"Surga tempatnya orang-orang berprestasi"(KH. Ilyasi Siraj, M.Ag.)




KEAJAIBAN DOA

Introduksi
Banyak sekali dalil yang justifikasi bahwa doa seorang muslim (bahkan orang kafir) diterima oleh Allah swt. Dalil-dalil dari al-Quran antara lain firman Allah swt, sebagai berikut:
“Dan Tuhanmu berfirman: Berdoalah kamu kepada-Ku, niscaya Aku perkenankan permintaanmu.” (Al Mu’min:60)

“Berdoalah kamu kepada Tuhanmu dengan merendah diri dan suara lembut. Sesungguhnya Allah tidak suka terhadap orang-orang yang melampaui batas.” (Al ‘Araf: 55).

“Dan jika ditanya kepadamu oleh hamba-hamba-Ku tentang diri-Ku, maka bahwasanya aku itu dekat. Aku menerima permohonan orang yang berdoa (memohon) apabila mohon sungguh-sungguh. Maka hendaklah mereka memperkenankan seruan-Ku , dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, mudah-mudahan mereka mendapat petunjuk.” (Al-Baqarah: 186)

“(sebenarnya) Siapakah yang mengabulkan doa orang yang sangat berhajat kepada pertolongan, tatkala mereka berdoa kepada-Nya?” (An-Naml 62).

Masih banyak lagi dalil yang menjelaskan tentang keampuhan do,a. Selain dalil di atas, ada juga dalil dari baginda Nabi Muhammad SAW., antara lain sebagai berikut:

“Dari Annu’man bin Basyir r.a. berkata: Bersabda Nabi saw.: Doa adalah ibadah” (H.R. Abu Dawud dan At-Tirmidzi).

“Dari Aisyah r.a. berkata: Rasulullah saw. gemar sekali pada kalimat doa yang singkat tetapi meliputi semua maksud dalam do’a dan meninggalkan selain itu” (H.R. Abu Dawud).

Masih banyak lagi dalil yang menjelaskan tentang keajaiban doa yang diajarkan oleh Allah sendiri maupun oleh Rasulallah saw. Sebagai seoran Mukmin yang percaya kepada yang gaib, maka sudah seyogyanya memercayai ke-mustajaban doa yang dipanjatkannya.

Pengalaman Penulis
Melanjutkan pendidikan keperguruan tinggi hanya mimpi bagi orang seperti saya. Kemiskinan dan derita hidup yang mendera, telah menjadi bencana di lingkungan keluarga. Meski begitu, ternyata Allah memberikan semangat yang kuat di dalam diri saya, untuk terus menuntut ilmu, karena menuntut ilmu dalam termenologi keyakinan saya adalah wajib. Itulah sebabnya, akhirnya saya nekat pinjam uang untuk mendaftarkan diri di perguruan tinggi swasta di kabupaten Sumenep Madura. 

Sambil nyantri sekaligus ngajar ngaji di Pondok Pesantren Nurul Islam Karangcempaka Bluto, saya melakoni ritual kuliah setiap hari. Semester pertama rasa cemas yang mengganas meremas iman saya. Cemas, karena saya harus ngutang kiri-kanan untuk bayar ongkos angkot sebesar 4000 ribu rupiah pulang-pergi. Saya juga cemas tidak dapat melunasi SPP yang dibayar setiap akhir semester, tapi saya tetap percaya bahwa rasa cemas adalah adalah ketakutan yang lumrah, dan bisa terjadi pada diri siapa saja. Saya tak mau putus asa, meski hutang mulai membentuk bukit-bukit kecil.

Jarak tempuh yang cukup jauh antara Pesantren dan perguruan tinggi, membuat saya kelimpungan. Saya sempat berpikir mencari kos-kosan di sekitar kampus, tapi faktanya tidak menjanjikan lebih baik seperti di pesantren yang saya tinggali. Di pesantren saya bisa mengajar dan mendapat sedikit honor untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Selain itu, pesantren lebih steril dari hal-hal negatif yang sering kali gentayangan dan mengintai iman saya yang masih rapuh. Pilihannya, saya harus sabar dengan kondisi yang tengah saya hadapi saat itu.

Setelah enam bulan saya melalui proses kuliah yang serba mencemaskan, akhirnya saya tuntas juga menjalani ritual semester pertama, meski hutang belum terlunasi. Setiap seperempat akhir malam, saya tidak berhenti berdoa, bahkan tak jarang menguras air mata, agar Allah memberikan jalan keluar bagi penderitaan saya.

Pada semester kedua, kecemasan semakin menyiksa. Hutang semakin berlimpah, dan menurut akal sehat, saya sudah harus berhenti dari kampus, sebab sudah keterlaluan. Bahkan, jika hidup saya disita sekali pun untuk bayar hutang, maka tak akan cukup. Benar-benar mengenaskan. Pikiran saya semakin kalut. Saya harap, Anda jangan jadi orang miskin.

Sebenarnya, yang menjadi sumber masalah adalah biaya tranportasi yang jika dikalkulasi lebih besar dari biaya satu semester. Saya berusaha mencari alternatif, agar bisa menekan biaya tersebut. Maka, saya mencari pinjaman uang untuk membeli sepeda onthel, agar bisa menempuh jarak yang jauh itu. Hasilnya di luar dugaan. Saya tidak mendapatkan pinjaman uang sepeser pun, tapi ajaibnya saya tiba-tiba dibelikan sepeda oleh seseorang, setelah sebelumnya saya sempat berkabar akan keinginan saya. Sebenarnya, saya disuruh memakai sepeda motornya untuk kuliah, tapi saya menolak lantaran merasa kurang sopan memakai sepeda motor di lingkungan pesantren yang memang dilarang.

Berbekal sepeda onthel -pada semester kedua- saya dapat menekan pengeluaran yang lebih besar dari sebelumnya. Saya dapat menyimpan uang yang seharusnya digunakan untuk membayar angkot setiap kali saya kuliah.

Setiap jam satu siang, ketika terik matahari menyengat kulit, saya berangkat dengan semangat membara. Tidak banyak kesulitan ketika menempuh jarak yang jauh itu, karena jalan yang saya tempuh tidak menanjak, dan terik matahari tentu saja tidak terlalu kentara panasnya dengan kondisi perjalanan seperti itu. Tetapi ketika pulang, malah terjadi sebaliknya. Meski saya menempuh jalan pintas, tetap saja jalan yang saya tempuh menanjak. Saya harus mengeluarkan energi lebih banyak lagi untuk mengalahkan jalan itu. Saya harus berkeringat ria untuk sampai ke pondok sebelum waktu azan maghrib berkumandang.

Tahukan? saya melakukan ritual seperti itu hampir empat bulan. Dan disetiap pedalan sepeda, saya merintih kepada-Nya, agar dimudahkan jalan untuk menuntaskan cita-cita. Hati saya menangis menekuri nasib yang tidak sama dengan orang kebanyakan. Hanya saya dan Allah saja yang tahu romantisme doa yang terpanjat ketika itu. Tanpa henti, saya merayu-Nya, agar menjadikan diri saya sebagai orang yang kuat, sabar, dan istikamah dengan ketentuan-Nya.

Saya telah berdoa cukup panjang: setiap malam, setiap tarikan nafas, dan setiap putaran roda sepeda selama kurang lebih tiga bulan. Saya telah berdoa dengan mengerahkan seluruh kemulut hati. Banjir air mata dan rintihan tangis di setiap petang dan siang, telah akrab dengan penderitaan saya. Saya yakin, Allah yang Maha Halus mendengar doa saya. Maka, peristiwa selanjutnya akhirnya benar-benar terjadi.
Ketika hampir sempurna empat bulan mengayuh sepeda onthel dengan segala segala keletihannya, Allah akhirnya menganugerahi keajaiban pada diri saya. Keajaiban yang sulit dijangkau oleh akal sehat manusia. Hanya orang-orang beriman saja, yang percaya dengan kejadian yang saya alami. Maha besar Allah yang selalu merahmati hamba-hamba-Nya.

Saya akhirnya memusiumkan sepeda onthel itu, sahabat sejati yang tak terlupakan. Saya telah punya uang. Saya pasti punya uang untuk ongkos angkot, yang setiap kali akan berangkat kuliah tanpa tahu dari mana uang itu berasal, ada di saku baju saya. Uang itu ada di saku baju saya, meski sesekali saya tahu datangnya--saya terima--dari orang lain secara nyata. Pokoknya saya pasti punya ongkos. Saya tidak perlu ngutang lagi seperti pada semester pertama.

Subhanallah. Selain mendapat ongkos angkot, saya juga mendapatkan beasiswa dari kampus, namun bukan beasiswa prestasi, tapi lantaran saya masuk golongan orang-orang yang miskin, dhuafa’, orang-orang yang lemah secara ekonomi. Sekali lagi, jangan jadi orang miskin. Orang miskin itu tidak nyaman.

Doa yang saya panjatkan bersamaan dengan gerimis air mata pada setiap malam, atau pada setiap ayunan kaki ketika memutar roda-roda sepeda onthel, ternyata dikabulkan oleh Allah Yang Maha Rahman. Allah mulai menghapus kesedihan dan penderitaan, tetapi saya tetap merasa cemas lantaran takut tidak bisa menyukuri karunia itu.

Karunia-Nya terus mengalir seperti air yang tumpah dari langit. Tidak hanya beasiswa dari kampus, tapi dari pemerintah daerah juga mendapatkannya, yaitu beasiswa dari BAPPEDA sebesar dua juta. Maka segala yang bersangkut-paut dengan keuangan kampus, akhirnya terobati.

Selain itu, seorang teman memberi kesempatan kepada saya untuk jualan buku-buku seperti buku-buku kuliah, novel, dan lain sebagainya tanpa harus mengeluarkan modal sama sekali alias konsinyasi. Hingga akhirnya, saya tuntas menyelesaikan kuliah dan mendapat gelar sarjana. Gelar sarjana dari keringat perjuangan, nikmatnya luar biasa.

Keyakinan saya terhadap keampuhan doa, tentu tidak berhenti ketika saya tuntas menyelesaikan pendidikan sarjana. Keyakinan terus melekat kuat di dalam diri saya. Dan selalu hanya kepada-Nya saya mengadukan segala persoalan, dengan ikhtiar semaksimal mungkin.

Sampai saat ini, keampuhan doa yang sering saya panjatkan senantiasa menuai jawaban dari Allah SWT., terbukti ketika saya diminta mendoakan anak kecil yang tidak berhenti menangis alias sawanan, terkabul seketika. Atau ketika saya mendoakan orang yang lehernya tersangkut tulang ikan yang -katanya- sakitnya tidak terkira, langsung hilang seketika itu juga. Tidak hanya sebatas itu, saya seringkali diminta mengobati orang sakit gigi lewat saluran handphone, dan hasilnya casplang. Saya melakukannya dengan hati yang yakin, bahwa doa saya terkabulkan.

Sampai saat ini saya sering memberikan pengobatan kepada orang-orang yang menderita sakit gigi, tanpa saya pungut biaya sepeserpun, karena saya hanya ingin memberikan manfaat kepada orang lain dengan karunia Allah yang diberikan kepada saya. Pasien saya dalam pengobatan sakit gigi sudah sampai ke Jakarta, Surabaya, Banyuangi, Situbondo, Bondowoso, Jember, dan di Madura sendiri. Entah dari mana mereka tahu.Tuhan punya kuasa untuk mengabarkannya.

Perlu ditegaskan di sini, bahwa pengobatan yang saya lakukan hanyalah ikhtiar, sedangkan kesembuhan adalah hak prerogatif Allah. Saya sering memperingatkan kepada pasien saya, bahwa kesembuhan datangnya dari Allah, bukan dari saya. Saya hanya bisa mendoakan dengan setulus-tulusnya tanpa mengharap pamrih. Peringatan itu saya lakukan agar para pasien tidak terjermus kelembah kesyirikan yang mengakibatkan murkanya Allah swt.

Doa adalah senjata paling ampuh bagi seorang muslim. Keajaiban doa sudah terbukti mujarab dan terasa manfaatnya bagi orang-orang yang selalu mendekatkan diri kepada-Nya. Bahkan, sejarah telah menceritakan bahwa kemerdekaan Republik Indonesia adalah representasi dari doa orang-orang saleh, yaitu rang-orang yang selalu menebarkan kebaikan meski kemampuannya hanya bisa berdoa. Keteladan mereka yang doanya ampuh, seharusnya menjadi pelajaran berharga bagi kita agar tidak menafikan peran doa dalam hidup sehari-hari.

Saya telah membuktikan dan menjadi saksi nyata, bahwa Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan munajat para hamba-Nya. Allah tidak akan mengingkari janjinya kepada para hamba yang beriman. Dia selalu bersama kita.

Jika ingin doa kita makbul, maka sering-seringlah beristighfar kepada-Nya. Bacalah salawat buat baginda Nabi Muhammad saw., sebanyak-banyaknya. Selalu berbuat baik kepada orang lain. Bersabar dengan segala ketentuan-Nya yang menimpa diri kita, baik yang terasa nyaman maupun yang menyebalkan. Jangan sekali-kali protes jika belum diistijabah secara langsung oleh Allah. Tetaplah istiqamah dengan segala ketentuan hukumnya. Yakinlah, tak ada doa yang tidak dikabulkan.

Penutup
Terakhir, pesan buat sesama muslim yang mengandalkan keajaiban doa sebagai benteng terdepan dalam hidupnya adalah jangan sampai merasa lebih baik dan lebih diterima doanya dari orang lain. Sebab boleh jadi perasaan seperti itu merupakan awal dari bencana yang terselubung oleh perasaan kita sendiri, sehingga doa kita tidak makbul lagi. Saya sarankan demikian karena saya sudah banyak menyaksikan kenyataan pahit yang tadinya doanya makbul tiba-tiba tumpul. Na’udzubillahi mindzalik. Mari kita saling mendoakan agar kita dikarunia keselamatan oleh Allah Yang Serba Maha. 

Wallahu’alam.


Sumenep, 12 Mei 2010
Share this article :
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Kabar Nun - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger