"Surga tempatnya orang-orang berprestasi"(KH. Ilyasi Siraj, M.Ag.)




KEBANGKITKAN PERADABAN MADURA

(Tanggapan Terhadap Tulisan Moh. Suhaidi RB)

Tabloid Info dalam kolom Agama dan Budaya edisi II, 8 – 15 September 2006, memuat tulisan saudara Mohammad Suhaidi RB yang ‘menggugat’ nilai-nilai relegius orang Madura yang mulai tergerus oleh berbagai tete’ bengi’ yang memunculkan kesumpekan sosial dan kepenatan relegius. Saudara Mohammad Suhaidi, menyuguhkan satu contoh kasus tentang tradisi ngampar teker sambil menikmati sinar rembulan yang terasa sejuk di dalam angan, dan budaya Adhunggeng (berdongeng) yang telah dirasa hilang dari masa silamnya (sebagai masyarakat Madura) yang ‘malang’. Pesimistis Itu seolah menjustifikasi masyarakat Madura sebagai masyarakat yang tanpa sadar telah “melacurkan” budayanya sendiri.

Ekspresi yang ditampilkan oleh mantan ketua LPM STIKA itu tentu bukan sebuah kekecewaan kolektif yang dirasakan oleh masyarakat Madura secara umum. Ekspresi tersebut tidak lebih bersifat individual sebagai akibat dari keterpasungan jiwanya, karena semangat relegiusitas kemaduraannya yang behavioristik sejak kecil, tiba-tiba tergerus, ditelan arus euforia globalisasi. 

Ekspresi penulis “Madura Relegius yang Tergerus” itu bisa sedikit dimaklumi, tetapi tidak seluruhnya harus “diampuni”, karena tradisi Madura yang multitafsir itu tidak cukup dipahami dari sudut pandang saja.

Tradisi, budaya, peradaban, dan apapun namanya pasti mengalami pergeseran nilai. Akan tetapi pergeseran tersebut bukan berarti sebuah kegagalan dalam melestarikan tradisi lokal. Tradisi perlu dilestarikan, dalam artian memodifikasi tradisi atau budaya lokal menjadi seirama dengan perkembangan budaya global yang memaksa kita untuk ikut serta bermain di dalamnya. Fenomina seperti itu akan menjadi momentum kebangkitan peradaban Madura. Dan tradisi Madura, termasuk relegiusitasnya tidak akan pernah tergerus.

Tradisi yang diciptakan oleh nenek moyang kita, seperti tradisi ngampar teker dan Adhunggeng, tidak harus selamanya dipertahankan, karena peradaban yang mereka ciptakan bukanlah kebenaran muthlak. Kalau ada tradisi baru yang lebih elegan, kenapa kita mesti harus cemburu untuk sekedar mengakuinya? (maaf, untuk tidak mengatakan bahwa saudara Suhaidi ketakutan mengakui peradaban baru yang lebih seru).

Filtering terhadap berbagai budaya asing yang masuk ke wilayah Madura, tentu telah dilakukan oleh masyarakat Madura, baik secara individu, organisasi kemasyarakatan, dan lembaga keagamaan, seperti pondok pesantren yang banyak bertebaran di bumi Madura yang konon diwacanakan sebagai serambi Madinah.

Masyarakat Madura tidak bisa menghindar dari gempuran budaya luar yang terus meruang dalam kehidupannya. Karena budaya adalah makhluk halus yang lebih samar dibanding dengan jin dan malaikat. Kita tidak bisa serta merta ‘membunuh’ budaya masyarakat lain tanpa secara jantan kita mengakui keunggulan budaya orang lain itu. Inilah perlunya kita memetakan persoalan ragam budaya dari beberapa sudut pandang, sehingga tidak menimbulkan chaos dan kekecewaan.

Westernisasi budaya yang terus membahana kesetiap sudut ruang kehidupan kita perlu ditanggapi dan disikapi dengan tenang, tentunya dengan logika yang lebih santun. Dalam hal ini masyarakat Madura tidak hanya dituntut untuk memiliki filter yang tangguh, akan tetapi lebih dari itu, masyarakat diharapkan mampu mendesain budaya luar sesuai dengan kearifan lokal (local Wisdom), seperti yang pernah dilakukan oleh para penyebar agama yang sukses menjadikan Indonesia menjadi muslim mayoritas di dunia.

Dengan demikian apa yang dikhawatirkan oleh segelintir orang, tidak akan pernah terjadi, dan hanya menjadi mimpi. Budaya Madura akan tetap hidup dan menjadi ciri khas yang tidak pernah tergerus. Dengan catatan, semua elemen masyarakat mampu menjadi desainer budaya yang mumpuni, meski akhirnya budaya asli Madura tidak lagi oresinil. Oresinilatas budaya, jelas tidak bisa dipertahankan secara totalitas, sebab kehidupan dunia yang terus meragkak ini akan terus berurai, menguap, mencair, mencari bentuk baru yang lebih baik bagi kehidupan penghuni planet bumi ini.

Perkembangan teknologi yang banyak memberikan nilai-nilai positif bagi kehidupan masyarakat telah dianggap bumerang yang harus diperangi kehadirannya. Padahal sisi negatif kehadiran teknologi seperti televesi, hanya bagian terkecil sebagai akibat dari perkembangan teknologi itu sendiri. Maka, kalau masyarakat menganggap televesi adalah Dajjal, seperti yang dikatakan Suhaidi, itu hanyalah pernyataan bombastis dari orang-orang yang terkalahkan. Terkalahkan budayanya, terkalahkan tradisinya, atau terkalahkan peradabannya. Dengan kata lain pernyataan seperti itu adalah ungkapan subyektifitas ketika budaya Madura tidak lagi mampu mewarnai budaya ‘ingusan’ yang lebih sitematis.

Nah, disinilah barangkali kita perlu intropeksi diri, mengapa tradisi lokal yang diyakini sebagai kearifan (wisdom) tiba-tiba menggelepar, sekarat, mau mati, dan mau meninggalkan pemiliknya. Untuk menjawab semua persoalan itu, barangkali kita (masyarakat Madura) perlu berkontemplasi, dan memiliki kegelisahan berpikir yang cukup arif untuk menyikapi pergeseran tradisi Madura yang dianggap mulai tergerus.

Nenek moyang kita, yang kita kagumi telah sukses menciptakan beranika ragam budaya untuk anak cucunya. Tetapi perlu diingat, bahwa proses penciptaan budaya itu tidak di dasari oleh sistematika berpikir yang utuh, yang bersifat jangka panjang. Karena ketika itu nenek moyang kita tidak memiliki sistematika berpikir yang sistemik, pola pikirnya sangat sederhana, sehingga wajar apabila budaya yang diciptakannya dikemudian hari (baca: sekarang) menjadi ‘remuk’ diterpa badai budaya yang lebih dahsyat.

Sebagai generasi penerus yang terlanjur mencintai budaya lokal, tentu kita tidak mau disebut sebagai generasi pengekor yang hanya manut dan patuh pada budaya atau peradaban yang diciptakan para pendahulu kita. Kita perlu sesegera mungkin bangkit dari tidur panjang untuk menciptakan budaya baru atau setidaknya kita mampu membuat benteng budaya yang tidak mudah dijebol oleh budaya ‘kanibalis’ yang terlanjur kita taati. Itupun kalau tardisi Madura benar-benar terbukti tergerus.

Sepertinya, penciptaan budaya baru oleh generasi baru yang dihasilkan dari proses kontemplasi, dan dari kegelisahan berpikir dengan melibatkan agama sebagai sebuah indoktrinasi kesadaran, menjadi sebuah keharusan sehingga anak-anak kita tidak lagi tersihir oleh televisi, dajjal kelas teri yang paradoks dengan tradisi Madura. Dan akhirnya televisi akan menjadi media pembelajaran yang efektif dan lebih bijak.

Mampukah kita meciptakan atau membangkitkan budaya Madura yang lebih me-Madura, tanpa menafikan budaya luar yang hanya sekedar berkunjung ke wilayah kekuasaan kita? Selamat menciptakan tradisi baru, sehingga menjadi budaya dan peradaban dambaan bersama. Amin.Wallahu ‘alam.[]
Share this article :
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Kabar Nun - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger