tak berdaya untuk memberontak dengan cengkraman tangan-tangan mereka.

Matahari masih saja tertahan di perut bumi, seperti tak mau mengerti dengan keinginan muliaku.
“Berhenti, berhenti! Kalau tidak, aku akan berontak dan melompat ke bawah. Dan kalau aku mati maka kalian akan dijebloskan ke penjara” Bentakku sambil keduanya berhenti membopongku.

Dua orang yang nampak bodoh dan lebih memamerkan otot-ototnya itu nampak gusar, dan menyandarkan aku pada besi-besi tangga jembatan yang sudah terkelupas dimakan sinar matahari.
“Kau kira aku siapa?” Tanyaku dengan suara datar karena sudah stabil menahan lapar.

“Aku ini hamba tuhan yang bebas melakukan apa saja, tanpa harus merugikan orang lain, termasuk tidak merepotkan kalian. Aku bukan anak kecil yang bisa kalian bopong ke sana-kemari” Lanjutku, dengan suara sedikit meninggi.

“Tapi kenapa kau mau bunuh diri?” seorang dari mereka bertanya dengan mata melotot hendak menerkamku.
“Bukankah itu merepotkan orang banyak” Tanya lelaki yang satunya.
“Yang merasa repot kan cuma kalian, tuhan kan tak pernah repot. Aku ini ingin menemui tuhan dan istriku?” sekali lagi kutegaskan niatku
“Tuhan tengah menunggumu di sana, bukan di sini” kata seorang sambil menunjuk ke arah yang tidak jelas.
“Dan istrimu, ada di kerumunan orang-orang itu. Dia pingsan dan menangis histeris. Apa kau tidak menyusahkan, kalau seperti ini?” cecarnya dengan ungkapan yang berapi-apai.
Aku melihat ke bawah, mencari-cari wajah istriku yang mereka katakan.
“Tapi apa bisa kupegang ucapanmu?”
“Bisa” jawab keduanya
“Kalau bohong, kau akan mati” Bentakku, menakut-nakauti.

Keduanya tersenyum, kerling matanya mencurigakan, lalu kembali dengan entengnya membopong tubuhku seperti angin menghempaskan kapas. Sebelum sampai menginjak bumi, aku memintanya berhenti.

Riuh rendah suara-suara menyambutku bagai menyambut seorang selebritis. Ada yang bersorak, ada yang menangis, ada pula yang pesimis sambil menampilkan senyum sinis. Aku enggan menginjakkan kaki ke bumi. Dua pengawal yang membopongku tiba-tiba tunduk dan patuh. Keduanya meletakkan aku bagai meletakkan bayi mungilnya diranjang istirah yang nyaman.
“Mana istriku?” tanyaku sambil melemparkan pandanganku keseluruh penjuru angin.”
“Turunlah dulu, kau akan melihatnya”

Aku kembali dibopong menginjak tanah. Dikerubuti orang, hanya sekedar melihatku atau mengabadikan aku di hanphonenya yang antik. Mataku mencari seraut wajah istriku yang pernah kurayu pada malam itu.

“Aku di sini, aku di sini Nun” Suara perempuan memanggilku. Tapi suaranya, asing.
Aku menoleh, pengawalnya juga melongok ke sela-sela kerumunan orang yang memanjang. Mataku terdampar di antara mobil dan bermacam-macam kendaraan. Seorang perempuan merusaha menembus lapisan orang yang berkerumun.

“Mas Nun…aku di sini!”
“Kau…”Suaraku tergagap, energi yang tersisa disekujur jiwaku seperti meledak dan menyekat kata-kataku.
“Kau…”Kembali suaraku tersendat seperti ditelan ribuan virus.
“Kau Istriku…?” Suaraku berusaha menggelepar
“Ya…aku Hana Mas?”

Tubuhku lalu melayang, terbang menembus awan, melintasi matahari, planit, dan jutaan satelit buatan manusia. Hana memeluk tubuhku yang lunglai. Aku sudah menemukan istriku diterminal jembatan itu. Maka seperti janjiku, setelah itu aku menemui tuhanku. Agar rasa rinduku yang penasaran segera terobati.

“Tunggulah aku kembali” kataku lantang.

Dua pengawal yang bengung seperti tuli. Orang-orang yang mengerumuni tubuhku telinganya seperti diserang ribuan tawon hingga tidak mendengarku.
“Mereka telah menjadi tuli”

Hanya Hana, istriku yang akan mendengarku, bila kutatap matanya yang menyembunyikan permata. Permata di mata itu adalah kehidupanku. Kalau Hana tetap membuka matanya, maka dia akan mampu melihatku di mana-mana. Hana adalah kehidupanku, permata yang tak akan pernah lusuh oleh waktu dan buku-buku yang tidak laku.

Ada permata di mata istriku, bukan di mata istri para tetanggaku. Tentu saja, aku akan segera menembus waktu dengan dengus nafas seperti pada malam-malam itu. Aku pun tak tahu kenapa istriku kembali, padahal pada hari itu dengan kepalaku sendiri, aku melihat orang-orang menguburnya dan memberikan nisan di tanah yang basah. Permata itulah yang mungkin mengakibatkan ia bangkit kembali dari cerita masa lalunya.

Hana!Aku akan segera kembali.


Sumenep, 2010
Share this article :
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Kabar Nun - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger