"Surga tempatnya orang-orang berprestasi"(KH. Ilyasi Siraj, M.Ag.)




POSTINGAN HARI INI
print this page
POSTINGAN TERBARU

MEMBANGUN KELUARGA LITERASI MELALUI PERPUSTAKAAN DESA


Sangat memprihatikan, ketika mendapati studi Most Littered Nation In the Word 2016, yang melansir kabar buruk budaya baca bangsa Indonesia diperingkat ke-6o, dari 61 negara yang di survei. Padahal, dilihat dari pembangunan infrastruktur, Indonesia ada diurutan ke-34 (Kompas.com). Artinya, infrastruktur dengan segala fasilitasnya tidak menjadikan masyarakat Indonesia tersadarkan untuk giat membaca, dan segala sesuatu yang terkait dengan aktivitas literasi lainnya.

Kabar buruk tersebut tidak cukup menjadi keprihatinan di forum-forum seminar saja, tetapi dibutuhkan tindakan nyata dari seluruh stakeholder bangsa ini, agar keadaan darurat di ranking buncit segera berpindah ke nomor urut yang menggembirakan, dan bangsa ini tidak menjadi pesakitan dalam ekspos berita, serta incaran lembaga survei yang kian viral dalam hitungan detik. Keterpurukan di atas menjadi tanggungjawab bersama, mulai dari keluarga, sekolah, hingga pemerintah.

Survei-survei buruk tentang segala sesuatu yang terkait dengan budaya literasi harus dijawab dengan semangat perubahan, dan perubahan fundamental bisa dimulai dari lingkungan keluarga, masyarakat, sekolah, hingga lemba-lembaga negara yang berkompeten di dalamnya. Caranya, mendekatkan masyarakat dengan buku-buku, dan segala yang terkait dengan aktivitas literasi.

Dengan demikian, amanat undang-undang nomor 34 tahun 2007 tentang perpustakaan (yang menjadi bagian dari literasi) bisa direalisasikan dengan baik, dan perpustakaan tidak menjadi ruang kosong yang hanya memajang banyak koleksi buku yang berdebu. Solusi agar masyarakat bisa menjadikan perpustakaan sebagai tempat berliterasi, bergantung pada Sumber Daya Manusianya (SDM) dalam mengelola perpustakaan. Jika ada perpustakaan sepi seperti kuburan, maka bisa dipastikan pengelolanya tidak memiliki kemampuan, atau tidak punya skill mumpuni mengelola perpustakaan.

Studi Most Littered Nation In the Word 2016 bisa menjadi motivasi bagi seluruh kegelisahan tentang keterpurukan dunia literasi, termasuk kegelisahan yang menjangkiti masyarakat pedesaan yang selama ini sangat kesulitan menjangkau bahan-bahan literasi yang hanya terpusat di perkotaan. Desa, selama bertahun-tahun adalah keterpurukan dan keterbelakangan. Dikotomi itu bertahun-tahun melekat di masyarakat akar rumput, karena kebijakan yang tidak adil oleh pemerintah.

Sekarang, dikotomi itu terurai dan desa yang terisolir dari banyak hal mulai eksis dengan segala potensi yang dimilikinya. Kebijakan-kebijakan pemerintah cukup menggembirakan, apalagi pemerintah mulai memperioritaskan desa yang selama ini termarjinal setara dengan kemanjuan kota. Kelak, kota dan desa sama saja. Sama-sama berkontribusi untuk kemajuan bangsa dan negara melalui gerakan literasi.

Dana Desa yang digelontorkan oleh pemerintah, cukup menjanjikan untuk membangun Keluarga Literasi dalam wujud Perpustakaan Desa yang representatif dengan segala perlengkapan dan perangkatnya yang mencerdaskan, sehingga Keluarga Literasi melalui Perpustakaan Desa atau Rumah Baca  menjadi budaya yang berkembang secara seimbang. Dan, studi Most Littered Nation In the Word tidak lagi menjadi kabar buruk yang menyudutkan di masa yang akan datang.

Membudayakan Minat Baca-Tulis
Salah satu cara untuk membangun Keluarga Literasi adalah mendirikan Perpustakaan Desa atau Taman Baca di tengah-tengah masyarakat pelosok desa. Masyarakat desa bisa bergandeng tangan, jika misalnya tidak memungkinkan membangun Perpustakaan Desa/Rumah Baca sendiri-sendiri di dalam satuan keluarga, karena memang membangun Perpustakaan Desa/Rumah Baca membutuhkan biaya besar. Biaya-biaya besar disebabkan oleh bahan-bahan bacaan yang masih belum merakyat, kecuali bahan bacaan yang terdiri dari bajakan—yang tentu saja melanggar hukum.

Membangun infrastruktur Perpustakaan Desa/Rumah Baca di desa-desa sangatlah murah. Masyarakat desa cukup mendirikan Perpustakaan Desa/Rumah Baca yang familiar dengan kehidupan desa, misalnya menggunakan bambu yang banyak dijumpai di desa-desa yang bersangkutan, atau rotan yang dianyam dengan apik, atau bahan-bahan lain yang tersedia di desa yang bersangkutan.

Perpustakaan Desa/Rumah Baca diharapkan menjadi solusi bangkitnya literasi di seluruh pelosok desa, hingga akhirnya menjadi ikon keberhasilan Keluarga Literasi yang berdaya guna bagi sesama. Jika Keluarga Literasi berhasil membangun kesadaran masyarakat pelosok desa dalam berliterasi, maka Perpustakaan Desa/Rumah Baca yang dibangun dengan susah payah tidaklah sia-sia. Bahkan, agenda utama negara “untuk mencerdaskan kehidupan bangsa” akan sangat terbantu.

Aktivitas literasi yang tidak hanya terbatas pada baca-tulis dapat dikembangkan, misalnya melalui pelatihan kerajinan tangan, berkesenian, atau skill lain yang bisa menupang kesejahteraan keluarga dan masyarakat, serta bangsa dan negara yang terus berbenah. Pendeknya, bermanfaat bagi orang lain.

Budaya literasi terbangun melalui minat baca, dan rekonstruksi pikiran-pikiran yang dihasilkan dari minat baca bisa juga dituangkan lewat karya tulis dengan segala genrenya, termasuk membaca yang bisa menggali potensi-potensi terpendam yang selama ini mengendap dan tidak mendapatkan ruang ekspresi yang tepat dalam diri mereka.

Manfaat baca-tulis yang potensial akan menemukan ruang ekspresinya yang tepat, dan bisa menjadi motivasi bagi masyarakat desa untuk terus mencintai dunia literasi—yang pada akhirnya akan menjadi budaya yang mencerahkan bagi kehidupan masyarakat desa—yang selama ini masih jumud untuk berkembang. Perkembangan literasi desa yang jumud tentunya tidak akan menyaingi budaya literasi yang sudah lebih dahulu berkembang di perkotaan. Itulah sebabnya, Membangun Keluarga Literasi Melalui Perpustakaan Desa bisa menjadi bagian solusi untuk bersaing dengan kemajuan literasi di perkotaan.

Literasi secara umum tidak hanya berkutat dalam hal baca-tulis, tetapi keberlanjutan dari hasil baca-tulis (sebagaimana disinggung di atas) juga menjadi bagian literasi, seperti keterampilan yang didapat dari buku-buku dan jurnal. Namun, keterampilan-keterampilan itu sulit muncul tanpa melalui aktivitas membaca. Maka, aktivitas membaca menjadi penting untuk diberdayakan lebih awal dengan menjadikan bahan bacaan sebagai referensi dari segala kegiatan yang dilakukan oleh Keluarga Literasi Melalui Perpustakaan Desa.

Saat ini, studi Most Littered Nation In the Word 2016 tidak bisa dipercaya begitu saja kebenarannya, ketika melakukan survei minat baca, karena studi Most Littered Nation In the Word 2016 tidak jelas responden yang disurveinya. Siapa mereka yang disurvei dan apa indikatornya?

Jika indikator semangat bacanya didasarkan pada keterbacaan buku-buku cetak, barangkali itu masuk akal. Namun, jika indikator membaca masyarakat di dasarkan pada media sosial, maka kemungkinan besar studi Most Littered Nation In the Word 2016 tidak benar, karena saat ini masyarakat mulai melek baca. Masyarakat melalui perangkat ponselnya sudah sering membaca informasi dan ilmu pengetahuan, termasuk membaca ebok-ebok yang bertebaran secara gratis di media sosial.

Namun, studi Most Littered Nation In the Word 2016 hendaknya menjadikan kita tidak lalai dan inferior. Mengingat, indikator lain dari minat baca masyarakat kita tidak menunjukkan ke arah yang paling buncit sebagaimana disebutkan di atas tadi. Minat baca masyarakat lumayan membaik, meski terkadang tertipu oleh hoax. Hoax tentu saja menjadi bagian kelemahan masyarakat yang tidak literer. Apabila ingin terhindar dari hoax, maka kemampuan literasi masyarakat (masyarakat di pelosok desa) harus diasah dan terus dikembangkan, hingga akhirnya menjadi budaya yang kuat dan tak gampang terkecoh.

Membangun Keluarga Literasi
Terminologi literasi berpengertian sebagai segala sesuatu yang berhubungan dengan tradisi tulis-menulis, termasuk di dalamnya aktivitas membaca, buku-buku referensi, atau hal-hal lain yang didapatkan/ditemukan dari buku, termasuk ebok.

Membangun keluarga literasi tidaklah mudah. Perlu keterlibatan banyak pihak, seperti institusi pendidikan, pemerintah, politisi, ahli agama, relawan, dan siapa saja yang punya kesadaran lebih awal tentang kebermanfaatan literasi. Kegelapan dunia literasi adalah tanggungjawab bersama, terutama bagi yang disebutkan di atas.

Ahli agama misalnya, bisa menyampaikan pesan-pesan agama sebagaimana yang termaktub dalam kita suci al-Quran, seperti surat al-‘Alaq ayat 1-5 atau dalam surat al-Kahfi ayat 109-110. Barangkali pula, cerita Nabi Muhammad saat pertama kali menerima wahyu perlu dikisahkan secara sungguh-sungguh hingga melahirkan kesadaran berliterasi.

Institusi pendidikan misalnya, perlu melakukan rekonstruksi kesadaran berliterasi dari yang selama ini kurang gereget menjadi lebih gereget lagi, atau dari pihak pemerintah misalnya, dari yang tadinya hanya mengeluarkan kebijakan literasi yang datar-datar saja lalu pindah pada kebijakan yang makin jelas tentang keberpihakannya kepada dunia literasi.

Demikian juga seharusnya yang dilakukan oleh politisi, relawan, atau siapa saja yang kesadaran berliterasinya sudah mendapat hidayah terlebih dahulu. Kesadaran berliterasi adalah bagian dari hidayah yang maha penting, karena aktivitas literasi tak bisa dipisahkan dari kehadiran ilmu pengetahuan yang selama ini banyak didapatkan melalui buku-buku yang dijadikan literator kaum intelektual.

Berbagi Peran Melalui Keluarga Literasi
Membangun Perpustakaan Desa/Rumah Baca di pelosok desa—sebagaimana dijelaskan sepintas di atas—, perlu melibatkan peran Keluarga Literasi yang sejak awal sudah satu visi. Artinya, masing-masing keluarga rumah tangga dapat menyediakan segala sesuatu yang berkaitan dengan bangkitnya budaya literasi. Jika tidak mampu, maka masing-masing keluarga perlu berbagi peran, sehingga menjadi satu kekuatan yang bisa menciptkan Keluarga Literasi yang dinamis, dan perpustakaan desa/rumah baca desa tetap eksis selama-lamanya.

Satu Keluarga Literasi bisa berperan menyediakan rak buku. Satu keluarga lagi bisa menyediakan tempat baca. Satu keluarga yang lain bisa menjadi atau menyediakan tutor. Satu keluarga berikutnya bisa memobilisasi masyarakat untuk membaca. Satu keluarga yang lain bisa menyediakan hal-hal lain yang berkait dengan kegiatan berliterasi.

Pendeknya, masyarakat saling bahu-membahu untuk berkontribusi membangun keluarga literasi. Istilah agamanya, fastabiqul khairaat, berkompetsi dalam memperbanyak kebaikan, hingga melahirkan masyarakat desa yang berprestasi dan mampu bersaing dengan masyarakat kota yang selangkah sudah lebih maju. Tentu saja, kita berharap Indonesia mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

Peran masing-masing keluarga sebagai bagian dari kehidupan bermasyarakat di pedesaan sangat penting, sehingga ketika membangun Perpustakaan Desa/Rumah Baca di lingkungan desanya sendiri tidak perlu menunggu uluran tangan dari pemerintah, atau donatur dari orang luar desanya. Namun, peran-peran di atas tidak semudah membalikkan telapak tangan untuk mendapatkannya. Sebab, masyarakat desa yang pendidikannya terbelakang dan kesadarannya terhadap literasi masih asing, akan menjadi kendala tersendiri.

Solusinya, perlu tahapan-tahapan khusus yang brillian. Setidaknya, bisa menjadi bahan diskusi di lingkungan desa yang bersangkutan, seraya terus berupaya membangun kesadaran tentang pentingnya budaya literasi untuk masa depan anak-anak mereka sendiri. Di sinilah, peran keluarga dan masyarakat menemukan momentum prosesnya, karena memang tidak ada sesuatu yang instan di muka bumi ini.

Proses pertama, bisa sekadar diskusi antar orang yang sevisi, dan diskusi bisa dilakukan setiap hari sambil terus mengumpulkan orang-orang yang punya pikiran sama. Menyatukan visi bisa dilakukan dengan cepat. Bisa sehari, seminggu, bahkan bisa berbulan-bulan. Tergantung kesungguhan seluruh stakeholders untuk menciptakan kesadaran baru yang maha berat itu.

Proses kedua, bisa berbagi peran antar orang-orang yang sudah satu visi dalam membangun keluarga literasi, sehingga tidak memberatkan. Berbagi peran bisa disesuaikan dengan kemampuan masyarakat desa yang bersangkutan, dan tidak perlu dipaksakan agar tidak memunculkan masalah lain yang menghambat rencana semula.

Keluarga Literasi yang dibangun secara swadaya diharapkan menjadi tempat berliterasi bagi seluruh masyarakat desa setempat—yang tidak hanya membaca dan menulis—, tetapi bisa menjadi tempat mengembangkan potensi keterampilan, berkesenian, dan meningkatkan perekonomian masyarakat desa. Alhasil, ending Keluarga Literasi menjadi jelas manfaatnya bagi kemajuan bangsa dan negera ini.  



Sumenep, 22 April 2019


#SahabatKeluarga
#LiterasaKeluarga
0 komentar

AENG TONGTONG SENTRA KERIS DUNIA


Salah satu peninggalan leluhur yang terus dilestarikan hingga hari ini adalah kerajinan keris. Keris adalah pusaka atau senjata nenek moyang nusantara—yang belakangan dibid’ah dan diharamkan oleh sekelompok orang yang sok paling beragama—yang oleh UNESCO keris ditetapkan sebagai salah satu warisan dunia yang layak dijaga dan dirawat. Salah satu cara untuk merawatnya adalah dengan tetap memproduksinya, baik keris sebagai seni maupun keris sebagai benda pusaka yang bertuah serupa kerisnya Empu Gandring, misalnya.

Salah satu tempat yang hingga hari ini memproduksi keris adalah Desa Aeng Tongtong Kecamatan Saronggi Kabupaten Sumenep Madura Jawa Timur. Hampir semua penduduk Desa Aeng Tongtong menjadi empu yang mumpuni dalam membuat keris, meski keris-keris yang dibikin tidak menyamai proses pembuatannya Empu Gandring, karena memang keris yang dibuat saat ini lebih dominan nilai seninya. Keris bagi masyarakat Aeng Tongtong, juga sebagai mata pencaharian, sehingga tidak jarang ada yang kaya raya lewat kreasi membuat keris.


Banyak kolektor pusaka keris yang memborong keris buatan para Empu Aeng Tongtong, bahkan menurut pengakuan beberapa penduduk, seorang politisi dari Jakarta memesan kujang yang bentuknya sangat besar, dan tentu saja harganya sangat mahal. Tidak hanya politisi Jakarta, kolektor pusaka dari manca negara juga banyak yang memborongnya.

Sumenep patut bersyukur, karena punya Desa Aeng Tongtong yang telah mengantarkan nama kotanya menjadi terkenal hingga ke manca negara. Bahkan, Kota Sumenep menyebut dirinya sebagai Kota Keris, dan Aeng Tontong dijadikan sebagai wisata relegius untuk mendukung program “Visit Sumenep 2018”.

Sayangnya, Desa Aeng Tongtong yang hendak dijadikan tempat wisata religius oleh pemerintah, tidak didukung oleh infrastruktur yang mendukung religiusitas yang dimaksud? Desa Aeng Tongtong menunjukkan realita lain, yaitu belum terpenuhinya ruang representatif sebagai sentra keris terbesar di dunia. Tampilan Desa Aeng Tontong tak ubahnya seperti desa-desa lain yang “tidak menyumbangkan” prestasi sama sekali.

Pemerintah Kabupaten Sumenep, harusnya memberikan perhatian lebih kepada Desa Aeng Tongtong, karena telah ikut serta mengangkat harkat dan martabat Sumenep hingga ke level Internasional. Paling tidak, jalan-jalan di Desa Aeng Tongtong aspalnya bertahan lama dan tidak mudah rusak dalam hitungan minggu, atau Pemerintah Kabupaten membuatkan gedung besar hingga menjadi mercusuar peradaban baru yang bisa dibanggakan oleh genarasi berikutnya.

Jadi, percuma saja Desa Aeng Tongtong yang terkenal ke suluruh manca negara, jalan-jalannya rusak dan tidak merepresentasikan Visit Sumenep 2018 yang dibanggakan oleh para pemimpinnya. Perlu dipikirkan kembali oleh siapa pun yang punya tanggung jawab moral, agar desa-desa yang berprestasi direnovasi menjadi lebih baik dari desa-desa lain.

Harapannya, desa-desa lain yang tak punya prestasi bisa berlomba-lomba untuk memajukan desanya. Dengan demikian, Desa Aeng Tongtong bisa menjadi cikal-bakal kemajuan Sumenep di masa yang akan datang, kecuali para pengambil kebijakan tidak respek dan hanya “mengambil untung” dari desa-desa yang kreatif dan berkembang.

Diakui atau tidak, prestasi Desa Aeng Tongtong tidak dibiayai oleh pemerintah Kabupaten. Para penduduknya berkreasi sendiri. Maka, jika tiba-tiba prestasi Desa Aeng Tongtong diklaim sepihak tanpa ada kontribusi balik dari pihak pemerintah kabupaten, kan sungguh TERLALU!

Di harapkan, pihak Kabupaten Sumenep mau mengerti apa yang dikehendaki penduduk Desa Aeng Tongtong, sehingga Desa Aeng Tongtong sebagai sentra keris terbesar di dunia, tampil mengagumkan dan sesuai dengan gembar-gembor yang berkembang di luar sana. Hasilnya, wisatawan tidak kecewa saat bertandang.  

Desa Aeng Tontong dengan ratusan Empunya patut mendapat penghargaan yang setimpal, agar lebih bersemangat dalam berkreasi. Bentuk penghargaannya bisa berupa terbangunnya infrastruktur yang sesuai dengan budaya masyarakat Aeng Tongtong, atau paling tidak, tak ada jalan-jalan rusak, sehingga Desa Aeng Tongtong layak menjadi pusat keris dunia.


Tidak banyak kerajinan masyarakat suatu desa yang tembus dunia, maka oleh karenanya, melestarikan sesuatu yang ada di desa Aeng Tongtong saat ini sangatlah urgen dalam perspketif budaya, bukan dalam perspektif orang-orang yang sok paling beragama dan mengharamkannya.

Semoga pemerintah kabupaten, provinsi dan pemerintah pusat tidak lalai menjaga warisan budaya bangsa Indonesia yang kian banyak diakui oleh masyarakat dunia sebagai suatu kearifan. Tentu saja, masyarakat Aeng Tongtong lebih proaktif untuk memberdayakannya. Setidaknya, regenerasi terus berlangsung dan menjadi tradisi turun-temurun.

Bagi Anda yang hendak mengoleksi karya Empu Aeng Tongtong bisa langsung datang ke tempat, atau bisa melalui chating ke nomor 08133422203. Semoga kita tetap bisa menjaga warisan luhur nenek moyang kita.


Sumenep, 09 Mei 2019

Penulis: Nun Urnoto El Banbary
Editor: Qurratul Aini

0 komentar

PEMABUK JURA II

Saya diundang menghadiri grand final “Lomba Penulisan Buku Bacaan Sekolah Dasar” di Solo, yang bertempat di hotel Lor In mulai 23-26 Oktober 2018. Saya paling males melakukan perjalanan jauh, termasuk menghadiri grand final itu, tetapi karena hadiahnya lumayan besar, akhirnya saya pasrah juga melakukan perjalanan jauh yang mengkhawatirkan itu. Kekhawatiran saya tidak lain adalah mabuk darat.hihi

Soal mabuk, saya ini sangat trauma pada perjalanan masa lalu saat saya ke Jember. Bayangkan, dari Sumenep hingga terminal Tawang Alun saya mabuk. Sumpah, saya pusing, pening, dan rasanya mau mati. Nah, trauma itu membuat saya hanya naik bisa sudah mau mual. Apes. Sungguh sial jika saya berjalan jauh.

Panitia memang menyediakan segala fasilitas perjalanan, mulai naik bis, mobil pribadi, naik kereta, hingga naik pesawat terbang. Mikirnya sih mau naik pesawat, tapi perasaan takut jatuh menghantui isi kepala. Bukankah kalau jatuh dari pesawat tak ada sisa? Tambah ngeri diriku. Mau naik kereta, tiket habis. Beruntung, pulangnya bisa naik kereta beramai-ramai bersama kawan-kawan lain dari Jawa Timur.

Di tempat acara, saya mengahadapi sidang dari dewan juri yang ramah-ramah, meski akhirnya dewan juri yang ramah-ramah itu menjatuhkan vonis pada saya sebagai juara II. Tentu saja, saya tak perlu protes sana-sini dengan menyebut dewan juri curang dan sebagainya. Saya menerima dengan lapang dada hasil keputusan, sambil berpikir untuk menjadi lebih baik dengan karya-karya berikutnya. Bukankah, warga negara yang baik seperti itu?


Pak Thomson dan Putranya Jadi Juara
Lomba dengan fasilitas megah di hotel bintang 5, sudah membuat saya nyaman. Pulang pergi dikasih ongkos, ditambah uang saku lagi. Peserta lomba diistimewakan dan dimanja, meski sebagian peserta memprotes penarikan pajak yang terlalu besar untuk peserta lomba. Tidak hanya itu, peserta juga sempat memprotes panitia yang pada tahapan berikutnya, hanya mengundang juara I dan II. Setelah diprotes, akhirnya panitia mengabulkannya. Tentu saja, protesnya tak perlu terun ke jalan mengerahkan massa yang tak tahu apa-apa tentang persoalan yang kami hadapi.

Mengikuti lomba menulis, hanya salah satu bagian untuk menegaskan bahwa diri saya ini tidak hanya pandai melamun, tetapi juga bermanfaat melalui lamunan-lamunan yang dikonkretkan melalui naskah karya tulis. Seluruh rakyat Indonesia yang berjuta-juta dipersilakan untuk ikut serta, dengan ketentuan yang sudah ditetapkan oleh panitia. Dan, menyisihkan peserta lain bukan perkejaan gampang, tetapi membutuhkan kerja keras yang sungguh-sungguh.

Jumpa Senior
Semoga lain waktu, saya masih bisa mengikuti kompetisi lain, dan tentu saja ingin menjadi juara tanpa harus ngotot menjadi pemenang, sebelum dewan juri menetapkan pemenangnya. Dan, yang paling penting saya tidak mabuk darat lagi, apalagi sampai takut naik pesawat terbang.hihi

Mari berkompetisi dalam kebaikan, bukan berkompetisi dalam kerusakan dan keburukan lainnya. Semoga Allah menguatkan kita. Selamat “Menunaikan Ibadah Puasa.”


Oh, Iya. Ketika saya menulis catatan yang tertinggal ini, teringatlah dalam lamunan kawan-kawan dari non-jauh di sana seperti Kang Acep, Pak Thomson, Bu Zahra, Bu Erawati, Mbak Dinni Tresnadewi, Kang Wiranto, dan yang lainnya. Mereka adalah kawan sebangsa yang tanah lahirnya belum pernah saya singgahi. Semoga kami dipanjangkan umur sehingga bisa bersua kembali.




Penulis: Nun Urnoto
Editor: Qurratul Aini

0 komentar

GUS MUWAFIQ SANG JURU DAMAI

Gus Muwafiq yang kondang di seantero jagat Nusantra, dan cermah-cermahnya menyejukkan isi kepala dan isi dada, hadir ke Pondok Pesantren Annuqayah (23/4/2019) dalam rangka penutupan haflatul imtihan. Dai Milenial yang pernah di daulat menjadi penceramah di istana negara itu, tampil memukau dan membuat jemaahnya terksima.

Gus Muwafiq menyampai tema besar tentang Santri Nusantara dengan segala kekayaan lokalitasnya, yaitu kekayaan yang tak dimiliki oleh negeri-negeri lain di belahan dunia. Baik mulai dari kekayaan alamnya, hingga kekayaan budayanya yang katanya hingga saat ini mampu menjaga keutuhan bangsa dan negara, meski belakangan banyak bermunculan santri-santri Google yang tidak mengakui kekayaan budaya bangsanya sendiri.

Ceramah-ceramahnya, baik yang saya saksikan di youtube atau di mimbar-mimbar pengajian lainnya, memberikan kesejukan, sehingga Gus Muwafiq menjadi idola banyak generasi, mulai dari generasi old hingga generasi millinneal. Gus Muwafiq tampil kepermukaan ketika orang-orang yang mengaku ustaz bermunculan dengan cermah-ceramahnya yang menyesatkan dan membakar emosi, serta menebarkan kebencian atas nama agama.

Ceramah-ceramahnya, menjawab semua ketersesatan yang mereka tebarkan dengan pendekatan hikmah, tanpa memaki dan memisuhi ustaz-ustaz yang sudah terlanjur menciptakan keonaran. Maka, berdasar itu semua, Gus Muwafiq layak dijuluki sebagai Sang Juru Damai.

Juru damai adalah tabiat positif yang melekat kepada semua para nabi, para rasul, para wali, para ulama, dan orang-orang salih yang mendapat hidayah dari Tuhan yang Maha Pemberi Keselamatan. Ucapannya menyejukkan dan tak melukuai. Tidak pula menyisakan dendam, dan angkara murka. Bahkan tuturnya menjadi rujukan sepanjang masa.

Jika ada penceramah, atau yang mengaku paling beragama, baik pengakuan itu secara lisan atau perbuatan, tetapi tabiatnya bertentangan dengan akhlak para nabi, para rasul, para ulama dan orang-orang saleh, maka mereka adalah iblis dan bala tentaranya yang menjadikan agama sebagai kedok untuk merusak kedamaian. “Tak ada agama” bagi mereka yang sengaja menanamkan kerusakan, kebencian, dan permusuhan, apalagi yang membantai nyawa-nyawa. Dan, mereka harus dilawan. Bentuk perlawanannya tetap menggunakan metode ahlussunnah waljamaah ala Nahdhatil Ulama sebagaimana dicontohkan oleh Gus Muwafiq, Gus Mus, Gus, Miftah, Cak Nun, dan yang lainnya.

Setiap dai atau penceramah memang berbeda metode, meskipun demikian bukan berarti seenaknya sambil memaki-maki yang berbeda. Agama tetap melarang siapa pun untuk memisuhi dan mengumpati. Siapakah Rasul yang suka mengumpat seenak perutnya? Tentu saja tak ada, karena memaki bukan mendamaikan umat, tetapi hanya membuat kisruh keadaan yang damai.

Kiai Muafiq yang notabene jebolan pesantren dan lahir dari rahim NU, adalah penceramah yang mendamaikan dan layak untuk kita undang pada acara-acara pengajian dan semacamnya. Di negeri yang damai ini, tegakah kita menciptakan kegaduhan dan kegelisahan dengan mendatangkan tukang caci maki? Tentu saja tidak, karena kita punya hati dan perasaan, juga punya ajaran agama yang Maha Agung sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Baginda Rasulullah Muhammad saw.

Jika Anda ingin jadi penceramah yang mencerahkan, maka contohlah Gus Muwafik dan ulama-ulama NU lainnya. Mereka lembut, tetapi bukan berarti lemah. Mereka adalah lautan ilmu yang tak beriak. Mereka tenang dan mendamaikan. Lihat wajahnya saja sudah serasa ada di surga. Coba lihat yang sarkas dan suka teriak-teriak dengan menggunakan nama Tuhan, pasti menggelisahkan.

Agama tidak membawa keributan, tetapi agama membawa kedamaian, karena agama adalah sebagai rahmah bagi semista alam. Mari beragama yang sehat dan menyejukkan. Jaga agama, jangan sampai dijadikan tunggangan politik bagi mereka yang haus kekuasaan. Sungguh, dosanya teramat besar, karena kesucian agama telah disekutukan dengan kekotaran politik orang-orang yang ambisius.

Penulis: Nun Urnoto El Banbary
Editor: Qurratul Aini   
0 komentar

CERITA DARI PEKAN NGAJI II DI BATA-BATA

Satu kehormatan diundang pada acara Pekan Ngaji 2 di Pondok Pesantren Bata-Bata (5/2/2017), untuk membedah novel Anak-Anak Pangaro yang saya tulis sendiri dan diterbitkan oleh PT. Tiga Serangkai Solo Semarang. Novel Anak-Anak Pangaro yang sebelumnya telah dibedah di berbagai tempat, terus mengepakkan sayapnya, seolah hendak mengabarkan kepada jiwa jiwa pembelajar untuk membacanya hingga tuntas.

Novel Anak-Anak Pangaro tidak hanya mendapat apresiasi untuk dibedah, tetapi juga mendapat apresiasi pujian dari http://benzainrumiyen.blogspot.com/ dan bahkan dijadikan bahan penelitian oleh kaum intelektual di kampus-kampus terkemuka http://eprints.ums.ac.id/50154/12/NASKAH%20PUBLIKASI.pdf. Hal itu menunjukkan novel Anak-Anak Pangaro menyimpan sesuatu yang unik bagi pembacanya. Meski sekadar juara harapan di MetaMind Tiga Serangkai dan sempat menjadi nominasi enam besar pada lomba Tulis Nusantara, Anak-Anak Pangaro mendapat tempat tersendiri di hati pembacanya.

Saya tidak sedang berpromosi, tapi hanya menyampaikan apa adanya tanpa bermaksud melebih-lebihkan. Seumpama dianggap berlebihan, itu Anda sendiri yang berpikir berlebihan. Saya, pikir Anda belum membacanya bukan? Maka segeralah membaca agar bisa tahu nilai karomahnya. Kwkwkwk.

Kembali pada pekan ngaji. Baliho besar yang terpampang di halaman pesantren, terdapat foto saya yang ganteng dan penuh pesona. Berjejer dengan orang-orang besar dari dalam dan luar negeri, dan membuat istri saya kian terkesima. Hihi. Siapa istri yang tak terkesima dengan suami yang mendapat tempat bersama orang-orang terhormat. Anda, mungkin menganggapnya biasa-biasa saja, karena Anda memang tidak sedang luar biasa. Sekali lagi, tidak sedang luar biasa. kwkwk. Guyon oi.

Bagaimana cara Anda bisa menjadi luar biasa? Anda harus mengkhatamkan novel saya dalam waktu lima menit. Itu saja, untuk menjadikan Anda luar biasa. Asem,kwkwk.

Pesantren besar di tanah Madura itu disesaki oleh ribuan santri dengan latar belakang berbeda dan keinginan yang tidak sama, tapi mereka rata-rata menyukai sastra. Bukankah novel adalah karya sastra, dan penulisnya bisa disebut sastrawan? Namun, saya tak sudi disebut sastrawan. Saya lebih suka disebut PELAMUN. Pelamun lebih merdeka, lebih bebas berkelana ke ruang-ruang terlarang yang tak banyak disinggahi orang alim, atau orang-orang kebanyakan yang takut melamun.

Sebenarnya, bedah novel lebih pada mempromosikan karya. Lebih banyak mengupas positifnya daripada negatifnya. Sebelum dibedah, seharusnya peserta sudah khatam membacanya. Jika tidak, maka bedah buku menjadi tidak seru dan yang pasti bahasa promosinya lebih mendominasi, apalagi tidak ada pembandingnya. Maka, forum akan menjadi mati. Kritik dan apresiasi tidak berfungsi sama sekali. Itulah kesalahan besar dalam banyak bedah buku yang luput dari perhatian para penyelenggara, termasuk pada pekan ngaji itu.

Undangan menjadi narasumber di Pekan Ngaji 2 di Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata bisa menjadi sesuatu yang luar biasa, bagi orang kecil macam saya. Dan, bisa menjadi biasa-biasa saja bagi orang-orang besar yang sudah biasa. Berbeda lagi dengan orang-orang yang sok besar, dan tidak mengerti tentang apresiasi, atau berbeda pula dengan orang yang sedang iri hati dengan prestasi.

Pernah sekali, saya dituduh sedang pamer dan menyombongkan diri ketika di share di grup-grup WA, FB, atau Instragram. Seolah saya sedang congkak. Padahal, saya dengan melakukan kampanye besar-besaran agar budaya literasi menjadi satu aktivitas primer yang mencerdaskan.

Bukankah aktivitas literasi sedang mati di lingkungan Anda? Anda meski seorang guru atau dosen, belum tentu rajin membaca apalagi punya karya tulis, kan? Nah, itu jelas masalah besar yang harus Anda selesaikan sendiri. Bukan malah suka menuduh jiwa lain yang sedang merampungkan pekerjaannya.

Bedah novel Anak-Anak Pangaro selesai menjelang matahari tenggelam, dan saya pulang saat sudah petang. Petang yang menantang jalan. Membuat momen itu layak saya kenang untuk saya wariskan kepada anak-anak saya sebagai motivasi perjuangan mengampanyekan ajaran-ajaran Tuhan. Baca-Tulis harus didakwahkan, agar masyarakat punya pegangan dan tak sesat jalan.

Berapa saya dibayar, itu tak jadi soal, karena saya tidak sedang berjualan. Menjual pengetahuan adalah bentuk kekurang ajaran, dan hal itu bertentangan dengan prinsip-prinsip dakwah yang diajarkan oleh agama saya. Apakah Anda sudah mengetahuinya? Jika belum silakan bertanya, atau belajar lebih keras lagi agar tidak menimbulkan anomali-anomali dalam hidup Anda yang sebentar saja.

Sekian saja, semoga Anda bisa diundang forum-forum terhormat, bukan forum-forum yang membuat Anda teler mencekik botol. Mari berprestasi. Bukankah surga tempatnya orang-orang berprestasi. Dan, saya tidak sedang merasa berprestasi. Saya sedang memotivasi. Itu pun jika pikiran Anda tidak ditumbuhi pikiran dengki.hihi

Bedah buku sebagai bagian dari literasi merupakan upaya untuk menyiapkan masa depan yang lebih baik, agar bumi tidak dipenuhi banyak ketimpangan sosial yang berakibat pada keributan yang meruwetkan isi bumi. Kira-kira seperti itu, yang dikehendaki ruang bedah buku pada momen Pekan Ngaji 2 yang diadakan oleh Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata Pamekasan Madura.


Blogger, Nun Urnoto El Banbary
Baru sempat didokumentasikan.
0 komentar

ISTRI DI RUANG MEDIA SOSIAL

Setiap zaman selalu punya cerita, dan cerita zaman digital kali ini akan membincang istri salihah yang didamba oleh setiap suami dan dirindukan surga. Ruang publik terbuka lebar, yang memungkinkan siapa saja untuk eksis di tengah-tengahnya, termasuk seorang istri yang selama ini hanya berkutat di wilayah domestik:memasak, mencuci, dan urusan kasur.

Sebelum era digital, peran istri hanya terbatas sebagai ibu rumah tangga saja. Segala sesuatu dikerjakan oleh kaum lelaki. Agama menjadi alasan utama untuk membatasi ruang geraknya, ditambah oleh ketatnya tradisi (gibah) sebagai penghakiman atas segala tingkah lakunya. Orang-orang akan membicarakan setiap geraknya yang keluar dari tradisi yang berlaku ditempat yang bersangkutan. Akibatnya, batinnya akan dihukum.

Dok. kabarnun.com
Berbeda dengan istri era milenial. Mereka mulai mengambil peran di ruang publik dengan (misalnya) menjadi anggota DPR, Gubernur, Bupati, Camat, hingga menjadi Presiden, bahkan di media sosial—yang juga ruang publik—, mereka ikut ambil bagian meski hanya sekadar pamer wajah.

Pamer wajah di sini hanya memerankan diri untuk mencuri perhatian orang lain. Dan, (tafsir positifnya) siapa tahu kelak menjadi artis dan bisa mengambil peran menjadi Bupati, Gubernur, Presiden, dan paling apes mendapat jodoh ganteng, banyak teman bagi yang sudah berstatus istri. Hanya saja, bagi yang berstatus istri jika tidak pandai-pandai menjaga diri di ruang publik akan menimbulkan petaka bagi kehidupan rumah tangganya. Sudah banyak kisah perceraian, akibat over acting di ruang publik yang liar, bernama medsos.

Media sosial sebagai ruang publik era milenial bak belati. Salah menggunakannya, akan melukai diri sendiri dan orang lain. Itulah sebabnya, mesti pakai ilmu untuk menggunakannya. Google dan youtube banyak menyediakan pengetahuan untuk menggunakannya. Sementara sekolah-sekolah formal masih abai untuk mengajarkannya. Akibatnya, banyak anak-anak yang masih usia sekolah terjerat undang-undang IT.

Bagi kaum hawa yang berstatus istri bisa melakukan hal-hal berikut dalam bermedsos, agar tidak menimbulkan fitnah bagi kehidupan rumah tangganya.

1. Izin Suami
Istri minta izin kepada suaminya dengan segala alasannya yang logis. Jika alasannya hanya untuk memamirkan kecantikan, sebaiknya jangan coba-coba minta izin, sebab suami akan cemburu wajah istrinya dinikmati lelaki lain, kecuali suaminya steheng alias otaknya sudah tidak sehat.

Jangan lupa, jika wajah istri menimbulkan syahwat bagi lelaki lain, itu bisa mendatangkan petaka yang mengundang dosa. Wajah perempuan yang dicipta penuh pesona oleh Tuhan—ulama fiqh menghukuminya sebagai aurat yang harus dijaga. Dijaga yang dimaksud tidak harus ditutupi serupa pakaian ninja, tetapi bisa cukup dengan menjaga diri di ruang publik agar tidak genit dan mengundang berahi lelaki yang memang dicipta susah tahan menghadapi pesona lawan jenisnya.

Menjaga diri dengan pakaian ala ninja juga tidak mengapa, asal tidak mengundang para penjahat kelamin penasaran di balik pakaian ala ninjanya. Semua serba kemungkinan bukan? Tak ada jaminan menutup semua tubuh terbebas dari kejahatan. Tapi biasanya, menutup aurat lebih dihargai oleh kaum lelaki.

2. Memilih Teman Medsos
Bagi seorang istri, apalagi yang punya wajah mempesona dengan bantuan kamera, sebaiknya jangan asal menerima teman, atau memilih teman. Seleksi dulu isi statusnya pada media yang digunakannya, kecuali punya kemampuan filtering luar biasa yang mampu menyaring banyak kotoran. Kemampuan filtering modal penting agar terhindar dari segala keburukan yang mengancam eksistensinya sebagai perempuan publik—meski hanya sebatas penjual online baju-baju anak, misalnya. Remove saja setiap teman yang berpotensi menimbulkan petaka, dan kekacauan, agar tidak menimbulkan kegaduhan. Kegaduhan pasti menimbulkan ketidaknyamanan, terutama kepada presiden rumah tangga.

3. Komunikasi Positif
Lakukan komunikasi seperlunya. Jangan sampai berlebihan, agar tidak menimbulkan kesan atau tafisr yang negatif bagi suami atau teman-teman medsos lainnya. Sudah banyak fakta orang salah paham dalam melakukan kominikasi tertulis di media sosial lalu discrenshoot dan disebarkan. Maka, jadilah fitnah yang luar biasa, dan menimbulkan petaka yang tidak dikehendaki, baik dalam pertemanan terlebih dalam kehidupan berumah tangga.

4. Kebermanfaatan
Bermedia sosial-lah yang ada manfaatnya. Jangan hanya menghabiskan kuota untuk sesuatu yang tidak jelas, dan buang-buang waktu untuk keharmonisan rumah tangga. Oleh karenanya, tanyakan pada suami apa manfaatnya bermedia sosial, atau tanyakan pada yang lebih berpengalaman tentang dampak positif dan nigatifnya. Alasan manfaatnya boleh saja memperbanyak teman yang kelak bisa dimintai bantuannya, atau jualan online, atau menebar kebaikan dalam bentuk tulisan yang mencerahkan, dan lain sebagainya.

Intinya, segala gerak dalam bermedsos tidak merugikan diri sendiri, keluarga, dan orang lain. Pendeknya, tidak seperti pendukung kedua calon presiden yang terus berseteru dan tak kunjung mereda.

5. Terbuka
Sebaiknya, ponsel suami dan istri saling terbuka dan keduanya bebas saling melihat isi ponselnya, sehingga tidak menimbulkan persepsi yang negatif. Jika ada hal-hal yang tidak disenangi bisa dimusyawarahkan antar keduanya, dan tentu saja jangan sampai cemburu buta jika ada temannya berguyon melampai batas.

Jagalah diri dan teruslah bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga, dan orang lain. Medsos tidak akan menimbulkan petaka jika digunakan sebagaimana mestinya. Tak ada pisau haram yang digunakan untuk memotong rumput sendiri. Demikian juga dengan media sosial yang kehadirannya tak bisa dihindari lagi.

Tampil saja di depan publik sesuai dengan kapasitas dan kebutuhannya. Terimalah segala resikonya sebagai akibat dari perjalanan kehidupan. Dan, yang paling penting dapat menambah ilmu dan meningkatkan spiritualitas kepada Allah ‘Azza wajalla.


Sumenep, 26 Maret 2019



Penulis, Nun Urnoto.
Penulis novel Anak-Anak Pangaro,
Anak-Anak Revolsi, dan;
Memanjat Pesona.
0 komentar

BUKU DAN KEMISKINAN


Buku-buku yang berisi ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang mustahil untuk dibeli bagi si miskin, meski si miskin punya kesadaran yang tinggi tentang baca-tulis. Sebab, buku bukanlah kebutuhan primer yang bisa menanggulangi kelaparan yang mengancam kehidupannya. Jangankan si miskin, bagi si kaya, buku adalah kebutuhan sekunder, bahkan mungkin sama sekali bukanlah kebutuhan. Itulah ketimpangan yang tengah terjadi di negeri ini, di negeri yang beranjak bangkit dari keterpurukan, setelah hampir 32 tahun terbelenggu oleh kemiskinan sistemik di bawah kekausaan orde baru.

Dok. kabarnun.com
Dahulu, di kampung saya, di pulau Giliraja yang terpencil, nyaris tak ditemukan buku-buku bacaan. Sekali pun ada, itu cuma buku-buku pelajaran yang di dapat dari pinjaman sekolah. Itupun sangat terbatas. Seingat saya, paling banter anak-anak kampung hanya menyalin sebagaimana perintahkan para guru. Salinan itulah yang kemudian dibaca berualang-ulang hingga buku menjadi lusuh. Kami tak mampu membeli buku, dan pemerintah sangat pelit untuk menyumbang buku-buku kepada sekolah kami, atau jangan-jangan pemerintah sengaja untuk membuat kami menjadi bodoh. Itulah “kejahatan” pemeritah masa lalu yang melekat di dalam otak saya.

Andai kami tidak bersusah payah untuk belajar, kemungkinan besar saya dan kawan-kawan tak akan beranjak dari keterpurukan intelektual. Maka, jika otak kami masih rada-rada error atau kami hidup dalam belenggu kemiskinan yang akut, itu karena disebabkan oleh pembodohan sistemik dari pemerintah pada saat itu. Di dalam otak saya, tak ada yang disebut bapak pembangunan, kecuali ayah saya sendiri yang berjibaku dengan nasib kami.

Pernah sekali, saya menemukan majalah yang cukup menggoda untuk dibaca, dan saya rasa itulah majalah yang cukup familiar dalam bacaan saya, yaitu majalah POSMO. Majalah yang sering menyajikan bacaan-bacaan supranatural, dengan istilah-istilah yang cukup menggoda di masa remaja saya, seperiti istilah ilmu Braja Musti, ilmu Lembur Saketi, Ajian Lampah-lumpuh, Ajian Lembu Sekilan, Ilmu Pengasihan, Ilmu Pelet, dan sebagainya.

Maka, wajarlah jika kehidupan saya di belakang hari menyukai mistisisme ditambah oleh dendam kesumat atas kematian nenek saya yang disantet oleh seorang tua yang tanpa tedeng aling-aling telah melakukannya. Saya pun mempelajari ilmu mengembalikan sihir kepada pemiliknya.

Dok. kabarnun.com
Sungguh, kemiskinan itulah yang menjadi musabab masa depan seseorang. Jika masa silam seseorang dipenuhi banyak pengetahuan, saya pikir negeri ini akan menjadi tercerahkan. Kita tak akan menemukan orang bodoh yang asal bunyi, tak akan menjumpai politisi yang hanya bikin gaduh tabung televisi, dan kita tak akan menjumpai banyak keterpurukan di dalam segala lini kehidupan bangsa ini.

Membaca bisa menjadi solusi untuk memecahkan banyak persoalan di negeri ini. Sebab, dengan cara membaca akan banyak ditemukan kesalahan-kesalahan yang sebelumnya rumit dan tidak terselesaikan. Tentu saja bagi pembaca pemula adalah membaca teks-teks pengetahuan, bukan sok membaca gejala alam ala Albert Einstein.

Seiring runtuhnya Orde Baru, dunia baca-tulis yang menjadi padu dalam istilah literasi dan segala turunannya mulai merambah ke pulau saya. Pada masa pemerintahan Joko Widodo, buku-buku dari donatur dan pemerintah sendiri, mulai berdatangan. Dikirim ke rumah baca Sangkolan dan Agung Demang. Keduanya, bergerak untuk membangun satu kesadaran literasi baca-tulis sebagaimana yang diajarkan dalam surat al-’Alaq ayat pertama, kelima, dan momentum pengetahuannya pada ayat keenam.

Sekarang, buku-buku yang tersedia di rumah baca bebas untuk dinikmati. Tidak ada alasan kemiskinan lagi untuk membaca, seperti dahulu saya mengalaminya. Buku dan kemiskinan sudah tak lagi menjadi sekat. Keduanya sudah akur berkat gerakan literasi yang dimotori oleh Bapak Nirwan Arsuka dan Najwa Shihab , serta aktivis literasi lainnya.

Kemiskinan telah dibebaskan oleh buku-buku, dan diharapkan buku-buku menjadi solusi untuk membebaskan kemiskinan dalam segala wujudnya. Mari terus belajar, jangan kalah dengan Amerika, Selandia Baru, Finlandia, Cina, yang konon di negeri mereka lebih banyak nonmuslinya—yang belum pernah mendengar kata “iqra” dari kitab suci al-Quran. Mereka maju, karena membaca, meneliti, dan berkontribusi untuk kemaslahatan umat manusia di seluruh semesta. Buktinya, Cina yang sering menjadi opini buruk menjelang pemilu telah menyediakan banyak kemudahan bagi kaum duafa. Tanyakan pada mereka, apa merk ponselnya?

Umat mayoritas di negeri ini adalah muslim. Kitabnya adalah rangkuman dari segala kitab-kitab suci. Segala ilmu pengetahuan, termasuk nilai-nilai sastra sangat lengkap di dalamnya. Dan, Tuhan sangat bersedia agar kitabnya tak hanya dibaca, tetapi dibedah agar dirasakan manfaatnya. Kitab suci itu, tidak hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang beriman saja, tetapi bagi siapa saja yang ingin memperlajarinya, bahkan solusi atas kemiskinan juga ada di dalamnya. Disilakan, siapa saja untuk mempelajarinya, termasuk negara yang mengusai kemiskinan di negeri ini.

Sekali lagi, tak ada sekat lagi antara buku dan kemiskinan untuk “berselisih”. Buku sudah menyediakan ruang, dan kemiskinan bebas menggunakan dan memanfaatkan ruang yang telah tersedia. Orang miskin wajib membaca, sebagaimana orang kaya yang mampu berbelanja buku untuk dibaca.

Lihatlah anak-anak yang ada dalam foto itu. Tataplah latarnya, yang terdiri dari anyaman bambu yang luruh oleh kemiskinan masa lalu orangtua mereka. Mereka membaca, mereka bahagia, dan mereka siap untuk terbebas dari kemiskinan melalui pencerahan buku-buku.

Lihat pula dua remaja yang membaca di atas perahu, mereka bersabar sambil membaca, hingga perahu merapat ke dermaga. Semoga menjadi budaya. Budaya yang memajukan bangsa dari keterpurukan dalam segala bentuk wajahnya.

Saya sendiri yang hijrah ke pulau lain, ikut menjadi bagian pegiat literasi di tanah kelahiran istri saya. Saya dan istri mengumpulkan buku, menyediakan tempat sebagai rumah baca bagi anak-anak dan orangtua untuk sekadar berbagi kebaikan. Siapa tahu kebaikan yang kami suguhkan mencerahkan kehidupan mereka secara intelektual.

Rumah baca yang kami dirikan diberi nama, “Rumah Baca Anak-Anak Pangaro” berada di Dusun Gendis RT.09/RW.03 Desa Aeng Tongtong Kecamatan Saronggi Kabupaten Sumenep Madura. Kode Pos 69467. 



Bagi kawan yang ingin berbagi atau menyumbangkan buku-buku agar bermanfaat bagi sesama, dipersilakan mengirimkan ke alamat di atas, dan Rumah Baca Anak-Anak Pangaro sudah lama terdaftar di PBI. Selanjutnya, kami sampaikan terima kasih yang tak terhingga kepada semua donatur.



Sumenep, 23 Maret 2019.

Penulis, Nun Urnoto El Banbary
Penggerak Literasi
"Rumah Baca Anak-Anak Pangaro.
Dusun Gendis RT. 09/RW.03 Aaeng Tongtong
Saronggi  Sumenep Madura 69467"



0 komentar
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Kabar Nun - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger